Saturday, March 21, 2026

2026

Kabar dari Bukit, Minggu, 15 Februari 2026

Kabar dari Bukit

 

 TRANSFIGURASI PEMIMPIN YANG DIURAPI (Mzm. 2:1-12)

 

 ”Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia!” (Mzm. 2:10)

 

 

Hari ini Minggu Epifani terakhir dan disebut Minggu Transfigurasi, sebelum masuk masa Pra-Paskah. Transfigurasi berarti perubahan rupa atau metamorfosis; diambil dari kejadian saat wajah Tuhan Yesus berubah, bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar terang penuh kemuliaan. Terjadinya tatkala Tuhan Yesus bersama tiga murid-Nya (Yohanes, Petrus dan Yakobus) bertemu Musa dan Elia di atas gunung Hermon (Mat. 17:1-9; Mrk 9:1-9).

 

 

 

Minggu Transfigurasi adalah mengenang penggenapan ke-Ilahian Yesus, dan hari Rabu Abu minggu ini adalah awal mengenang penyelamatan Allah bagi manusia yang dari abu, tetapi melalui penderitaan Tuhan Yesus yang disiksa, dicerca dan mati disalibkan, kita hidup dan diselamatkan.

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mazmur 2, terdiri 12 ayat. Bagi umat Yahudi ini nubuatan tentang Raja Daud, tetapi bagi kita orang percaya yang membaca PL dengan kacamata Kristus, ini merupakan nubuatan datangnya Kerajaan Kristus dan gambaran perlawanan yang diterima-Nya (ay. 1-3). Tetapi Allah berkuasa dan berdaulat, lawan-lawan-Nya kalah dan takluk. Kerajaan Kristus di bumi diteguhkan (ay. 4-6) dan janji perluasan Kerajaan-Nya telah berhasil (ay. 8-9).

 

 

 

Keberhasilan Kerajaan Kristus ke depan, tentunya sangat tergantung kepada kita semua orang percaya. Kunci utamanya sesuai nas ini yakni para pemimpin diajak bertindak bijaksana dan takut akan Tuhan (ay. 10-12).

 

 

 

Dalam konteks lokal maupun nasional, tentu kita tahu mayoritas pemimpin kita bukanlah pengikut Kristus. Kadang ini mengajak kita mawas diri. Hasil Persidangan MPL PGI 2026 di Marauke yang baru berakhir, misalnya, telah menelurkan keprihatinan dengan pernyataan sikap, yakni mendukung masyarakat adat yang menolak Proyek Strategis Nasional di Tanah Papua; kedua, menolak militerisme dan otoritarianisme; dan ke tiga, mendorong penghargaaan terhadap demokrasi dan hak asasi manusia. Ini pantas ikut kita perjuangkan sebagai bukti kepedulian akan hadirnya Kerajaan Kristus di Indonesia.

 

 

 

Daud dan Yesus diurapi Allah dan berkarya seturut kehendak-Nya. Alkitab memberikan contoh bagaimana mengubah para pemimpin agar diurapi sehingga tujuan kita berbangsa dan kehendak Allah, yakni membawa rakyat sejahtera seturut rupa dan gambar-Nya dapat terwujud.

 

 

 

Kita dapat melihat Yusuf yang hidup dengan integritas, tidak mencari keuntungan pribadi. Yusuf berhasil membuat rakyat tidak kelaparan dan

 

mendapatkan kepercayaan Firaun. Daniel yang selalu setia - meski dengan tekanan dan ancaman, akhirnya raja Babel hormat kepada Allah dan Daniel mendapatkan posisi tinggi.

 

 

 

Ester berpuasa dan berdoa, berani mengambil resiko dengan penuh hikmat, bukan emosi, akhirnya berhasil mengambil hati raja dan umat-Nya terselamatkan. Nabi Natan menegur raja dengan sikap rohani, tidak menyerang langsung melainkan dengan perumpamaan yang menyentuh hati dan menyampaikan kebenaran Tuhan. Hasilnya, hati raja dilembutkan dan bertobat. Demikian pula Nehemia memperlihatkan sikap jujur, bekerja dengan baik dan profesional, berdoa sebelum berbicara, akhirnya diberi izin dan dukungan membangun kembali Yerusalem.

 

 

 

Maka jika ingin melihat transfigurasi para pemimpin, kita perlu meneladani mereka: tidak menggunakan kekerasan, unjuk rasa brutal, menghasut dan memanipulasi. Marilah kita umat-Nya dan gereja tetap berdoa, sehati sepikir, memberi teladan hidup benar, berbicara dengan hikmat, memperlihatkan keberanian dengan kasih, maka tidak mustahil para pemimpin kita akan diurapi dan Kerajaan Kristus di Indonesia semakin kokoh. Tiada yang mustahil bagi orang yang percaya (Mrk. 9:23).

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu Transfigurasi 15 Februari 2026

Khotbah Minggu Transfigurasi 15 Februari 2026 - Tuhan Yesus Dimuliakan

 

 TRANSFIGURASI UMAT (Mat. 17:1-9)

 

Minggu Transfigurasi adalah minggu terakhir sebelum Pra-Paskah. Transfigurasi berarti perubahan rupa atau metamorfosis; diambil dari Alkitab yakni saat wajah Tuhan Yesus berubah, bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang, penuh dengan kemuliaan. Peristiwa itu dikisahkan dalam Mat. 17:1-9 yang menjadi bacaan kita Minggu ini, tatkala Tuhan Yesus bersama tiga murid-Nya (Yohanes, Petrus dan Yakobus) bertemu dengan Musa dan Elia di atas gunung yang tinggi, kemungkinan Gunung Hermon atau Tabor, tempat berada Gereja Transfigurasi saat ini.

 

 

Hari Rabu pasca Minggu Transformasi adalah Rabu Abu, sebuah peringatan dan penghayatan bahwa kita berasal dari debu dan kembali menjadi debu (Kej. 3:19). Umat Katholik diolesi keningnya sebagai simbol. Selama enam minggu ke depan, kita akan melewati masa pra-paskah (lent) dan akan tiba di Jumat Agung, peringatan akan penderitaan Tuhan Yesus di sepanjang hari, via dolorosa dan berakhir Ia mati tergantung di kayu salib, sebagai pengganti tebusan bagi kita orang berdosa.

 

 

Peristiwa transfigurasi di atas gunung meneguhkan beberapa hal, yakni: pertama, kebenaran Tuhan Yesus "yang walaupun dalam rupa Allah ... mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Flp. 2:6-7). Hal ini ditegasan Yohanes yang ikut naik ke gunung, dengan menuliskan: "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa...." (Yoh. 1:14). Rasul Petrus juga menuliskan kesaksiannya, "Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus" (2Pet. 1:18, band. ayat 5 nas).

 

 

 

Pesan kedua nas minggu ini untuk menyegarkan ingatan kita, bahwa bersama di dalam hadirat Tuhan sungguh menyenangkan. Tuhan Yesus naik ke gunung tinggi itu untuk berdoa (ayat 1; Luk. 9:28). Respon Petrus melihat situasi itu berkata: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia" (ayat 4). Ada sukacita penuh. Ada semangat melayani. Maka, jika hidup kita saat ini lebih fokus pada diri sendiri, kurang berbahagia, berusahalah lebih banyak waktu bersama Tuhan. Doa, pujian, dan bacalah buku-buku tentang Yesus. Kebahagiaan pun akan berlimpah.

 

 

 

Hal terakhir pesan nas minggu ini adalah penegasan Tuhan Yesus adalah Allah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sekaligus Allah orang mati dan yang hidup. Nabi Musa dan Elia mewakili figur utama dalam PL, bertemu dengan Tuhan Yesus. Melalui nas ini juga ada pemberitahuan awal, Ia akan bangkit dari kematian (ayat 9), dan nubuatan itu digenapi. Ini sekaligus pengajaran kepada kita, di balik kejadian yang membuat kita sedih atau menderita, bersama Tuhan Yesus semua akan berakhir dengan sukacita dan kemenangan. Mari terus memuliakan dan menyenangkan hati Tuhan dan ikut mentrasfigurasikan wajah umat sebagai kesaksian bagi sesama.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

  

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu Transfigurasi 15 Februari 2026

 Khotbah Minggu Transfigurasi 15 Februari 2026 - Opsi 3

 

 TERANG DI HATI DAN JANJI KEMULIAAN (2Kor. 4:3-6)

 

 "Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” (2Kor. 4:6b)

 

 

Hari ini adalah Minggu Epifani terakhir dalam kalender gereja dan juga disebut Minggu Transfigurasi, yang berarti perubahan muka/bentuk. Ini berdasar kisah Yesus naik ke gunung, berdoa bersama tiga murid-Nya. Tiba-tiba Yesus berubah rupa, sedang berbicara dengan Elia dan Musa, pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Kisah ini dapat dibaca pada Mrk 9:2-9 dan menjadi renungan paralel minggu ini.

 

 

 

Hari Rabu nanti, kita akan masuk Rabu Abu, pintu masuk ke masa Pra-Paskah. Jika Minggu Transfigurasi adalah mengenang penggenapan ke-Ilahian Yesus, maka Rabu Abu adalah awal mengenang penyelamatan Allah bagi manusia yang dari debu/abu, namun melalui penderitaan Tuhan Yesus yang sampai disiksa, dicerca dan mati disalibkan di bukit Golgota, kita ditebus, hidup dan diselamatkan.

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah 2Kor. 4:3-6. Nas ini menegaskan bahwa Injil Yesus harus terus diberitakan, baik melalui firman-Nya, perbuatan kasih, maupun dengan keteladanan kesiapan berkorban dan setia sampai akhir hayat. Hidup di dunia ini adalah pertandingan, dan harus diakhiri dengan kemenangan (2Tim. 4:7). Nas minggu ini juga mengingatkan, dalam memberitakan Injil, jangan fokus pada diri sendiri (ay. 5), sebagaimana kita kadang mendengar khotbah yang bercerita lebih banyak tentang dirinya daripada Tuhan Yesus.

 

 

 

Kita bersyukur sebagai pengikut Kristus, sudah di jalan yang benar dan terbaik. Namun masih banyak orang lain yang tidak mengenal Tuhan Yesus, dan mungkin ada sebagian yang malah membenci-Nya. Namun nas minggu ini menegaskan, bila Injil Tuhan Yesus yang diberitakan masih tertutup bagi mereka, tetap tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, maka mereka akan binasa (ay. 3-4). Meski tentu saja, bukan kita hakimnya, melainkan Tuhan Yesus kelak sebagai satu-satunya Hakim Agung yang berkuasa dan Mahaadil (1Kor. 4:1-5).

 

 

 

Jadi tugas kita adalah memberitakan Yesus melalui cara dan hikmat yang terbaik, dengan kasih dan senjata terang (Rm. 13:10-14). Perihal orang lain percaya dan berhasil menjadi pengikut, itu otoritas Tuhan Yesus pemberi iman (1Kor. 12:9). Tantangan selalu ada dan setiap usaha pasti memerlukan pengorbanan. Namun percayalah, setiap firman-Nya dan upaya tidak akan pernah sia-sia (Yes. 55:11; 1Kor. 15:58). Kegelapan yang masih meliputi orang lain, akan terbit terang melalui kesaksian hidup dan langkah kita. "Kamu adalah terang dunia.... Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga" (Mat. 5:14-16). Kita pengikut Kristus, jelas dituntut untuk hidup sebagai anak-anak terang (Ef. 5:8-14).

 

 

 

 Hal lain yang diingatkan pada Minggu Transfigurasi ini, yakni kita perlu terus melakukan perubahan. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna" (Rm. 12:2).

 

 

 

Setiap pribadi pengikut Kristus, terutama gereja sebagai organisme dan organisasi yang penuh sumber daya, perlu terus melakukan pembaharuan diri. Perlu pengenalan Pribadi dan misi Tuhan Yesus, agar kita memperoleh terang pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus, dan selanjutnya, "Ia membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita" (ay. 5-6). Setiap pribadi dan gereja, perlu menampakkan dua wajah: semakin memancarkan cahaya kemuliaan Kristus, dan semakin berbuah lebat membawa jiwa-jiwa baru kepada Kristus (2Pet. 1:3-13; Mat. 28:19-20).

 

 

 

Yesus yang kita percayai dan imani serta beritakan adalah Terang di tengah kegelapan (Yes. 60). "TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? (Mzm. 27:1). Mari terus berkarya bagi Kristus dan bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (Flp. 2:15; Rm.5:2; 8:30).

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu Transfigurasi 15 Februari 2026

 Khotbah Minggu Transfigurasi 15 Februari 2026 - Opsi 2

 

 WARISAN DALAM KEHIDUPAN (Kel. 24:12–18)

 

 Tinggallah di sini menunggu kami, sampai kami kembali lagi kepadamu; bukankah Harun dan Hur ada bersama–sama dengan kamu, siapa yang ada perkaranya datanglah kepada mereka (Kel. 24:14b)

 

Salam dalam kasih Kristus.

 

“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.” Itu peribahasa yang terkenal. Manusia pasti mati. Jika seseorang berperilaku baik dan berkarya, ia akan meninggalkan nama baik. Jika kehidupannya buruk, ia akan meninggalkan nama yang buruk. Itulah warisan kehidupan. Warisan dapat diartikan sebagai legasi, peninggalan, pusaka, dan bentuk peninggalan lainnya.

 

 

 

Firman Tuhan di Minggu Transfigurasi hari ini adalah Kel. 24:12–18. Nas ini bercerita tentang Musa dalam perjalanan menuju Kanaan. Ia dipanggil Tuhan untuk naik ke gunung menerima loh batu, yaitu hukum dan perintah (ay. 12). Selama ia pergi, Musa mendelegasikan kepemimpinan kepada Harun dan Hur (ay. 14). Namun setelah Musa naik ke gunung, Harun mengikuti kemauan umat Israel dengan mengumpulkan anting-anting emas milik para istri dan anak-anak. Mereka membuat patung anak lembu emas dan menyembahnya (Kel. 32:2–6). Ini sangat menyedihkan.

 

 

 

Hidup ini juga dapat dimaknai sebagai sebuah pendelegasian. Kita orang percaya adalah utusan. Kita memiliki amanat dan misi Tuhan, dan kita hadir di dunia sesuai talenta serta karunia rohani yang diberikan. Ketika mati, selain kelak mempertanggungjawabkannya, kita pun meninggalkan Warisan dalam hidup, baik atau buruk atau perpaduan keduanya. Thomas Jefferson, Presiden Amerika Serikat yang ketiga, bahkan mengatakan bahwa seseorang perlu mempersiapkan tulisan tentang siapa dirinya selain nama pada batu nisan.

 

 

 

Warisan tidak hanya berupa harta dan kekuasaan. Ada banyak bentuk Warisan sebagai cara membangun nama baik, yakni:

 

 

 

1.       Iman yang teguh. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2Tim. 4:7);

 

 

 

2.      Nilai-nilai hidup, karakter, atau tindakan penuh kasih, seperti yang dilakukan Mother Teresa. “Orang yang bijak akan mewarisi kehormatan” (Ams. 3:35; Rm. 12:9);

 

 

 

3.      Anak yang mandiri dan berhasil, sebagai buah hikmat (Ams. 3:1–4; Ul. 6:2; Mzm. 112:2), keteladanan, dan nilai-nilai yang diwariskan orang tua;

 

 

 

4.      Pemikiran, berupa tulisan, karya sastra, atau buku yang dianggap unggul dan mencerahkan. “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat ... ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya” (Ams. 3:13, 18);

 

 

 

5.      Jabatan. Kita tahu kisah Yusuf yang menjaga jabatan yang diberikan Potifar (Kej. 39:1–10). Dalam kantor pemerintahan atau swasta besar biasanya ada nama dan foto para pejabat sebelumnya serta sejarah yang dituliskan;

 

 

 

6.      Harta atau usaha. Meski uang tidak dapat menyelesaikan semuanya, uang dapat dipergunakan untuk kebaikan anak-cucu (2Kor. 12:14; Ams. 11:24; 13:22a). Namun fokus kita tidak boleh hanya pada harta duniawi (Mat. 6:19; Luk. 12:20–21);

 

 

 

7.      Monumen atau karya fisik. Jika mengingat Masjid Istiqlal, kita mengingat arsiteknya, F. Silaban. Banyak bangunan atau karya seni monumental menjadi pusaka berharga, seperti Monas, Patung Liberty, Gereja Katedral, Sagrada Família, serta lukisan Picasso dan Affandi. Absalom, karena tidak memiliki anak, membangun tugu peringatan bagi dirinya (2Sam. 18:18).

 

 

 

Nas minggu ini mengingatkan kita untuk menjaga kepercayaan dan misi yang diberikan Tuhan serta lembaga atau pihak yang menugaskan kita. Jangan seperti Harun dalam kisah tersebut. Ketika Musa diberitahu, ia segera turun gunung dan sangat marah, melemparkan loh batu dari Tuhan hingga hancur berkeping-keping. Hanya karena permohonan Musa, umat Israel tidak dimusnahkan Tuhan pada peristiwa itu (Kel. 32:7–30).

 

Mari kita menyiapkan diri untuk meninggalkan nama dan warisan yang baik, bukan hanya bagi anak-cucu tetapi juga untuk memuliakan nama Tuhan Yesus sebagai makna Minggu Transfigurasi hari ini.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 8 Februari 2026

Kabar dari Bukit Minggu 8 Februari 2026

 KEBAHAGIAAN ORANG BENAR (Mzm. 112:1-10)

 ”Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya” (Mzm. 112:1)

Darrow L. Miller dalam bukunya Membangun Bangsa dengan Pikiran Allah menjelaskan tentang pentingnya cara pandang (worldview) seseorang, yang didefinisikannya sebagai “seperangkat asumsi-asumsi yang dipegang dengan sadar atau tidak sadar dalam iman mengenai dasar tatanan dunia ini dan bagaimana dunia ini bekerja.” Cara pandang, layaknya sebuah peta jalan, mengarahkan tujuan kita dan membimbing kita menjalani hidup ini.

 

Menurutnya ada tiga macam cara pandang yang bersambungan, yakni animisme (yang berpegang semua benda mati dan hidup memiliki roh atau jiwa) memandang realitas paling tinggi adalah yang bersifat ROHANI. Sementara sekulerisme (yang mengutamakan pikiran dan ilmu pengetahuan) memandang realitas paling tinggi adalah yang bersifat FISIK; Theisme (yang percaya adanya Tuhan pencipta dan pengatur kehidupan) memandang realitas paling tinggi adalah PRIBADI. Ada banyak contoh yang diberikan dampak perbedaan cara pandang ini dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, penguasa semesta ini adalah alam itu sendiri (animisme), manusialah penguasanya (sekulerisme), dan theisme memandang Allah adalah penguasanya. Hal lainnya, animisme berpandangan manusia bekerja untuk bertahan hidup, sekulerisme memandang bekerja untuk menikmati makan, dan theisme memandang bekerja untuk memuliakan Allah.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mzm. 112:1-10. Judul perikopnya: Bahagia orang benar. Ayat 1 di atas sebenarnya lanjutan dari Mzm. 111:10a yang menuliskan, "Permulaan hikmat ialah takut akan Tuhan, semua orang yang melakukannya mendapat pengertian yang baik" (bdk. Ams. 9:10).

 

Ada empat pesan nas Mazmur ini kepada kita. Pertama, tentang cara pandang menjalani hidup ini. Pemazmur mengatakan, “Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya” (ay. 1). Seseorang yang mengenal dan mengasihi Allah pastilah rajin berdoa dan membaca firman-Nya, takut akan Dia, dalam pengertian selalu ada rasa hormat. Sama seperti ayah kita yang mengasihi sepenuh hati dan teguh dalam prinsip, pastilah kita hormati dan ada rasa takut penuh keseganan.

 

Bagian kedua disampaikan bahwa bahagialah orang yang menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan adil. Kita percaya Allah adalah kasih maka perlu ditunjukkan buah kasih dalam keseharian hidup. Iman tanpa perbuatan mati (Yak. 2:26). “Dengan murah hati ia membagi-bagi kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya (ay. 9). John Wesley penginjil dan teolog besar mengatakan: bekerjalah sekeras mungkin, menabunglah sebanyak mungkin, dan berilah semampu mungkin.

 

Apabila kedua hal tersebut dijalankan dengan baik, maka pesan ketiga pemazmur, buahnya sangatlah dahsyat, yakni:

 

1.       Anak cucunya akan perkasa di bumi; keturunannya diberkati (ay. 2);

2.      Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya (ay. 3);

3.      Ia takkan goyah, penuh kepercayaan kepada TUHAN, tanduk kekuatannya ditinggikan dalam kemuliaan, akan diingat untuk selama-lamanya (ay. 6-7, 9).

 

Untuk hal ini contoh klasik adalah keluarga Jonathan Edwards yang diberkati Tuhan, anak dan keturunannya penuh keberhasilan. Sama seperti John Wesley di atas, anak Susanna Wesley seorang ibu yang memperlihatkan iman dan ketaatan dalam hidupnya. Sebaliknya keluarga Max Jukes yang jauh dari Tuhan, akhirnya anak-cucunya menjadi penjahat, bagian dari penjara dan narkoba.

 

Bagian akhir mazmur ini mengingatkan agar memilih apa yang baik. Pilihan sebaliknya dalam memandang dan menjalani hidup, akan menjadi orang fasik yang keinginannya menuju kebinasaan (ay. 10; Mzm. 1:5-6; Ul. 30:19).

 Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 Tuhan Yesus memberkati, amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 42 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13589912
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
963
0
963
13550470
105926
127844
13589912

IP Anda: 216.73.216.222
2026-03-22 06:49

Login Form