2026
2026
Khotbah Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026
Khotbah Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026
kasih adalah kegenapan hukum Taurat (Rm. 13:8-14)
Bacaan lainnya: Mat. 18:15-20; Kel. 12:1-14 atau Yeh. 33:7-11; Mzm. 149 atau Mzm. 119:33-40;
Pendahuluan
Nas minggu ini merupakan kelanjutan Roma pasal 13:1-7 tentang perintah tunduk pada pemerintah yang resmi berkuasa dari Allah. Salah satu sikap tunduk itu adalah kepatuhan dalam membayar pajak dan cukai sehingga tidak menjadi hutang berkepanjangan. Sikap ini didasari atas kebenaran dan kasih kepada pilihan Allah yang memerintah untuk dipergunakan bagi kepentingan masyarakat banyak, yang kemudian kita menerima manfaatnya sebagai warga. Selanjutnya nas minggu ini menekankan kasih yang lebih menyeluruh di dalam hidup umat-Nya, sebab sesuai yang dituliskan, kasih sejatinya adalah kegenapan hukum Taurat. Sikap kasih itu dijabarkan dari larangan berpura-pura hingga wajib diwujudkan segera dalam kehidupan saat ini sebab waktu yang sempit sebelum kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Melalui bacaan minggu ini kita diberikan pengajaran tetang pelaksanaan kasih sebagai berikut.
Pertama: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! (ayat 8-9)
Pertanyaan untuk nas ini adalah: Mengapa hutang dikaitkan dengan kasih. Dalam ayat-ayat sebelumnya kita diingatkan untuk menyelesaikan seluruh kewajiban kita di dalam kehiduan sehari-hari dengan tepat dan benar, termasuk kepada pemerintah untuk pembayaran pajak, cukai, rasa takut dan hormat. Alasannya jelas. Kalau dalam hubungan dunia, kita mendapatkan dari pemerintah, seperti perlindungan keamanan, fasilitas publik, dan lain-lain, maka untuk itu kita perlu membayar pajak dan bea (band. Mat. 22:21). Dalam hal ini firman Tuhan mengatakan jangan kita berhutang apalagi “ngemplang” kepada pemerintah sebab kita sudah memerima kebaikannya. Hukum timbal balik dalam pengertian positif adalah sesuatu yang baik dan wajar. Maka kita juga yang sudah percaya pada Tuhan Yesus dan menerima anugerah-Nya, kasih Allah yang melimpah dicurahkan secara permanen, maka kita juga jangan sampai berhutang kepada-Nya. Jalan terbaik untuk membayar hutang kasih kepada Allah adalah dengan memenuhi kewajiban kasih kepada sesama di samping terus mengikuti perintah-Nya serta memuliakan-Nya (1Yoh. 5:2). Kasih Yesus akan selalu jauh lebih besar dari yang bisa kita berikan, Ia juga lebih dahulu mengasihi kita (1Yoh. 4:19) sehingga tidak mungkin terbayarkan meski dengan nyawa kita. Oleh karena itu kasih kepada sesama disebut sebagai hutang, bahkan hutang yang tidak dapat dibayar habis dan untuk membayarnya hanya dengan jalan kasih saja.
Demikian juga dikatakan bahwa kasih terhadap sesama dimulai seperti kasih kepada diri sendiri. Kita tidak boleh berpikir bahwa mengasihi diri sendiri adalah salah. Mengasihi diri sendiri dalam arti memberi respek terhadap diri sendiri dan mengakui karunia rohani Allah di dalam diri kita. Mengasihi diri sendiri dalam arti memelihara dan mengembangkan pikiran, tubuh, dan potensi diri kita, menggunakan seluruh karunia rohani tujuan yang baik bagi Tuhan, jelas sangat menyenangkan hati Tuhan. Hal yang dilarang dan ditolak Tuhan adalah mencintai diri sendiri secara berlebihan, narsis memuja berlebihan, dan itu akan menjadi tanpa ujung dan bisa tak habis-habisnya. Mengendalikan diri demi untuk mewujudkan kasih kepada sesama adalah pilihan orang Kristen. Hakekat Kristiani adalah pengorbanan. Tidak ada arti dan makna yang lebih dalam dari KASIH di dalam bahasa Indonesia yang berarti BERI. Kasih artinya memberi. Memberi artinya berkorban dan tidak menuntut bagian dan kepentingan kita. Apabila kita belum mampu memberi, maka bisa dengan meminjamkan yang kita punyai (Kel. 22:25; Mzm. 37:26; Mat. 5:42). Kalau kita meminjam maka segeralah lunasi atau mengembalikannya tanpa membuat orang lain susah dan menderita (band. Mat. 7:12). Firman Tuhan mengatakan, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1Yoh. 3:18).
Mungkin kita memiliki penilaian diri yang tidak tinggi, tetapi tidak mungkin membiarkan diri kita kelaparan. Baju yang kita pakai pun mungkin bisa sederhana saja. Kita juga pasti marah apabila seseorang mencoba menghancurkan rumah tangga kita, sebab kita mengasihi anak-anak kita. Semua ini adalah kasih yang kita butuhkan untuk sesama. Oleh karena itu pastikanlah bahwa ada ukuran plafon atau atap di atas kepala kita, agar kita tidak narsis dan besar kepala mencintai diri sendiri dengan berlebihan. Kita perlu melihat apakah tetangga kita cukup makan bergizi, mereka memiliki pakaian yang layak, atau tempat tinggal yang layak huni? Apakah kita peduli dengan masalah ketidakadilan sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat? Atau, apakah kita tergerak bilamana ada sebuah bencana sosial terjadi di wilayah tertentu dan tergerak memberikan sumbangan? Mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri berarti kita secara aktif terlibat dan terbeban terhadap kebutuhan mereka agar tercukupi secara minimal. Hal yang menarik dari kehidupan, justru mereka yang memberi perhatian lebih banyak pada orang lain dibanding kepada dirinya sendiri, sangat jarang menderita rasa harga diri yang rendah. Ada kebanggaan, optimisme dan percaya diri. Maka, wujudkanlah kasih itu sepanjang kita bisa (Yoh. 13:34; Kol. 3:14). Dengan mewujudkan kasih seperti itu, maka kita telah menjalankan hukum Taurat.
Kedua: Kasih adalah kegenapan hukum Taurat (ayat 10)
Allah mengasihi umat-Nya dengan membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Dalam perjalanan keluar itu, Allah memberikan pedoman hidup berupa hukum Taurat bagi bangsa Israel, agar mereka tetap selamat dan bebas merdeka, dan seluruh umat manusia juga ikut diselamatkan melalui keteladanan bangsa itu. Hukum itu diturunkan melalui Musa dan itulah yang mereka pakai selama ribuan tahun. Inti hukum Taurat adalah “Sepuluh Perintah Allah” yang pada bagian pertama mengatur hubungan antara manusia dengan Allah (perintah kesatu hingga keempat) dan hubungan manusia dengan sesamanya (perintah kelima sampai kesepuluh). Uraian rinci atas sepuluh perintah itu tersebar dalam kitab Keluaran, Bilangan, Imamat dan Ulangan, serta beberapa penegasan dan tambahan dalam kitab-kitab para nabi dan kitab puisi dan Mazmur. Namun kemudian oleh para ahli Taurat dan pemimpin Yahudi, mereka mengembangkan hukum-hukum sedemikian rupa yang lebih kepada kepentingan mereka sendiri, bukan mengutamakan kepentingan Allah; hukum Taurat lebih dilihat sebagai kewajiban mutlak tanpa ada hakekat hikmat dan kasih. Hal ini dapat kita lihat pada aturan persembahan harus tidak bercacat yang mengakibatkan hewan dijual di depan Bait Allah (Mat. 21:12), pembayaran persepuluhan hingga dari hasil tanaman di halaman (Mat. 23:23), beribadah harus ke Yerusalem, dan sebagainya yang menghilangkan makna kasih sejati Allah.
Padahal, sangat jelas hukum Taurat diberikan bukan bermaksud membatasi kebebasan manusia, melainkan sebagai kaidah moral dan rohani untuk menjaga agar mereka tidak masuk dalam bahaya jeratan Iblis. Kita juga tahu betapa mudahnya untuk memaafkan kelalaian kita terhadap orang lain demi semata-mata karena kita merasa tidak memiliki kewajiban untuk menolong mereka; bahkan membenarkan tindakan kita untuk menyusahkan orang lain apabila secara legal hal itu memungkinkan. Sebagai orang berdosa kita akan lebih mudah memaafkan dan membenarkan diri sendiri. Padahal, kalau dilihat Im. 19:18 sebagai sumber awal nas ini, inti dan hakekat hukum Taurat adalah kasih, kasih kepada Allah dan kepada sesama, sebagaimana diungkapkan, "kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Perintah kasih kepada sesama ini merupakan lanjutan dari hakekat pertama hukum Taurat, yakni: "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu" (Ul. 6:5). Kedua hakekat hukum inilah inti dari semua kaidah-kaidah itu dan kemudian ditegaskan kembali oleh Tuhan Yesus di dalam Perjanjian Baru (Mat. 22:37-40; Mrk. 12:30-31; Luk. 10:27).
Perjanjian Baru mengatakan Allah adalah kasih (1Yoh. 4:8). Hukum Taurat adalah ekspresi sifat Allah dalam bentuk perintah positif dan perintah larangan/negatif (band. Kej. 2:17; 1Kor. 13:4-6; dan lainnya). Dengan demikian, prinsip hukum dalam kehidupan orang Kristen harus mengikuti hukum kasih yang melampaui hukum moralitas dunia, hukum adat dan hukum negara. Tuhan Yesus menetapkan kasih dan tidak meninggalkan celah kelemahan di dalam hukum kasih itu. Setiap saat kasih dibutuhkan, kita harus berusaha melewati persyaratan hukum-hukum legal dunia dan meniru kasih Allah (band. Yak. 2:8,9; 4:11 dan 1Pet. 2:16,17). Hal ini wajar, sebab tujuan hukum hanya dua, yakni ketertiban dan keadilan. Oleh karena hukum Allah pada hakekatnya adalah kasih, maka apa yang ditulis dalam hukum Taurat pada dasarnya untuk tujuan ketertiban/keberaturan dan keadilan yang berdasarkan kasih. Jadi, meski ada hukuman dalam sistem hukum Taurat, pada dasarnya itu untuk jalan menuju kebaikan dengan tujuan pertobatan. Memang untuk mencegah dampak yang lebih luas, seseorang yang melakukan tindakan yang tidak sesuai hukum Taurat dapat dihukum mati. Dalam hal ini kita melihat kasih diutamakan bagi mereka yang masih setia agar mereka tidak terjerat dalam perbuatan jahat serupa.
Ketiga: Menanggalkan perbuatan kegelapan (ayat 11-12a)
Rasul Paulus menekankan pentingnya kasih kepada Allah dan sesama diwujudkan segera dan saat ini. Perbuatan kasih tidak boleh ditunda-tunda, sebagaimana hutang harus dibayar dengan segera. Konsepnya bukan "time is money" tetapi "time is love". Setiap kesempatan dimanfaatkan untuk menyatakan kasih, sekecil apa pun wujudnya, seperti pemberian senyum bagi semua orang yang kita temui. Segala keengganan dan kelesuan harus dibuang, apalagi kesombongan. Demikian juga dengan aturan-aturan yang membuat kita harus terhalang mengungkapkan kasih. Kisah orang Samaria yang murah hati dapat kita ambil sebagai contoh, bagaimana seorang imam berjalan turun dari Yerusalem ke Yerikho dan di tengah jalan ia melihat seseorang tergeletak terluka korban perampokan. Imam tersebut melewatinya begitu saja karena berpikir ia akan najis bila tubuhnya kena darah; orang Lewi juga melewatinya begitu saja karena berpikir orang tersebut mungkin berpura-pura terluka dan punya rencana jahat. Keduanya sama sekali tidak terpikir dan tergerak untuk menolong korban itu. Namun yang dilakukan oleh orang Samaria sungguh penuh kasih; ia berhenti dan menolong, membawa korban itu ke penginapan, dan bahkan mengobatinya (Luk. 10:25-35). Itulah kasih yang tidak boleh ditunda.
Rasul Paulus mengatakan bahwa waktu sudah sangat sempit sehingga jangan lalai dan terlelap, melainkan harus bangun dan sigap. Waktu sisa yang sempit diekspresikannya dengan mengaitkan pada kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya. Kalau kita melihat peristiwa kenaikan Tuhan Yesus sekitar tahun 33M dan surat ke jemaat di Roma ini ditulis sekitar tahun 55 – 57 M, maka sebenarnya waktunya baru sekitar dua puluhan tahun saja. Namun ia sudah berkata, “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang.” Istilah siang di sini jelas berarti kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya. Ini juga yang dimaksudkan dalam kalimat "Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita daripada waktu kita menjadi percaya." Meski kenyataannya bahwa Yesus tidak datang pada masa itu dan bahkan saat ini, hal itu tidak berarti bahwa hal yang disampaikan Paulus tidak benar atau bohong. Kita melihatnya dari dua sisi: pertama, Paulus merindukan secara pribadi kedatangan Yesus kembali dan ingin melihat Tuhannya itu kembali saat ia masih hidup, dan itu harus menjadi sikap kita sebagai orang Kristen. Setiap orang Kristen harus mengatakan sebagaimana Doa Bapa Kami: “datanglah kerajaan-Mu” dan “jadilah kehendak-Mu”. Faktor kedua, Rasul Paulus mengambil istilah malam dalam nas ini berarti masa saat itu adalah masa yang sangat jahat ketika semakin banyak orang melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan, dan hal itu sangat mengganggu hatinya untuk secepatnya berlalu.
Hal yang cukup menarik dari firman minggu ini adalah kasih dihubungkan dengan perbuatan kegelapan. Kita juga heran dengan daftar yang dibuat oleh Rasul Paulus yakni perselisihan dan kecemburuan disejajarkan dengan dosa-dosa yang nyata-nyata berat, seperti pesta pora, mabuk, dan kemerosotan moral seksual. Hal ini tidak mengherankan sebagaimana Tuhan Yesus dalam khotbah-Nya di bukit, Rasul Paulus juga menekankan sikap dan perbuatan sama pentingnya, dan kecenderungan yang membuat seseorang jatuh lebih dalam lagi, lebih baik dicegah meski harus dikorbankan sumbernya. Mata yang membuat dosa maka mata bila perlu dicungkil atau tangan yang menyesatkan lebih baik dipotong (Mat. 5:29-30). Ini sama seperti kebencian bisa mengarah pada pembunuhan, kecemburuan menuju keributan, dan nafsu menuju perzinahan, sehingga dosa sikap disejajarkan dengan perbuatan. Pokok penting yang bisa kita tangkap dari firman ini adalah, ketika Tuhan Yesus kembali, Dia ingin agar murid-murid hidup di dalam kasih dan menanggalkan kegelapan. Mereka yang hidup terlepas dari kasih dan masuk ke dalam kegelapan membuat jauh dari kekudusan. Kasih, sebaliknya, membuat seseorang tetap dalam terang dan berjalan di dalam kekudusan serta kekudusannya di bagian luar sama dengan di dalam (hatinya).
Keempat: Tuhan Yesus sebagai perlengkapan senjata terang (ayat 12b-14)
Rasul Paulus memahami bahwa hidup di dunia untuk melawan kegelapan bukanlah hal yang mudah. Kelemahan tubuh dan daging dan kemampuan iblis menggoda membuat setiap manusia lemah, mudah terjerat dan tidak lepas dari kegelapan. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa tidak cukup untuk melawannya dengan kemampuan roh manusia dengan keterbatasan emosional dan pikiran, tapi perlu kekuatan dari luar dirinya. Dalam suratnya kepada jemaat Korintus dituliskan, "Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng" (2Kor. 10:3-4). Dalam surat kepada jemaat di Efesus, ia kemudian menuliskan, "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.... Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri.... (Ef. 6:11, 13). Senjata Allah yang disebutkan adalah: berdiri tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kaki berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; mempergunakan perisai iman untuk memadamkan semua panah api dari si jahat; menerima ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dan bertekun dalam segala doa dan permohonan (Ef. 6:14-17).
Bagaimana kita mengenakan Kristus sebagai perlengkapan senjata terang? Pertama, hendaklah kita dipersatukan dengan Kristus melalui baptisan, seperti dikatakan firman, "Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus" (Gal. 3:27). Ini memperlihatkan tanda kebersamaan kita seperti umat Kristen lainnya dalam kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus Kristus. Kedua, kita bertekun di dalam pengetahuan dan pemahaman firman. Firman bukanlah semata-mata kata-kata, melainkan memiliki kuasa untuk mengubah hidup seseorang. Ketiga, kuasa Roh Kudus yang kita miliki melalui pengakuan iman dan baptisan serta di dalam firman yang hidup, akan terus menerus berusaha meneladani Tuhan Yesus di dalam kehidupan kita di dunia ini, yakni di dalam kasih, kerendahan hati, kebenaran dan pelayanan. Artinya, kita berusaha melakukan peran (role-play) yang sama seperti yang dilakukan Kristus dahulu pada situasi kita saat ini (Ef. 4:24-32; Kol. 3:10-17). Orang Kristen sekarang diminta menjadi "anak-anak siang" yakni sifat dan perbuatan yang sesuai dengan dekatnya Kerajaan Allah (Ef. 5:14; 1Tes. 5:6, 10; Yak. 5:8; 1Yoh. 2:18)
Dengan perlengkapan senjata terang di dalam Kristus, maka tidak mudah lagi bagi kita mengikuti keinginan nafsu dalam setiap kesempatan untuk membawa kita ke dalam dosa. Namun ada hal yang perlu kita perhatikan dalam nas ini, yakni pemakaian senjata terang hanya efektif bekerja terus menerus apabila kita terlebih dahulu meninggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan. Artinya, ada roh pertobatan dan kerinduan dalam hati seseorang untuk datang kembali kepada Tuhan. Senjata terang hanya akan bekerja efektif apabila senjata itu berada di tangan yang percaya dan terang di dalam Kristus, sebab apabila tidak setia, maka senjata itu tidak akan efektif pemakaiannya. Ketaatan dan komitmen orang percaya adalah bukti kasih kepada Allah. Bilamana masih kuat hasrat yakni emosi dan motivasi untuk menyenangkan tubuh dan daging dan merawatnya, maka pembaharuan dan penyucian tidak akan berhasil. Keinginan ke dalam kegelapan akan membuka pintu memuaskan keinginan dosa. Oleh karena itu, tetaplah dalam sikap waspada (band. Luk. 12:35; Mat. 24:42-44).
Penutup
Kehendak Allah yang disampaikan Rasul Paulus bagi orang percaya adalah pikiran kita harus terus menerus dibaharui dan ini perlu dilakukan dengan benar. Kasih Allah yang sudah diberikan kepada kita berupa keselamatan harus dikembalikan dengan mengasihi Allah dan khususnya diwujudkan kepada sesama manusia. Untuk itu pelaksanaan kasih tidak boleh berpura-pura dan menarik keuntungan dari kasih yang diberikan. Pemahaman kasih ini sangat penting, sebab kasih adalah kegenapan hukum Taurat dan menjadi hukum utama di dalam kehidupan orang percaya. Untuk dapat mewujudkan kasih dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu meninggalkan dunia lama yakni menanggalkan segala kegelapan, sehingga kasih yang kita lakukan tersebut benar-benar adalah tulus dan bagian dari kasih kita kepada Allah. Kita harus memberi garis pemisah antara kebenaran dan kejahatan, antara hidup lama dengan hidup baru. Hal ini perlu dilakukan segera dan saat ini, sebab waktunya sudah sempit yakni datangnya Tuhan Yesus kembali. Melalui komitmen, kita memerlukan senjata-senjata agar tidak terperosok lagi di dunia kegelapan itu. Oleh karenanya, senjata-senjata terang yang paling ampuh dan efektif adalah bersumber dari Kristus. Mari kita renungkan: Bagaimana kasih nyata di dalam hidupku? Apakah kasihku berpura-pura, tertunda dan kudus? Apakah aku memakai senjata terang dari Kristus?
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026
Khotbah Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026 (Opsi 2)
MENASIHATI SESAMA (Mat. 18:15-20)
”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Mat. 18:18)
Beberapa waktu lalu seseorang mempertanyakan dan sekaligus menegur temannya di grup WA. Tentu sudah dapat diduga, keriuhan pun terjadi. Ada yang memprovokasi, dan ada yang dengan tenang membela dan menyarakan agar ditanyakan dahulu seluk beluknya. Bersyukur, masalah dianggap selesai di WA. Tetapi sisa dalam hati dan ingatan sulit diduga, dan lazimnya waktulah yang dapat menghapusnya. Pertolongan Roh Kudus tentu dapat mempercepat pemulihannya.
Firman Tuhan hari Minggu ini dari Mat. 18:15-20, diberikan kepada kita sebagai bekal kehidupan tentang menasihati sesama saudara. Ketika ada orang lain berbuat kesalahan atau kekhilafan, kita cenderung menilai dan merasa orang itu perlu dinasihati dan bahkan dihukum. Tetapi perlu diingatkan bahwa mungkin saja orang tersebut bertindak dengan alasan tertentu, kondisional. Atau, cara kita melihatnya yang salah dan tidak sama, baik sumber informasinya atau analisisnya. Lagian, kita bukanlah dia. Siapa sih yang suka dinilai buruk dan dihakimi? Dampaknya bagi semua, merusak dan melelahkan pikiran. Dan perlu berefleksi, mungkin kita juga tidak lebih baik.
Melakukan kesalahan itu manusiawi. Kisah di Alkitab tatkala orang-orang ingin menguji Tuhan Yesus tentang perempuan yang berzina, dan menurut hukum Musa harus dilempari dengan batu. Tetapi Tuhan Yesus membungkuk dan menuliskan dengan jari-Nya di tanah, dan kemudian berkata: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu" (Yoh. 8:7). Ternyata semua orang pergi, karena merasa mereka juga melakukan dosa dan kesalahan. Tuhan Yesus kemudian berkata kepada perempuan itu: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh. 8:10-11).
Nas minggu ini pesannya jelas. Bila ada orang lain berbuat kesalahan atau berdosa, tetaplah peduli, jangan cuek. Tapi bicaralah empat mata dalam kasih. Minta dan cari informasi selengkapnya. Jika kita merasa memang ada yang salah, nasihati; dan bersyukurlah bila ia menerimanya. Tetapi bila orang itu mengeyel, tidak bersedia dinasihati, Alkitab mengajarkan, bawalah saksi lainnya, bisa dua atau tiga orang. Jika orang itu masih mengotot dan terus merasa benar, maka bawalah masalah tersebut kepada jemaat (ayat 15-17a). Tentu ini konteks masalah gerejawi. Jika beda konteksnya, bawalah kepada organisasi. Alangkah lebih bagus, berdiskusilah dahulu dengan ahli dalam bidangnya, terutama pada hamba Tuhan yang terpercaya.
Bila masalah hanya di antara dua orang, janganlah mengotot membawa ke luar. Lebih baik mengalah. Alkitab mengatakan, orang yang mengalah akan lebih diberkati. Abraham mengalah kepada keponakannya Lot dengan memberi pihan pertama (Kej. 13:7-9). Daud mengalah kepada Saul dan tidak mau menghukumnya (1Sam. 24:1-10). Yesus mengalah kepada orang-orang yang menyakiti-Nya. Ternyata yang mengalah lebih diberkati. Jadi tidak perlu merasa rendah diri, tetapi yang benar kita merendahkan hati. Penulis terkenal Kenneth Blanchard dan Norman Vincent Peale dalam bukunya The Power of Ethical Management mengatakan: “People with humility don’t think less of themselves. They just think about themselves less” (Orang dengan kerendahan hati tidak menganggap rendah dirinya. Mereka hanya kurang memikirkan diri mereka sendiri). Dan tidak seorang pun dapat merendahkan diri kita tanpa izin kita.
Mereka yang tidak mau dinasihati, maka jauhkan diri darinya. Anggaplah mereka tidak mengenal Allah atau pemungut cukai (ayat 17b). Bila itu merupakan tempat atau perkumpulan, tinggalkan saja dan kebaskanlah debu dari kakimu (Mat. 10:14-15). Lepaskan, jangan menjadi beban dan ganjalan dalam hati dan pikiran, apalagi sampai terbawa mati. Nasihat minggu ini jelas: “Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga (ayat 18).
Hidup dibuat sederhana saja. Tuhan menginginkan damai sejahtera bagi setiap orang yang mengikuti-Nya. Capailah kesepakatan meski tidak harus sepakat. Bila sepakat, maka haleluya, sebab firman minggu ini berkata, “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (ayat 19-20). Duh, enaknya dan senangnya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 30 Agustus 2026
Kabar dari Bukit
BAWA KE KAMAR, BUKAN KE PASAR (Yer. 15:15-21)
”Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat parah, tak tersembuhkan?” (Yer. 15:18, TB2)
Selamat pagi, salam kasih....
Tidak mudah menjadi hamba Tuhan - semua orang percaya adalah hamba-Nya, apalagi mereka yang dipanggil melayani oleh gereja atau lembaga Kristiani; diteguhkan atau ditahbiskan. Jika boleh dikatakan, rasa sakitnya lebih besar dari "nikmat" yang diterima dalam pelayanan. Oleh karena itu, tidak semua orang mau dan siap dipanggil dengan alasan ketidaksiapan diri yang dilandasi kerendahan hati. Ini termasuk Nabi Yeremia yang menolak dipanggil di awalnya, dengan alasan tidak pandai berbicara dan masih muda (Yer. 1:6).
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini diambil dari Yer. 15:15-21. Nas ini merupakan ungkapan keluhan dan doa Nabi Yeremia atas penderitaannya dalam melayani, dan meminta Tuhan bertindak. Keluhan Yerimia cukup beralasan, sebab ia dihadapkan pada situasi penolakan dan ancaman dibunuh (ay. 15), kesepian dan dilarang menikah berkeluarga (ay. 17; 16:1-2), menderita dipukuli, dipasung, dipenjarakan dan dibuang ke dalam sumur berlumpur, ada perlawanan nabi-nabi palsu dan tekanan psikologis lainnya termasuk situasi bangsanya (Yer. 5:31; 20:1-2; 38:6).
Perlu kita perhatikan bahwa Yeremia mengeluh dalam doa agar Tuhan memberi petunjuk. Keluhan panjang Yeremia dapat kita baca dalam kitab Ratapan yang ditulisnya. Meski situasi buruk yang dialaminya, Yeremia tidak melakukan hal yang mungkin kadang kita lakukan, seperti menggerutu, menyalahkan Tuhan atau orang lain, mengasihani diri, sarkarme atau sinisme, atau katarsis agresif menyerang.
Allah yang penuh kasih memberi pertolongan dan perlindungan pada Yeremia. Tuhan menjawab keluhan dengan memberi arahan, agar tetap taat setia melayani, mengubah cara pandangnya, melakukan pertobatan, tidak perlu lari dari kenyataan, membuka diri terhadap perubahan karakternya sebab Allah akan membangun tembok tembaga yang berkubu sesuai janji-Nya di awal (1:18-19), dan percaya penuh akan rencana indah Allah baginya (ay. 19-21).
Pada pasal-pasal berikutnya, kita tahu Yeremia tegar dan maju dengan berani menantang hukuman mati di hadapan para pemimpin Israel (Yer. 26:8, 12-15), memakai gandar kayu dan besi melawan nabi palsu (Yer. 27-28), menantang raja Yoyakim (Yer. 36:23, 30-32), dan menyuarakan kebenaran kepada raja Zedekia di dalam penjara (Yer. 37-38).
Belajar dari nas minggu ini, kita bisa mengungkapkan beberapa kali keluhan atas masalah atau derita kita, namun tidak boleh kesan memaksa. Bagian kita hanyalah menyampaikan, berserah, berharap dan sebisa mungkin tetap bersyukur atas hal yang terjadi. Kunci pertolongan-Nya adalah kita jujur dan rendah hati dalam berdoa, meski ada rasa sakit, kekecewaan, putus asa, baik diungkapkan tidak berpura-pura. Yeremia bahkan berkata, "Engkau seperti sungai yang semu bagiku, air yang tidak dapat diandalkan" (ay. 18b). Kedua, menjaga sikap dan perkataan dengan tetap hormat pada-Nya, seperti iman, pegang janji-Nya dan rasa syukur. Ketiga, berani berbeda dengan pihak/orang lain sepanjang kita berjalan atas kasih dan firman-Nya. Keempat, terus mencintai-Nya melalui firman dan pujian serta siap dengan harga kesetiaan yang berpegang pada kasih dan janji-Nya hingga pertandingan akhir (ay. 20-21; 2Tim. 4:7).
Tidak ada manfaat mengeluh berkepanjangan, menggerutu, apalagi menceritakan ke banyak orang. Bawalah doa kita ke dalam kamar dan bukan dibawa ke pasar (Mat. 6:6). Sebagaimana Yeremia, Tuhan tahu penderitaan kita, dan jika kita setia maka segala sesuatu akan indah pada waktunya.
Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026
Khotbah Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026 (Opsi 3)
JALAN PULANG PERTOBATAN (Yeh. 33:7–15)
”Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu!” (Yeh. 33:11)
Ada banyak versi tentang tahapan dan jalan menuju keselamatan hidup kekal. Namun, hampir semua sepakat bahwa pertobatan adalah kunci pembuka gerbang untuk menjadi manusia baru, agar kelak dapat hidup bersama para malaikat dan Tuhan Yesus di surga. Pertobatan memerlukan kuasa Roh Kudus, disertai langkah tindakan sukarela manusia yang melibatkan iman, pikiran, hati, dan kemauan.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yehezkiel 33:7–15. Nas ini menyampaikan pesan Tuhan yang sangat jelas dan tegas mengenai dampak perbuatan dosa manusia, sekaligus pentingnya pertobatan, yang dalam bahasa Yunani disebut metanoia, arti harfiahnya “berbalik”. Seperti saat berbaris, kira-kira artinya “Balik Gerak!”.
Manusia dapat berdalih, seperti yang dilakukan umat Israel dalam nas ini. Namun, Allah mengingatkan sikap mereka yang berkata, “Pelanggaran kami dan dosa kami sudah tertanggung atas kami dan karena itu kami hancur; bagaimana kami dapat tetap hidup?” (ay. 10b). Allah tidak menyukai orang yang merasa dirinya benar dan “mengandalkan kebenarannya, sehingga segala perbuatan kebenarannya tidak diperhitungkan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya” (ay. 13). Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk selalu rendah hati di hadapan Tuhan, sebagaimana isi Doa Bapa Kami: “dan ampunilah kami akan kesalahan kami... dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”
Menurut Beth Moore dalam bukunya Ketika Orang Percaya Melakukan Hal yang Berdosa, ada tiga hal penting agar pertobatan efektif. Pertama, setan memiliki cara yang terencana. Setan adalah ular yang paling cerdik dari segala binatang di darat (Kej. 3:1). Rasul Paulus mengingatkan, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdaya oleh ular dengan kelicikannya” (2Kor. 11:3).
Kedua, manusia kadang berusaha berkelit dengan mengatakan telah tergoda atau tertipu. Padahal, tidak semua orang akan jatuh karena roh penggoda; ada unsur dari manusia itu sendiri, seperti ketidaktahuan, terlalu bergairah sok tahu, kurang memahami isi Alkitab, kurang pengertian dan berhikmat, kurang pengenalan diri, dan terlalu terbuka menyingkapkan pengalaman atau kebejatan masa lalu.
Ketiga, sangat penting membentengi hidup dari godaan agar mampu kebal terhadap kelicikan ular. Cara-cara yang disarankan antara lain: bersukacita dalam iman; menjauhi kejahatan yang membuat orang lain susah; tetap dalam doa dan selalu bersyukur; tidak memadamkan Roh Kudus; menghargai petunjuk, nasihat, dan peringatan; setia serta rajin menguji dan mengenal hal yang baik. Inilah bukti pertobatan. “Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?” (Yeh. 18:23b). Allah penuh kasih dan berharap tidak seorang pun binasa (Yoh. 3:16), serta melengkapi kita dengan senjata rohani: terang Kristus, kebenaran firman, dan keadilan (Rm. 6:13; 13:12–14; 2Kor. 6:7).
Maka, jangan biarkan diri tergoda dan tertipu. “Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah” (Rm. 10:21). Allah terus menanti. Pulanglah. Ingatlah, jalan kembali selalu terbuka; pulanglah kepada kasih Bapa yang siap berkata: “Anak-anakku, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu” (1Yoh. 3:8). Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah timbul di hati manusia: semua disediakan Allah karena kasih-Nya (1Kor. 2:9).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu XIV Setelah Pentakosta - 30 Agustus 2026
Khotbah Minggu XIV Setelah Pentakosta - 30 Agustus 2026
HIDUP DALAM KASIH DAN BUKAN PEMBALASAN (Rm. 12:9-21)
Bacaan lainnya: Kel. 3:1-15 atau Yer. 15:15-21; Mzm. 105:1-6, 23-26, 45c atau Mzm. 26:1-8; Mat. 16:21-28
Pendahuluan
Allah melengkapi karunia rohani kepada setiap orang percaya, dan penggunaannya memerlukan dasar yang kokoh agar tidak berbelok kepada kepentingan diri sendiri. Dasar itu hanya ada pada kasih, yakni kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama yang merupakan inti pengajaran Kristiani. Nas minggu ini tentang kasih sebagai pengajaran terhadap jemaat di Roma dan merupakan penggambaran sisi lain dalam 1Kor. 12-13, yakni mahkota karunia rohani adalah kasih. Allah memberikannya kepada kita karena kasih-Nya dan kita pun menggunakannya karena kasih. Dalam nas minggu ini juga diberikan makna kasih yang lebih dalam, bukan larangan dalam bentuk kepura-puraan, atau bukan pula terbatas hanya kepada pengertian sesama saja, tetapi juga pengertian kasih kepada yang membenci kita atau musuh. Inilah cara hidup orang percaya sebagai salah satu keunggulan ajaran Kristus yang merupakan pembaharuan ajaran mata ganti mata, gigi ganti gigi. Melalui bacaan minggu ini kita diberikan pengajaran bagaimana hidup di dalam kasih sebagai berikut.
Pertama: Kasih tidak pura-pura dan memberi hormat (ayat 9-10)
Banyak dari kita mempunyai kemampuan untuk mengasihi orang lain dengan berpura-pura, seperti berusaha berbicara dengan ramah dan sopan, menghindari persoalan karena takut perasaan orang lain terluka, atau mencoba mencari perhatian dan pujian dari teman kita berbicara. Bahkan mungkin juga kita ahli bersikap pura-pura menunjukkan belas kasihan ketika orang lain membutuhkan sesuatu, seolah ingin membantu tapi berujung hanya manis di bibir; atau kita pura-pura ikut merasa geram ketika orang lain menceritakan sebuah ketidakadilan. Akan tetapi melalui firman minggu ini, Allah meminta kita agar mengasihi dengan tulus dan nyata serta jauh dari sikap berpura-pura dan kesopanan semata. Karunia rohani yang diberikan kepada kita sejatinya dipakai untuk mewujudkan kasih kepada sesama, bukan hanya dalam perkataan tapi juga dalam perbuatan (Yak. 1:22). Kasih yang tulus memerlukan perhatian serius dan usaha, yang bagi orang lain menjadi berarti dan merasa lebih baik. Keterlibatan seperti itu jelas membutuhkan waktu, hati, bahkan materi. Oleh karenanya kasih tidak dapat dilakukan dengan berpura-pura, sebab itu merupakan sikap topeng kemunafikan (band. 2Kor. 6:6; 1Tim. 1:5).
Sikap berpuara-pura juga dapat menjadi kejahatan, yakni menipu diri sendiri sekaligus mendustai orang lain. Kasih adalah sikap timbal balik yakni kita terima dari Allah dan kita berikan kepada Allah melalui sesama manusia. Pengertian kasih yang dipakai dalam nas ini merupakan kasih dalam hubungan keluarga, hubungan sesama yang erat, bukan kasih agape yang merupakan hubungan Allah dengan manusia. Oleh karenanya sikap kasih itu harus saling menghormati, sejajar sebagai saudara. Akan tetapi kita perlu cermati sebab kita juga bisa menghormati orang lain dengan dua cara: Pertama, terlibat dengan cara yang tersembunyi. Misalnya, kita bersikap manis terselubung kepada pimpinan untuk mengharapkan imbalan atau penghargaan darinya; pada karyawan bawahan agar mereka mau bekerja lebih keras; atau kepada orang kaya agar mereka memberi sumbangan yang lebih besar; atau kepada orang yang berkuasa atau memiliki jabatan supaya bisa kita manfaatkan atau agar tidak memusuhi kita. Cara kedua adalah yang dinyatakan Allah, kasih yang tulus, tidak pura-pura, dan berwujud nyata (1Tes. 4:9; Ibr. 13:1; 1Pet. 1:22). Sebagai orang Kristen, kita menghormati orang lain sebab mereka diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah, mereka adalah saudara-saudara kita di dalam Kristus, dan mereka diciptakan secara unik untuk memberi kontribusi yang unik dalam pelayanan gereja bersama.
Pertanyaannya, apakah kita mengasihi dengan cara Allah ini susah dilakukan? Atau, menghormati orang lain itu kita anggap mengganggu kepentingan kita dalam penonjolan kehebatan diri? Kita ingat firman Tuhan yang berkata, "Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?" (1Kor. 4:7). Padahal, lebih mudah memenangkan orang lain dengan memberinya rasa hormat. Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri (Flp. 2:3). "Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah" (1Pet. 2:17a). Kita tidak boleh memperlakukan orang lain jauh di bawah kita. Yesus Kristus memperlihatkan dan mengajarkan bahwa kita haruslah memperlakukan semua orang dengan penuh hormat, kepada mereka yang berbeda kedudukan dan latar belakang, mereka yang memiliki keterbatasan, miskin, muda dan tua, laki-laki atau perempuan. Kita diminta terus melakukan hal yang baik dan menjauhi yang jahat dan bukan untuk mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia (Mzm. 97:10; 1Tes. 5:21, 22). Bahkan, diingatkan, kalau tidak hati-hati, karunia rohani dan berkat yang telah kita terima dapat membawa kita pada kesombongan atau kemalasan dengan alasan kesibukan-kesibukan.
Kedua: Melayani dengan roh menyala-nyala (ayat 11-12)
Kasih adalah landasan kedua gereja setelah landasan pertama sekaligus sebagai batu penjuru yakni Yesus Kristus. Penggunaan karunia rohani akan semakin efektif bila dasarnya adalah kasih, yakni kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia. Dengan landasan itu, tidak ada lagi alasan untuk bermalas-malas atau menikmati karunia rohani untuk kepentingan diri sendiri. Di dalam persekutuan gereja-Nya, kita wujudkan kasih sebagai hubungan timbal-balik antara sesama dan dengan Allah. Kristus telah mempersatukan kita dalam rencana-Nya untuk menjadi saksi dan teladan. Oleh karenanya, kita tetap harus bersemangat dan kerajinan kita tidak kendor dalam melayani-Nya. Semangat dan kerajinan yang kendor seseorang biasanya terjadi karena dia tidak memahami arti dan tujuan yang dilakukannya. Apabila memahaminya, maka biasanya akan tetap semangat dan berusaha untuk tetap mempertahankan ritme semangatnya. Seseorang yang mengejar kekayaan maka akan tetap semangat dalam berbisnis. Seseorang yang mengejar keilmuan maka akan terus semangat belajar hingga mencapai puncak yakni bergelar Profesor. Tetapi itu semua tujuan duniawi. Maka apabila kita memahami tujuan hidup kita adalah masuk sorga, maka kita akan tetap taat dan semangat melayani Tuhan.
Dalam melayani Tuhan kita diminta bukan sekedar rajin tapi juga dengan roh yang menyala-nyala. Maksudnya, semangat itu bermula dari diri kita untuk memiliki keinginan yang kuat melakukan sesuatu. Ketika roh kita yang bersemangat itu dipadukan dengan Roh dari Tuhan, maka semangat yang kita miliki semakin berkobar-kobar. Kata bahasa Inggris dalam hal ini adalah enthusiastic yang berasal dari en = di dalam dan theos = Tuhan. Jadi pengertian enthusiastic atau antusias bersemangat itu sebenarnya hanya ada ketika kita melakukannya bersama dengan Tuhan, yakni roh kita dipersatukan dalam sinergi dengan Roh Tuhan. Semua dapat terjadi jika kita memiliki pengharapan yang pasti yakni jaminan masuk sorga dan mendapatkan mahkota kemenangan dari Allah. Dengan demikian, kita juga melakukannya dengan sukacita, yakni sukacita pengharapan di dalam Tuhan. Bersikap malas dalam hal ini menjadi perasaan bersalah, sebab tidak menghargai waktu dan karunia yang Tuhan berikan. Apabila kita tidak memiliki semangat itu, maka kita perlu memohon pertolongan Roh Allah agar cara berpikir kita diubah sesuai dengan akal budi yang dikehendaki Tuhan (Rm. 12:2).
Perlu kita sadari bahwa Allah tidak menjamin seluruh pelayanan kita memiliki jalan yang mulus. Adakalanya situasi dan lingkungan yang menantang datang dan apabila kita sudah dipanggil masuk dalam tugas itu, seperti penginjilan di wilayah susah, berhadapan dengan orang-orang sulit dan pemarah disertai kekerasan, kelelahan fisik, atau menderita sakit karena hal yang tidak bisa kita lihat dengan mata duniawi faktor penyebabnya, maka dalam hal ini kita masuk dalam kesesakan. Namun kita tidak perlu langsung menyerah menghadapi situasi demikian, melainkan melalui firman ini kita diminta sabar. Ada yang mengatakan kesabaran adalah jalan tol untuk mengetahui dan melakukan kehendak Allah. Kesabaran pada diri sendiri dalam hal ini diperlukan sebagai pengharapan, dan kesabaran untuk Allah sebenarnya adalah iman. Iman membawa kita kepada salib, kasih mengikatnya kepada jiwa kita, dan kesabaran membawa semua itu kepada akhirnya. Yang bisa menolong kita dalam sikap bersabar adalah doa (Luk. 18:1; Ibr. 10:36), sebab melalui doa kita terus dikuatkan, kita berhubungan terus dengan Allah, sehingga ada yang mengatakan doa yang terbesar adalah kesabaran. Untuk tidak masuk ke dalam panggilan iblis, maka kita perlu belajar firman Tuhan. Membaca dan merenungkan setiap hari isi Alkitab ketika dalam kesesakan, akan sangat menolong mengetahui kehendak Allah yang sebenarnya, dan dengan demikian kita akan merasakan semua demi kemuliaan Tuhan.
Ketiga: Menjadi berkat bagi sesama dengan sukacita (ayat 13-16)
Kebaikan dan keramahtamahan Kristiani berbeda dengan perbuatan membuat senang atau menghibur orang lain, seperti mengundang teman-teman ke rumah untuk pesta bersenang-senang. Menyenangkan orang lain secara sosial berpusat pada tuan rumah, seperti mempersiapkan rumah dengan baik dan apik, makanan harus disiapkan dengan beragam dan melimpah, dan tuan rumah harus tampil elegan dengan berpenampilan bagus. Sementara kebaikan dan keramahtamahan Kristiani berpusat pada tamu, khususnya yang menumpang menginap, jadi bukan pada tuan rumah. Nas minggu ini menekankan hal itu, yakni agar kita berusaha membantu hamba-hamba Tuhan dan penginjil (dalam masa itu disebut sebagai orang-orang kudus) untuk menumpang sementara (1Tim. 3:2; 5:10; Ibr. 13:2). Perhatian terhadap kebutuhan mereka sebagai tamu, seperti tempat yang layak untuk tinggal, tersedianya makanan sehat, kesediaan mendengarkan, penerimaan yang sukacita, adalah hal yang utama. Keramahtamahan tetap dapat terwujud di dalam rumah yang berantakan, di tengah meja makan yang hanya menyediakan lauk pauk sederhana, bahkan lebih terwujud jika tuan rumah dan tamu dapat melakukan tugas bersama. Jangan kita enggan untuk menawarkan keramahtamahan karena kita terlalu capek, sibuk atau tidak merasa cukup kaya dan mampu untuk menjamu tamu.
Memang ada kalanya tamu yang datang bersikap "ngelunjak" atau tidak tahu diri. Kita bukannya mendapatkan balasan kasih (atau ucapan terima kasih) dari membuka diri, melainkan memperoleh omelan atas kekurangan atau bahkan menyebarkan fitnah jahat. Dalam hal ini kita yang berbuat baik jangan menghapusnya dengan balasan, tapi berkatilah mereka (1Pet. 4:9). Rasul Paulus melalui nas ini menekankan agar kita lebih baik hidup dalam harmoni keseimbangan dengan orang lain, dan selalu merasa sukacita bergabung dengan setiap orang. Dalam berhubungan sosial, mungkin banyak orang menggunakan kenalan atau hubungan yang ada untuk kepentingan diri sendiri atau ambisi pribadi. Mereka memilih teman dan pergaulan yang bisa bermanfaat membantu, dengan maksud bisa dijadikan sebagai anak tangga atau mengangkat status mereka. Namun panggilan kita bukanlah demikian. Kita ada untuk orang lain yang membutuhkan, itu prinsip orang Kristen. Untuk itu, pertanyaannya: apakah kita cukup mampu untuk melakukan tugas-tugas yang biasa dan tampak rendah? Apakah kita bisa ikut dalam percakapan yang tidak menarik dengan orang-orang yang tidak penting? Apakah kita bersedia menerima pendatang baru dan pemula? Atau kita hanya berhubungan dengan mereka-mereka yang bermanfaat atau menguntungkan kita saja?
Dalam berbagi berkat dan sukacita kita perlu berhikmat, yakni melihat situasi secara jernih. Tatkala orang bersukacita, kita pun bersukacita, bukan malah iri hati atau cemburu. Tatkala orang susah, maka kita pun ikut merasakan dan menanggung kesusahan orang itu. Sudah menjadi hukum rohani kalau saat sukacita dibagikan, maka sukacitanya akan bertambah; dan apabila kesusahan dibagikan, maka kesusahannya juga berkurang. Bahkan bila orang lain menangis karena kesedihan dan penderitaan, maka kita ikut menangis sebagai jalan mengurangi beban yang kita kasihi (Ayb. 30:25; Yes. 5:21; Yer. 45:5). Maka mulailah berbagi dengan hidup berinteraksi dalam sebuah komunitas (termasuk gereja) dan rasakan hidup yang penuh makna. Melalui kehidupan komunitas, kita dituntut untuk sehati sepikir dalam hidup bersama, tidak merasa hebat atau pandai sendiri (Ams. 3:7), melainkan berusaha mencari pelayanan yang efektif melalui kelompok gereja untuk kehidupan luar gereja. Kita juga tidak diminta untuk memikirkan perkara-perkara yang terlalu tinggi, terjebak dalam teori atau diskusi-diskusi panjang lebar, tetapi justru diminta mengarahkan diri kepada perkara-perkara yang sederhana bagi mereka orang-orang kecil (Mat. 25:40; Yoh. 13:34-35). Lihat sekeliling kita, sekeliling gereja, pasti ada yang membutuhkan pertolongan. Maka mulailah mencari orang yang tepat untuk dikasihi secara pribadi dan ajaklah teman-teman orang percaya lainnya untuk mengasihi sebuah komunitas atau kelompok lainnya.
Keempat: Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan (ayat 17-21)
Nas minggu ini menyimpulkan inti pola hidup kekristenan: Jika kita mengasihi seseorang dengan cara Kristus mengasihi kita, maka kita akan bersedia mengampuni. Jika kita sudah merasakan berkat anugerah Kristus, maka kita akan menyalurkan berkat itu kepada orang lain. Perlu diingat, anugerah adalah sesuatu berkat yang kita tidak layak menerimanya, maka kita pun wajib menyalurkan berkat itu kepada mereka yang tidak layak menurut kita, yakni musuh kita (Mat. 5:44-45; Luk. 6:28-31). Nas minggu ini mengatakan kita harus mengasihi musuh kita dan bahkan memberinya makan dan minum. Dengan memberi makan dan minum kepada yang membenci kita, itu tidak berarti kita menyetujui perbuatan mereka yang salah. Kita hanya melihat mereka sebagai saudara sesama ciptaan Allah, memafkan mereka, dan mengasihi meskipun mereka adalah orang yang bersalah atau berdosa, sebagaimana Kristus memberikannya kepada kita. Pengampunan melibatkan sikap dan tindakan. Jika kita mengalami kesulitan dalam perasaan mengampuni, maka cobalah melakukannya dengan tindakan. Adalah sangat bagus bila kita berpikir bahwa sebuah tindakan bisa memulihkan hubungan kita dengannya. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan pertolongan kecil atau bantuan tenaga, mengirimkan hadiah, atau tersenyum kepadanya. Banyak kejadian melalui tindakan-tindakan seperti itu akan memulihkan dan menutup perasaan yang sebelumnya terluka.
Memang di zaman sekarang ini orang lebih sering bertindak dengan dasar hukum keadilan dan gencarnya prinsip-prinsip hak asasi. Maka hal yang dituliskan oleh Rasul Paulus dalam nas ini seolah-olah menjadi sesuatu yang mustahil, yakni mengasihi musuh yang membenci atau menganiaya kita. Apabila seseorang membuat kita terluka atau perbuatan merugikan, maka Rasul Paulus mengatakan bukanlah kita membalasnya dengan sepadan. Jangan mengutuk meski kita merasa dianiaya secara sosial. Demikian juga tatkala kita melakukan kesalahan yang kita anggap "biasa dan manusiawi", atau tanpa alasan yang jelas atau salah, lantas kita dianiaya secara fisik, maka tetaplah memberkati mereka dan hindari mengutuk. Bahkan, kalau bisa tetaplah berdamai dan jadikanlah mereka sebagai teman. Mengapa firman Tuhan ini meminta kita mengampuni musuh? Jawabannya: (1) pengampunan dapat memutus rantai pembalasan dan membangun hubungan rekonsiliasi. (2) pengampunan dapat membuat musuh kita merasa malu dan mengubah cara-cara yang dilakukan sebelumnya. (3) sebaliknya, membalaskan kejahatan dengan kejahatan hanya akan membuat musuh dan kita sendiri menanggung penderitaan dan rasa sakit, tidak menyembuhkan atau memulihkan penderitaan kita sendiri. Bahkan, bilamana musuh kita tidak memperlihatkan penyesalan atau pertobatan, tetaplah mengampuninya, tidak perlu mengingat-ingatnya kembali dengan prinsip the past belong to the past dan kita terbebas dari beban berat kepahitan.
Nas minggu ini menggunakan pepatah “menumpukkan bara api di atas kepalanya”. Ini mungkin terkait dengan kebiasaan orang Mesir di zaman itu, yakni bilamana seseorang menunjukkan penyesalan dan pertobatan atas tindakannya, maka ia akan membawa panci di kepalanya yang berisi arang yang menyala dan berjalan di hadapan umum. Melalui peribahasa ini, Rasul Paulus ingin mengatakan bahwa kita harus memperlakukan musuh kita dengan cara-cara yang baik dan tidak perlu langsung untuk menghukum mereka. Untuk menghukum, biarlah Tuhan saja yang melakukannya sebab itu adalah hak-Nya (Rm. 12:19; band. Ams. 20:22; Ibr. 10:30). Tugas kita adalah mengampuni, mengasihi dan bahkan menolong mereka bila perlu. Kita diajar Tuhan Yesus untuk tidak kalah terhadap kejahatan, bahkan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Dengan demikian, mereka menjadi malu dan kita berharap mereka berbalik dari perbuatan dosanya yang salah. Cara terbaik untuk menyingkirkan musuh adalah dengan membuat mereka sebagai teman. Kita selalu memiliki prinsip: musuh satu orang terlalu banyak dan teman seribu orang terlalu sedikit.
Penutup
Rasul Paulus melalui nas minggu ini mengulang sekaligus mendalami arti dan makna kasih dalam kehidupan orang percaya sebagai dasar dari penggunaan karunia rohani. Kasih adalah sebuah sikap dan berwujud nyata. Kasih tidak boleh dalam bentuk kepura-puraan. Kasih juga diwujudkan dengan menghormati orang lain tanpa ada kecenderungan tersembunyi atau merasa diri lebih tinggi. Dalam kerangka itu pelayanan karunia rohani harus dilakukan dengan roh yang menyala-nyala, penuh kerajinan yang tidak mudah kendor, dan itu dapat terwujud bila kita melakukannya bersama-sama dengan Roh Kudus. Roh manusia mudah goyah atau terombang-ambing oleh godaan iblis, tetapi jika kita mengetahui tujuan dari semua pelayanan karunia rohani adalah untuk memuliakan Allah, maka ritme pelayanan kita tidak akan mudah goyah. Dalam pelayanan kita juga diminta untuk selalu menjadi berkat bagi sesama, menolong orang lain, memberi tumpangan dan semua itu harus dilakukan dengan sukacita tanpa ada kepura-puraan, apalagi omelan dan keluhan. Dan yang paling utama, ketika kita menerima hujatan atau bahkan penganiayaan dari orang-orang yang membenci kita, janganlah kita membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi justru berbuat kebaikan untuk mereka sehingga kita berharap mereka menjadi malu dan bertobat. Inilah yang diminta dari kita sebagai murid Kristus, dan itu pasti bisa, sebab Kristus telah melakukannya sebagai teladan bagi kita
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026Khotbah Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026 kasih...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026Khotbah Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026 (Opsi...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026Khotbah Minggu XV Setelah Pentakosta – 6 September 2026 (Opsi...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 57 guests and no members online
