2025
2025
Kabar dari Bukit, Minggu 14 Desember 2025
Kabar dari Bukit
TINDAKAN YANG TIDAK TERBAYANGKAN
"Engkau melakukan kedahsyatan yang tidak kami harapkan, seperti tidak pernah didengar orang sejak dahulu kala!" (Yes. 64:3b)
Dalam setiap memimpin Pemahaman Alkitab (PA) bahkan saat mengajar mahasiswa Sekolah Teologi, ketika ada kesempatan berdiskusi, saya sering bertanya: mengapa mereka percaya kepada Tuhan Yesus dan menjadi orang Kristen? Jawaban yang umum adalah mereka merasakan damai sukacita, Tuhan Yesus baik, hidupnya diberkati, Yesus itu penuh kasih, dan semacam itu. Kemudian saya katakan, apakah pengikut agama lain tidak merasa hal yang sama dengan percaya kepada allah dan nabi yang mereka ikuti? Mereka umumnya gelagapan juga menjawabnya, merasa ada sedikit benarnya.
Firman Tuhan bagi kita di Minggu III Adven yang berbahagia ini adalah Yes. 64:1-9. Pasal 63 dan 64 kitab Yesaya merupakan rangkaian doa umat Israel untuk belas kasihan Allah, memohon pemulihan mereka yang telah terbuang ke Babel; perasaan mereks hancur, berada pada titik nadir seolah Allah menjadi jauh.
Nas minggu ini sangat penting bagi kita di masa adven ini, mengingatkan beberapa hal. Pertama, perlu ada kerinduan campur tangan Allah dalam hidup kita. Allah dimohon turun tangan dalam segala pergumulan dan pengharapan yang kita miliki. Kita imani Allah yang hidup dan Maha Kuasa mampu “mengoyakkan langit dan turun" (ay. 1). Ia telah berbuat baik kepada kita dengan memberi kita kehidupan, berkat dan kesempatan yang mungkin kita sia-siakan. "Engkau melakukan hal-hal yang dahsyat yang tidak kami harapkan” (ay. 3).
Kedua, nas ini mengajak mengakui ketidaklayakan kita karena telah tercemar berbuat dosa. Tidak seorang pun kita sempurna di hadapan-Nya. Semua orang telah berdosa dan upah dosa adalah maut (Rm. 3:23; 6:23). Nas ini membuka kesadaran, "kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; ....menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami" (ay. 6).
Ketiga, ada keyakinan bahwa hanya Allah yang turun tangan untuk dapat mengubah diri dan menyelamatkan kita. Ia adalah Penjunan yang berdaulat penuh membentuk kita ciptaan-Nya, dan
dan kita adalah hanya tanah liat (ay. 8). Maka perlihatkanlah keterbukaan hati dan kerelaan untuk dibentuk kembali melalui kuasa Roh Kudus.
Keempat, umat Israel telah bersalah dengan mengabaikan Allah. Mereka mengandalkan diri dan Allah murka; yang telah mengingatkan, "Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat (Kel. 20:5). Oleh karena itu, melalui pesan nas ini, mohonkanlah: "Ya Tuhan, janganlah murka amat sangat dan janganlah mengingat-ingat dosa untuk seterusnya!" (ay. 9). "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu" (Kis. 16:31).
Allah Bapa terbukti penuh kasih dan kebaikan. Ia telah menyatakan diri-Nya, dengan "mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh. 3:16). Itulah Yesus, turun ke dunia, tindakan Allah Bapa yang tidak terbayangkan. Bahkan Yesus, Putra-Nya yang diutus, mati tersalib untuk menyelamatkan kita. Dan itu tidak dilakukan oleh nabi-nabi lain untuk umatnya.
Kini, mari kita melakukan keempat langkah tersebut, agar kita ikut diselamatkan bersama seisi rumah kita.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Khotbah Minggu III Adven - 14 Desember 2025
Khotbah Minggu III Adven – 14 Desember 2025
BERSABAR DAN BERTEGUH HATI (Yak. 5:7-10)
Bacaan lainnya: Yes. 35:1-10; Mzm. 146:5-10; Mat. 11:2-11
Pendahuluan
Kitab Yakobus salah satu kitab yang padat sebab membahas hubungan iman dengan perbuatan. Pasal 1 kitab ini menjelaskan orang percaya harus berdiri teguh sebab memiliki iman. Dengan iman itu kita harus berkarya dan bukan iman yang mati (pasal 2), sementara pasal 3 mengajar kita untuk memelihara lidah dalam bercakap-cakap sebagai buah iman yang baik. Pasal 4 tentang perasaan kita sebagai orang percaya yang diminta taat dan tunduk pada kehendak Allah, dan terakhir pasal 5 yang menjadi bahan renungan kita minggu ini, berbicara tentang sikap kita dalam bersabar dan berteguh hati. Bagian ini sebenarnya merupakan terusan dari peringatan Yakobus terhadap orang kaya yang membuat orang miskin menjadi menderita, dan nas ini merupakan kekuatan dan penghiburan bagi mereka.
Pertama: Bersabar seperti petani menunggu musim (ayat 7)
Ada beberapa ayat dalam Alkitab yang menempatkan petani sebagai referensi. Pertama, Alkitab menyebutkan bahwa "seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya" (2Tim. 2:6). Kedua, sesuai dengan nas minggu ini, bahwa petani harus bersabar menanti hasil itu. Pada kitab Injil Matius dan lainnya diibaratkan juga soal kerajaan Allah itu seperti menabur benih (seperti petani), dan petani yang baik akan menaburkan di tanah yang baik, bukan dipinggir jalan atau di tanah yang keras atau penuh semak duri, dan menjaga tanamannya dari segala gangguan dan hama. Dari ketiga pokok nas itu dapat dilihat bahwa seorang petani untuk dapat memperoleh hasil yang baik, hendaklah penuh dengan hikmat: dari masa mulai menanam, melihat lahan dan musim, bekerja keras selama masa pengolahan dan pemeliharaan, dan terakhir bersabar dalam menanti hasil yang baik dari semua jerih payahnya itu.
Meskipun benihnya baik dan ditabur di tempat yang baik, saat menanam yang tepat, dijaga dari segala gangguan, seorang petani juga tetap harus bersabar agar tanamannya bertumbuh; ia tidak dapat mempercepat proses panen yang lebih cepat. Petani mesti menanti dengan pengharapan akan hujan musim semi (untuk masa pertumbuhan) yang memberi hasil banyak pada ladangnya. Namun dalam penantian itu banyak hal yang dapat dilakukan oleh petani, seperti memberi pupuk dan menjaga agar ilalang, hama dan pencuri tidak datang merusak tanamannya. Itu semua pekerjaan dan karya yang harus ia lakukan dan juga melalui rintangan yang harus dia hadapi agar panennya tidak rusak dan mendapatkan hasil buah yang baik. Ia harus bersabar dan itu merupakan pengharapan dan kepercayaan pada pemeliharaan Allah yang Mahakuasa atas tanamannya itu.
Demikian juga orang percaya dalam penantian datangnya Kristus menjemput kita dari dunia ini. Kita tidak dapat melakukan apapun agar Kristus datang lebih cepat. Tapi pengharapan dan penantian kita bukanlah pengharapan yang pasif. Dalam penantian itu kita diminta untuk terus bekerja dan berkarya mewujudkan buah dari iman dalam membangun kerajaan-Nya. Datanglah kerajaan-Mu dalam Doa Bapa Kami bermakna demikian. Orang percaya sama halnya dengan petani harus hidup dalam iman, mencari dan melihat pengharapan di depan akan buah dari kerja dan karya iman dalam kehidupan yang dipraktekkan. Jangan berpikir bahwa Kristus tidak datang. Berkaryalah dalam iman untuk membangun kerajaan-Nya, yang pasti datang bila saatnya tiba. Dalam berkarya itu mungkin dapat muncul kesulitan dan penderitaan, menanggung ketidakadilan dan penganiayaan, tetapi seperti petani tadi kita diminta bersabar dan percaya tetap pada pemeliharaan Allah (Rm. 8:28; 12:12).
Kedua: Jangan bersungut-sungut dan mempersalahkan (ayat 8-9a)
Ketika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan keinginan hati, maka lazimnya yang muncul adalah kecewa, rasa kesal dan dapat timbul sungut-sungut. Bahkan ada kalanya kita menyalahkan orang lain atas ketidaksesuaian itu, kerugian atau rasa sakit yang kita alami. Memang lebih mudah menyalahkan orang lain dibanding dengan ikut merasa bertanggungjawab dan prioritas mencari jalan keluar dari masalah yang ada. Akan tetapi perlu disadari, bersungut-sungut dan menyalahkan pihak lain adalah perbuatan yang dapat merusak dan menjadi dosa. Sebelum kita menyalahkan dan menghakimi orang lain, kita ingatlah Kristus yang akan datang menghakimi (Mat. 7:1-5; 25:31-46). Kristus tidak membiarkan kita lari dari tanggungjawab dan memindahkan segala perbuatan dosa itu kepada orang lain.
Jelas, setiap orang pasti tidak menyukai masalah dan tidak seorang pun yang tahu eaktunya mendapat masalah. Semua orang berusaha jauh dari masalah dan penderitaan. Doa Bapa Kami juga menegaskan agar kita jauh dari pencobaan. Kalau seseorang melakukan korupsi atau pembunuhan, maka tentu sudah terpikirkannya bahwa suatu saat ia akan menghadapi masalah pengadilan dan penjara. Mungkin saja ia berpikir dapat lolos dari pengadilan di dunia ini, tetapi ia tidak akan lolos dari pengadilan sorgawi. Ia juga bisa menyalahkan atasan atau orang lain untuk berdalih atau menghindar, tapi itu menjadi percuma dan sia-sia. Hidup juga tidak selalu demikian, bahkan seringkali kita tidak tahu mengapa masalah itu datang kepada kita? Kadang Tuhan tidak menjawab alasannya dan karena itu menuduh Tuhan tidak adil, bertindak sewenang-wenang atau tidak peduli. Padahal, Allah memiliki rencana sendiri yang manusia kadang kala tidak bisa menjangkau dan memahaminya.
Kita mendapatkan pelajaran hidup dari kisah Ayub bahwa mengenal dan mengetahui Allah lebih baik daripada mendapatkan jawaban-Nya. Ia berbuat kesalahan dengan cara menuruti keinginannya dengan berdialog dengan teman-temannya untuk mengetahui mengapa ia harus menderita dan terus bertanya kepada Tuhan, mengapa semua itu terjadi pada dirinya. Ayub yang berusaha menyalahkan Tuhan karena dihasut teman-temannya, akhirnya menyadari Allah mengasihinya, dan menyadarkan kita bahwa tidak selamanya penderitaan merupakan penghukuman karena dosa. Oleh karena itu penderitaan harus dihadapi dan dijadikan sebagai ujian dan jalan pertumbuhan iman. Sebagaimana Ayub, seorang yang penuh dengan iman, sabar dan tabah dalam penderitaan memberi inspirasi dan keteladanan, akhirnya memperoleh kemenangan dan berkat yang lebih banyak.
Ketiga: Hakim berdiri di depan pintu (ayat 9b)
Sebagaimana dinyatakan pada bagian awal, nas ini merupakan kelanjutan peringatan kepada orang kaya. Mereka yang kaya sering bertindak sewenang-wenang dan tidak peduli pada mereka yang miskin. Tindakan seperti itu jelas membuat mereka dihukum dan peringatan datangnya hari Tuhan membuat firman ini mengambil istilah: hakim pada hari Tuhan itu sudah berdiri di depan pintu. Artinya, mereka yang mengabaikan keadilan dan kasih sayang akan diadili dan memperoleh hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka yang jahat. Kita tidak bisa mengatakan bahwa firman itu salah, sebab kenyataannya setelah 2000 tahun Hakim itu tidak datang dan dunia belum berakhir. Poin yang ditegaskan adalah bahwa kesempatan akhir dari pertobatan itu terbatas dan pintu itu bisa tertutup setiap saat dan Hakim yang adil itu ada berdiri di sana (band. Mat. 24:33; Mrk. 13:29).
Kedatangan Tuhan Yesus dan berdirinya Sang Hakim di pintu merupakan dasar kesabaran dan pengharapan orang percaya. Itu menjadi motivasi agar kita bertekun dalam iman dan menjadi sumber penghiburan atas penderitaan yang kita alami. Tuhan Yesus menjadi Hakim yang adil bagi mereka yang berbuat jahat dan memberi pahala dan upah bagi mereka yang setia dan bersabar, serta membebaskan dari beban yang diderita. Melalui cara pandang dan melihat dengan mata rohani akan rencana Tuhan yang indah, semakin menguatkan kita dalam menghadapi masalah dan penderitaan yang ada. Sebagaimana dikatakan oleh ahli, seseorang dapat kuat menanggung dan melewati beban penderitaan hanya didasarkan keyakinan bahwa beban itu memiliki arti dan makna dalam hidupnya. Tanpa kesadaran dan pemahaman itu, maka biasanya orang dapat mudah kalah dan mengambil jalan pintas untuk mengakhiri penderitaannya, yang sayangnya sering tidak berkenan kepada Tuhan.
Keempat: Meneladani penderitaan para nabi (ayat 10)
Nas ini mengingatkan kita juga untuk mengambil teladan dari penderitaan para nabi. Kita dapat melihat banyak nabi-nabi yang menderita dan bahkan harus dibunuh demi untuk membela Allah, mulai dari Musa yang harus menderita karena menyediakan keinginan umat Israel (Kel. 17:1-7), Daud yang harus menderita oleh perbuatan jahat Saul (1Sam. 20-27), para nabi yang dibunuh (1Sam. 22 dan 1Raj. 18:3-4), Daniel bersama rekan-rekannya harus dimasukkan ke dalam kandang singa (Dan. 6), dan kisah Ayub di atas yang harus kehilangan harta dan anak-anaknya (Ay. 1:8-12; 2:3-7). Penderitaan tokoh dan para rasul di Perjanjian Baru juga merupakan kisah yang memberi keteladanan dan inspirasi bagi kita, seperti Stefanus yang dibunuh (Kis. 6-7), Petrus, Yohanes, Timotius, dan Paulus yang dipenjara tanpa ada kejelasan, bahkan Yakobus yang dibunuh oleh Herod demi untuk menyenangkan orang Yahudi (Kis. 12:1-2).
Penderitaan dapat datang karena ketaatan pada Tuhan sebagaimana dialami oleh para nabi (dan rasul) di atas. Demikian juga dengan umat Israel harus menanggung beban yang lebih berat karena ketaatan mereka dengan mengerjakan pembuatan batu bata yang lebih banyak (Kel. 5:4-9). Tetapi semua itu tergantung kepada kita, bagaimana merespon atas penderitaan itu. Kisah Ayub memberikan bukti bahwa respon itu tergantung kepada bagaimana kita beriman kepada Allah (Ay. 3:11; 21:22) Rasul Paulus melihat bahwa hal yang dideritanya membawa kemajuan dalam pemberitaan Injil (Flp 1:12-14). Semua itu akan memberikan pengembangan internal kerohanian kita, sebagaimana dikatakan dalam firman-Nya, “Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya (1Pet. 5:10; band. Im. 26:40-45)
Kita lihat juga Tuhan Yesus harus menderita bagi kita, diolok-olok para Imam dan ahli Taurat (Mrk. 15:31). Akan tetapi itu semua membuat Yesus semakin sempurna, “Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah -- yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan ---, yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan (Ibr. 2:10). Alkitab berkata, “Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu" (Mat. 5:12). Oleh karena itulah kita diminta untuk terus berkarya, tidak putus asa dan lalai, menggunakan waktu yang tersedia untuk menyambut Sang Raja Kemuliaan, meninggalkan segala perbuatan yang jahat dan membuat diri kita tidak bercatat dan kudus, sebab itulah yang berkenan kepada-Nya.
Penutup
Dalam menyongsong peringatan lahirnya Sang Raja Kemuliaan itu, Yakobus mengingatkan orang percaya untuk bersabar sampai kedatangan Kristus yang kedua kali. Kita harus bersabar bagaikan petani yang menanti hasil panen. Kerja keras dan menjaga gangguan dari segala godaan menghasilkan buah yang baik dan lebat. Apabila dalam melaksanakan karya itu kita harus menderita, walau tidak jelas sebab musababnya, maka kita tetap diminta sabar dan berteguh hati, tetap setia kepada Allah. Bersabar dan berteguh dalam pengharapan dan penantian sampai Hakim itu berdiri di depan pintu, menegakkan kebenaran dan menghukum mereka yang jahat, sebagaimana para nabi (dan rasul) telah menderita, begitu jugalah sikap kita dalam menghadapi segala penderitaan.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Khotbah (3) Minggu III Adven - 14 Desember 2025
Khotbah Minggu III Adven – 14 Desember 2025 (Opsi 3)
MERAYAKAN KEMENANGAN (Yes. 35:1-10)
Mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita. Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah (Yes. 35:2b-3)
Salam dalam kasih Kristus.
Dalam manajemen dan kepemimpinan, ada pendekatan yang dahulu sangat popular untuk meningkatkan produktivitas, yakni metoda pentungan dan wortel (stick and carrot). Metoda ini mengandalkan daya tarik bonus jika mencapai target, tetapi dihukum bila tidak tercapai. Memang sejarahnya, cara ini dipakai untuk keledai yang menarik gerobak; sebuah wortel digantung di depan keledai agar menarik lebih cepat, dan akan dipukul bila berjalan lambat. Metode ini sudah kurang popular dan hanya dipakai untuk pekerjaan yang mengandalkan otot, lebih transaksional. Metoda yang lebih pas adalah performance appraisal yang digabung dengan merit system.
Firman Tuhan di Minggu III Adven ini adalah Yes. 35:1-10. Judul perikopnya: Keselamatan bagi umat TUHAN. Pasal ini menggambarkan dunia baru Israel yang indah penuh sukacita, setelah sebelumnya pasal 34 menjelaskan penghukuman kepada bangsa-bangsa lain yang menindas mereka. “Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, ... ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai” (ay. 1-2a).
Nas minggu ini memberikan gambaran seperti perjalanan hidup manusia. Selalu ada pergumulan dan tantangan, dan sekaligus ada pengharapan - yang jangan sampai hilang. Bagi kita orang percaya, kita imani, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia....” (Rm. 8:28).
Kadang kala pergumulan dan rasa sakit yang kita alami datangnya dari orang lain. Mungkin penyebabnya tidak mampu kita cerna, sebab tidak mudah memahami cara berpikir orang lain. Nah, jika yang kita terima sesuatu yang buruk, maka pesan yang kuat seperti dituliskan pada ayat 4: "Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!"
Jangan bertindak bodoh dengan mengikuti emosi. Sebuah kalimat buruk atau tindakan ceroboh, tidak mudah untuk menghapusnya bahkan dengan permintaan maaf. Dan kita yang didera tindakan buruk juga tidak perlu membalaskannya. Allah bekerja, dan pembalasan itu adalah hak Tuhan (Rm. 12:19; Ul. 32:35). Hukum tabur tuai tetap berlaku, baik di dunia maupun kelak di penghakiman (Gal. 6:7; Mat. 12:36; Ibr. 4:13). Doa Tuhan Yesus di Taman Getsemani menjadi rujukan kita. Ia menyerahkan diri-Nya kepada Bapa dan menerima kehendak Bapa (Mat. 26:39).
Pada saat gelombang melanda, pengharapan adalah sauh yang kuat (Ibr. 6:19), namun menjadi dayung kuat di kala tenang. Pengharapan sesuatu yang aktif. “Tuhan ingin kita menjadi seorang pemenang, bukan seorang yang cengeng,” tulis Joel Osteen dalam bukunya, Your Best Life Now. Yang perlu kita lakukan, menurutnya, jangan mau jatuh, tetaplah berdiri, meski dengan semua upaya dilakukan (Ef. 6:13). Temukanlah kekuatan dalam kesukaran, dan melihat Tuhan telah menyimpan sesuatu yang lebih indah jika bertahan dan melaluinya. Bersabar dan berteguh hati (Yak. 5:7-10), penegasan nas paralel untuk minggu ini.
Pesan kuat lainnya nas minggu ini, Allah hadir di tengah-tengah kita. Kuasa-Nya dahsyat untuk memulihkan, “mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai” (ay. 5b-6). Tiga puluh lima keajaiban yang telah diperlihatkan Yesus Kristus, membuktikan kuasa-Nya sanggup memulihkan.
Setiap pergumulan dan rasa sakit yang kita lewati akan memberi penilaian kinerja dan sistem merit (kemampuan) kita lebih baik: naik, naik, naik dan bukan turun. Sebagai pemenang kita pun akan merayakan, seperti nas minggu ini menuliskan: “Orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh” (ay. 10). Terpujilah Tuhan.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Khotbah (2) Minggu III Adven – 14 Desember 2025
Khotbah Minggu III Adven – 14 Desember 2025 (Opsi 2)
MENGHALAU KERAGUAN (Mat. 11:2-11)
Kita masuk ke dalam Minggu Adven ketiga. Terasa semakin kuat pengharapan dan optimisme sebab Natal semakin dekat. Firman Tuhan bagi kita sesuai leksionari, Mat. 11:2-11, seperti minggu lalu masih berbicara tentang Yohanes Pembaptis. Tetapi minggu ini lebih ditekankan tentang bagaimana menghalau keraguan atas keyakinan kita tentang Yesus yang lahir dua ribu tahun lalu, benar-benar adalah Juruselamat pribadi kita dan bagi seluruh umat manusia.
Keraguan itu manusiawi. Yohanes Pembaptis pun yang sebelumnya berseru-seru tentang datangnya Mesias (Mat. 3:2), dalam nas ini tampak menjadi ragu atas Yesus. Ia menyuruh murid-muridnya bertanya kepada Yesus: "Engkaukah yang akan datang itu...?" (ayat 3a). Yohanes ragu karena masih dipenjara menentang Herodes Antipas yang menikahi istri saudaranya. Ia tidak sabar, berpikir, Yesus mestinya menjadi Raja dan Hakim dunia. Tuhan Yesus telah melakukan banyak kuasa mukjizat untuk orang lain, tetapi tidak untuk dirinya yang sedang susah di penjara!
Perasaan itu mungkin pernah muncul dalam hati kita, ketika kita dalam pergumulan: sakit penyakit, anak bermasalah, ekonomi sulit, dan lainnya. Kita berdoa berseru-seru kepada Tuhan Yesus, memohon pertolongan atas pergumulan kita. Tetapi Tuhan serasa tidak hadir atau mendengar. "Di mana Engkau Tuhan, di mana kuasa pertolongan-Mu...?" Demikianlah kadang perasaan kita.
Tuhan Yesus menjawab utusan Yohanes: "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik" (ayat 4-5). Pesannya jelas dan kuat. Kuasa-Nya sungguh tidak terbatas, dan Ia adalah penggenapan nubuat Nabi Maleakhi dan Yesaya (Mal. 3:1; Yes. 29:18-19; 35:5-6; 61:1).
Tetapi Tuhan Yesus ingin menekankan hal lain dalam pesan-Nya; Jangan melihat mukjizat dan kehebohan itu semua: ke padang gurun, pakaian halus, atau kenabian. Apa sebenarnya yang kita cari? Sikap bertanya, kritis, ragu itu wajar. Tetapi Tuhan Yesus menekankan kepada kita: "...berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku." Tuhan Yesus ingin menekankan ketaatan, keteguhan, dan penyerahan diri. Ia juga menambahkan: kita semua yang mengikut Dia, seperti Yohanes Pembaptis, akan lebih besar kelak (dari nabi-nabi PL) dalam Kerajaan Sorga. Jadi, jangan pernah kecewa, apalagi berpaling. Tetaplah taat dan bersabar yang akan menyenangkan hati Tuhan. Laksanakan tugas misi sembari menanti datangnya Kristus kedua kali. Sebab, semua kelak akan dibukakan dan indah pada waktunya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 7 Desember 2025
Kabar dari Bukit
JALAN KE PEMULIHAN DAN PENGHIBURAN
”Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan seluruh kelestariannya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN mengembusnya dengan napas-Nya” (Yes. 40:6b-7a)
”Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan seluruh kelestariannya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN mengembusnya dengan napas-Nya” (Yes. 40:6b-7a)
Sebagai seorang yang pernah dipenjara dua kali pada masa orde baru akibat memimpin demonstrasi mahasiswa melawan pemerintah, berita pembebasan adalah sesuatu yang sangat melegakan. Memang sebagai pemimpin, saya dan teman-teman tidak sampai diperlakukan dengan kekerasan hingga menderita fisik, namun terali besi yang menghadang langkah, terasa menyiksa jiwa juga. Sebuah pengalaman berharga.
Firman Tuhan bagi kita di Minggu II Adven yang berbahagia ini adalah Yesaya 40:1-11. Pasal 40 ini merupakan awal berita sukacita bagi umat Israel, setelah 39 pasal sebelumnya nubuatan Yesasa tentang penghakiman dan penghukuman atas dosa-dosa mereka yang menyebabkan dibuang ke Babel. Kejiwaan mereka putus asa, merasa bersalah, dan kehilangan jati diri. Oleh karena itu judul perikopnya: Berita pembebasan.
Ada beberapa pesan nas ini bagi kita. Pertama, Allah kita tetap penuh cinta kasih. Pesannya indah, "Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku" (ay. 1). Ia datang dengan sapaan "umat-Ku", meski umat berdosa. Berita sukacita pun diberikan: perhambaan sudah berakhir, kesalahan telah diampuni, tuntas dua kali lipat (ay. 2).
Kedua, Allah sendirilah yang menyelamatkan. Untuk itu umat Israel dan kita diminta mempersiapkan Raja yang akan datang. "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditimbun, setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran" (ay. 3-4). Pesan ini kemudian diulang kembali oleh Yohanes Pembaptis pada PB (Luk. 3:4-5). Semua ini adalah simbol bagi kita yang ingin dibebaskan kesalahannya dan ditebus, yakni agar kembali ke jalan lurus, menyingkirkan semua penghalang, rintangan, yakni menjauhi dosa yang tidak berkenan kepada Tuhan.
Ketiga, jangan pernah tergantung kepada manusia; mengandalkan kekuatan manusia termasuk diri sendiri dalam pemulihan dan penebusan. Uang, harta, kekuasaan, bahkan perbuatan baik tidaklah menyelamatakan; hanya oleh iman dan angerah. Orang mati (rohani) pasti tidak bisa mandi sendiri, itu kita tahu. Maka perlu dimandikan oleh pihak lain; yang dalam hal ini Firman Tuhan (Alkitab) dan Roh Kudus. Itu diberikan untuk memampukan kita melawan keinginan daging, dunia dan jahatnya iblis. Berpeganglah pada itu. "Seluruh umat manusia seperti rumput dan seluruh kelestariannya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnya bangsa itu seperti rumput. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya" (ay. 6-8).
Raja yang datang itu, Yesus, berkuasa dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya. "Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya" (ay. 9-11).
Berita sukacita ini datang dari sorga di masa penantian Adven ini. Nabi Yesaya dan Yohanes Pembaptis telah mengukuhkannya. Yesus Kristus kegenapannya. Kini, bagaimana respon kita terhadap kasih kebaikan Allah tersebut dan kesediaan kita membuka hati dan tekad, menerima pembebasan dari jerat dosa, dan kita pun akan lebih diberkati di dalam kelimpahan dengan penggembalaan dan gendongan Tuhan (bdk. Yoh. 10).
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan YesusKhotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan YesusKhotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan YesusKhotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 38 guests and no members online
