Monday, January 12, 2026

2025

Khotbah (2) Minggu VI Setelah Pentakosta - 20 Juli 2025

Khotbah (2) Minggu VI Setelah Pentakosta - 20 Juli 2025

 

 IBADAH YANG BERCELA (Amos 8:1-12)

 

 TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: “Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!” (Amos 8:7)

 

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari yang berbahagia ini dari Amos 8:1-12. Ini kelanjutan renungan minggu lalu (Amos 7:7-17). Melalui penglihatan ketiga kepada nabi Amos, Allah mengingatkan Israel dan kita semua, agar selalu memperhatikan orang miskin dan yang memerlukan pertolongan. Penglihatan keempat adalah nas minggu ini. Tuhan menunjukkan buah-buahan musim kemarau dalam bakul kepada nabi Amos. Buah-buahan adalah simbol persembahan umat kepada Allah di altar.

 

 

 

Tetapi Tuhan berkata kepada Amos: "Kesudahan telah datang bagi umat-Ku Israel. Aku tidak akan memaafkannya lagi. Nyanyian-nyanyian di tempat suci akan menjadi ratapan pada hari itu" (ay. 2b-3a). Tuhan telah marah, bangsa Israel tidak lagi menunjukkan perubahan dan pertobatan. Doa nabi Amos telah didengar dan dikabulkan di dua peringatan sebelumnya, tetapi kini Tuhan melihat tidak ada kemauan pertobatan lagi.

 

 

 

Pada masa itu, orang-orang kaya Israel memberi upah pekerja sangat rendah dan mencurangi, pedagang menjual terigu yang busuk. Semua mereka rancang untuk menginjak hak orang miskin dan lemah. Tidak ada rasa takut. Ini terjadi karena umat merasa mereka adalah bangsa pilihan. Mereka rajin beribadah di Bait Alah, menyanyi, berdoa dan memberi persembahan. Meski begitu, pemimpin umat lebih fokus pada megahnya bangunan, riuhnya ibadah raya, dan mengutamakan kepentingan mereka sendiri.

 

 

 

Ibadah mereka jalankan dan memberi persembahan menurut ukuran manusia. Semua berpikir itu akan menyenangkan hati Tuhan. Tetapi, Tuhan ternyata tidak melihat itu. Tuhan ingin agar umat lebih banyak berbuat konkret. Nyata. Jangan menipu, jangan berlaku curang. Jangan berpikir, yang utama adalah keuntungan semata.

 

 

 

Kemarahan Tuhan digambarkan begitu menyeramkan. Ada banyak bangkai: ke mana-mana orang melemparkannya dengan diam-diam. Tuhan menjauh (ay. 12) dan membuat malapetaka kekelaman: matahari terbenam di siang hari dan membuat bumi gelap pada hari cerah (ay. 9). Kelaparan akan datang melanda, begitu juga dengan kehausan. Nyanyian menjadi ratapan, mereka memakai kain kabung dengan kepala gundul sebagai tanda berkabung (ay. 10).

 

 

 

Nas minggu ini memperingatkan kita semua, jangan seolah kita telah mengikut Kristus maka semua aman selamat. Janganlah sibuk pada acara dan ritual ibadah semata termasuk jamuan kasih, membaca dan belajar firman, tapi dalam kenyataan mengabaikan kasih. Pusat keselamatan kita adalah Kristus, sehingga arah dan tindakan mestilah sama serupa dengan Kristus.

 

 

 

Jangan menindas, bersikap arogan. Tetaplah rendah hati, bertumbuh lebih baik di hadapan Tuhan. Pertobatan tidak pernah terlambat sebelum Tuhan memutuskan akan menghukum kita, sebagaimana penglihatan kepada nabi Amos. Semoga kita terus dimampukan untuk melakukannya.

  

Selamat beribadah dan selamat melayani.

  

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu VI Setelah Pentakosta - 20 Juli 2025

Khotbah (3) Minggu VI Setelah Pentakosta - 20 Juli 2025

 KEUTAMAAN KRISTUS (Kol. 1:15-28)

 

            Firman Tuhan bagi kita pada Minggu VI setelah Pentakosta ini diambil dari Kol. 1:15-28. Nas ini berbicara tentang Keutamaan Kristus (ayat 15-23) dan dikaitkan dengan pelayanan dan penderitaan Paulus (ayat 24-28). Melalui Kristus, Allah yang sebelumnya tidak kelihatan menjadi tampak nyata bagi manusia; menjadi manusia dan berbicara langsung dengan manusia (ayat 15). Hampir 400 tahun Allah “tidak berbicara” kepada manusia melalui nabi-nabi baru setelah yang terakhir nabi Maleakhi. Maka keputusan Allah menjadi manusia menjadi sangat tepat.

 

            Yesus Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan sebagaimana ayat dalam nas ini: “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia” (ayat 16-17). Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia (ayat 19), yang satu dengan Bapa (Yoh. 10:30) dan itu semua sangat lengkap diperlukan oleh kita umat percaya.

 

            Tuhan Yesus adalah kepala jemaat dan Dia yang mendirikannya (Mat. 16:18) serta menumbuhkannya (1Kor. 3:6). Umat Yahudi yang semula pilihan Allah untuk menjadi teladan dan model umat-Nya, agar seluruh isi bumi menyembah-Nya, telah gagal. Tetapi Allah tidak bisa lepas mengasihi manusia ciptaan-Nya, kasih yang tidak terbatas (Yoh. 3:16). Maka menjadi alur yang logis jika Allah ingin menyelamatkan manusia dan membangun umat baru yang kudus dan pembawa damai bagi dunia. Dan dosa manusia yang sebelumnya menjadi penghalang hubungan yang erat manusia dengan Allah, harus dihilangkan dan dihapus, serta hubungan itu dipulihkan.

 

            Yesus menjadi manusia untuk kepentingan manusia, memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus (ayat 20). Dengan perdamaian tersebut, mereka yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatan yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya (ayat 21-22a). Semua itu sebagai penebusan untuk menempatkan kita menjadi umat yang kudus, tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya (ayat 22b). Allah pun dapat diam di dalam diri kita yang telah dikuduskan. Buahnya, kita semakin diteguhkan, iman kita semakin dikuatkan, dan seluruh pengharapan sorgawi kita tidak goyang dan bergeser. Kini, Kristus telah ada di tengah-tengah kita, dan menjadi pengharapan akan kemuliaan! (ayat 27b).

 

            Rasul Paulus memberi kita teladan dengan ikut menderita sebagaimana Kristus menderita. Ia memberikan hidupnya menjadi pelayan untuk memberitakan dan meneruskan firman-Nya, yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada kita orang percaya (ayat 26-27). Terpujilah Tuhan.

 

            Melalui penderitaan itu Rasul Paulus bersukacita, karena ikut melayani, berkontribusi. Sikap dan semangat itulah mestinya yang hidup di dalam setiap hati kita orang percaya, yakni bersukacita ketika ikut berkontribusi memberitakan Kristus, memperluas kerajaan-Nya. Jadi, kita tidak hanya bersukacita ketika memperoleh berkat-berkat dunia.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu Kelima Setelah Pentakosta - 13 Juli 2025

Khotbah Minggu Kelima Setelah Pentakosta - 13 Juli 2025

 

 PERBUATLAH KASIH, MAKA ENGKAU AKAN HIDUP (Luk. 10:25-37)

 

 Bacaan lainnya menurut Leksionari: Am 7:7-17 atau Ul 30:9-14; Mzm 82 atau Mzm 25:1-10; Kol 1:1-14

 

 

 

Pendahuluan

 

Bagi umat Yahudi, ahli Taurat adalah seorang pakar hukum perjanjian lama. Mereka sangat menghapal teks ayat-ayat yang tertulis dan sering dijadikan sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi pengajaran agama dan kerohanian. Oleh karena itu, kadang mereka bersikap sombong dan merendahkan pihak lain. Dalam nats minggu ini kita membaca tentang ahli Taurat yang sedang menguji Yesus dengan sebuah pertanyaan yang menjebak. Pertanyaannya dihubungkan dengan hidup yang kekal, yang dalam perjanjian lama dan bagi umat Yahudi tidak terlalu banyak pembahasannya dan merupakan pokok diskusi yang hangat. Dari bacaan nats minggu ini kita diberikan pemahaman sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: hukum pertama yakni kasih kepada Allah (ayat 25-27a)

 

Tuhan Yesus menjawab ahli Taurat tersebut dengan pertanyaan balik, bagaimana tertulis dalam kitab perjanjian lama tentang memperoleh hidup yang kekal? Sebagai ahli Taurat yang menghafal teks, ia mengutip Ul 6:5 dengan benar, diambil dari pengakuan iman (kredo) mereka, yakni pertama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan dan akal budi. Dari teks tersebut tampak mengasihi Allah haruslah dengan seluruh kemampuan dari diri kita, tidak hanya hati (perasaan) melainkan juga dari kedalaman batin, perasaan, kepribadian, fisik jasmaniah, pikiran dan seluruh hidup kita.

 

 

 

Allah menginginkan pengenalan dan persekutuan kita dengan Dia harus istimewa dan dari seluruh hidup yang kita miliki. Allah kita adalah Allah pencemburu dan tidak mau diduakan (Kel. 20:5; 1Kor. 10:22). Kita menempatkan diri sebagai ciptaan dan pengemban misi-Nya dengan rasa syukur yang penuh kasih, taat dan memberi prioritas utama kepada Dia (band. Rm. 13:9-10; 1Kor. 13:1-13). Kasih kepada Allah juga membuat kita tetap harus menaruh rasa hormat dan kerinduan dalam persekutuan dengan-Nya, menciptakan keterikatan yang kokoh, penyerahan diri dan ketergantungan sebagaimana hubungan Bapak dengan anak. Semua ini dibungkus dalam iman yang kuat dan tidak goyah di dalam Kristus Yesus.

 

 

 

Mengasihi Allah juga berarti ketaatan dalam standar firman dengan menjauhi dosa dan mengikuti kehendak-Nya. Ulangan 11:13 menyebutkan “Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu….”  Kita mengaku bahwa keberadaan di dunia ini sebagai utusan-Nya dan ikut mengambil bagian dalam memperluas kerajaan-Nya, mempergunakan semua talenta yang diberikan oleh Allah kepada kita. Mengasihi Allah juga berarti kesiapan berkorban dengan mengurangi keinginan diri sendiri bahkan kesiapan dalam penderitaan apabila situasi menghendakinya. Kita harus mengakui bahwa Allah telah mengasihi kita dan mengirim dan mengorbankan Anak-Nya kepada dunia untuk menebus dosa dan kesalahan kita sehingga kita diselamatkan.

 

 

 

Kedua: hukum kedua yakni kasih kepada sesama (ayat 27b-29)

 

Hukum kedua yang disebutkan ahli Taurat tersebut merupakan kutipan dari Im. 19:18, 34 yakni mengasihi sesama (band. Mat. 19:16-22 dan Mrk. 10:17-22 tentang kasih yang lain). Tuhan Yesus dengan sengaja menceritakan perumpamaan ini karena didasari permusuhan berat yang telah lama berlangsung antara orang Yahudi dengan orang Samaria. Oleh karena itu, dalam menjawab Yesus, ahli Taurat itu tidak menyebut dan membenarkan orang Samaria tersebut, meski ia mengetahuinya. Ia justru tampak tidak memahami makna kasih yang sebenarnya.

 

 

 

Mengasihi sesama manusia adalah sesuatu yang mutlak. Kita mengasihi manusia karena mengasihi Allah, dan keduanya memang tidak dapat dipisahkan. Bahkan dikatakan, kita tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak kita lihat kalau kita tidak mangasihi manusia yang jelas kita lihat. Dalam 1Yoh. 3:11 dikatakan, “Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi” (band. Mat. 22:39; Rm 13:9; Yak. 2:8). Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengasihi orang lain dan tidak ada alasan bagi kita untuk membenci mereka, sebab dalam ayat berikutnya disebutkan, membenci mereka itu ibarat kita seperti pembunuh.

 

 

 

Makna dari mengasihi sesama juga bisa kita bandingkan dengan Luk. 6:31, “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Atau dalam bahasa lain, “apa yang tidak kau kehendaki dilakukan orang kepadamu, janganlah perbuat hal itu terhadap mereka.” Ahli Taurat menyadari bahwa dirinya telah terjebak oleh kata-katanya sendiri, mungkin ia tidak menaati hukum tersebut, sehingga ia berdalih tentang definisi. Kurangnya kasih dalam diri kita mungkin mudah untuk dijustifikasi, tetapi sebaliknya kita diminta agar jangan berpandangan picik tentang kasih terhadap sesama, sebab mengasihi sesama berarti mengasihi Allah. Bagi kita yang tidak peka terhadap penderitaan dan kebutuhan orang lain, Alkitab dengan jelas menyatakan dengan jelas bahwa kita tidak akan masuk kedalam hidup kekal (Mat. 25:41-46; 1Yoh. 3:16-20).

 

 

 

Ketiga: siapakah sesama kita (ayat 31-36)

 

Tuhan Yesus memberikan perumpamaan yang sangat bagus karena melibatkan banyak pihak. Pertama ia menyebut lokasi kejadian yakni di jalan dari Yerusalem ke Yerikho yang memang terkenal menyeramkan yang secara otomatis orang yang dirampok itu kemungkinan besar beragama Yahudi. Orang tersebut selain dirampok juga dipukuli sehingga tergeletak tidak berdaya. Seorang imam lewat dan Yesus mengatakan ia terus berjalan sambil menghindar, mungkin dengan pemikiran bahwa orang tersebut telah mati dan ia ketakutan tersentuh sehingga tidak tahir dan tidak bisa melaksanakan tugas keimamannya. Artinya, ia mementingkan seremoni ibadah dibandingkan dengan perbuatan kasih terhadap seseorang yang jelas-jelas sangat membutuhkan.

 

 

 

Ketika seorang suku Lewi (pembantu imam) lewat, maka hal yang sama ia lakukan, menghindar, mungkin dengan pemikiran tidak mau mengambil resiko, berpikiran bisa saja itu jebakan dan buat apa menyusahkan diri. Namun, seorang Samaria lewat dan orang tersebut kemudian berhenti mengambil resiko atas harta dan nyawanya, menolong dia yang terluka, membawanya ke tempat penginapan, dan membayar semua biaya-biayanya. Tuhan Yesus langsung menohok kemunafikan ahli Taurat tersebut, yang meganggap orang Samaria lebih rendah, menganggap sesama manusia itu hanya orang Yahudi, tetapi justru orang Samaria tersebut menolong orang (Yahudi) tersebut sampai tuntas. Ia tidak membedakan orang yang dikasihinya, tidak bersikap diskriminasi, meski mungkin ia tahu orang itu adalah orang Yahudi, tetapi ia menjalankan apa yang dikatakan Tuhan Yesus, yakni agar kita mengasihi “musuh”.

 

 

 

Pengertian kasih kepada sesama jangan disempitkan kepada satu golongan saja. Kasih itu universal dan tidak terbatas sumber dan aplikasinya. Pengertian sesamamu dalam ayat tersebut bukanlah sekedar teman kita saja, golongan, kelompok suku bahkan agama kita saja. Memang dalam Alkitab ada ayat yang memberi petunjuk, agar dalam mengasihi kita terlebih dahulu mengutamakan perbuatan baik kepada kawan-kawan yang seiman (Gal. 6:10), tetapi itu bukan berarti kita menutup diri berbuat baik bagi siapa saja, khususnya pada saat mereka sangat membutuhkan, sebagaimana kejadian kepada orang yang dirampok dan dilukai itu.

 

 

 

Keempat: pergilah dan perbuatlah demikian (ayat 37)

 

Dari uraian di atas, maka sikap kita ketika melihat setiap orang dalam kesusahan, maka haruslah merasa mereka itu sebagai sesama dan wajib menolong meski kita orang itu “musuh”. Kasih tidak cukup hanya diutarakan dalam sikap belas kasihan dan perasaan sedih. Kasih berarti tindakan yang memenuhi kebutuhan seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak melihat orang yang benar-benar membutuhkan, terlebih apabila ia dalam keadaan yang tidak mampu, maka pertolongan itu harus konkrit tidak cukup hanya dalam perasaan dan belas kasihan saja.

 

 

 

Para ahli Taurat banyak beranggapan bahwa hidup kekal dapat diraih dengan berusaha menaati hukum Taurat. Akan tetapi berbeda, kita dinilai bukan atas kehadiran kita di gereja tiap minggu atau atas pengakuan iman (creed) yang kita ucapkan, melainkan atas kehidupan dan perbuatan kasih yang kita lakukan setiap hari. Kasih kepada sesama yang konkrit bagi yang benar-benar membutuhkan, itu jelas lebih berharga dibanding persembahan kita ke dalam kantong persembahan. Dalam 1Yoh. 3:18 disebutkan, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”

 

 

 

Di lain pihak Tuhan Yesus juga ingin menyampaikan kepada ahli Taurat bahwa hidup kekal yang dimaksudkannya bukanlah soal ketaatan legalistic atau berhubungan dengan  keturunan, melainkan kepada pemahaman dan aplikasi dari ajaran yang diberikan. Kebanggaan ahli Taurat akan penghafalan ayat-ayat tidak memiliki makna dalam kelayakan masuk dalam kehidupan kekal. Tuhan Yesus menekankan bahwa hidup kekal itu bukan sesuatu yang utama menjadi sasaran, melainkan bagaimana melalui kasih dalam kehidupan sehari-hari, sebab itulah yang penting sehingga Tuhan Yesus berkata, “perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” 

 

 

 

Kesimpulan

 

Melalui nats minggu ini, Tuhan Yesus membongkar anggapan ahli Taurat atau kita tentang makna Taurat yang sesungguhnya. Ia menyadarkan kita bahwa hidup kekal bukan masalah pengakuan iman atau warisan, melainkan kepada hubungan pribadi dengan Allah dan aplikasinya pada sesama. Kita tidak mencari siapa-siapa orang yang layak disebut sebagai sesama akan tetapi harus berpikir bagaimana kita bisa menjadi sesama bagi orang lain. Perumpamaan ini juga berlaku bagi gereja, apakah kita sudah membuat gereja sebagai tempat penginapan atau penampungan bagi mereka yang terluka dan membutuhkan, sebab iblis sebagai perampok terus menerus melakukannya kepada orang berdosa atau yang belum terselamatkan, sebab mereka ini adalah yang dirampok dan dilukai. Sebab, hanya orang yang mempraktikkan kasih menunjukkan bahwa ia memiliki hubungan dengan Allah dan hidup yang kekal.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 13 Juli 2025

Kabar dari Bukit

 KITA SENANG, ALLAH BERGEMBIRA (Ul. 30:9-14)

 ”Tuhan, Allahmu, akan melimpahi kamu dengan kebaikan dalam segala upaya tanganmu, buah kandunganmu, hasil ternakmu dan hasil tanahmu. Sebab Tuhan akan bergembira kembali karena kamu dalam kesejahteraanmu, seperti Ia bergembira karena nenek moyangmu dulu” (Ul. 30:9, TB2)

Salah satu keistimewaan doktrin Kekristenan adalah keindahan mendefinisikan hubungan keintiman kita orang percaya dengan Allah sebagai Pribadi; Bapa kita dalam Roh yang memiliki perasaan, pikiran, kehendak, kasih, dan mau berelasi. Panggilan Bapa sudah ada sejak PL (Mzm. 89:26; Yes. 63:16), kemudian diperluas dan dipopulerkan oleh Yesus sesuai khotbah-Nya di bukit, "Bapa kami yang di sorga" (Mat. 6:9; lihat juga Mat. 5:16, 6:14-15, 26, 32; 7:11, 21; Mrk. 11:25-26 dan Rm. 8:15, "Ya Abba, ya Bapa").

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Ulangan 30:9-14; bagian penutup kitab tulisan Musa tentang janji Allah memberkati umat-Nya berlimpah-limpah dalam segala bidang kehidupan (lihat ayat pembuka), dan Allah dengan senang hati melakukannya (ay. 9).

 

Namun untuk itu Allah meminta agar umat mendengarkan suara-Nya, berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya. Hal ini juga diuraikan pada ayat 1-8 yang judul perikopnya: Pemulihan setelah pertobatan. Pesannya lebih tegas lagi pada nas berikutnya, pilihannya: Kehidupan atau kematian.

 

Hubungan Bapa dengan kita anak-anak-Nya memang diminta sempurna. Pada khotbah di bukit sebelumnya dikatakan: "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Mat. 5:48).

 

Dalam pikiran kita, tentu ini sesuatu yang berat. Tetapi jalan telah disiapkan Allah. "Sesungguhnya perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini tidak terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Bukan di langit tempatnya sehingga kamu berkata: Siapa yang akan naik ke langit untuk mengambilnya.... Juga bukan di seberang laut tempatnya sehingga kamu berkata: Siapa yang menyeberang laut untuk mengambilnya bagi kita... supaya kita melakukannya? Tetapi, firman itu sangat dekat padamu, di dalam mulutmu dan   hatimu, untuk dilakukan" (ay. 11-14).

 

Sangat jelas petunjuknya, semua dimulai dengan mencintai firman-Nya, dekat di mulut dan hati (ay. 14). Ada kesadaran dan ketaatan bahwa rajin membaca dan merenungkan firman-Nya sesuatu yang mandatori, wajib! Bagaimana kita dapat taat bila kita tidak memahami aturan? Bagaimana kita berkenan dan lolos dari hukuman Tuhan, jika kita tidak tahu kehendak-Nya?

 

Pertobatan memang sesuatu yang gampang-gampang susah; tidak bisa dilakukan dengan setengah hati. Tetapi seperti nas minggu ini sampaikan, perlu "berbalik kepada Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu” (ay. 10).

 

Pertobatan tidaklah seperti membalik tangan. Ada kesungguhan, proses dan progres agar semakin sempurna. Dan bisa dilihat dengan beberapa ukuran, yakni:

 

1. Ada pengakuan dosa dan penyesalan yang jujur dan tulus kepada Allah dan orang lain yang terlibat;

 

2. Siap bertanggung jawab atas kesalahan yang telah diperbuat;

 

3. Berupaya memperbaiki kerusakan dosa yang telah terjadi, berbalik mengikuti jalan yang benar;

 

4. Ada perubahan perilaku yang konkrit dan konsisten dalam keseharian;

 

Kunci keberhasilannya: jika kita katakan tidak bisa, maka pasti tidak bisa!; tetapi jika kita katakan bisa, maka Tuhan akan menolong kita meski harus jatuh bangun. Kita akhirnya senang dan Allah pun bergembira. Percayalah.

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu Kelima Setelah Pentakosta - 13 Juli 2025

Khotbah (2) Minggu Kelima Setelah Pentakosta - 13 Juli 2025

 LAYAK DAN BERKENAN (Kol. 1:1-12)

 

Firman Tuhan bagi kita pada Minggu V setelah Pentakosta ini diambil dari Kol. 1:1-12. Nas ini berbicara tentang bagaimana kehidupan orang Kristen yang sebenarnya. Melalui nas ini Rasul Paulus menjadi teladan bagi kita, dalam memberi salam pembukaan, ungkapan rasa syukur disertai doa pengharapan, yang merupakan ciri khasnya. Begitu pulalah yang diperbuatnya untuk jemaat di Kolose yang tidak dikenalnya. Kita pun, dalam berkomunikasi, termasuk lewat telepon/SMS/WA, hendaknya menampilkan hal-hal itu sebagai ciri umat Kristiani, selalu mengawali dengan salam pembuka.

 

Jemaat Kolose dibimbing oleh Epafras, murid Rasul Paulus di Efesus (Kis. 19:10; Kol. 4:12-13). Semula wilayah ini penuh dengan ajaran palsu, kekuatan mistik dan penyembahan berhala. Rasul Paulus menekankan kembali Injil yang diajarkannya, yakni: berpusat pada Kristus (ayat 4), firman kebenaran (ayat 5), yang berkembang di seluruh dunia, dan mengenalkan kasih karunia Allah (ayat 6). Inilah yang menjadi sukacita bagi Rasul Paulus dan kita semua, ketika Injil itu berbuah, dan buahnya adalah beriman kepada Kristus Yesus, berwujud kasih terhadap semua orang percaya (dan sesama), serta kuatnya pengharapan yang disediakan bagi kita di sorga (ayat 4-5, band. 1Kor. 13:13).

 

Tujuan semua itu, pertama, agar hidup kita semakin layak di hadapan Tuhan, serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik. Tujuan kedua, agar pengenalan dan pengetahuan kita yang benar tentang Allah terus bertumbuh (ayat 10). Ini akan terjadi jika setiap orang percaya, menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna (ayat 9).

 

Kita hidup di dunia ini dengan segala hasrat keinginan daging, ingin mendapat hormat dan pujian, serta tawaran dunia, bahkan juga dengan segala ujian, tantangan dan rasa sakit, yang semuanya itu tidak mudah diabaikan. Oleh karenanya, kita perlu berdoa agar terus dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya, untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar (ayat 11). Tetapi kadang-kadang kita kalah dan jatuh, mengikuti keinginan daging dan iblis. Tidak apa, bila kita memiliki kuncinya yakni kembali kepada Kristus dengan penyesalan dan mohon pengampunan. Kunci pengampunan dalam Kristus adalah seketika itu; tidak ada istilah nanti atau ditunda dulu.

 

Rasa syukur wajib dinaikkan kepada Bapa, yang telah melayakkan kita dengan melepaskan kita dari kuasa kegelapan, dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih, Yesus Kristus; di dalam Dia kita memiliki penebusan, yaitu pengampunan dosa (ayat 13-14). Maka teruslah berbuah, menjadi berkat di setiap saat, bertambah hikmat memahami kehendak Bapa, dan semakin berkenan kepadaNya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 77 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13289630
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
2161
3785
5946
13259239
2161
141921
13289630

IP Anda: 216.73.216.88
2026-01-12 11:36

Login Form