Monday, August 10, 2026

Khotbah (3) Minggu XII Setelah Pentakosta - 16 Agustus 2026

Khotbah Minggu XII Setelah Pentakosta - 16 Agustus 2026 - Opsi 3

  KASIH DAN PENGAMPUNAN (Kej. 45:1–15)

  ”Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu” (Kej. 45:5)

 

Paus Fransiskus dalam audiensi umum kepada 12.000 jemaat di Lapangan Santo Petrus pada Agustus 2014 mengatakan bahwa rasa iri, dengki, dan perilaku buruk lainnya adalah manusiawi, tetapi sifat-sifat itu bukanlah ciri Kristen (pgi.or.id). Alkitab sendiri menuliskan adanya puluhan sifat dan perilaku buruk manusia, yang dapat dikaitkan dengan iman, pengharapan, dan kasih.

 

Firman Tuhan di hari Minggu ini bagi kita adalah Kej. 45:1–15. Ini kisah Yusuf saat memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya ketika mereka datang ke Mesir untuk mencari makanan karena terjadi kelaparan di Israel. Dalam kisah sebelumnya, kita tahu saudara-saudaranya telah menjual Yusuf sehingga menjadi budak (Kej. 37).

 

Sifat buruk manusia terkait iman adalah tidak mengakui keberadaan Allah atau menganggap hidup sehari-hari tidak berkaitan dengan-Nya. Mereka berdalih tidak perlu memuliakan Allah, mengucap syukur, atau mengakui kekuatan dan keilahian-Nya (Rm. 1:20–21). Mereka lebih mentuhankan ilmu pengetahuan, logika, atau rasa takut akan konsekuensi. Puncak sifat buruk ini adalah keangkuhan, kesombongan, dan congkak terhadap Allah maupun sesama manusia.

 

Sifat buruk kedua terkait pengharapan, yakni terlalu mengandalkan kemampuan diri sendiri. Jika berhasil, mereka mengabaikan Tuhan; jika gagal, muncul amarah, putus asa, gerutu, bahkan upaya bunuh diri. Mereka tidak menyadari bahwa pengharapan menuntut sikap rendah hati dan menjadikan Tuhan sebagai sauh yang kuat bagi jiwa (Ibr. 6:19).

 

Sifat buruk ketiga adalah hilangnya kasih, berupa fokus pada diri sendiri dan tidak peduli terhadap orang lain. Alkitab menubuatkan hal ini: “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang..., tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik” (2Tim. 3:2).

 

Melalui Firman minggu ini, kita diajak belajar dari Yusuf. Meski menghadapi rintangan akibat perbuatan jahat saudara-saudaranya, ia justru menjadi pembesar di Mesir (ay. 8). Rencana Tuhan terhadap Yusuf tidak pernah gagal, meski ada usaha manusia yang menghalangi. Penyertaan dan hikmat Allah termasuk menafsir mimpi Firaun agar Mesir menyimpan makanan menjelang musim kelaparan (Kej. 41).

 

Yusuf memilih mengutamakan kasih dalam hidupnya. Ia membuang sifat buruk berupa dendam, benci, dan permusuhan, yang justru dapat merusak dirinya sendiri. Menurut Mayo Clinic, mengampuni membantu menyembuhkan luka batin dan fisik serta membangun hubungan yang sehat secara rohani dan psikologis.

 

Hati yang penuh kasih memungkinkan pengampunan dan melupakan kesalahan orang lain. Alkitab menuliskan, “Kasih menutupi banyak dosa” (1Pet. 4:8). Yusuf mampu menjadikan masalah besar sebagai hal kecil, melihat keterbatasan manusia, dan memahami bahwa kadang orang lupa atau khilaf.

 

Sebagai pengikut Tuhan Yesus, mari kita meneladani Yusuf: melupakan kesalahan orang lain dan mengasihi. Pesan Tuhan Yesus sangat jelas, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga” (Mat. 6:14). Kini, semua kembali kepada kita.

 Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 20 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14250740
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
241
3671
7574
14207005
49615
136921
14250740

IP Anda: 216.73.216.53
2026-08-11 01:36

Login Form