2025
2025
Khotbah Minggu XVI Setelah Pentakosta - 28 September 2025
Khotbah Minggu 28 September 2025 - Minggu XVI Setelah Pentakosta
JURANG YANG TAK TERSEBERANGI (Luk. 16:19-31)
Bacaan lainnya menurut Leksionari: Yer. 32:1-3a, 6-15 atau Am. 6:1a, 4-7; 1Tim. 6:6-19;
Mzm. 91:1-6, 14-16 atau Mzm. 146
Pendahuluan
Minggu ini kita masih diberikan pengajaran tentang konsekuensi penggunaan harta dan kekayaan yang salah dan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kisah dalam nats ini yakni tentang orang miskin yang penuh iman dan tentang orang kaya yang tidak peduli dan membekukan hatinya terhadap sesama dan tidak memiliki belas kasih. Kisah ini hanyalah perumpamaan yakni tidak sungguh-sungguh terjadi. Lazarus dalam kisah ini berbeda dengan Lazarus yang disebutkan dalam Yoh. 11 yang dibangkitkan Yesus. Akan tetapi yang ditekankan dalam kisah ini adalah bahwa segala hal yang kita lakukan dan perbuat selama kita hidup di dunia ini akan membawa konsekuensi ketika kita nanti dipanggil Tuhan menghadap-Nya. Konsekuensi ini permanen dan tidak ada yang bisa merubahnya. Dari kisah yang kita baca minggu ini diberikan beberapa pengajaran sebagai berikut.
Pertama: adanya yang kaya dan miskin (ayat 19-21)
Kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan miskin memang sudah ada sejak manusia mengenal sistim kepemilikan individu. Tidak dapat dipungkiri manusia diciptakan Allah dengan berbagai kemampuan yang tidak sama khususnya dalam mencari nafkah dan penghasilan. Manusia dengan kemampuan tinggi akan dengan mudah memanfaatkan segala sumber alam dan produksi untuk menjadi miliknya, di bawah penguasaannya, dan juga untuk dinikmatinya. Sistim ini pernah dicoba untuk dihilangkan melalui sistim sosialis komunis, dengan konsep kepemilikan bersama dan komunal, namun dari pengalaman beberapa dekade di berbagai negara sistim ini gagal untuk meningkatkan keadilan dan harkat manusia. Sistim ekonomi tidak bisa menghilangkan individualitas yang dianggap justru meningkatkan kemakmuran bagi semua.
Kecendrungan manusia untuk mencoba meningkatkan harkat dan derajatnya melalui kepemilikan yang banyak dan berlebih dari kebutuhannya bukanlah sesuatu yang tabu. Manusia diberi talenta dan karunia yang berbeda. Berbagi kepemilikan dengan sistim sama rata sosialisme juga tidak efektip sebagaimana disebutkan di atas. Maka yang menjadi masalah adalah ketika yang memiliki banyak kemudian mengeksploitasi mereka yang memiliki sedikit dan kurang berpendidikan, seperti majikan mengeksploitasi buruh, pemilik modal menindas pekerja, tuan tanah menindas buruh tani, pejabat memeras rakyat, yang pintar menipu yang bodoh, dan sebagainya. Hal ini akan jelas terlihat ketika mereka yang kaya kemudian melupakan yang miskin dengan hanya menikmati untuk dirinya sendiri saja.
Itulah gambaran yang diberikan dalam nats ini. Orang kaya yang disebutkan dalam kisah ini selalu ingin menunjukkan kekayaannya dengan memakai jubah ungu mahal, bersukaria setiap hari dengan penuh kemewahan. Ia benar-benar menikmati kekayaannya dan mementingkan dirinya sendiri, bahkan mungkin secara atraktif memperlihatkan kepada banyak orang. Sementara di lain pihak kita membaca bagaimana Lazarus (yang berarti “Allah adalah pertolonganku”) dan hidup benar di hadapan Allah, harus hidup dengan mengais-ngais sisa makanan yang dilemparkan dari rumah orang kaya itu, dan itupun mungkin harus bersaing dengan anjing!!! Bahkan kadang anjing itu datang untuk menjilati borok Lazarus yang papa dan ia tidak mampu untuk mengusirnya. Sungguh gambaran yang tragis sikap orang kaya terhadap orang miskin.
Kedua: semua orang akan mati dan mendapat yang setimpal (ayat 22-25)
Akan tetapi segalanya akan berakhir ketika semua orang dipanggil kembali kepada Tuhan. Umur manusia tidak ada yang bisa memperpanjang dan Allah pemegang mutlak atas itu. Untuk itu tidak ada perbedaan kaya dan miskin, berbaju bagus atau compang-camping, pintar atau bodoh, Allah yang menentukan kapan akan menghadap Dia, meski diakui hikmat dalam pengetahuan bisa membawa dampak pada umur rata-rata orang terkait kesadaran kesehatan. Kalau semasa di dunia orang kaya mendapatkan kenikmatan dengan baju dan makanan yang enak dan melupakan mereka yang miskin, atau mendapatkan kehormatan dengan di tempatkan di tempat-tempat khusus dan utama, maka ketika kematian tiba, semua itu tidak ada artinya. Allah yang menjadi hakim bagi semua orang dengan melihat semua yang dilakukan terlepas dari kondisi kaya miskinnya.
Seperti semua orang Lazarus dan orang kaya itu memang akhirnya mati tanpa perlu dijelaskan penyebabnya. Akan tetapi Lazarus yang miskin itu langsung dibawa malaikat dan duduk di pangkuan Abraham. Di sini Abraham digambarkan sebagai bapak orang beriman sehingga dapat dipastikan bahwa Lazarus penuh dengan iman pada masa hidupnya. Meski ia miskin dan kelaparan, namun melalui imannya ia percaya ada dalam pemeliharaan Allah dan tidak pernah mengeluhkannya. Oleh karena itu ia diangkat ke Firdaus dan tinggal bersama-sama Abraham dan bahkan mendapat tempat yang istimewa di pangkuan Abraham (band. Yoh. 1:18). Pangkuan disini dalam pengertian “berbaring” yakni dalam suasana pesta di Firdaus (zaman dahulu menikmati pesta sering dilakukan dengan berbaring).
Berbeda dengan Lazarus yang menikmati kehidupan setelah kematiannya, orang kaya yang selalu hidup mewah tadi digambarkan menderita di alam maut. Orang kaya itu melihat Lazarus dan mengatakan kepada Abraham agar mengasihaninya. Ia sangat kesakitan dalam nyala api ini di neraka dan meminta Lazarus agar mencelupkan ujung jarinya ke dalam air untuk menyejukkan lidahnya. Sebuah gambaran yang menyedihkan. Ia dihukum bukan karena kaya akan tetapi karena mempergunakan kekayaannya secara tidak benar. Dalam kehidupan dunia, orang kaya ini telah menggunakan miliknya untuk kesenangan, kemewahan dan kepentingan dirinya tanpa memperdulikan mereka yang miskin, maka Allah tidak berkenan akan hal itu dan memberikan hukuman kepadanya dengan berat. Apa yang ia dan kita lakukan di dunia pasti akan mendapatkan imbalan yang setimpal dari Allah.
Ketiga: jurang yang tidak terseberangi (ayat 26-29)
Ada pemahaman Yahudi dalam perjanjian lama bahwa mereka yang meninggal akan dikumpulkan bersama dengan nenek moyang mereka (Kej. 15:15; Hak. 2:10; Mat. 8:11). Oleh karena itu Lazarus digambarkan bersama-sama dengan Abraham. Orang kaya itu juga setelah mati digambarkan berada di alam maut di tengah nyala api. Alam maut (Yun: hades dan Ibr: syeol) memang gambaran dalam kekristenan sebagai tempat berkumpulnya roh orang mati dan sering disebut neraka. Mereka yang tidak berkenan dan mendapat penghukuman karena perbuatannya di dunia tidak sejalan dengan kehendak Allah, maka mereka akan berakhir tragis di tempat ini. Penderitaan orang kaya itu pasti lebih hebat dari penderitaan Lazarus sewaktu hidup dalam kemiskinannya. Apalagi, dari cerita yang kita baca tampak bahwa orang kaya itu sebenarnya mengenal Lazarus pada masa hidupnya. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya, matanya menjadi buta dan telinganya menjadi tuli akan penderitaan orang lain dan tidak peduli dengan yang disekelilingnya.
Berbeda dengan gambaran Firdaus yakni tempat damai sejahtera, maka mereka yang berkenan kepada Allah melalui iman dan perbuatannya di dunia akan berada di sini bersama-sama dengan bapak iman kita Abraham. Ini juga sebagai kiasan tempat sorgawi (band. Luk. 23:43 dan Kis. 7:59). Gambaran yang diberikan dalam nats ini yakni kedua tempat ini dipisahkan oleh jurang yang dalam dan tidak terseberangi. Dunia orang yang berkenan kepada Allah kelak akan berada jauh dari dunia tempat mereka yang tidak diselamatkan. Memang ada penafsiran bahwa sesama orang akan dapat melihat bagaimana mereka berkumpul kelak di sorga dan juga dapat melihat mereka yang berada di neraka (band. Yes. 66:24).
Hal yang ingin ditekankan dalam ayat-ayat ini bahwa keberadaan akhir seseorang setelah kematiannya adalah hak Allah yang bersifat final, tidak seorang pun dapat merobah atau menolongnya. Riwayat akhir perjalanan manusia memang hanya ada dalam dua tempat yakni tempat menerima penghukuman kekal dan tempat menikmati kebersamaan dengan mereka yang dikasihi Allah. Jurang adalah perlambang yang membedakan tempat yang maha indah dan maha buruk, seperti penggambaran domba dan kambing. Dalam kekekalan itu semua akan terkondisikan tanpa ada yang bisa berbuat sesuatu. Kita manusia yang hidup saat ini diminta untuk belajar dari situasi ini sehingga kelak tidak mengalami yang sama dengan orang kaya ini.
Keempat: dengarlah pesan nabi dan Tuhan Yesus (ayat 30-31)
Kalau di atas digambarkan adanya jurang di antara surga dan neraka yang bersifat jauh dan tetap, maka dalam ayat-ayat berikutnya ini yang digambarkan adalah adanya jarak yang permanen antara dunia orang mati dan dunia orang hidup. Orang kaya itu dalam penderitaannya masih berpikir agar ada yang mengingatkan mereka yang hidup yakni ayah dan saudara-saudaranya, untuk bertobat dan tidak melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan, terlebih lagi bila pesan itu disampaikan oleh mereka yang sudah mati dan mengalami. Namun, firman yang kita baca menegaskan bahwa hubungan itu sudah terputus sama sekali. Dunia orang mati yakni tempat roh-roh berkumpul sudah terlepas dari dunia orang yang hidup saat ini di dunia.
Firman Tuhan berkata biarlah pesan Tuhan melalui para nabi dan rasul cukup untuk mengajar mereka. Semua pesan dan kesaksian itu sudah tertulis dalam Alkitab baik perjanjian lama (termasuk yang disampaikan dan kesaksian Nabi Musa) dan kesaksian para rasul dalam perjanjian baru. Utusan orang mati tidak lebih hebat dari firman yang tertulis. Kesaksian orang yang pernah melihat surga tidak lebih dahsyat dari gambaran yang ada dalam Alkitab. Maka biarlah (tulisan) Alkitab itu yang mengajar kita, dengan membaca dan mempelajarinya, mendengarkan dan merenungkan uraian para hamba Tuhan agar kita tidak tersesat dan jauh dari kehendak Tuhan. Firman Tuhan mengatakan, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim 3:16). Semua itu diberikan Allah agar kita membaca, mendengar, merenungkan dan menjadi pelaku-pelaku firman Tuhan.
Hal lainnya yakni terputusnya dunia orang yang masih hidup dengan orang yang sudah mati membawa konsekuensi yang sangat besar bagi iman kekristenan, khususnya tentang doa bagi mereka yang sudah meninggal. Sering muncul pertanyaan: apakah orang yang masih hidup dapat mendoakan mereka yang sudah meninggal? Maka sebagaimana dinyatakan dalam ayat tadi, doa orang yang masih hidup tidak mempunyai arti lagi bagi mereka yang sudah meninggal, keduanya sudah terputus dan tidak ada satupun yang bisa merubahnya kecuali melalui pertobatan dan keselamatan di dalam Tuhan Yesus semasa ia hidup. Iman Kristen protestan sangat ketat dalam hal ini dengan melarang mendoakan mereka yang sudah meninggal, meski kita akui saudara kita dari gereja katholik masih memperkenannya dengan mendasarinya dari Kitab Makabe yang merupakan bagian dari kitab Apokrifa (2Mak. 12:41-45) yang tidak diterima oleh umat Protestan.
Kesimpulan
Melalui bacaan kita minggu ini, Tuhan Yesus bukan mengajarkan agar kita membenci atau menghindari kekayaan, akan tetapi bagaimana kita mensikapi dan diajarkan mempergunakan kekayaan itu. Yesus mengajarkan bahwa ketidak-pedulian kita akan orang-orang miskin sementara kita menikmati kekayaan yang ada, akan diperhitungkan oleh Allah dan membawa konsekuensi setelah kita mati nanti dan masuk dalam kekekalan. Orang miskin selalu ada di sekitar kita. Kita tidak dapat berbuat apa-apa lagi ketika kita sudah mati, bahkan semua kekayaan dan keluarga termasuk orang tua dan saudara-saudara tidak dapat merubah ganjaran yang kita harus terima. Mari kita belajar dan mendengar firman Tuhan dan menjadi pelaku-pelaku agar hidup kita kelak jauh dari nyala api yang merindukan setetes air pun tidak akan kesampaian.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu XVI Setelah Pentakosta - 28 September 2025
Khotbah Minggu 28 September 2025
Minggu XVI Setelah Pentakosta (Opsi 2)
WAHYU KEPADAKU (Yer. 32:1-3a, 6-15)
“Maka tahulah aku, bahwa itu adalah firman TUHAN” (Yer. 32:8b)
Salam dalam kasih Kristus.
Firman Tuhan bagi kita di Minggu berbahagia hari ini adalah Yer. 32:1-3a, 6-15. Ini kisah tentang Nabi Yeremia yang dipenjara oleh karena bernubuat: “Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku menyerahkan kota ini ke dalam tangan raja Babel, supaya ia mendudukinya; …. Apabila kamu berperang melawan orang Kasdim itu, kamu tidak akan beruntung!" (ay. 3, 5b). Ini tentang kejatuhan Israel.
Nubuatan itu jelas kritik pedas. Sebenarnya nabi Yeremia juga memberi jalan keluar melalui pesan kiasan. Yeremia berkata bahwa ia menerima wahyu agar membeli dari sepupunya sebidang tanah. Tidak masuk akal sebenarnya membeli tanah di tengah situasi memburuk saat itu; perang, kelaparan, penyakit sampar melanda, dan kota Yerusalem akan jatuh (ay. 23-24). Namun ternyata benar, sepupunya datang kepadanya dan berkata: “Belilah ladangku yang di Anatot itu, sebab engkaulah yang mempunyai hak tebus untuk membelinya” (ay. 6-8, 23-24).
Merasa itu adalah nubuatan firman Tuhan yang benar kepadanya (ay. 8), ia pun taat membelinya. Sesuai pesan wahyu, nabi Yeremia membuat surat pembelian bermeterai di depan para saksi yang ikut menandatangani, dan juga di depan semua orang Yehuda yang hadir. Yeremia pun berkata kepada Barukh: “Ambillah surat-surat ini, baik surat pembelian yang dimeteraikan itu maupun salinan yang terbuka ini, taruhlah semuanya itu dalam bejana tanah, supaya dapat tahan lama. Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Rumah, ladang dan kebun anggur akan dibeli pula di negeri ini!” (ay. 10-15).
Pertanyaan kepada kita melalui nas minggu ini adalah: apakah kita merasa masih menerima wahyu pada masa kini? Yohanes Calvin mengatakan bahwa wahyu terus ada, yakni melalui firman Tuhan dan khotbah yang disampaikan oleh para hamba-Nya (bdk. Why. 2:29). Jika firman Tuhan yang kita dengar/baca dan renungkan tepat mengenai diri kita, yakni untuk mengajar, membuka jalan, atau meminta perubahan sikap, bahkan berbalik bertobat, sebenarnya itu adalah wahyu Tuhan kepada kita. Untuk itu kita perlu menyikapinya.
Janganlah kita seperti bangsa Israel. Pesan nabi Yeremia sangat jelas, Allah menghendaki mereka bertobat, kembali ke jalan Allah. Namun raja Zedekia tidak mengindahkan, malah memenjarakan Yeremia. Buruk muka cermin dibelah, itulah pepatahnya. Padahal, nabi Yeremia berkata, meski mereka akan dihukum dan dibuang ke Babel, ada janji bahwa semua akan dipulihkan, TUHAN pasti memimpin umat-Nya kembali (ay. 15).
Firman Tuhan melalui bacaan dan renungan yang disampaikan hamba-Nya, janganlah kita abaikan. Apalagi jika kita merasa sudah sangat benar dan layak, berdalih bahwa firman-Nya untuk orang lain, atau penyampai renungannya dihakimi sok tau, tidak disukai bahkan mencela, yang justru menambah dosa.
Jika seseorang ingin menunjukkan bulan kepada kita, namun yang kita lihat adalah jari penunjuknya, bukan bulannya, itu bukanlah berhikmat.
Orang percaya memerlukan kontrol dalam hidupnya. Jangan sampai salah arah, salah langkah, yang membawa ke jurang kematian yang tidak terseberangi. Ketekunan membaca firman Tuhan atau renungan melalui disiplin, merupakan ekspresi kerinduan, agar hidup diubah diperbarui, sekaligus menjauhkan ego dan nafsu kedagingan dan dunia. Mari terus belajar mendengarkan suara TUHAN. Bila pun jalan yang diminta-Nya susah, percayalah Tuhan tetap berjalan bersama kita. Taatlah, meski sulit diterima akal pikiran. “Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar” (Mat. 11:15).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 21 September 2025
Kabar dari Bukit
MENGHADAPI PENOLAKAN GEREJA (Mzm. 79:1-9)
”Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu!” (Mzm. 79:9a)
Masalah penolakan kehadiran gereja di tengah-tengah masyarakat sudah sering kita baca dan dengar; bahkan kadang disertai tindak kekerasan berupa perusakan bangunan, pembakaran termasuk kekerasan fisik. Peristiwa terbaru dan viral yakni perusakan rumah doa di Sukabumi tanggal 27 Juni 2025 dan di kota Padang tanggal 28 Juli 2025 lalu. SETARA Institute melaporkan pada tahun 2024 terdapat peningkatan tindakan pelanggaran kebebasan beragama & berkeyakinan di Indonesia dengan 260 peristiwa dan 402 tindakan; naik dari tahun 2023. Ironisnya, tindakan intoleransi dan diskriminatif ini tidak hanya oleh masyarakat, tetapi juga oleh negara.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mzm. 79:1-9. Judul perikopnya: Doa umat yang terancam, yang mengungkapkan tangisan bangsa Israel atas penghancuran bait Allah di Yerusalem oleh Nebukadnesar. Umat mengadu: “Ya Allah, bangsa-bangsa lain telah menyerbu ke milik-Mu, menajiskan bait kudus-Mu, membuat Yerusalem menjadi timbunan puing. Mereka memberikan mayat hamba-hamba-Mu sebagai makanan kepada burung-burung di udara, daging orang-orang yang Kaukasihi kepada binatang-binatang liar di bumi. Darah mereka ditumpahkan seperti air sekeliling Yerusalem, dan tidak ada yang menguburkan. Kami menjadi celaan bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemoohan bagi orang-orang sekeliling kami" (ay. 1-4).
Ratapan umat Israel kemudian dilanjutkan dengan permohonan: “Berapa lama lagi, ya Tuhan, Engkau murka terus-menerus, dan cemburu-Mu berkobar-kobar seperti api? Tumpahkanlah amarah-Mu ke atas bangsa-bangsa yang tidak mengenal Engkau” (ay. 5-6a).
Tentunya bagi kita umat Kristus hal ini tidak dianjurkan. Tuhan Yesus memerintahkan, "Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu" (Luk. 6:27). “Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan” (Rm. 12:19b). Sikap ini telah diperlihatkan oleh pengelola tempat ibadah di Sukabumi dan Padang, tanpa melakukan tindakan pembalasan. Bahkan sumbangan dana renovasi di Sukabumi dipakai untuk perbaikan mushola dan fasilitas umum.
Memang perlu disadari kadang di negeri ini, kita diperlakukan seperti “pendatang dan perantau” (1Pet. 2:11). Tuhan Yesus juga sudah menubuatkan penganiayaan murid-murid-Nya (Luk. 21: 12). Gunakan kesempatan tersebut untuk introspeksi sekaligus mendekat kepada-Nya. Belajar dari Mazmur ini, ada faktor ketidaktaatan umat penyebabnya. Oleh karena itu perlu pengakuan dosa. “Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami.... Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!" (ay. 8a, 9b).
Menghadapi penolakan gereja meminta kita untuk mencari hikmat sorgawi, jangan memperburuk situasi dan malah berdosa. Ajarlah jemaat jangan cepat menghakimi. Bangun relasi sekitar dan dukungan lembaga-lembaga, perkuat hukum dan advokasi (bdk. Kis. 22:25). Tetap setia memuji-Nya dan mohonkan belas kasihan dan campur tangan-Nya, sebab IA pasti memiliki rencana yang indah dibalik penderitaan.
Pengharapan dan andalan kita adalah Tuhan Yesus. “Tetapi hendaknya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami. Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu!" (ay. 8b-9a). Selain itu, tambahkan janji sebagaimana ayat penutup mengajarkan, “Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun” (ay. 9, 13).
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu XVI Setelah Pentakosta - 28 September 2025
Khotbah Minggu 28 September 2025
Minggu XVI Setelah Pentakosta (Opsi 3)
IBADAH DAN KECUKUPAN (1Tim. 6:6-19)
Firman Tuhan bagi kita pada Minggu XVI setelah Pentakosta ini diambil dari 1Tim. 6:6-19. Pokok renungan nas ini tentang ibadah, cinta uang, dan kebajikan. Ibadah berasal dari kata Ibrani abodah, avodah yang menurut KBBI berarti "Perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya."
Alkitab meminta kita orang percaya agar jangan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah (Ibr. 10:25a). Pertemuan ibadah yang dimaksud mencakup ritual rutin, seperti doa pagi dan membaca Alkitab/Renungan, doa syukur malam, ibadah Minggu, doa-doa bersama, PA bulanan. Semua itu mestinya menjadi bagian dari kehidupan kita.
Tetapi Alkitab juga memberikan pemahaman, bahwa melakukan kegiatan baik dalam kerangka pekerjaan, sosial, rumah tangga dan lainnya, itu pun merupakan ibadah. Perintahnya cukup jelas, "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia" (Kol. 3:23). Dengan demikian seluruh kehidupan kita harus dianggap sebagai ibadah, dalam arti totalitasnya mewujudkan misi Allah di dunia ini.
Manusia perlu uang. Itu wajar. Kita tahu tanpa uang hidup akan susah. Tapi uang bukanlah segalanya. Banyak kesaksian dari orang kaya raya, bahwa uang tidak bisa membeli kebahagian. Uang juga tidak bisa membeli keselamatan. Oleh karena itu nas ini menekankan, jangan cinta uang sebab itu menjadi akar semua kejahatan (ayat 10). Kita tidak membawa sesuatu apapun ke dalam dunia saat lahir, dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa saat mati (ayat 7). Cinta uang membawa kita menghalalkan secara cara. Menumpuk uang serta harta dapat menjadi tujuan dan menjadikannya mammon sebagai penyembahan berhala (Kol. 3:5; Ef. 5:5).
Kita diajar untuk memahami sukacita mencukupkan diri dan terhindar dari keserakahan. Kita diminta bijak membedakan keperluan hidup dan keinginan hidup. Keinginan mudah terkontaminasi dengan godaan kedagingan, kuasa dunia, dan pengaruh iblis; semua dipadu melalui jerat dan nafsu keserakahan. Dan, motivasi ibadah kita janganlah untuk mencari berkat kekayaan. Waspada, tidak sedikit yang kecewa, berakhir dengan penjara, rasa malu, tekanan pikiran, atau putus asa.
Pemazmur berkata, "Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik" (Mzm. 37:16). Untuk itu bersyukurlah atas hal yang sudah diterima. Justru perasaan syukur lebih dinikmati saat dapat memberi, bukan menerima. "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima" (Kis. 20:35b). Kita anak-anak Allah atau manusia Allah disebut dalam nas ini (ayat 11), diminta: "engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan." Jelas. Jangan kalah karena rakus uang, jadilah pemenang pertandingan dan teruslah rebut hidup yang kekal.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu XV Setelah Pentakosta - 21 September 2025
Khotbah Minggu 21 September 2025
Minggu XV Setelah Pentakosta
SETIA DALAM PERKARA-PERKARA KECIL (Luk. 16:1-13)
Bacaan lainnya menurut Leksionari: 1Tim. 2:1-7; Yer. 8:18-9:1 atau Am. 8:4-7;
Mzm. 79:1-9; atau Mzm. 113;
Pendahuluan
Minggu ini bacaan kita masih tentang pengajaran Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya dalam perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ia banyak memberikan contoh dan perumpamaan tentang makna kehidupan ini dengan maksud agar mereka dan kita tidak tersesat atau terperosok pada hal-hal duniawi yang singkat ini. Melalui bacaan nats ini, Yesus memberikan pelajaran yang cukup rumit dan bermakna ganda, yakni tentang amanah dan tanggungjawab bagi seorang bendahara yang dipercaya mengelola tanah milik Tuan tanah. pertanggungjawaban akan diminta dan keputusan pasti diberikan. Melalui kisah dan perumpamaan yang diberikan, kita mendapatkan pelajaran hidup sebagai berikut.
Pertama: pertanggungjawaban (ayat 1-2)
Nats ini merupakan kisah yang lumayan sulit untuk ditafsirkan, sebab menyangkut penilaian hal yang baik dari orang jahat. Pihak yang jahat dalam kisah ini bukan hanya bendahara, tetapi juga penyewa, yang bersedia diajak kompromi, meski bagi mereka belum tentu ada manfaatnya, sebab bisa saja biaya sewa sama, hanya sebagian dibayar kepada pemilik tanah dan sebagian kepada bendahara yang akan berhenti. Memang pembayaran tidak dalam bentuk uang atau barang, melainkan beban tanggungan yang sama saja ada biayanya. Tuan pemilik tanah sendiri sulit dikatagorikan apakah orang baik atau orang jahat, sebab ia juga membenarkan sikap bendahara yang cerdik bahkan licik dalam kisah ini.
Ada dua tafsiran atas kisah ini. Pertama, bendahara pada prinsipnya adalah mitra pemilik tanah, sehingga ia bebas menetapkan hutang-piutang sewa dengan penyewa. Dalam hal ini tuan tanah tinggal terima bersih hasil akhirnya. Maka ketika bendahara itu memutuskan perubahan nilai sewa, ia sebenarnya “berhak” atas keputusan itu. Ia masih memiliki kuasa meski di saat terakhir, dan itu mengikat seterusnya. Tafsiran kedua, bendahara itu hanya hamba, seorang pegawai, sehingga ia harus melaporkan apa adanya, tidak berhak merubah apapun soal sewa menyewa. Dengan status itu, ada kecurangan yang dia lakukan, dan dalam hal ini ditafsirkan ia mungkin sudah sering mencuri hasil sewa tanah tersebut.
Namun dari kedua tafsiran itu pokok yang ditekankan dari nats ini adalah bahwa semua yang kita terima baik harta maupun wewenang, adalah amanah belaka yang dipercaya kita kelola sementara. Tidak ada harta dan kuasa dalam hidup ini yang menjadi milik kita abadi dan itu semua suatu saat akan kita tinggalkan. Segala sesuatunya itu nanti ada yang menilai dan kita harus mempertanggungjawabkan kepada tuan pemilik yang sah. Dalam hal ini pemilik sah atas alam semesta dan kehidupan ini termasuk kita adalah Allah yang kita kenal melalui Tuhan Yesus. Maka pertanyaannya adalah: saat kita memiliki harta atau Mamon dan wewenang saat ini, apakah kita mempergunakannya untuk kebaikan bagi kita dan orang lain, atau kita hanya pakai dan kelola untuk kepentingan diri sendiri, bahkan yang tidak berkenan kepada Tuhan? Janganlah kita menganggap itu sebagai hal yang sepele dan tidak ada kaitannya kelak dalam pertanggungjawaban di kehidupan lain setelah di dunia ini.
Kedua: memanipulasi keadaan (ayat 3-8)
Tuan pemilik tanah merasa bahwa bendahara tersebut tidak mengelola tanah tersebut dengan baik, bahkan menghamburkan hasilnya. Oleh karena itu ia memutuskan memberhentikan bendahara tersebut. Namun ketika bendahara itu memanfaatkan situasi sempit itu untuk mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri, tuan pemilik tanah itu justru memuji bendahara tersebut dengan mengatakan ia adalah orang yang cerdik. Ia dengan cepat mengurangi hutang orang lain dari seratus tempayan minyak (zaitun) menjadi lima puluh tempayan, dan kepada yang lain dia kurangi dari seratus pikul gandum menjadi delapan puluh pikul. Semua itu ia lakukan agar kedua orang ini merasa berhutang budi padanya dan suatu saat kelak ia bisa ditampung di rumah mereka atau membayar kepadanya.
Pelajaran yang bisa diambil dari perumpamaan ini bahwa orang-orang dunia demikian pintarnya dalam mencari peluang mencari harta, berpikir cepat dan kreatif untuk mendapatkan hasil meski untuk kepentingannya sendiri. Maka menjadi tantangan bagi orang-orang Kristen agar selalu lebih cerdik dari mereka (ayat 8). Di satu sisi memang kita bisa melihat bendahara tersebut mempergunakan kesempatan yang ada untuk menjalin hubungan yang baik dengan para penyewa, memberi keringanan hutang utnuk sementara. Maka pesan yang kita ambil adalah untuk berbuat kebaikan perlu kreatifitas dan pengetahuan, mempergunakan waktu yang masih sisa agar diperoleh hasil yang maksimal.
Memang cara yang dipakai oleh bendahara bukanlah cara yang benar. Akan tetapi kecerdikan dan perhitungannya dalam membangun hubungan bagi dirinya di masa depan adalah sesuatu yang perlu diteladani. Kita orang Kristen telah diberi kepercayaan oleh Allah melalui kepemilikan yang ada, maka apakah kita cukup kreatif untuk melipatgandakan semua itu dan mampu mengembangkan hubungan yang lebih luas kepada banyak orang? Kepemilikan atas harta dan kuasa mempunyai pengaruh kepada hubungan dengan sesama, membuat hidup orang lain lebih mudah, dan itu semua mempunyai konsekuensi pada kehidupan kit adi masa yang akan datang. Memanipulasi keadaan untuk kepentingan diri sendiri dan pemuasan nafsu jelas salah, akan tetapi menerapkan kecerdikan dan kelihaian berhitung bagi kepentingan meluaskan hubungan dan menolong sesama, jelas sesuatu yang disenangi oleh Tuhan kita. Tindakan cerdik dan berani seperti ini dapat dipuji oleh Majikan kita yang Agung.
Ketiga: setia dalam perkara-perkara kecil (ayat 9-12)
Tuan pemilik tanah itu tidak berarti setuju dengan apa yang dilakukan oleh bendahara itu. Akan tetapi tuan tanah itu mengatakan bahwa menggunakan kesempatan melalui “mamon yang tidak jujur” jelas ada gunanya. Mamon berasal dari bahasa Aram yang berarti uang, harta atau laba. Kalau sumbernya tidak jujur maka ia menjadi mamon yang tidak jujur. Tetapi ditekankan juga bahwa tidak selamanya harta atau mamon itu dapat menolong, ada saatnya ia menjadi “tidak berarti dan tidak berguna”, sebab yang lebih utama dan merupakan tujuan hidup adalah kemah abadi yakni kehidupan nanti (band. Luk. 12:33; Mat. 19:21).
Pesan lainnya adalah kita diuji melalui kesetiaan pada hal-hal yang kecil terlebih dahulu, sebelum pada hal yang besar dan bahkan yang utama. Harta dan kekuasaan duniawi sangatlah kecil nilainya dibandingkan dengan nilai kekayaan sorgawi. Apalagi masa kehidupan di dunia ini sangat singkat bila dibandingkan dengan masa kekekalan. Tanggung jawab penggunaan harta duniawi akan menjadi ujian terhadap kesetiaan kita, sebab apabila kita tidak setia terhadap harta duniawi, maka kita juga dianggap tidak akan setia dan mampu untuk menerima harta sorgawi yang rohani dan abadi. Harta duniawi seperti uang jelas merupakan godaan besar, sehingga firman Tuhan mengatakan akar segala kejahatan adalah cinta uang dan hamba Tuhan diminta untuk tidak mencintai uang (1Tim. 3:1-3).
Pengelolaan hal kecil dianggap merupakan ujian bagi karakter (watak) dan integritas yang kita miliki dalam hal pengelolaan. Apakah kita memang orang yang setia dan layak dipercaya sehingga berhak atas sesuatu yang paling berharga nantinya, yakni harta sorgawi yang kekal? Sejauh mana integritas kita dan kesetiaan dalam pengelolaan itu? Perumpamaan dalam nats ini juga dapat disamakan dengan pengelolaan uang mina, sehingga Tuhan berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat. 25:21-23; band Luk. 19: 11-27).
Keempat: mengabdi kepada dua tuan (ayat 13)
Ada sebuah keunikan dalam kepemilikan. Rasa kepemilikan atau sense of belonging memaksa kita bertanggungjawab. Memiliki keluarga membuat kita bertanggungjawab atas keluarga, dan itu adalah hal yang baik dan wajar. Meski tanggungjawab itu membuat kita seolah-olah "hamba" dari keluarga dalam pengertian kita ingin membahagiakan mereka adalah sesuatu yang baik. Namun, ketika kepemilikan dan sense of belonging tersebut pada sebuah benda atau harta, meski ada nilainya, maka disini muncul sesuatu yang tidak baik. Menjadi hamba keluarga adalah baik akan tetapi menjadi hamba uang atau harta, jelas tidak bagus sama sekali.
Memiliki Tuhan sama saja halnya. Ketika kita merasa memiliki Tuhan maka ada rasa tanggungjawab atas hal itu. Meski dalam hal Tuhan, pengakuan kita tidak akan mempengaruhi keberadaan dan kuasa-Nya. Kita tetap harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada kita. Maka ketika rasa tanggungjawab itu muncul pada kedua-duanya, timbullah pertanyaan: kepada siapa kita mengabdi? Apakah kita mengabdi kepada harta atau uang dan menjadikan semua itu sebagai Tuan, atau kita tetap mengabdi kepada Allah? Jelas kita tidak bisa mengabdi kepada keduanya. Pilihan harus diberikan, mana yang utama. Sama seperti kapal tidak boleh dinakhodai oleh dua orang, akan kacau perjalanannya, demikian juga perjalanan kita harus oleh satu nakhoda: Allah atau Mamon? Inilah yang diingatkan bagi kita melalui nats ini.
Kekayaan dan harta serta rasa kemilikan dan kecintaan akan dunia ini akan membuat kita lebih sulit membuat Allah sebagai Tuan atau Tuhan kita. Oleh karena itu kita harus memilih salah satu yang utama dan semua itu akan terlihat ketika kita mengelola sehari-hari atas uang dan harta yang diamanahkan-Nya kepada kita: yang mana akan mengambil tempat utama dalam hati kita? Apakah kita tetap melihat bahwa mereka yang memiliki harta dan uang yang banyak sebagai tanda berkat dari Allah? Jangan kita seperti mereka, mulut kita menempatkan Allah yang utama akan tetapi hati kita lebih menghargai harta dan dunia. Allah sangat membenci hal itu, sebagaimana Tuhan Yesus menegur orang Farisi dalam kisah nats ini. Ukuran diberkati adalah urusan damai sejahtera dalam kasih Allah dan kepada manusia. Karena itu, apa dan siapa yang akan lebih sering menjadi fokus pikiran kita setiap hari? Semua itu akan memperlihatkan, itulah yang menjadi Tuan atau Tuhan kita. Hal ini dapat diuji dengan beberapa pertanyaan sebagai berikut:
1. Apakah engkau sering kuatir dan memikirkan uang atau hartamu setiap hari?
2. Apakah engkau mudah tergoda dan menyerah atas bujukan apabila itu peluang mendapatkan uang atau harta meski dengan cara tidak berkenan kepada Tuhan?
3. Apakah waktu yang dipakai setiap hari lebih banyak untuk mencari uang? Atau waktumu banyak tersita untuk mengurusi harta dan uang?
4. Apakah engkau sulit untuk memberi kepada mereka yang membutuhkan dan juga kepada gereja/penginjilan?
5. Apakah engkau memaksakan untuk berhutang demi sesuatu yang tidak urgent perlu?
Kalau jawabannya banyak ya, maka mungkin Uang atau Mamon sudah menjadi tuan kita.
Kesimpulan
Melalui bacaan dan renungan yang diuraikan di atas, kita diingatkan bahwa semua hal di dunia ada ada pertanggungjawaban. Jangan kita terkecoh dengan membuat sesuatu yang bernilai di dunia ini seperti uang dan harta menjadi Tuan kita dan kita menjadi hambanya. Jangan juga kita memanipulasi untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri, meski kita diajar untuk selalu cerdik. Semua yang di dunia dianggap sebagai hal dan perkara-perkara kecil, sebab yang utama adalah kekayaan sorgawi dan menjadi penghuni kemah abadi. Untuk itu kita tidak boleh membuat dua Tuan dalam hidup kita, harus memilih, membuat Yesus sebagai Tuhan sekaligus Tuan kita, atau menjadikan harta dan dunia ini sebagai Tuan kita. Mari kita jadikan Yesus sebagai Tuhan dan nakhoda kita, mengenal otoritas-Nya, sebab Dia sebenarnya pemberi semua itu.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan YesusKhotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan YesusKhotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan YesusKhotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 53 guests and no members online
