Monday, April 20, 2026

Kabar dari Bukit, Minggu, 12 April 2026

Kabar dari Bukit

 DOSA SEORANG MERUSAK SE-GEREJA (1Kor 5:6b-8)

 "Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan” (1Kor. 5:8a)

 Kita baru saja berpesta merayakan kebangkitan Tuhan Yesus, yang memberi kekuatan dan pengharapan bahwa kita juga kelak akan dibangkitkan. Dosa yang membawa kepada kematian kekal telah ditebus oleh-Nya; kemenangan-Nya adalah kemenangan kita. Puncak sukacita bagi kita yang mengikut Dia.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu II Paskah yang berbahagia ini adalah 1Kor 5:6b-8. Nas ini bagian dari perikop: Dosa dalam jemaat. Rasul Paulus mengingatkan bahaya dosa, bukan saja untuk pribadi pelaku tetapi juga untuk jemaat/gereja. Dengan tegas dituliskan: "Tidak tahukah kamu bahwa sedikit ragi membuat seluruh adonan berkembang?" (ay. 6b). Ragi yang dimaksudkan adalah dosa (Gal. 5:9).

 

Peringatan ini senada dengan pepatah lama: "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Nila dalam konteks ini adalah zat pewarna, bila tercampur ke warna susu yang putih perlambang kebersihan dan kesucian, membuat susu berubah warna. Ini menggambarkan tindakan buruk dan perbuatan dosa seseorang, selain merusak citra pribadinya juga merusak citra dan kekudusan tempatnya berjemaat.

 

Rasul Paulus sangat keras dalam prinsip ini. Pada ayat-ayat sebelumnya disebutkan, orang yang berdosa ini (perbuatan cabul hidup dengan istri ayahnya), harus "diserahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan" (ay. 5).

 

Ini jelas terkait disiplin gereja. Ada banyak versi AD/ART tentang konsekuensi pelanggaran dosa yang dilakukan anggota jemaat. Bahkan zaman dahulu, mereka yang berbuat dosa diumumkan dalam warta jemaat. Namun kini lebih longgar, sebab mengumumkannya selain berdampak positif seperti efek jera, peringatan gereja tegas terhadap dosa, dan menjaga kekudusan jemaat. Tetapi ada dampak buruknya: dianggap mempermalukan, merusak nama/cita, menimbulkan rasa kecewa atau takut, bukan pertobatan; juga memunculkan penghakiman publik.

 

Maka gereja perlu bijak menghadapinya. Yang utama tidak membiarkan, menyepelekan atau menyembunyikan, pura-pura tidak tahu. Bahaya dosa menyebar. Ada cara yang diajarkan pada Mat. 18:15–17. Bicarakan dahulu empat mata, membawa saksi jika tidak mengaku, dan bila tidak peduli dan tidak bertobat, bawalah ke (majelis) jemaat.

 

Hal yang perlu terus diajarkan agar jemaat terhindar dari dosa adalah menjauhinya. Jangan merasa kuat iman, mencobai Tuhan. Iblis jelas lebih kuat, tahu titik lemah manusia. Oleh karena itu perintah buang ragi yang lama perlu diperhatikan (ay. 7a). Segala kebiasaan buruk yang Tuhan tidak berkenan, lepaskan. Bila sudah melekat, maka perlu latihan selain doa (dan puasa).

 

Tetapi jika kita terjatuh, maka langkah bijak adalah kembali bangkit. Kita boleh jatuh 2-3 kali, tetapi tetap semangat untuk bangkit. Perbuatan dosa lama yang (sering) terjadi, buktikan kita mau dan mampu berubah menjadi adonan baru, manusia baru (ay. 7b). Perlu keterbukaan dan kejujuran, apalagi demi warga lain. Tidak perlu khawatir dengan sinisme orang. Janji Tuhan Yesus, seberat apapun beban dosa sepanjang kita mau bertobat, semua terhapus lunas oleh darah dan kematian-Nya. Dan bila berhasil, mari ikut berpesta dengan roti yang tidak beragi, bersama kebenaran dan kemurnian jemaat (ay. 8).

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 36 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13751130
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
5094
9382
14476
13700934
100623
166521
13751130

IP Anda: 216.73.217.56
2026-04-20 14:29

Login Form