2026
2026
Khotbah Minggu XXIV Setelah Pentakosta – 8 November 2026
Khotbah Minggu XXIV Setelah Pentakosta –8 November 2026
Saat Penghulu Malaikat Berseru dan Sangkakala Allah Berbunyi (1Tes. 4:13-18)
Bacaan lainnya: Mat. 25:1-13; Yos. 24:1-3a, 14-25; atau Am. 5:18-24; Mzm. 78:1-7 atau Mzm. 70
Pendahuluan
Jemaat Tesalonika mengharapkan kedatangan Tuhan Yesus segera terjadi saat mereka masih hidup, sehingga mereka dapat menerima dan menikmati janji-janji Tuhan sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Rasul Paulus saat mengajar mereka selama 3 bulan. Tapi kenyataannya, dari mereka ada yang meninggal terlebih dahulu, sehingga salah satu yang dilaporkan Timotius kepada Rasul Paulus atas hasil kunjungannya ke Tesalonika adalah pertanyaan jemaat tentang bagaimana mereka yang sudah percaya tapi malah meninggal terlebih dahulu? Apalagi sebagian dari mereka meninggal karena penderitaan dan penganiayaan. Mungkin saat bersama mereka, Rasul Paulus memberikan gambaran bahwa mereka yang percaya akan dibawa ke sorga bersama-Nya. Nah, apabila ada orang percaya meninggal lebih dahulu sebelum Tuhan Yesus datang, bagaimana dengan nasib mereka? Ini pertanyaan yang timbul dan menjadi kekhawatiran baru bagi jemaat. Pembahasan tentang eskatalogi membutuhkan analisis yang panjang namun bahan di bawah ini diambil inti dan singkatnya saja. Melalui nas minggu ini firman Tuhan memberikan pengajaran tentang gambaran tersebut sebagai berikut:
Pertama: Jangan berdukacita seperti tidak berpengharapan (ayat 13-14)
Manusia pasti mati. Mati secara jasmani artinya tidak ada lagi denyut kehidupan dalam seluruh organ tubuhnya. Jiwa atau rohnya telah terpisah dari tubuh yang berupa daging. Tubuh ini pun setelah ditinggalkan roh dan jiwa lantas membusuk dengan cepat. Studi ilmiah menyebutkan, ketika kematian jasmani datang, proses awal pembusukan daging langsung dimulai kemudian merembet pembusukan di bagian tubuh dalam. Ini sama seperti hewan yang kita lihat mudah sekali membusuk dan mengeluarkan bau menyengat. Zaman dahulu orang membuat rempah-rempah untuk menjadi mummi, namun kini dengan ilmu pengetahuan dipakai bahan kimia fomalin yang disuntikkan untuk memperlambat pembusukan tersebut. Hal ini lazim dilakukan umat Kristen apabila ada alasan tertentu yang membuat jenazah tidak langsung dikuburkan. Ketika akhirnya tubuh yang membusuk itu dimasukkan ke dalam tanah, maka daging itu tetap berubah menjadi tanah sebab daging memang berasal dari tanah (Kej. 2:7). Oleh karena itu, Alkitab benar dengan mengatakan bahwa daging tidak ada artinya dan tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1Kor. 15:50).
Bagaimana halnya dengan roh atau napas manusia? Napas dan roh berasal dari Allah yang menghembuskan ke dalam tubuh tanah saat penciptaan (Kej. 2:7), maka napas itu berasal dari Allah dan secara otomatis akan kembali kepada Allah (Pkh. 12:7b). Dari tanah kembali ke tanah dan dari Allah kembali kepada Allah, itu wajar. Pertanyaannya: ketika kembali kepada Allah, apakah roh tersebut tetap dalam keadaan "sadar" dan jiwa yang memahami sekelilingnya? Alkitab tidak memberi jawaban yang hitam putih soal itu dan sebab roh manusia adalah milik Allah, ada dua kemungkinan besar: tidur sesuai dengan istilah yang juga dipakai Alkitab, atau hidup bersama-sama dengan Allah dalam pengertian "sadar dan hidup". Kedua kemungkinan ini ada ayat pendukungnya, sehingga lebih baik itu tetap menjadi misteri Allah (bandingkan yang sadar pada Luk. 16:19-31; Why. 14:13 dan yang tertidur pada Mat. 9:24; Ef. 2:12; Yoh. 11:11; Mzm. 146:4; Pkh. 9:5-6; Yes. 38:18). Namun yang penting, baik dalam keadaan sadar atau tertidur, roh manusia itu telah bersama-sama dengan Allah dan itu pasti keadaan yang sangat tenteram dan penuh damai sejahtera (Flp. 1:23). Tentu ada kemungkinan lain, yakni jiwa dan roh manusia masuk neraka dan penghukuman, tidak bersama Allah (Ef. 2:1, 5).
Oleh karena itu melalui suratnya ini Rasul Paulus menekankan bahwa kematian bukanlah akhir dari semuanya. Mereka telah melihat dan mendengar bagaimana Tuhan Yesus telah bangkit dari kematian, mengalahkan maut, maka kita pun yang percaya pada-Nya pasti dibangkitkan untuk bersama-sama dengan Dia. Betul, perpisahan fisik dengan yang kita kasihi pasti membawa kesedihan. Saat tubuh yang selama ini dapat kita lihat dan dekap tiba-tiba direnggut dari hadapan kita, pasti membawa kesedihan. Tetapi begitu menyadari bahwa jiwa dan rohnya kembali kepada Bapa dalam hadirat ketenangan dan damai sejahtera, maka kita tentunya merasa tenang dan ikut bahagia. Kematian adalah pintu masuk ke hadapan Kristus (band. 2Kor. 5:8) dan mati adalah sebuah keuntungan (Flp. 1:21). Memang Alkitab mengatakan kematian adalah upah dosa dan setelah kematian datang akan ada penghakiman. Namun orang yang mengasihi Kristus tidak akan masuk dalam penghukuman, sebab dosa-dosa kita sudah dibayar lunas dengan kematian-Nya. Jadi jangan terlalu sedih seperti orang yang tidak mengenal Tuhan Yesus dan tidak berpengharapan. Kita berpegang pada janji-Nya dengan iman. Ketika Kristus datang kembali, semua yang mati yang percaya pada penebusan Kristus, baik mereka yang hidup dan percaya, akan dikumpulkan dan dipersatukan Allah. Jadi tidak perlu khawatir mereka tidak menerima kemuliaan saat Kristus datang. Semua akan hidup bersama Kristus dalam kekekalan.
Kedua: Kita tidak mendahului mereka yang telah meninggal (ayat 15)
Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa ada kebangkitan. Pada Perjanjian Lama dituliskan ada tiga kebangkitan orang mati, meski kebangkitannya hanya sebentar, yakni putra seorang janda (1Raj. 17:21-22), putra perempuan Sunem (2Raj. 4:32-36) dan yang bangkit setelah tersentuh tulang-tulang Elisa (2Raj. 13:21). Demikian juga pada Perjanjian Baru ada lima kisah kebangkitan orang mati yang terjadi baik oleh Tuhan Yesus maupun oleh para rasul, seperti putri Yairus (Mat. 9:24-25), pemuda dari Nain (Luk. 7:14-16), Lazarus (Yoh. 11:43-44), Dorkas (Kis. 9:40-41) dan Euthikus (Kis. 20:9-12). Semua kisah kebangkitan tersebut berakhir dengan kematian fisik selama-lamanya. Ini berbeda dengan kebangkitan yang dijanjikan oleh Tuhan melalui firman-Nya, yakni setelah kematian fisik, maka ada kebangkitan dan hidup selama-lamanya.
Mereka yang dibangkitkan akan mendapat upah. Hal ini sangat kuat dasarnya, sebab manusia di dunia ini tidak sama tingkat iman dan ketaatannya serta besar-kecil perbuatannya yang berkenan kepada Tuhan. Demikian juga bahwa semua orang memiliki tingkat kejahatan yang berbeda sehingga masing-masing orang wajar menerima upah pahala atau hukuman dosa yang tidak sama. Oleh karena itu, sangat tidak logis bila ada penghakiman yang lebih awal bagi mereka yang mati lebih dahulu. Dari prinsip keadilan, semua mestinya dihadapkan pada pengadilan yang bersamaan waktunya, meski kekekalan tidak lagi mempersoalkan waktu sebentar atau lama, dan demikian juga adanya kedaulatan Tuhan dalam semua proses itu.
Dengan dasar itu maka ketika Kristus kembali, orang mati akan dibangkitkan terlebih dahulu dan bersama-sama orang yang hidup menerima janji Allah sesuai dengan iman dan perbuatan masing-masing. Memang agama Katolik masih mempercayai purgatori yakni api penyucian, dengan dasar manusia diselamatkan namun belum kudus sehingga perlu disucikan terlebih dahulu sebelum masuk ke sorga. Kekristenan adalah agama pengharapan dan sekaligus kepastian dalam iman. Tuhan Yesus memberikan pengampunan dan bukan pembalasan atau penghukuman, dengan Roh Kudus sebagai meterai dan jaminan. Tuhan Yesus memberikan anugerah dan kasih dan bukan balas dendam, memberikan kemenangan dan bukan kekalahan, serta memberikan hidup yang kekal abadi untuk hidup bersekutu selamanya dengan Allah. Semua itu pasti terjadi sebab Kristus sebagai pusat iman kita telah bangkit dari kematian, hidup dan berkuasa dari sorga hingga kelak kembali menjemput mereka yang setia dan dikasihi-Nya (band. 1Tes. 1:10) dan bersama-sama dalam kekekalan.
Ketiga: Kita yang hidup diangkat bersama-sama dalam awan (ayat 16-17a)
Dalam Mrk. 13:26 Tuhan Yesus berkata, “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” Maka dalam ayat yang kita baca minggu ini, diberikan lima tanda-tanda saat kedatangan Kristus:
1) Akan tampak dengan kasat mata dan terdengar di telinga
2) Akan ada seruan yang keras dari penghulu malaikat. Penghulu malaikat adalah malaikat tertinggi atau terkudus di antara semua malaikat yang ditunjuk untuk tugas tententu. Mihkael adalah penghulu malaikat yang disebutkan dalam Perjanjian Baru (Yud. 9).
3) Saat penampakan Allah, ada bunyi sangkakala sebagaimana yang terjadi para Perjanjian Lama (band. Kel. 13:22; 19:16; Mat. 24:30 dab; 2Tes. 1:8 dab). Peristiwa ini jelas menggambarkan kemegahan dan keagungan Tuhan Yesus ketika Ia turun dari sorga.
4) Orang yang percaya kepada Kristus akan bangkit dari kubur (Yoh 5:28).
5) Orang percaya yang masih hidup, tubuh mereka akan diubah dan akan diangkat ke awan menyambut Kristus.
Tidak ada yang meragukan bahwa Tuhan Yesus telah naik dan kembali ke sorga, sebab Ia memang berasal dari benih sorgawi. Sebagaimana dikatakan saat kenaikan-Nya, maka ketika Ia akan turun kembali dan semua orang akan melihat-Nya dengan nyata (Kis. 1:10-11). Tuhan Yesus pasti memenuhi janji-Nya kembali untuk mempersiapkan tempat bagi kita dan mengumpulkan kembali kita yang setia kepada-Nya (Mrk. 13: 27; Yoh. 14:3). Orang mati yang bangkit dari kuburnya akan menanggapi tanda yang diberikan Allah. Peristiwa bangkit dari kubur secara bersamaan pernah terjadi saat Tuhan Yesus bangkit dari kematian dan sekaligus membuka kubur para orang kudus (Mat. 27:52-53). Perbedaannya adalah ketika mereka bangkit masih dengan tubuh jasmani. Akan tetapi ketika kita bangkit di akhir zaman, tubuh kita diubahkan. Ini dinyatakan jelas dalam Alkitab: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?” (1Kor. 15:35). Jiwa yang tadinya “tertidur” akan disadarkan dan tubuh yang bangkit adalah tubuh rohani yang penuh kemuliaan sebagaimana dinyatakan, “Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah” (1Kor. 15:44). Peristiwa ini berlangsung dalam seketika dan merupakan peristiwa misteri Allah, sebab semua umat manusia yang diselamatkan akan mengisi alam semesta secara bersamaan. Ini jelas di luar jangkauan pikiran manusia. Namun, kalau kita amati, alam semesta begitu besar dan luas sehingga dengan kuasa Allah yang Mahabesar segala sesuatu pasti bisa terjadi.
Gambaran ketiga, semua manusia yang masih hidup dan percaya akan diangkat ke awan untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus (band. Why. 1:7; 11:12). Kedatangan Tuhan Yesus di angkasa mungkin ada hubungannya dengan tempat tinggal berkuasanya roh-roh jahat (Ef. 2:2; 6:12) sehingga kuasa-kuasa tersebut perlu dikalahkan terlebih dahulu sebelum Tuhan Yesus kembali memerintah di bumi yang baru dengan penuh damai sejahtera. Peristiwa di awan ini sering disebut sebagai Keangkatan Gereja, yakni ketika semua orang percaya yang menjadi warga gereja ikut dalam peristiwa sukacita yang menjadi puncak pengharapan orang percaya. Peristiwa keangkatan gereja memang masih menjadi perbedaan pendapat, sebab sebagian mengatakan ini adalah metafora dan sebagian lagi mengatakan bahwa hal itu merupakan hal yang nyata nantinya. Sebab pertanyaan yang muncul kemudian adalah: ketika semua berkumpul di awan, apakah semua orang percaya ini akan kembali bersama-sama ke bumi untuk memerintah bersama-sama Tuhan Yesus? (band. Yoel. 3:11; 1Tes. 3:13, Yud. 14). Jawabannya sangat dipengaruhi oleh pandangan ada tidaknya masa kesengsaraan sebelum Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya. Ini jelas masih merupakan misteri Allah yang tidak akan terpikirkan dan terjawab manusia.
Keempat: Selamanya kita bersama-sama dengan Tuhan (ayat 17b-18)
Memang tidak diketahui dengan tepat tentang waktunya orang mati dibangkitkan. Akan tetapi hal lebih penting adalah mengetahui alasan Rasul Paulus menuliskan hal ini, yakni mendorong orang percaya agar saling menghibur dan menguatkan satu sama lain ketika seseorang meninggal dipanggil Tuhan. Ini memang pesan yang sangat bagus bagi mereka yang dipisahkan oleh kematian fisik di dunia ini, tetapi akan dipersatukan kembali sesuai janji Tuhan, dan akan bersama-sama dengan Kristus untuk memerintah dalam kekekalan. Oleh karena itu, kita tidak perlu putus asa ketika orang yang kita kasihi meninggal, atau terjadi hal-hal yang tragis dalam hidup. Kita imani saja bahwa setiap kegetiran dan hal tragis dalam hidup pasti akan berubah menjadi kemenangan dan keberhasilan, kemiskinan berubah menjadi kekayaan, penderitaan menjadi kemuliaan, kekalahan menjadi kemenangan. Semua orang percaya dalam sepanjang sejarah akan berdiri tegak, damai sejahtera dan aman bersama Kristus.
Rasul Paulus dan jemaat Tesalonika memiliki keyakinan kuat bahwa tidak lama lagi Kristus akan kembali (1Kor. 7:29, Flp. 4:5). Keyakinan ini sangat diperlukan mengingat situasi pada saat itu yang penuh penganiayaan dan penderitaan, membuat mereka lebih kuat dan tegar. Ketiadaan dukungan membuat mereka yang jatuh tidak memiliki semangat dan kehidupan mereka juga akan penuh ketakutan. Iman adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dikuatkan sehingga ketika datang ujian yang menciutkan, iman kita itu tidak menjadi kecil dan lemah yang dapat membawa pada keputusasaan. Meski hal yang disampaikan oleh Rasul Paulus belum terjadi saat itu - sebab masanya hanya Allah Bapa yang tahu, itu tidak membuat kita lalai bahwa kematian dapat senantiasa datang tiba-tiba sebagaimana juga kedatangan Kristus kembali. Hidup ini penuh dengan godaan dan tantangan yang membuat kita kadang lemah. Oleh karena itu, sebagaimana Rasul Paulus menghibur dan meneguhkan jemaat Tesalonika dengan kebangkitan orang mati, maka kita juga perlu menghibur dan meneguhkan satu sama lain dengan pengharapan yang penuh (band. 1Tes. 5:11).
Bagi kita orang percaya, hal yang utama adalah percaya bahwa ketika kematian datang atau Kristus datang untuk kedua kalinya, kita akan hidup bersama-sama dengan Allah dan itu merupakan sukacita yang luar biasa (band. 1Tes. 5:10; 2Tes. 2:1). Ia adalah Tuhan orang hidup dan yang mati (Rm. 4:9), Tidak ada hal di dunia ini yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Kedatangan Kedua berpusat pada Tuhan sendiri sebab Dia telah mengetahui akhir dari segala sesuatu. Yang penting kita selalu sadar, waspada, dan penuh pengharapan, “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Mat. 16:27). “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2Kor. 5:15). Itulah karya yang diharapkan dari kita semua.
Penutup
Bacaan kita minggu ini memberikan sebagian gambaran tentang kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya. Eskatologi adalah ilmu yang sangat dalam dan luas dan tetap dibatasi oleh kemampuan manusia untuk memikirkan hal yang belum pernah dialami oleh siapapun. Memang ada kesaksian tentang mati suri atau kisah dibawa ke sorga, namun itu kita jadikan sebagai kekayaan rohani saja. Pegangan kita tetaplah Alkitab sebagai sumber kebenaran dan pengharapan. Melalui bacaan ini kita tidak perlu takut menghadapi kematian atau bersedih apabila kita dipanggil Tuhan, atau seseorang yang kita kasihi lebih dahulu masuk dalam pangkuan-Nya. Kita tidak perlu berdukacita seolah tidak mempunyai pengharapan bagaikan orang yang tidak mengenal Kristus. Kita akan bertemu dengan mereka lagi sebagaimana kita juga akan bertemu dan bertatap muka dengan Kristus. Firman-Nya meneguhkan bahwa kita tidak mendahului mereka yang telah meninggal, melainkan kita yang hidup diangkat bersama-sama dalam awan. Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan jaminan janji Tuhan bagi kita yang sudah percaya, serta penghukuman tidak terjadi sebab dosa dan kesalahan kita telah ditebus oleh-Nya. Inilah yang menguatkan iman dan pengharapan semua orang Kristen dan untuk itu kita perlu saling menasihati dan berkarya saling mendukung.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu XXIV Setelah Pentakosta – 8 November 2026
Khotbah Minggu XXIV Setelah Pentakosta –8 November 2026 (Opsi 2)
BIJAKSANA ATAU BODOH (Mat. 25:1-13)
"Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya” (Mat. 23:12)
Tidak terasa dalam tiga minggu ke depan menurut kalender gereja, kita akan memasuki masa Adven. Firman Tuhan bagi kita saat ini Mat. 25:1-13, berbicara tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh. Dituliskan, Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, pengiring yang menyongsong mempelai laki-laki dengan membawa pelita. Tradisi menanti pengantin pria sangat umum di Palestina. Dalam perumpamaan ini disebutkan dari sepuluh, ada lima gadis bodoh dan lima yang bijaksana. Gadis bodoh membawa pelita tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana membawa pelita dan juga minyak dalam buli-buli mereka (ayat 2-4).
Yang jelas semua gadis kemudian mengantuk dalam penantian, lalu tertidur. Tetapi di tengah malam, terdengar suara berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Dan kita tahu, gadis bodoh tidak dapat menyalakan pelitanya, dan tidak ada seorangpun gadis bijaksana yang mau memberi minyak. Mencari kesempatan di saat genting memang sering upaya sia-sia.
Peribahasa tua mengatakan, menjadi bijaksana merupakan penerapan pengetahuan, dan menjadi taat merupakan penerapan kebijaksanaan. Hubungan jemaat dengan Kristus diibaratkan bagaikan sepasang mempelai (Mzm. 45; Hos. 2:18; Why. 19:7). Penyatuan dalam upacara sorgawi akan berlangsung ketika Tuhan Yesus datang kedua kalinya (K4). Oleh karena itu, mereka yang tidak mengenal Tuhan dengan benar, yang hidup dalam kegelapan, akan sulit menjadi bijak seperti peribahasa tersebut. Tuhan dalam gambaran orang-orang bodoh hanya samar-samar, antara ada dan tidak ada, dan mengandalkan “kata orang”. Tuhan bagi mereka bukanlah Pribadi yang penuh kasih tetapi dapat marah dan menghukum. Hukuman bagi orang bebal dan bodoh merupakan bukti kasih bagi orang taat dan bijak; Allah Mahaadil.
Dalam kehidupan, orang bodoh biasanya susah belajar dari orang bijak, sementara orang bijak akan terus belajar dari kebodohan orang lain. Itu kenyataan hidup. Dan kunci menjadi bijak adalah mengenal Kristus dengan berusaha terus merendahkan diri, takut akan Dia, bersikap hormat, menyapa melalui doa dan firman-Nya, dan melakukannya setiap hari. Mengenal Tuhan sebagai Pribadi yang berkuasa atas hidup, membuat kita bijak dalam mengarungi kehidupan, dengan segala mosaik problematik saat suka maupun di saat duka. Pengharapan kuat terhadap janji Tuhan, merupakan bukti ketaatan dan menunjukkan kita percaya penuh kepada-Nya.
Nas minggu ini mengingatkan kita tentang kedalaman dan kedekatan hubungan kita dengan Kristus, dan refleksi kerinduan kita untuk bertemu dengan-Nya menyongsong masa adven. Kedatangan Kristus tidak disangka-sangka, dan kita tidak tahu hari maupun saatnya, bagaikan pencuri di malam hari. Maka sikap kita hanya berjaga-jaga, selalu bersiap (ayat 13; Luk. 12:39; 2Pet. 3:10).
Menjalani hidup perlu perencanaan, disiplin dalam mewujudkan cita-cita. Ini akan membentuk karakter, sekaligus sikap hidup dalam menghadapi rintangan dan cobaan. Bagi yang lengah dengan mengabaikan ketaatan, saatnya untuk kembali menghidupkan nyala roh hubungan kita dengan Tuhan kita. Penyesalan di saat akhir, sering tidak berguna.
Jangan yang sudah dimulai dengan hal baik kita akhiri dengan hal yang bodoh, kata nasihat Warren Baffet, orang kaya dunia yang sederhana. Mari kita akhiri pertandingan hidup dengan iman dan setia (2Tim. 4:7). Jangan sampai ketika masa itu tiba, kita adalah bagian dari yang berteriak memohon membukakan pintu sorga, tetapi jawaban-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu” (ayat 12).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 1 November 2026
Kabar dari Bukit
INTEGRITAS DAN PANGGILAN DI TENGAH KETIDAKADILAN (Mikha 3:5-12)
”Apabila mereka mendapat sesuatu untuk dikunyah, maka mereka menyerukan damai, tetapi terhadap orang yang tidak memberi sesuatu ke dalam mulut mereka, maka mereka menyatakan perang” (Mi. 3:5)
Selamat pagi dan salam kasih.
Pakar psikologi mengatakan bahwa motivasi berhubungan dengan keinginan untuk mendapatkan penghargaan dan pengaruh dari lingkungannya. Umat memberi persembahan dan motivasi menjadi hamba Tuhan yang diteguhkan di gereja, atau di kelompok/WAG dengan menyebarkan firman Tuhan, semua berpulang kepada motivasi. Semoga panggilannya didasarkan motivasi yang baik, didukung integritas yakni satunya kata dan perbuatan. Bila tidak, mereka menyesatkan dan Alkitab mengajarkan bahwa hukumannya: ukurannya lebih berat (Yak. 3:1).
Firman Tuhan bagi kita yang berbahagia di hari Minggu ini adalah Mikha 3:5-12; pesan peringatan kepada nabi-nabi palsu, pemimpin, para iman dan bahkan hakim, yang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, sebagaimana ayat pembuka di atas. Nabi Mikha memang melayani pada masa Yehuda dan Israel menghadapi berbagai persoalan keagamaan, moral dan juga sosial.
Kritik Nabi Mikha, mereka tidak lagi peduli terhadap keadilan dan kebenaran. Mereka membengkokkan segala yang lurus untuk kepentingannya, menerima suap dan berhitung untung rugi dalam pelayanan (ay. 9-11a). Ironisnya, mereka memiliki keyakinan bahwa Tuhan tetap ada pada pihaknya dan berada di tengah-tengah mereka serta tidak membawa malapetaka yang menimpa (ay. 11b). Ini jelas salah besar. Mikha kemudian mengingatkan bahwa Roh Tuhan yang penuh dengan kekuatan, keadilan dan keperkasaan, akan memberitakan pelanggaran dan dosa mereka serta hukumannya: "Sion akan dibajak seperti ladang, dan Yerusalem akan menjadi timbunan puing, dan gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan" (ay. 9,12).
Nas ini juga dapat direfleksikan pada situasi bangsa kita saat ini. Kita melihat kekuasaan tidak lagi peduli dengan keadilan dan kebenaran. Kebijakan banyak dibuat untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Berbagai proyek diciptakan untuk menangguk keuntungan besar dan bukan untuk kepentingan rakyat banyak. Kita lihat amburadulnya pelaksanaan MBG dan KDMP, surplusnya para jenderal, bertambahnya kodam dan jajarannya, kabinet seratusan menteri, dewan-dewan yang tumpang tindih dan lainnya. Di tengah sulitnya menaikkan pertumbuhan ekonomi dari kekuatan sendiri, maka langkah mudah yang diambil adalah mengambil hutang baru; tentunya akan menjadi beban anak cucu kita nanti.
Apa yang kita orang percaya dapat lakukan di tengah situasi tersebut? Pesan rohani dan moral Nabi Mikha bukan hanya untuk hamba Tuhan, tetapi juga berlaku bagi setiap orang percaya. Betul, kita memang harus tunduk kepada pemerintah (Rm. 13:1-2). Tetapi itu tidak berarti kita harus diam dan apatis. Kita juga belajar dari pengalaman, mengganti pemerintahan di tengah jalan bukanlah jalan terbaik saat ini.
Hal yang dapat kita lakukan adalah perlu menjadi teladan dan tidak terbawa arus. Tiap kita pasti membawa pengaruh rohani bagi orang lain khususnya di keluarga dan lingkungan. Kedua, menyadari kita bertanggung jawab atas kejujuran dan keadilan yang kita tegakkan. Tuhan tidak melihat identitas, tetapi juga integritas. Ketiga, tetap kritis dan berani menyuarakan kebenaran dengan cara kristiani, berdasar fakta dan bukan kebencian. Keempat, tetap berdoa bagi pemimpin dan bangsa disertai iman dan pengharapan pemimpin ke depan. Terakhir, proaktif dalam membangun diri dan kelompok kecil. Tidak semua harus dimulai dari hal besar, hal kecil jika meluas, akan menghasilkan karya besar. Kiranya Tuhan tidak menghukum bangsa kita.
Selamat beribadah dan bersekutu.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu XXIV Setelah Pentakosta –8 November 2026
Khotbah Minggu XXIV Setelah Pentakosta –8 November 2026 (Opsi 3)
BERTUHAN ITU PILIHAN DAN BERKONSEKUENSI (Yos. 24:1–3a, 14–25)
”Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yos. 24:15b)
“Hidup adalah pilihan” merupakan ungkapan yang sudah sering kita dengar, meski ada bagian hidup yang tidak dapat kita pilih, seperti kelahiran, kondisi fisik, orang tua, suku bangsa, dan lainnya. Kadang hal ini disebut sebagai nasib atau takdir, yang pengertiannya bisa negatif atau positif, tergantung sudut pandang. Namun setelah pribadi berkembang dan akal pikiran bertumbuh, manusia selalu diarahkan untuk memilih, mulai dari hal kecil seperti jenis makanan atau minuman, sekolah, kerja keras atau santai, pernikahan dan jumlah anak, hingga keputusan lainnya.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yos. 24:1–3a, 14–25. Nas ini merupakan amanat perpisahan Yosua setelah berhasil membawa umat Israel memasuki Tanah Kanaan. Ia mengumpulkan para tua–tua dan pemimpin untuk mendengar amanatnya. Tugasnya telah selesai, dan ia meminta umat Israel memilih: menyembah Allah yang memanggil Abraham untuk menjadi bangsa yang besar, atau tidak menyembah allah nenek moyang mereka maupun allah asing yang baru mereka kenal.
Kita juga bisa dihadapkan pada situasi serupa. Saat ini ada banyak pengertian Allah yang dikenal umat manusia. Sejarah agama memperlihatkan bahwa konsep dan pemahaman tentang Allah memang berkembang, mulai dari penyembahan terhadap “sesuatu” yang didasari ketakutan dan ketidaktahuan, hingga menjadi sumber pengharapan. Allah masa kini juga dikenal dalam berbagai versi, mulai dari Allah yang memberi “restu” untuk membunuh demi keyakinan, hingga pengertian Allah yang tidak dapat dikenal dan tidak terjangkau pikiran oleh kaum agnostik.
Selain itu, ada allah lain dalam bentuk filsafat, seperti humanisme dan eksistensialisme yang berpusat pada manusia semata. Ada doktrin lain seperti materialisme, rasionalisme, scientologi, paganisme modern, dan lainnya. Ekstrim dari semuanya adalah keyakinan tidak ada Allah oleh kaum ateis. Keberadaan Allah dengan pernyataan-Nya “Aku adalah Aku” (Kel. 3:14) sering diubah menjadi “I think, therefore I am” (aku berpikir maka aku ada) oleh Descartes, menekankan manusia sebagai otonom. Nietzsche menyatakan Allah telah mati, dan Voltaire memprediksi kekristenan akan punah dalam 100 tahun; kenyataannya pandangan mereka salah dan hidup mereka sia-sia.
Tidak dapat disangkal, pilihan seseorang banyak dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya. Menurut D. A. Carson dan John D. Woodbridge dalam buku God and Culture, pandangan seseorang tentang Tuhan, dirinya, dan dunia dipengaruhi oleh waktu dan tempat hidup, masa kanak-kanak, kelas sosial, jenis kelamin, hingga biokimia tubuh. Faktor lainnya termasuk kepekaan rohani untuk terbuka melihat karya Tuhan dalam sejarah hidup dan alam semesta.
Allah kita dikenal dalam Pribadi Yesus Kristus. Riwayat hidup, pelayanan, mukjizat, hingga kematian dan kenaikan-Nya ke surga sangat jelas tertulis dalam Alkitab. Perjalanan hidup-Nya yang singkat justru memudahkan kita untuk memahami bahwa Allah adalah Roh Kudus dan Allah adalah Kasih, sebagaimana Tuhan Yesus mengajarkan dan meneladankan dalam hidup-Nya. Yesus sebagai Pribadi manusia memudahkan kita meneladani-Nya, meski menjadi serupa dan sempurna tetap merupakan hal yang mustahil.
Melalui nas minggu ini, Allah memberi hikmat melalui pribadi Yosua. Pembaruan komitmen, sebagaimana judul perikop nas, menjadi tantangan bagi kita. Pernyataan Yosua sebelum meninggal dan dikuburkan (ay. 29–30), “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN” (ay. 15b), menjadi sangat penting. Ayat sebelumnya juga menjadi kunci kebenaran tekad pembaruan itu: “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus, ikhlas, dan setia” (ay. 14).
Sudahkah kita takut akan TUHAN, dan sudahkah kita beribadah bersama keluarga dengan tulus dan setia? Semoga kita bijaksana dan bukan bodoh (bdk. Mat. 25:1–13).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu XXIII Setelah Pentakosta –1 November 2026
Khotbah Minggu XXIII Setelah Pentakosta –1 November 2026
HIDUP SESUAI DENGAN KEHENDAK ALLAH (1Tes. 2:9-13)
Bacaan lainnya: Yos. 3:7-17 atau Mi. 3:5-12; Mzm. 107:1-7, 33-37; Mat. 23:1-12
Pendahuluan
Pada bagian awal pasal 2 ini dijelaskan tentang bagaimana manusia yang tidak layak karena dosa dan kelemahannya dijadikan Allah layak untuk melayani-Nya, membawa dan menyiarkan kabar tentang Tuhan Yesus. Manusia pasti merasa bersyukur dan terhormat saat diberi tugas melayani, yang dapat dilakukan dengan pelayanan langsung maupun tidak langsung. Injil adalah karya Allah yang begitu dalam dan luas sehingga tidak seorang pun dapat mengklaim batasan dan cakupan pelayanan kabar baik tersebut, sepanjang semua dilakukan dengan kasih dan demi kemuliaan nama Tuhan Yesus. Hanya untuk dapat melakukan tugas pelayanan, diperlukan pola hidup yang mendukung, sehingga pelayanan tidak menjadi batu kerikil sandungan bagi gereja dan kemuliaan Tuhan Yesus. Melalui nas minggu ini kita diberikan pengajaran sebagai berikut:
Pertama: Hidup bekerja keras dan berkarya dengan Injil (ayat 9)
Allah menghendaki setiap orang percaya menjadi pembawa dan penyiar berita tentang keselamatan yang telah diperolehnya melalui Tuhan Yesus. Sukacita anugerah yang diperolehnya harus dibagikan kepada semua orang, khususnya bagi mereka yang belum pernah mendengar tentang kasih Allah yang begitu besar melalui Tuhan Yesus yang menebus manusia dosa umat yang percaya kepada-Nya. Pembawa berita dalam hal ini berarti utusan atau duta yang dalam Alkitab disebut dengan Rasul dan setelah para rasul menuliskannya, maka utusan disebut sebagai pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar (Ef. 4:11, kita mengabaikan adanya Rasul dan Nabi saat ini). Kita tidak perlu membatasi gambaran penginjil harus pengkhotbah atau pemimpin kelompok Pemahaman Alkitab (PA), sebab dalam teori penginjilan juga disebut kalau tindakan perbuatan kasih yang didasarkan atas iman dan diekspresikan dalam nama Tuhan Yesus pada hakekatnya adalah perbuatan pekabaran dan penyiaran Injil. Kita juga tidak perlu menguji bahwa seorang penginjil atau pelayanan sosial harus disertai dengan kuasa-kuasa atau tanda-tanda mukjizat hebat (Mat. 10:1–4; Mrk. 16:20; Luk. 9:1-6), sebab karya mereka bisa menjadi mukjizat kecil dalam kehidupan orang lain. Kepada para rasul dan nabi benar telah diberikan kuasa itu yang kemudian menjadi dasar gereja, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru yang membuat Kekristenan menjadi seluas sekarang ini (Kis. 2:42–43, dll).
Adalah menjadi kebiasaan pada masa gereja mula-mula, apabila para penginjil atau pengajar (agama dan filosofi) datang ke satu kota, mereka mendapatkan “bayaran” atau tinggal di rumah-rumah pendengar/anggota. Mereka ini juga merasa mendapatkan suatu kehormatan dapat menjamu para guru ini. Namun kebiasaan tinggal itu umumnya hanya untuk beberapa hari saja, karena yang menjamu juga akan merasa terbeban berat bila terlalu lama. Apabila ada keinginan mereka untuk tinggal lama dan menjadi beban, maka dapat dipastikan mereka adalah penginjil dan guru-guru palsu. Meski Rasul Paulus mengatakan dalam suratnya yang lain, “Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu (Gal. 6:6; 1Kor. 9:13-14; 2Ko.r 11:9), semua itu harus dilakukan dengan sukarela dan kasih. Perlu juga diperhatikan pada masa itu sesuai pandangan Yunani, mereka yang bekerja dengan fisik dan kasar, dinilai sebagai kerja budak dan sangat rendah dibandingkan dengan mereka yang tugasnya lebih banyak berpikir dan di dalam ruangan.
Rasul Paulus memahami situasi itu sehingga merespon dengan tindakan nyata. Ia lebih memilih bekerja sebagai pembuat kemah/tenda (Kis. 18:3) sehingga tidak menjadi beban bagi orang percaya di Tesalonika (band 5:13). Ia memperlihatkan kerja keras dengan bekerja siang dan malam untuk dapat menghidupi diri mereka sendiri, mengatur waktu sebelum matahari terbit agar cukup waktu untuk memberitakan Injil. Rasul Paulus mengatakan, “Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu” (1Kor. 9:15a; 2Kor. 12:13; 2Tes. 3:8). Sikap ini penting bagi semua pekerja hamba Allah agar tidak menuntut yang lebih banyak dari jemaat yang dilayani, sebab yang utama adalah bagaimana nama Tuhan diperluas dan dipermuliakan. Ini menjadi batu ujian motivasi, sebab seperti yang dikatakan Paulus, “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil (1Kor. 9:16b). Seorang pembawa dan penyiar Injil dengan firman dan/atau kasih yang layak bagi Tuhan, seyogianya memberikan pengajaran yang benar, membuktikan motivasi yang baik, dan siap memberikan pengorbanan dengan kerja keras sebagai wujud kasih yang besar terhadap jemaat.
Kedua: Menguatkan hati seorang demi seorang (ayat 11)
Ketika seseorang menjadi pengkhotbah, maka tugasnya hanya sebatas dari mimbar atau saat pengajaran, meski sesekali perlu memperlihatkan kepedulian dan kasih pada mereka yang pernah diajarnya. Akan tetapi ketika ia menjadi seorang gembala yang bertanggungjawab penuh terhadap pertumbuhan rohani jemaat, maka ia memiliki tanggungjawab yang besar dan tidak mudah. Ada beberapa tanggungjawab seorang gembala yang secara umum dirumuskan sebagai berikut:
1. Mengajarkan ajaran yang benar dan sehat (2Tim. 2:25, 3:14-17)
2. Menumbuhkan iman jemaat (1Tim. 4:6-7, 16; 2Tim. 1:14)
3. Mendisiplinkan jemaat (Mat. 18:17; 1Kor. 5:13)
4. Menemukan karunia rohani yang tepat (kuasa Allah bekerja)
5. Menjadi teladan (1Tim. 1:16) dengan hubungan yang penuh kasih
6. Memberitakan Injil dengan metode-metode yang sudah terbukti dan memikul tanggungjawab dalam pertumbuhan
7. Belajar dan bekerja keras terus menerus
8. Membangun struktur pelayanan yang tepat guna – adanya delegasi
9. Berpikiran posibilitas (serba mungkin) dengan dinamis dan memberdayakan.
Pada bagian pertama pasal 2 ini Rasul Paulus memberikan gambaran pelayanan seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawat anaknya. Seorang ibu jelas merawat dan mengasuh dengan kelemahlembutan, sebagai bagian dari buah-buah Roh dan penyangkalan diri, dan memberi hidupnya kepada orang yang dikasihi. Seorang ibu yang merawat anaknya pastilah dengan sepenuh hati dan biasanya rela untuk meninggalkan pekerjaan atau kariernya. Pada bagian kedua pasal ini, Rasul Paulus sebaliknya mengibaratkan peran gembala seperti bapa terhadap anaknya. Seorang bapa yang mengasihi pasti tidak akan mengabaikan keamanan dan kepedulian terhadap anak-anaknya, yang membiarkan mereka berjalan ke situasi yang membuat anak-anaknya celaka dan bahkan jatuh fatal. Oleh karena itu, peran nasihat untuk membangun kedisiplinan itu sangat penting pada anak. Peran itu perlu ditambah dengan menghibur dan menguatkan apabila dalam kebimbangan, kesukaran atau kesedihan. Itu merupakan kombinasi yang baik dan ideal. Disiplin diperlukan bukan sebagai hukuman, melainkan untuk pengajaran dan kebaikan. Dengan demikian pasal 2 ini menjadi lengkap, yakni gambaran peran gembala seperti seorang ibu memberikan kasih dengan mengasuh dan merawat penuh kelemahlembutan, seperti seorang bapa memberikan nasihat dan latihan serta kedisiplinan (1Kor. 4:14, 20). Gambaran ini memang pengaruh dari budaya patrialkal Yahudi, yakni ayah bertugas menasihati dan ibu bertugas untuk merawat.
Dengan cara yang sama, kita juga perlu membawa mereka yang baru percaya dan menerima Tuhan Yesus di dalam kepak sayap perlindungan, sampai mereka bisa mampu berdiri teguh dengan imannya. Kita perlu membantu mereka yang imannya sulit bertumbuh menjadi cukup kuat untuk meyakinkan akan kebenaran firman. Seorang yang melayani (baik sebagai gembala, penginjil atau pelayanan lainnya) haruslah memberi perhatian seperti seorang ibu dan bapa, dengan merawat, menasihati dan menuntun satu per satu, sehingga orang percaya baru itu memiliki keteguhan iman dan dapat menjadi sumber buah yang baru. Seorang gembala atau penginjil (bahkan orang percaya yang baik) harus menempatkan jemaat dan orang percaya lainnya bagaikan seorang anak yang perlu bimbingan asuhan orangtua.
Ketiga: Hidup sesuai dengan kehendak Allah (ayat 10, 12)
Di bagian ketiga ini kita menggabungkan ayat 10 dengan ayat 12 sebab keduanya memiliki hubungan yakni pola hidup dan keteladanan. Sebagai orang percaya, kita hidup dengan nilai-nilai baru sesuai dengan rencana Allah bagi seluruh umat yakni terciptanya keadilan dan kebenaran yang berdasarkan kekudusan. Adil dan benar merupakan tujuan utama semua hukum termasuk hukum Allah. Kesalehan dan kekudusan dalam hal ini memegang kata kunci, sebab hal yang biasa jemaat Tesalonika lihat adanya pemujaan terhadap dewa Aphrodit yakni dewa lambang kesenangan dan hawa nafsu di wilayah tersebut. Masalah moralitas dan seks termasuk prostitusi menjadi perhatian firman Tuhan agar orang Tesalonika khususnya mereka yang bukan orang Yahudi yang masih ikut terlibat ritual dewa tersebut menjadi bertobat (band. 4:5). Memang pada masa itu situasi lebih longgar, sebab masalah moralitas dalam konteks etika bukan menjadi bagian pengajaran agama, tetapi lebih kepada tugas para filsuf.
Rasul Paulus mendorong dan menguatkan jemaat Tesalonika untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya, sehingga mereka menjadi teladan yang akan diikuti oleh orang yang sesat dan belum menerima Tuhan Yesus. Mereka menjadi saksi melihat Rasul Paulus hidup dengan berlaku adil, saleh dan tidak bercacat selama tinggal di Tesalonika. Saksi mata ini penting, sebab Tuhan melihat hati dan motivasi yang kadang dapat dimanipulasikan oleh manusia (band. Rm. 1:9). Orang menilai kehidupan orang percaya sebatas yang dilihat mata. Sikap menjaga hidup agar tetap tidak bercacat sangat penting bagi orang percaya, sebab kita semua telah ditebus dan dibayar lunas. Kematian Tuhan Yesus di kayu salib sangat berharga sebagai pengganti dan penebus diri kita yang seharusnya mati karena dosa-dosa kita. Oleh karena itu, toleransi terhadap dosa harus nol, meski ketika jatuh kembali akibat kuatnya iblis dan kedagingan, Tuhan Yesus kembali membuka pengampunan, sepanjang dengan hati yang menyesal dan tulus. Sikap ini sangat berharga di hadapan Allah.
Mereka yang setia melakukannya sebenarnya yang dipanggil ke dalam kerajaan dan kemuliaan-Nya. Dipanggil dalam hal ini berarti berlakunya kedaulatan Allah untuk memilih dan menentukan (Rm. 8:28-29). Pengertian kerajaan dalam hal ini memiki dua dimensi (1Kor. 15:23-27), yakni dimensi saat ini dan saat nanti di kekekalan yang keduanya berhakekat damai sejahtera. Semua itu terjadi tatkala kita menempatkan Yesus sebagai Raja dan mengikuti perintah-Nya. Mereka yang hidup berdasarkan daging dan mengikuti keinginan iblis tidak layak menjadi anak-anak dan hamba-Nya, serta tidak berhak masuk ke dalam kerajaan-Nya (1Kor. 6:9, 10; Kol. 1:13; Ef. 5:5; Gal. 5:21). Kalau ada yang tidak bisa melihat kebaikan Tuhan dan tidak hidup dalam damai sejahtera serta tidak merasa berhutang untuk melayani-Nya, pasti ada yang salah dalam pikirannya. Maka kini, apakah masih ada bagian dalam hidup kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah? Kalau demikian halnya, apakah kita layak menjadi utusan dan saksi-Nya? Pernahkah kita bayangkan: Apa yang orang lain pikirkan tentang Tuhan Yesus dengan melihat yang kita lakukan? Apakah kemuliaan itu masih menjadi milik kita? Firman Tuhan mengatakan, Sebab itu aku menasihati kamu, “supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (Ef. 4:1; band. 4:17).
Keempat: Firman Allah bekerja di dalam kamu (ayat 13)
Rasul Paulus mengatakan bahwa firman Allah terus bekerja di dalam hati orang percaya. Ia menegaskan firman yang disampaikan (melalui pedengaran atau penglihatan - dengar, baca dan lihat), tidak semata-mata sebuah pidato atau informasi/dokumen, melainkan sebagai sumber kebenaran yang pasti dan teruji. Perjalanan panjang firman Tuhan Yesus yang diucapkan secara langsung maupun melalui inspirasi kepada para rasul yang menuliskan, serta didasarkan pada pengalaman hidup mereka, semuanya menjadi bukti bahwa firman yang tertulis itu bukan semata-mata perkataan manusia (1Kor. 11:23; 15:1, 3). Manusia sebagai penulis dipakai Allah sesuai dengan kehendak Allah dan rencana Allah sesuai dengan kepribadian dan lingkungan penulis. Proses kanonisasi yang demikian panjang, juga menjadi bukti Allah bekerja dalam semua hal itu, dan terutama semua itu merupakan perjalanan yang penuh dengan kisah tangisan derita dan air mata, tanpa sedikit pun dibalas dengan usaha kekerasan. Itulah firman Allah yang benar dan itulah Kekristenan.
Alkitab yang kita pegang di tangan kita penuh dengan kuasa yang nyata dan hidup. Firman telah mengubah kehidupan sebagian besar hidup manusia di bumi ini dan terus bertambah setiap hari. Selama 2000 tahun sejak Yesus mengucapkannya dan seluruh kisah di Kisah Para Rasul, menjadi bukti teruji meski sebelumnya ada yang meragukan bahwa itu isinya akan dilupakan orang. Oleh karena itu Rasul Paulus mengatakan, ia bersukacita sebab firman itu telah mereka terima. Firman itu bekerja ketika mulai diterima baik oleh pendengaran atau penglihatan, kemudian bekerja dalam hati manusia dengan dua cara: Pertama, melalui kesadaran manusia sendiri ketika firman itu didengar atau dibaca, kemudian direnungkan dan menghasilkan respon sambutan (Rm. 10:10, 17; 1Te 1:6). Kedua, sambutan terjadi atas kemauan manusia sendiri, meski ada kedaulatan Allah yang bekerja yang membuat manusia tunduk dan patuh atas kehendak-Nya dengan firman sebagai sarananya (band. Luk. 11:28; Rm. 1:16; 1Ptr. 1:23).
Maka bacalah firman Allah yang hidup itu dan teruslah membaca. Firman Allah adalah sebuah kekuatan yang mengubahkan (1Tes. 1:8; Ibr. 4:12). Memang akan terjadi peperangan rohani antara pikiran dan roh manusia dengan iblis jahat yang menggoda pikiran kita. Namun dengan kuasa pertolongan Roh Kudus, firman itu akan menang dan selalu benar. Oleh karena itu, dorong juga teman-teman yang lain untuk ikut membaca. Dorong yang belum mengenal Tuhan Yesus untuk membaca dan mengenal Tuhan Yesus. Bagi mereka yang melakukannya, yang sungguh-sungguh rindu untuk belajar, akan disentuh dan dipenuhi dengan kuasa, dan mereka tidak pernah menjadi manusia yang sama. Dengan firman itu, kuasa Allah bekerja sebagaimana dikatakan, “Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu” (Flp. 4:9).
Penutup
Melalui firman Tuhan minggu ini kita diberikan pengajaran tentang perlunya bekerja keras dalam hidup ini sambil tetap dalam pelayanan. Setiap orang percaya mesti masuk dalam pelayanan meski dalam bentuk tidak langsung. Akan tetapi pelayanan yang sepenuhnya bagi pemberitaan Injil membutuhkan dukungan dan bersinergi, agar mereka dapat lebih berbuah banyak. Rasul Paulus sendiri memberi keteladanan dengan bekerja keras sebagai pembuat tenda agar tidak menjadi beban jemaat. Penginjil dan pelayan serta orang percaya harus peduli dengan sesama, memberikan perhatian dengan dukungan moril dan doa. Nasihat dan keramahan adalah wujud kasih seperti seorang bapa dan ibu bagi anak-anaknya. Tetapi yang terutama, setiap anak-anak Tuhan harus hidup sesuai dengan kehendak Allah, dengan berlaku saleh, kudus, adil dan benar. Sebab bila hal itu diabaikan, maka akan menjadi batu sandungan. Kita tidak perlu pesimis atau khawatir tidak mampu melakukan semua itu, tetap optimis dan bersyukur sebagaimana Rasul Paulus, sebab kita adalah orang-orang yang dipanggil dan firman Allah akan bekerja dengan kuasa di dalam hati setiap orang percaya, sehingga kita berhak atas kerajaan dan kemuliaan kelak pada masanya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu XXIV Setelah Pentakosta – 8 November 2026Khotbah Minggu XXIV Setelah Pentakosta –8 November 2026 Saat...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu XXIV Setelah Pentakosta – 8 November 2026Khotbah Minggu XXIV Setelah Pentakosta –8 November 2026 (Opsi...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu XXIV Setelah Pentakosta –8 November 2026Khotbah Minggu XXIV Setelah Pentakosta –8 November 2026 (Opsi...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 74 guests and no members online
