2026
2026
Khotbah Hari Raya Paskah 2026 – Kebangkitan Tuhan Yesus
Khotbah Hari Raya Paskah – Kebangkitan Tuhan Yesus
YESUSKU BANGKIT (Yoh. 20:1-18)
Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati (ayat 8-9)
Firman Tuhan hari Minggu ini Yoh. 20:1-18 bercerita tentang kebangkitan Tuhan Yesus. Adalah kebiasaan orang Yahudi untuk pergi ke makam tiga hari setelah kematian seseorang. Hal ini didasari pemahaman bahwa roh orang mati masih melayang-layang di sekitar makam tubuh kaku itu, baru setelah tubuh itu rusak dan tidak dikenali lagi, rohnya pergi.
Maria ingin meminyaki Yesus (Mrk. 16:1). Hati Maria terus tertuju pada Yesus. Ia telah memperoleh kebaikan Yesus yakni roh jahat diusir dari dirinya. Kini ia menjadi saksi pertama kebangkitan-Nya. Demikian pula Yesus, hati-Nya lebih besar bagi yang selalu merindukan-Nya. Yohanes yang sangat dekat dengan Tuhan Yesus, juga mendapat karunia pertama percaya akan kebangkitanNya. Adakah kita merasa dekat dan selalu merindukan Yesus? Ini pesan pertama nas minggu ini bagi kita.
Pesan kedua, para murid menyadari bahwa janji Tuhan telah digenapi dan Yesus benar-benar bangkit. Alkitab dengan jelas memperlihatkan bukti-bukti bahwa Ia bangkit: kubur yang kosong, tubuh-Nya sebagai manusia biasa, bercakap-cakap dengan orang lain, merasa lapar dan haus, dan bahkan dapat disentuh ketika Thomas tidak mempercayai kebangkitan-Nya. Oleh karena itu, jangan meragukan janji Tuhan. Dan jangan pula kita lupa berjanji untuk tetap setia dan taat kepada-Nya.
Pesan ketiga yakni kuasa kebangkitan Yesus memberi kita bukti sebagai berikut:
1. Ia terbukti Anak Allah (Rm. 1:4).
2. Alkitab adalah benar dan dapat dipercaya (Luk. 24:44-47).
3. Yesus mampu mengalahkan kematian yang berarti mampu membawa kita dalam kehidupan yang kekal (Rm. 5:10; 1Kor. 15:45; 1Pet. 1:3-4).
4. Kristus hadir dengan kuasa-Nya dalam pengalaman hidup kita sehari-hari (Gal. 2:20; Ef. 1:18-20).
5. Akan ada penghakiman di masa depan bagi orang yang tidak percaya dan berbuat fasik (Kis. 17:30-31).
Pesan terakhir nas minggu ini, jangan selalu berpedoman pada mata dan penglihatan kita. Jangan ragu untuk memberitakan kebangkitan-Nya. Tuhan Yesus berkata, “pergilah kepada saudara-saudara-Ku, katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku.” Maria juga akhirnya bersukacita dan meneriakkan: “aku telah melihat Tuhan”.
Kebangkitan Yesus salah satu kebenaran yang paling utama dalam Alkitab (1Kor. 15:1-8) dan merupakan landasan iman yang sangat penting bagi keselamatan kita kelak. Kuasa kebangkitan itu kini menjadi andalan kita untuk terus meyakini penyertaan dan tugas panggilan kita sehari-hari. Dunia sekeliling kita masih banyak belum menerima-Nya; juga yang berurai air mata membutuhkan pertolongan untuk lebih mengenal-Nya. Karya-Nya nyata. Oleh karena itu tetaplah mengabarkan-Nya melalui kesaksian-kesaksian nyata. Teruslah berbuah. Selamat Paskah dan selamat beribadah. Tuhan Yesus Memberkati. Amin.
Selamat beribadah dan merayakan PASKAH.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Hari Raya Paskah 2026 – Kebangkitan Tuhan Yesus
Khotbah (2) Hari Raya Paskah – Kebangkitan Tuhan Yesus – opsi 2
PIKIRKANLAH PERKARA DI ATAS, BUKAN DI BUMI (Kol. 3:1-4)
Bacaan lainnya: Kis. 10:34-43 atau Yer. 31:1-6; Mzm. 118:1-2, 14-24; atau Kis. 10:34-43; Yoh. 20:1-18 atau Mat. 28:1-10
Pendahuluan
Dalam kitab Kolose, firman Tuhan yang disampaikan melalui Rasul Paulus pada bab 1 dan 2 bercerita tentang hal yang sudah dilakukan oleh Kristus bagi kita, khususnya dalam menebus dosa-dosa kita dan keselamatan, termasuk penjelasan alasan yang salah tentang penyangkalan diri. Maka dalam bab 3 dan 4 Rasul Paulus menjelaskan bahwa setelah Kristus melakukan sesuatu yang begitu istimewa bagi kita, maka kita pun perlu melakukan sesuatu bagi Dia, termasuk untuk keberadaan gereja yang Dia adalah Kepala. Pada bagian awal bab 3 ini dijelaskan tentang pentingnya kita memikirkan hal-hal di atas dan bukan lagi soal-soal di bumi. Maka melalui nas minggu ini, kita diberikan pokok-pokok pengajaran sebagai berikut.
Pertama: Dibangkitkan bersama Kristus (ayat 1a)
Setiap orang percaya yang menerima Kristus pada hakekatnya telah mati dengan dosa-dosa lamanya (Rm. 6:11), sebab dosa upahnya maut (Rm. 6:23). Hidup lamanya telah dikubur dan dipisahkan dari dosa-dosa itu. Namun oleh karena kebaikan dan anugerah Tuhan Yesus, kita dibangkitkan dari kematian. Simbol baptisan dengan diselam pada zaman dahulu dapat diartikan demikian: ketika seseorang dibenamkan, itu lambang dikuburkan, dan ketika diangkat dari air, itu lambang dibangkitkan. Tetapi baptisan tetaplah sebuah simbol, sama seperti tanda sunat lahiriah di zaman Musa. Oleh karenanya dalam Kol. 2:12 dikatakan, "karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati."
Bangkit bersama Kristus berarti hidup kerohanian kita dibangkitkan oleh Allah untuk memasuki hidup baru bersama dengan Kristus. Melalui kebangkitan itu, Allah memperbarui roh dan jiwa kita dengan jalan Roh Kudus diam dan berkuasa di dalam hati kita, meski fisik kita belum berubah setelah kebangkitan itu, yakni masih memiliki tubuh yang sama sebelum masa hidup baru. Kita masih tetap hidup dan tinggal di dunia ini, dengan pengertian kita tidak bisa lepas dari kebutuhan pangan, sandang, biologis, rasa aman, dan lainnya, dan demikian juga kita tidak bisa menghindar dari penyakit dan kematian tubuh duniawi yang ada. Dalam hal itu memang "dunia lama" kita masih tetap ada, yang kadang-kadang membuat kita terjatuh ke dalam dosa akibat kedagingan dan rayuan si jahat. Oleh karenanya, tanpa memiliki hidup baru dengan kuasa Roh Kudus, maka segala upaya kita untuk hidup yang berkenan kepada Allah akan sia-sia.
Bangkit bersama Kristus berarti memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk membaharui hidup kita secara terus menerus, sebagaimana dijelaskan pada pasal 2 sebelumnya, mengakui bahwa hidup kita sudah menjadi milik-Nya, sehingga kita memiliki sifat dan perilaku serupa seperti Kristus. Ayat Rm 6:5 mengatakan, “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Kita jangan masuk dalam pengajaran-pengajaran yang salah sebagaimana dinyatakan pada pasal 2 yang menjauhkan kita dari Kristus dan kasih akan sesama, melainkan berupaya memberikan yang terbaik sesuai dengan talenta dan karunia untuk menyenangkan hati Allah. Orientasi kita tetaplah sorgawi, tempat Kristus Yesus duduk saat ini di sebelah kanan Allah (Mzm. 110:1; Mrk. 16:19; Ef. 1:20). Ia bertakhta sambil terus berdoa bagi kita orang percaya, agar kerohanian kita sama dengan wujud perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua: Cari dan pikirkanlah perkara di atas (ayat 1b-2)
Bagi kita yang sudah dibaptis dan mati di dalam Kristus, firman Tuhan sebelumnya mengatakan, "Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia” (Kol. 2:20). Sebagai manusia baru, kita orang percaya diminta mencari perkara-perkara di atas, maksudnya adalah hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan sorgawi. Kita tidak terjebak lagi dengan aturan-aturan legalistik dan menghilangkan hakekat yakni kasih termasuk belenggu ritual peribadatan. Firman Tuhan menegaskan, "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Mat 6:33). Mencari dan memikirkan sesuai nas minggu ini berarti mengerahkan segala upaya roh dan jiwa kita untuk memberikan yang terbaik. Kita bisa lihat dan ukur hal itu dari kesukaan kita pada firman Allah, doa dan ibadah, dan keinginan menjadi pelaku-pelaku firman Allah.
Memikirkan hal-hal di atas berarti berjuang untuk menempatkan prioritas sorgawi dalam kehidupan praktis sehari-hari. Hal-hal di atas berarti sesuatu yang berlawanan dengan di bumi, dan cara berpikir kita akan mempengaruhi tindakan di bumi. Ini juga berarti kita berkonsentrasi pada hal-hal yang abadi dibandingkan dengan hal sementara di dunia ini, yang memperlihatkan kedewasaan dalam berpikir. Memikirkan tentang hal-hal di atas berarti melihat kehidupan ini dari sudut pandang Allah dan mencari tentang rencana-Nya dalam hidup kita. Beberapa hal tentang hidup yang berkenan kepada Allah diberikan pada ayat-ayat berikutnya hingga pasal 4. Dalam Kol 3:15 diberikan gambaran bagaimana Kristus menguasai hati dan pikiran orang-orang Kristen (band. Flp. 4:9). Hal ini bisa menghasilkan penangkal bagi kecenderungan materialisme, dan kita juga mendapatkan pemahaman yang benar tentang materi dan kekayaan ketika kita melihat dari sudut pandang sorgawi. Itu juga penangkal bagi sensualitas, dan akan melengkapi penangkal-penangkal yang menghambat perkembangan aspek kerohanian kita, serta menyadari mengikut Kristus berarti mengasihi dan melayani dunia. Dengan mencari yang Kristus inginkan, kita memiliki kekuatan untuk menahan kesenangan-kesenangan dan kegiatan tidak produktif lainnya.
Kewargaan kita adalah sorgawi (meski kita masih punya KTP di bumi). Dalam kitab Filipi dikatakan, “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya” (Flp. 3:20-21). Dengan demikian kita membuat penilaian dan pertimbangan segala aspek kehidupan ini dari sudut pandang sorga. Hidup di dunia bukan berarti kita harus membenci dunia dan menjadi terpisah dengannya. Kita hanya memperlakukan dunia di sekitar kita sebagaimana Allah menciptakan dengan maksud tujuan-Nya, dan kita hidup secara harmoni di dalamnya. Membenci dunia haruslah dalam pengertian sifat-sifat duniawinya, bukan membenci isi ciptaan-Nya, sebab tugas dan tanggungjawab kita ada juga di dalamnya yakni sebagai orang-orang yang mengelola demi kemuliaan-Nya.
Ketiga: Kamu telah mati dan tersembunyi dalam Dia (ayat 3)
Apa yang dimaksud dengan hidup orang percaya tersembunyi di dalam Kristus? Kita tahu orang mati dikuburkan dan menjadi tersembunyi di dalam tanah. Tetapi orang yang telah mati dosa-dosanya, tubuhya tetap ada terlihat namun hidupnya menjadi tersembunyi di dalam Kristus. Inilah perbedaan yang sangat penting. Dalam Perjanjian Lama kata tersembunyi berarti aman dan selamat (Mzm. 27:5–6; Yes. 49:2; 31:19–20). Pelayanan dan perbuatan kita tidak menghasilkan keselamatan, sebab keselamatan dari iman, tetapi semua pelayanan dan perbuatan baik itu adalah buah dari keselamatan. Ini bukan sekedar pengharapan terhadap masa depan, tetapi juga sebuah fakta yang sudah digenapi pada saat ini. Status dan kedudukan kita sudah pasti. Oleh karena itu, peganglah teguh keselamatan yang diberikan, dan hiduplah setiap hari untuk Kristus. Kebenaran ini melengkapi perspektif yang berbeda tentang hidup kita di dunia ini dan dunia ini bukan lagi yang terpenting dan utama.
Tersembunyi di dalam Kristus berarti yang terjadi bukan lagi penonjolan diri. Hal yang kita perbuat dan capai dalam hidup, pekerjaan dan pelayanan harus kita akui adalah kehendak dan pertolongan Allah, sehingga Dia-lah yang ditinggikan, bukan diri kita. Kita bermegah hanya dalam salib Tuhan (Gal. 6:14; Luk. 9:23). Hal yang kita lakukan memang bisa tersembunyi bagi mata dan pujian manusia, tetapi itu semua akan terbuka dan terungkap dalam buku kehidupan kita. Kita juga jangan terjebak dalam kegiatan-kegiatan yang membawa kita seolah-olah rajin bersekutu, ikut beribadah, membaca firman Tuhan, bahkan melayani, namun kemudian kita merasa tidak bahagia. Pasti ada yang salah dalam hal ini. Jangan sampai dalam melakukan itu kita sebenarnya melupakan hakekat dan tujuan melakukan itu sehingga kita kecewa dan merasa tidak puas. Jangan sampai ibadah dan pelayanan kita berpusat pada diri sendiri, bukan pada Kristus. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi atas tujuan dan penyertaan Roh dalam melakukan semua itu, sebelum akhirnya kekecewaan kita membawa kita kepada dosa. Perlu dilihat dan diperhatikan bahwa komunitas kita saat bergaul sangat menentukan cara berpikir kita, di samping tentu saja kecenderungan bawaan dari bawah sadar yang merupakan hasil pendidikan dan masa kecil.
Kita yang telah mati dan tersembunyi berarti harus menekan serendah dan sesedikit mungkin keinginan-keinginan duniawi. Semua itu hanya terjadi bila proses identifikasi diri kita menjadi serupa dengan Kristus. Tujuan kita hanyalah untuk melakukan kehendak Allah yang bersifat kekal dan mulia. Namun jangan juga ditafsirkan bahwa kita harus lari dari dunia ini dengan mengasingkan diri dalam bentuk tapa, merenung-renung, semedi, atau larangan-larangan yang tidak berguna. Kalaupun kita melakukan hal itu, maka dasarnya harus dari hikmat akal pikiran atau tujuan pelatihan rohani. Seseorang yang tidak makan daging atau darah jangan berdasarkan bahwa itu dari firman Tuhan, tetapi boleh saja berdasarkan hal itu kurang sehat sebab mengandung kolesterol tinggi. Memang dalam sejarah kekristenan hal-hal ekstrim juga pernah ada dalam bentuk menjaga kekudusan, namun akhirnya semua kembali kepada firman Tuhan yang dipadu dengan hikmat akal pikiran yang diiluminasi oleh Roh Kudus.
Keempat: Kita pun menyatakan diri kelak dengan Dia (ayat 4)
Sebagaimana dikatakan di atas, mereka yang sudah percaya hidupnya tersembunyi di dalam Kristus, dalam pengertian yang dilakukannya adalah pekerjaan Kristus dalam dirinya (Gal. 2:20). Ia tidak menonjolkan diri sehingga manusia tidak dapat melihatnya dengan baik. Tetapi dalam semua perbuatan baiknya itu, Allah melihat dan mencatat dengan jelas semua hasil kerjanya termasuk dengan motivasinya. Satu pun tidak akan terlewat dan semua yang mengambil bagian dalam perluasan kerajaan-Nya menjadi jelas bagi semua orang. Kemuliaan Yesus pada masa kedatangan-Nya dan masa penghakiman bagi bangsa-bangsa, merupakan saat kemuliaan bagi kita. Semua janji-Nya pasti sebab Dia adalah Allah yang setia.
Kebangkitan Kristus adalah fakta yang sudah tidak dapat disangkal. Kebangkitan Kristus merupakan dasar iman kita yang membuat semua yang kita percayai dan kerjakan sebagai buah iman tidak sia-sia, dan semua yang kita lakukan akan penuh berarti. Kebangkitan-Nya adalah kebangkitan kita juga, bukan saja saat ini tetapi juga kelak pada diri kita berupa kebangkitan tubuh kemuliaan. Kebangkitan kita saat ini memberi kita kuasa untuk hidup bagi Dia, dengan hidup berbuah dan terus berkarya. Kebangkitan kita kelak dengan tubuh kemuliaan memberi kita pengharapan tentang masa depan, yakni Dia akan datang kembali. Pada bagian akhir pasal 3, Rasul Paulus menjelaskan bahwa orang percaya harus bertindak saat ini dalam menyongsong saat kembali-Nya.
Saat ini Tuhan Yesus sudah duduk bertakhta di sorga (Mzm. 110:1; Ef. 1:20). Rumah kediaman orang Kristen adalah tempat Kristus hidup (Yoh. 14:2, 3). Semangat kita adalah semangat pengabdian dan rasa syukur dan bukan semangat mencari imbal jasa. Upah adalah suatu hak yang melekat dan bukan tujuannya. Kesempurnaan dalam panggilan dan pilihan Tuhan yang membuat kita sebagai orang yang merdeka, itu supaya kita semakin memberi buah, menjadi serupa dengan gambar Kristus (2Kor. 3:18, dan hidup semakin berbuahkan kebenaran (2Kor. 9:10). Bagi kita yang sudah memahami hal itu pasti rindu untuk berbakti, melayani Allah dengan segenap hati dan melayani sesama. Dan semua itu akan dibuka dan dinyatakan pada saat Parusia, janji kemuliaan yang datang bersama-sama dengan Dia (Yoh. 17:24).
Penutup
Melalui nas minggu ini diingatkan bahwa sebenarnya kita sudah dibangkitkan dari kematian akibat dosa-dosa kita. Kristus Yesus telah melakukan itu melalui penderitaan dan kematian-Nya sebagai tebusan atas dosa-dosa kita. Maka untuk itu kita tidak lagi memikirkan hal-hal yang “rendah” di bumi ini, melainkan berpikir dan mencari hal-hal di atas yang di sorga. Cara berpikir ini akan mempengaruhi kita untuk mengakui pertolongan Tuhan, dan itu membuat kita tidak menonjolkan diri. Diri kita menjadi tersembunyi di dalam Kristus yang sudah hidup di dalam diri kita. Kita tidak perlu kecewa atau kesal meski manusia tidak melihat dan menghargai hal itu. Seperti dikatakan ayat terakhir nas minggu ini, “Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”
Selamat beribadah dan merayakan PASKAH.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Jumat Agung 3 April 2026
Khotbah Jumat Agung 3 April 2026
DARI PERJAMUAN MALAM HINGGA GOLGOTA - VIA DOLOROSA
(Yoh. 18:1-19:42)
Bacaan lainnya: Yes. 52:13-53:12; Mzm. 22; Ibr. 10:16-25 atau I 4:br.14-16; 5:7-9
Pendahuluan
Perjalanan penderitaan Tuhan Yesus menuju bukit Golgota merupakan rangkaian beberapa peristiwa yang sangat mengharukan dimulai sejak perjamuan pada hari Kamis malam hingga kematian-Nya di Jumat senja hari. Jumat Agung memang mengingatkan kita tentang sejarah penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, dan kematian-Nya merupakan bagian penting dalam sejarah orang percaya. Oleh karena itu, bacaan kita pada hari peringatan kematian ini sangat panjang dan kita bebas memilih tema yang lebih spesifik untuk masing-masing jemaat kita.
Kisah pendahuluan menjelang malam terakhir di Yerusalem, yaitu Yesus sudah menyadari akan akhir pelayanan-Nya, ketika Ia berkata kepada murid-Nya: : "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku (Mat. 26:18; band. Yoh. 13:1;16). Ia kemudian bersama-sama murid-murid melakukan perjamuan paskah yakni makan roti yang tidak beragi dan minum anggur (Mat. 26:26-29; Luk. 22:14-20). Pada kesempatan inilah Yesus menyampaikan kepada murid-murid-Nya bahwa perjamuan malam itu harus diingat oleh umat percaya selamanya, melalui perjamuan kudus yang kita lakukan pada hari Jumat Agung ini.
Pada perjamuan malam itu Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa" (Mat. 26:26-28). Setelah perjamuan malam selesai, Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya di kamar atas. Banyak sekali pesan-pesan akhir yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid kesayangan-Nya itu untuk menguatkan mereka, sebab Yesus sudah berulangkali mengatakan saat-Nya sudah akan tiba (Yoh. 13-17).
Yesus juga bergumul secara pribadi akan hal itu sehingga Ia memutuskan untuk naik ke Bukit Zaitun dan berdoa di taman Getsemani. Yesus berdoa bagi semua orang percaya yang telah diberikan Bapa kepada-Nya (Yoh. 17:9). Hati-Nya terus ada pada kita sehingga meminta agar Bapa memelihara kita orang percaya (Yoh. 17:11). Ia juga berdoa agar kita dikuduskan dalam kebenaran (Yoh. 17:17), dan juga secara khusus berdoa bagi yang memberitakan Dia. Hal yang utama lainnya Yesus berdoa agar kita semua menjadi satu, sama seperti Yesus satu dengan Bapa (Yoh. 17:21). Ut omnes unum sint. Yesus membenci perpecahan, apalagi perpecahan karena pertikaian terhadap hal yang tidak benar.
Yesus menyadari beratnya penderitaan yang akan Dia tanggung, sehingga dalam doa terakhir-Nya, Ia sujud dan berkata: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki (Mat. 26:39). Bahkan untuk kedua kalinya Yesus berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu! (Mat. 26:42).
Kisah yang diberikan di bawah ini merupakan tahapan dan poin penting dari rangkaian 18 jam perjalanan menuju bukit Golgota tersebut, dan dari situ kita mendapatkan hikmat dan pelajaran sebagai berikut.
Pertama: Penghianatan yang Berakhir dengan Penyesalan
Kisah penangkapan Tuhan Yesus terjadi karena penghianatan Yudas, yakni salah satu murid-Nya. Sebenarnya Yesus sudah mengetahui hal tersebut, ketika pada perjamuan malam yang diceritakan di atas, Yesus memberi tanda bahwa dia yang bersama-sama dengan Yesus mencelupkan tangannya ke dalam pinggan saat itu, dialah yang akan menyerahkan Yesus (Mat. 26:21-23). Ternyata, itulah Yudas Iskariot yang telah menerima uang sogok sebanyak tiga puluh uang perak dari imam-imam kepala (Mat. 26:14-16). Sejak menerima uang perak itu, Yudas mencari-cari kesempatan untuk menyerahkan Yesus.
Tatkala Yesus berdoa di taman Getsemani itu, Yudas mengetahui tempat itu karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya. Maka datanglah Yudas dengan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata, lalu mereka menangkap Dia. Yesus dengan tegar memperkenalkan diri-Nya dan tidak melakukan perlawanan dengan kekerasan, meski Petrus sempat menarik pedangnya dan memotong kuping salah satu prajurit itu.
Yudas yang kemudian menyadari kesalahannya dan melihat akibat kejahatannya itu, bagaimana Yesus yang sebenarnya Ia kasihi juga, harus menderita sedemikian berat. Akhirnya Yudas berusaha mengembalikan tiga puluh uang perak itu kepada imam-imam kepala. Ia menyesal. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Penyesalannya tidak membuahkan apa-apa, sebab tindak lanjut penyesalan Yudas itu ia akhiri dengan bunuh diri. Mengenaskan. Yudas berbeda dengan Petrus yang menyangkal Tuhan Yesus tiga kali, tetapi Petrus bertobat dan mengabdikan dirinya bagi Tuhan Yesus. Yudas Iskaritot tidak bertobat, penyesalannya menerima uang suap tidak ditindaklanjuti dengan pertobatan dan berbuah, selain penghukuman terhadap diri sendiri. Ini sungguh suatu pelajaran penting bagi kita, ketika menyadari kesalahan yang kita perbuat, penyesalan harus diikuti oleh pertobatan dan permohonan ampun, kemudian memberikan yang terbaik dari hidup kita kepada Tuhan dan orang lain sebagai “persembahan” atas penyesalan yang sudah kita lakukan.
Kedua: Penderitaan Selama 18 Jam
Setelah Yesus ditangkap, pemimpin Yahudi sejak awal tidak berniat memberikan pengadilan yang layak kepada Yesus. Dalam pikiran mereka yang utama adalah: Yesus harus mati. Kebencian dan emosi seperti ini membuat hati nurani mereka buta dan tertutup. Mereka juga tidak memperdulikan proses yang layak dan adil bagi Yesus. Oleh karena itu, di tengah dingin dan pekatnya malam, mereka langsung membawa Yesus dari taman itu dan mengadili-Nya melalui tahapan-tahapan yang melelahkan, serta diselingi siksaan dan penderitaan pada tubuh-Nya.
Adapun tahapan-tahapan pengadilannya mulai dari tangah malam itu adalah sebagai berikut.
1. Mereka membawa Yesus kepada Hanas, mantan Imam Besar tetapi masih berkuasa dan dihormati oleh orang Yahudi (Yoh. 18:12-24). Hanas adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu telah menjadi Imam Besar, tetapi karena menurut ketentuan Imam Besar adalah jabatan seumur hidup, mereka menghormati dan tetap membawa kepada Hanas.
2. Hanas menolak untuk mengadilinya sehingga prajurit dan penjaga-penjaga itu kemudian membawa Yesus kepada Kayafas, yang baru ditetapkan dan berkuasa sebagai Imam Besar. Dalam pengadilan di depan Hanas tengah malam itulah mulai didengarkan kesaksian-kesaksian palsu dari Sanhedrin (Yoh. 18:24; Mat. 26:57-68; Mrk. 14:53-65; Luk. 22:54, 63-65).
3. Yesus dibawa ke depan sidang Sanhedrin yakni para pemimpin formal umat Yahudi. Ada sekitar 70 anggota Sanhedrin hadir menjelang fajar itu. Kelompok Sanhedrin ini terdiri dari para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang merupakan Mahkamah Agama Yahudi. Mereka ini sebenarnya sejak awal sudah memutuskan agar Yesus dihukum mati, sehingga pengadilan di subuh hari ini merupakan formalitas saja untuk justifikasi bahwa Yesus telah dihadapkan pada Mahkamah Agama. Dalam sidang formalitas ini kemudian Yesus ditetapkan dihukum mati (Mat. 27:1; Mrk. 14:15:1; Luk. 22:66-71).
4. Namun hukuman mati hanya boleh atas persetujuan penguasa Romawi. Oleh karena itu Yesus dibawa ke Pilatus, Gubernur Yudea, penguasa Romawi. Tetapi Pilatus melihat Yesus tidak bersalah sehingga ia menolak untuk menyetujui hukuman mati, dan menawarkan hukuman cambuk saja. Tetapi pemimpin Yahudi ngotot dan akhirnya Pilatus berusaha untuk menghindar, dan berdalih bahwa itu bukan wewenangnya. Pilatus tahu bahwa Yesus dari wilayah Galilea dan penguasanya adalah Herodes, yang pada waktu itu sedang berada di Yerusalem, maka Pilatus mengatakan agar Yesus dihadapkan saja pada Herodes, (Yoh. 18:28-38; Mat. 27:2,11-14; Luk. 23:1-6).
5. Herodes pada mulanya sangat senang melihat Yesus, karena ia sering mendengar tentang Yesus, lagipula ia mengharapkan melihat bagaimana Yesus mengadakan suatu tanda mukjizat. Tetapi dalam sidang dihadapan Herodes, Yesus diam dan tidak mau berkata apapun. Lalu Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olok Dia, mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus (Luk. 23:7-12)
6. Akhirnya Yesus dibawa kembali ke Pilatus (Yoh. 18:38-39;19:16), tetapi Pilatus cuci tangan dan tidak berkeinginan untuk menyatakan kebenaran. Ucapannya yang sangat terkenal adalah: “apakah kebenaran itu?” (Yoh. 18:38). Kesalahan Pilatus dalam hal ini ialah, menyerah pada permintaan orang banyak untuk kegunaan politiknya, tanpa memperdulikan keadilan dan kebenaran yang hakiki.
Pasukan dan penjaga Bait Allah serta orang Yahudi selama proses itu membelenggu dan banyak yang memukuli-Nya, meludahi-Nya, mengolok-olok, dan bahkan memukul di kepala-Nya. Setelah selesai pengadilan, bahkan Yesus masih dipaksa memikul salib-Nya via dolorosa, meski kemudian digantikan oleh Simon dari Kirene karena tubuh-Nya sudah lemah. Akhirnya, tubuh-Nya dipakukan di kayu salib di antara dua penjahat. Betapa tragis dan menyayat hati kita membayangkan hal itu.
Demikianlah drama rangkaian penangkapan dari tangah malam sampai pengadilan berlangsung hingga Jumat senja hari, sehingga diperkirakan berlangsung selama 18 jam. Proses yang panjang dan menyakitkan.
Ketiga: Pengadilan Yesus tidak sah dan adil
Dari catatan para murid dan rasul yang dituliskan di Alkitab, banyak pihak berkesimpulan bahwa pengadilan terhadap Yesus berlangsung secara tidak sah dan tidak memenuhi ketentuan "demi keadilan dan kebenaran" sebagaimana layaknya sebuah pengadilan. Hal itu dapat dibuktikan dengan beberapa hal di bawah ini:
1. Yesus sudah dinyatakan harus mati sebelum diadili (Mrk. 14:1; Yoh. 11:50). Dengan demikiam tidak ada asas praduga tak bersalah, yakni tidak bersalah sebelum dibuktikan di depan hukum.
2. Banyaknya kesaksian palsu yang diberikan kepada Yesus (Mat. 26:59). Para pemimpin Yahudi memprovokasi dan menyaring saksi-saksi yang tampil dalam pengadilan itu. Oleh karena itu Pilatus melihatnya tidak bersalah.
3. Pemimpin Yahudi menjebak Yesus atas ucapan-ucapan-Nya, kemudian mengkriminalisasi apa yang dikatakan-Nya itu (Mat. 26:63-66).
4. Tidak ada pembelaan bagi Yesus selama proses pengadilan (Luk. 22:67-71).
5. Pengadilan berlangsung malam hari (Mrk. 14:53-65; 15:1) yang sebenarnya tidak diperbolehkan menurut hukum Yahudi.
6. Pengadilan berlangsung di tempat pertemuan Sanhedrin, bukan di tempat kaum Farisi sebagaimana biasanya (Mrk. 14:53-65).
Tetapi itu adalah proses yang harus dilalui dan dialami oleh Tuhan Yesus. Cawan penderitaan itu harus diminum-Nya untuk dapat menyelesaikan misi-Nya yang agung dari Bapa, demi untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita yang penuh dosa ini.
Keempat: Tujuh ucapan Yesus dari kayu salib
Yohanes menyatakan bahwa pengadilan Yesus berakhir "kira-kira jam dua belas" (band. Kitab Markus yang menyebutkan Yesus disalibkan pada "jam sembilan" – Mrk. 15:25). Perbedaan ini terjadi karena Yohanes menggunakan jam perhitungan Romawi sementara Markus menggunakan jam Palestina. Keputusan hukuman mati di siang hari itu membawa konsekuensi Yesus harus langsung dieksekusi, dan sebagaimana kebiasaan mereka dihukum mati dengan cara disalibkan. Ini adalah cara mati yang bagi pandangan umat Yahudi adalah sebuah kutukan.
Alkitab mencatat ada tujuh kalimat yang Tuhan Yesus ucapkan saat disalibkan. Urutannya adalah sebagai berikut.
1. Ketika menghadapi para pembenci dan penghukum-Nya, ucapan Yesus yang pertama: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Luk. 23:34).
2. Yesus berkata kepada penjahat disebelah-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (Luk. 23:43).
3. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" (Yoh. 19:26-27).
4. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat. 27:46; Mrk. 15:34).
5. Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia: "Aku haus!" (Yoh. 19:28).
6. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai" (Yoh. 19:30).
7. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya (Luk. 23:46).
Bukankah semua itu pernyataan yang dahsyat? Betapa hebatnya Yesus, yakni pada saat Dia disalib setelah disiksa dan dianiaya, Ia bahkan berdoa agar Bapa-Nya di sorga mengampuni mereka! Dalam situasi yang lemah, Ia malah memberkati penjahat disebelah-Nya, memberi petunjuk kepada murid-murid-Nya, dan puncaknya adalah, Ia menyerahkan semua kepada Bapa-Nya. Sungguh mulia Tuhan kita, yang harus menjadi teladan dalam hidup kita.
Kelima: Arti dan Makna Kematian Yesus Bagi Kita
Kematian Kristus di kayu salib bagaikan korban anak domba sembelihan. Yesus tidak bersalah tetapi harus menanggung hukuman demikian berat. Kini, apa arti dan makna kematian Yesus Kristus itu bagi kita? Berikut diberikan gambaran artinya bagi kita:
1. Kematian Kristus merupakan penggenapan janji Tuhan (Kej. 3:15; Yes. 53:3, 7b; Za. 9:9; Mzm. 41:10; 22:7-dab).
2. Kematian Kristus membuka pintu perdamaian bagi kita dengan Allah (2Kor. 5:18-21). Kita seharusnya mendapat murka Allah karena dosa-dosa kita, tetapi Allah memperdamaikan (Rm. 1:18; band. Rm. 11:28).
3. Kematian Kristus membuat kita dibenarkan (Rm. 3:24; 4:2-3; 5:9-10).
4. Kematian Kristus sebagai pengganti bagi kita orang-orang berdosa. Allah membuka jalan penebusan melalui Kristus yang seharusnya Dia tidak alami dan tidak lalui, tetapi demi untuk dosa-dosa kita, Ia rela berkorban (Rm. 5:5-8; 5:24; Kol. 1:14).
5. Kematian Kristus memberi kita keselamatan dan hidup yang kekal (Rm. 5:12-18). Upah dosa adalah maut (Rm. 6:23) dan kita pasti akan mengalaminya. Tetapi maut yang dimaksudkan disini adalah kematian sementara, sebab kebangkitan dan kehidupan kekal telah menanti sebagaimana Kristus telah bangkit, mengalahkan maut, maka kita pun orang percaya akan dibangkitkan dan menang atas maut kematian itu. Kita menerima rahmat itu di dalam kematian Kristus, untuk dibangkitkan bersama-sama dengan Dia dan memiliki kehidupan yang baru bersama-Nya (Rm. 6:1-4).
6. Kematian Kristus membuka kesadaran kita, betapa besarnya kasih Allah untuk kita yang rindu selalu dekat dengan Dia. Allah ingin membangun hubungan yang baru (2Kor. 5:17), dan melalui kematian-Nya itu sekaligus menggerakkan dan menghidupkan kita (2Kor. 5:14; Gal. 2:20).
7. Kematian Kristus membuat kita lebih kuat dalam menanggung penderitaan, mendewasakan dan menjadikan kita lebih utuh dan sempurna (2Kor. 12:10).
8. Kini, bagaimana kita meresponi pengorbanan Kristus itu? Semua itu tidak lain tidak bukan, Allah menginginkan kita menyesali segala dosa dan kesalahan kita, bertobat, tidak mengulangi lagi dosa-dosa yang pernah kita perbuat, serta mempersembahkan yang terbaik dari hidup kita bagi kerajaan dan kemuliaan-Nya.
Kesimpulan
Penderitaan dan kematian Yesus menunjukan kesetian-Nya pada Allah dan kasih-Nya pada manusia. Kesetiaan dengan meminum cawan penderitaan yang sungguh amat berat itu, dan menyerahkan sesuai dengan kehendak Bapa-Nya. KasihNya kepada kita dengan menanggung jalan panjang via dolorosa yang seharusnya Dia tidak tanggung, tetapi rela berkorban bagi penebusan dosa-dosa kita. Tuhan Yesus menginginkan kita untuk memahami hal itu, bersedia mengingat pengorbanan tubuh-Nya dan tumpahnya darah-Nya melalui perjamuan kudus yang kita ikuti pada Jumat Agung itu.
Apakah kita sudah memahami arti dan makna kematian Tuhan kita itu bagi kita? Apakah kita sudah siap untuk berubah dan memberikan yang terbaik, sehingga kita justru tidak menyalibkan Dia lagi melalui dosa-dosa perbuatan kita.
Selamat beribadah dan selamat memperingati pengorbanan-Nya.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Hari Raya Paskah 2026 – Kebangkitan Tuhan Yesus
KHOTBAH HARI RAYA PASKAH – KEBANGKITAN TUHAN YESUS - Opsi 3
UMAT-NYA DIPULIHKAN (Yer. 31:1-6)
“Aku akan membangun engkau kembali, sehingga engkau dibangun, hai anak dara Israel! Engkau akan menghiasi dirimu kembali dengan rebana dan akan tampil dalam tari-tarian orang yang bersukaria” (Yer. 31:4)
Menurut sistem leksionari, ada beberapa nas yang dapat dipakai untuk topik khotbah di Minggu Paskah ini, yakni:
Yer. 31:1-6; Mzm. 118:1-2, 14-24; Kol. 3:1-4 atau Kis. 10:34-43; Yoh. 20:1-18 atau Mat. 28:1-10 (https://lectionary.library.vanderbilt.edu/texts.php?id=38).
Renungan dua nas dari Injil Yoh. 20; Mzm. 118: Kis. 10 dan lainnya dapat dilihat pada link website ini dengan mengetik search, yang saya tulis beberapa tahun lalu. Maka nas kita saat ini saya ambil dari Yer. 31:1-6 yang berbicara tentang Perjanjian Baru. Nabi Yeremia menyampaikan janji Allah yang akan membangun kembali Israel, dan memulihkan umat-Nya dari keruntuhan kerajaan Israel dan Yehuda, dua kerajaan warisan Raja Daud yang jaya.
Nabi Yeremia menggambarkan dengan puitis janji indah Allah bagi umat-Nya: “.... Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu. Aku akan membangun engkau kembali, sehingga engkau dibangun, hai anak dara Israel! Engkau akan menghiasi dirimu kembali dengan rebana dan akan tampil dalam tari-tarian orang yang bersukaria” (ayat 3-4, 20). Sebuah pengharapan dan sukacita setelah masa kelam umat-Nya termasuk dibuang ke Babilonia selama 70 tahun.
Allah mengingatkan perjalanan umat Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir, melewatkan hukuman dengan darah anak domba yang dioles di tiang pintu dan ambang atas rumah mereka (Kel. 12:6-7). Pengharapan diberikan bagi umat-Nya akan Kanaan yang baru: “Engkau akan membuat kebun anggur kembali di gunung-gunung Samaria; ya, orang-orang yang membuatnya akan memetik hasilnya pula. Sungguh, akan datang harinya bahwa para penjaga akan berseru di gunung Efraim: Ayo, marilah kita naik ke Sion, kepada TUHAN, Allah kita!" (ayat 5-6). Itulah peristiwa Paskah pertama bagi umat Allah. Samaria adalah gambaran kerajaan Israel Utara yang akan penuh dengan hasil ladang sumber makanan. Penjaga (menara) yang dahulu dipakai melihat musuh, kini akan menyerukan umat-Nya ke Sion Yerusalem untuk datang beribadah.
Demikian jugalah di pagi sebelum fajar menyingsing, Maria Magdalena datang ke kubur Tuhan Yesus. Ia membawa rempah-rempah dan minyak mur, sebuah ungkapan kasih. Tetapi Maria melihat kubur itu telah terbuka, terguling batu penutupnya. Ia berteriak dan para murid pun berlari dan melihat ke dalam. Ternyata kubur itu kosong dan hanya meninggalkan kain kafan. Malaikat muncul meneguhkannya dan Yesus kemudian hadir menemui Maria, dan berkata: “Salam bagimu... Jangan takut" (Mat. 28:9-10). Tuhan Yesus yang mati di hari Jumat, kini telah bangkit. Ini sesuai dengan nubuatan-Nya bahwa Ia akan dibunuh di Yerusalem tetapi akan bangkit pada hari ketiga (Mat. 21:16, tiga hari: Jumat, Sabtu dan Minggu sesuai kalender Yahudi waktu itu).
Para murid Tuhan Yesus yang sudah putus asa, kini semangatnya kembali bangkit. Puncak kasih Allah kepada manusia melalui kematian Kristus, kini semakin dibuktikan: Allah berkuasa penuh, hadir dan ingin memulihkan hubungan dengan kita orang berdosa. Kebangkitan Tuhan Yesus meneguhkan iman kita (Yoh. 20:1-18) dan sekaligus menjadi kemenangan kita (1Kor. 15:1-11). Kita telah dipersatukan kembali dan menjadi anak-anak-Nya. Segala pergumulan dan derita pasti ada saatnya pulih, menjadi sebuah sukacita bagi kita yang setia dan taat kepada-Nya. Mari terus berdoa untuk melawan wabah Covid-19, dan terus berkarya bagi-Nya dengan ikut serta memberitakan Dia yang bangkit, berbuat yang terbaik semampu kita bagi mereka-mereka yang menderita terdampak akibat wabah ini. Selamat berkarya untuk menyenangkan hati-Nya.
Selamat beribadah dan merayakan PASKAH.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Jumat Agung 3 April 2026
Khotbah Jumat Agung 3 April 2026 – Opsi 2
DERITA 18 JAM (Mzm. 22:1-21)
“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Mzm. 22:2)
Firman Tuhan bagi kita di Jumat Agung ini sebagai peringatan dan mengenang kematian Tuhan Yesus, diambil dari Mzm. 22. Mazmur ini merupakan gambaran penderitaan yang ditinggalkan Allah (ayat 2-3, 12, 20), ditolak manusia (ayat 7-8), rasa sakit yang tidak tertahankan (ayat 15-16) dan adanya musuh yang sangat kejam (ayat 17-19). Perasaan inilah yang terjadi pada Tuhan Yesus, saat Ia di kayu salib dan kemudian berkata dengan mendesah: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (bdk. Mat. 27:46b).
Penderitaan Tuhan Yesus dimulai saat Ia ditangkap di bukit Getsemani, setelah Yudas berkhianat. Pengadilan terhadap-Nya langsung dari tengah malam itu dengan rangkaian yang panjang. Itu terjadi karena yang membenci-Nya saling melempar tanggung jawab. Beginilah urutannya.
· Yesus dibawa kepada Hanas, mantan Imam Besar, mertua Kayafas;
· Hanas menolak mengadili, merasa sudah pensiun, sehingga mereka membawa Yesus kepada Kayafas, yang baru ditetapkan sebagai Imam Besar. Ada banyak kesaksian palsu dari kaum Sanhedrin;
· Yesus dibawa ke depan sidang Sanhedrin, yakni para tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat yang merupakan Mahkamah Agama Yahudi. Dalam sidang formalitas ini Yesus ditetapkan untuk dihukum mati;
· Namun hukuman mati hanya boleh atas persetujuan penguasa Romawi. Tuhan Yesus kemudian dibawa ke Pilatus, Gubernur Yudea. Tetapi Pilatus melihat Yesus tidak bersalah, sehingga ia menolak menyetujui hukuman mati. Pemimpin Yahudi berkeras dan akhirnya Pilatus menghindar dengan berdalih bahwa itu bukan wewenangnya. Pilatus tahu bahwa Yesus dari wilayah Galilea dan penguasanya adalah Herodes yang pada waktu itu sedang berada di Yerusalem;
· Dalam sidang di hadapan Herodes, Yesus diam dan tidak mau berkata apapun. Lalu Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olok Dia, mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus;
· Pilatus cuci tangan dan menyetujui hukuman mati. Ucapannya yang sangat terkenal adalah: “Apakah kebenaran itu?” (Yoh. 18:38).
Selama proses itu, Tuhan Yesus dibelenggu dan banyak yang memukuli-Nya, meludahi-Nya, mengolok-olok, dan bahkan memukul kepala-Nya. Kemudian Yesus dipaksa memikul salib-Nya melewati Via Dolorosa, meski kemudian digantikan oleh Simon dari Kirene, karena tubuh-Nya sudah lemah. Akhirnya, tubuh-Nya dipakukan di kayu salib di antara dua penjahat. Di atas kayu salib, terpaku, Ia mengucapkan tujuh kalimat dengan yang terakhir: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Luk. 23:46). Sungguh sebuah tragedi derita yang menyayat hati dan berlangsung selama 18 jam.
Pemazmur nas ini menegaskan imannya bahwa Allah telah begitu baik kepadanya (ayat 4-6). Allah tidak akan meninggalkan anak-anak-Nya, sehingga ia akan tetap memasyhurkan nama-Nya dan mengajak yang takut akan Tuhan agar tetap memuji Dia (ayat 23-24, 26). “Sebab segala kaum dan ujung bumi serta bangsa-bangsa akan sujud dan berbalik dan memberitakan keadilan-Nya” (ayat 28-32).
Melalui nas Mzm. 22 di Jumat Agung ini, kita orang percaya diminta untuk mengenang dan memperingati kematian Tuhan Yesus dan penderitaan-Nya, untuk menanggung dosa-dosa kita, meski Ia tidak berdosa. Enam pengadilan dijalani-Nya, hanya ada kesaksian palsu dan mereka yang ingin melepaskan tanggung jawab. Demikian pula kita yang mungkin saat ini ada dalam pergumulan dan penderitaan, termasuk karena dampak wabah Covid-19, tetaplah dalam iman bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita, dan akan memberikan pertolongan yang tepat bagi kita yang berserah kepada-Nya.
Selamat beribadah dan memperingati pengorbanan-Nya.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Hari Raya Paskah 2026 – Kebangkitan Tuhan YesusKhotbah Hari Raya Paskah – Kebangkitan Tuhan Yesus YESUSKU...Read More...
-
Khotbah (2) Hari Raya Paskah 2026 – Kebangkitan Tuhan YesusKhotbah (2) Hari Raya Paskah – Kebangkitan Tuhan Yesus – opsi...Read More...
-
Khotbah (3) Hari Raya Paskah 2026 – Kebangkitan Tuhan YesusKHOTBAH HARI RAYA PASKAH – KEBANGKITAN TUHAN YESUS - Opsi 3 UMAT-NYA...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 25 guests and no members online
