Monday, June 15, 2026

Khotbah (2) Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026

Khotbah Minggu IV Setelah Pentakosta - Minggu 21 Juni 2026 – Opsi 2

 

 ISHAK, ISMAEL DAN KITA (Kej. 21:8–21)

 

 ”Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; ..., sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak" (Kej. 21:12)

 

Selamat hari Minggu.

 

Agama “Samawi” dikenal sebagai tiga agama yang berlatar belakang Abraham, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam. Samawi berarti sumbernya dari “wahyu” surga, dan ketiga agama ini kadang disebut juga Abrahamik. Agama Samawi dibedakan dengan agama “Ardhi” yang dianggap lebih bersumber dari hikmat manusia, budaya, dan tradisi, seperti Hindu, Buddha, dan lainnya, serta tidak mengenal nabi atau rasul.

 

Dua agama Samawi, yakni Kristen dan Islam, menjadi besar karena penyebarannya sesuai doktrin yang dianut, sementara agama Yahudi lebih “tertutup” karena terkait etnis. Hubungan ketiga agama ini tidak selalu mulus; kadang terjadi gesekan bahkan bentrokan keras. Kita tahu Perang Salib, saat Paus Urbanus II dan Kaisar Bizantium Alexius Komnenus memerintahkan pasukan mereka untuk merebut kembali Yerusalem yang saat itu dikuasai umat Islam (Bani Saljuk) yang membatasi umat Kristen beribadah di sana. Tentu faktor politik dan ekonomi juga menjadi penyebab lainnya.

 

Firman Tuhan di hari Minggu yang berbahagia ini dari Kej. 21:8–21. Ini kisah tentang Abraham yang diminta Sarah, istrinya, untuk mengusir Hagar, budak yang menjadi istrinya ketika Sarah belum mempunyai anak. Setelah Ishak, anak Sarah, lahir, timbul kecemburuan dan ketakutan Sarah bahwa Ismael, anak Hagar, akan menjadi ahli waris (ay. 10).

 

Abraham, meski awalnya berat hati, akhirnya menuruti permintaan Sarah setelah mendengar janji Tuhan bahwa keturunan Ismael akan menjadi suatu bangsa besar, karena Ismael juga anak Abraham (ay. 13). Abraham pun melepas mereka dengan bekal roti dan air yang cukup (ay. 14). Tuhan sebelumnya juga telah berjanji kepada Hagar saat Ismael masih dalam kandungan (Kej. 16:10).

 

Tantangan perjalanan padang gurun Bersyeba sangat berat. Namun Allah tetap menjaga mereka, setia pada janji-Nya sampai tiba di padang gurun Paran. Hagar kemudian mengambil seorang istri bagi Ismael dari tanah Mesir (ay. 19–21). Ismael memiliki keturunan besar dari dua belas anak (Kej. 25:12–18).

 

Hubungan Ishak dan Ismael menjadi misteri dalam kehidupan manusia. Ada perbedaan versi antara Alkitab dan Alquran, dan kita tidak perlu membahasnya karena keduanya mengaku berasal dari wahyu Tuhan sehingga sulit dipertemukan. Namun dalam iman, Tuhan pasti menyingkapkannya ketika kehidupan di dunia berakhir.

 

Pesan pertama dari nas minggu ini, yakni Allah dapat memberi janji dan berkuasa menggenapinya. Keturunan Abraham terbukti seperti bintang di langit dan pasir di tepi laut (Kej. 13:6; 22:17; lihat renungan minggu lalu), baik melalui hubungan darah dengan bangsa Israel (Rm. 11:1) maupun melalui iman (Rm. 4:16–17; Gal. 3:7–9). Penganut Abrahamik saat ini lebih dari setengah penduduk bumi.

 

Kedua, dalam menghadapi perbedaan kisah dan tafsir, kita tetap berpegang pada iman, sejarah, dan pikiran sehat. Kita memegang janji sesuai firman-Nya: “dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: ‘Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu’” (ay. 12; Rm. 9:7). Kita tahu keturunan besar hanya salah satu aspek berkat, sementara yang utama adalah keselamatan kekal.

 

Ketiga, menyikapi perbedaan dengan keturunan Ismael, kita berjalan dalam hikmat dan kasih Tuhan. Cara pandang dan penyelesaian perbedaan tetaplah dalam kasih dan damai. Kita tidak perlu mengikuti sikap Sarah yang mungkin didorong kebencian. Sebaliknya, kita meneladani Abraham yang tetap penuh kasih, melepas Hagar dan Ismael dengan damai serta bekal kehidupan. Imannya teguh bahwa Allah akan setia menjaga mereka. Terlebih doktrin Kristiani mengajarkan kita hidup dalam kasih, berdoa, dan berbuat baik, termasuk kepada musuh (Mat. 5:44; Luk. 6:27).

 

Seperti pesan paralel dari nas minggu ini, yakni Mat. 10:24–39, mari tetap teguh dalam iman dan terus bersaksi, berbuah bagi Kristus. Jangan goyah oleh informasi sesat yang membawa kita ke dalam kebencian dan permusuhan. Doktrin Kristiani tidak mengajarkan hal itu. Hidup dalam damai sejahtera, saling menolong, dan mengutamakan kepentingan orang lain (Rm. 12:18; Gal. 6:2; Flp. 2:4). Itu perintah Tuhan, dan kita wajib menjaganya.

 

Selamat beribadah dan bersekutu.

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 42 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13984667
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
2615
0
2615
13950779
49035
131119
13984667

IP Anda: 216.73.217.63
2026-06-15 18:15

Login Form