Monday, March 30, 2026

2026

Khotbah Jumat Agung 3 April 2026

Khotbah Jumat Agung 3 April 2026

 

 DARI PERJAMUAN MALAM HINGGA GOLGOTA - VIA DOLOROSA

 

(Yoh. 18:1-19:42)

Bacaan lainnya: Yes. 52:13-53:12; Mzm. 22; Ibr. 10:16-25 atau I 4:br.14-16; 5:7-9 

 

 Pendahuluan

 

Perjalanan penderitaan Tuhan Yesus menuju bukit Golgota merupakan rangkaian beberapa peristiwa yang sangat mengharukan dimulai sejak perjamuan pada hari Kamis malam hingga kematian-Nya di Jumat senja hari. Jumat Agung memang mengingatkan kita tentang sejarah penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, dan kematian-Nya merupakan bagian penting dalam sejarah orang percaya. Oleh karena itu, bacaan kita pada hari peringatan kematian ini sangat panjang dan kita bebas memilih tema yang lebih spesifik untuk masing-masing jemaat kita.

 

 

 

Kisah pendahuluan menjelang malam terakhir di Yerusalem, yaitu Yesus sudah menyadari akan akhir pelayanan-Nya, ketika Ia berkata kepada murid-Nya: : "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku (Mat. 26:18; band. Yoh. 13:1;16). Ia kemudian bersama-sama murid-murid melakukan perjamuan paskah yakni makan roti yang tidak beragi dan minum anggur (Mat. 26:26-29; Luk. 22:14-20). Pada kesempatan inilah Yesus menyampaikan kepada murid-murid-Nya bahwa perjamuan malam itu harus diingat oleh umat percaya selamanya, melalui perjamuan kudus yang kita lakukan pada hari Jumat Agung ini.

 

 

 

Pada perjamuan malam itu Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa" (Mat. 26:26-28). Setelah perjamuan malam selesai, Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya di kamar atas. Banyak sekali pesan-pesan akhir yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid kesayangan-Nya itu untuk menguatkan mereka, sebab Yesus sudah berulangkali mengatakan saat-Nya sudah akan tiba (Yoh. 13-17).

 

 

 

Yesus juga bergumul secara pribadi akan hal itu sehingga Ia memutuskan untuk naik ke Bukit Zaitun dan berdoa di taman Getsemani. Yesus berdoa bagi semua orang percaya yang telah diberikan Bapa kepada-Nya (Yoh. 17:9). Hati-Nya terus ada pada kita sehingga meminta agar Bapa memelihara kita orang percaya (Yoh. 17:11). Ia juga berdoa agar kita dikuduskan dalam kebenaran (Yoh. 17:17), dan juga secara khusus berdoa bagi yang memberitakan Dia. Hal yang utama lainnya Yesus berdoa agar kita semua menjadi satu, sama seperti Yesus satu dengan Bapa (Yoh. 17:21). Ut omnes unum sint. Yesus membenci perpecahan, apalagi perpecahan karena pertikaian terhadap hal yang tidak benar.

 

 

 

Yesus menyadari beratnya penderitaan yang akan Dia tanggung, sehingga dalam doa terakhir-Nya, Ia sujud dan berkata: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki (Mat. 26:39). Bahkan untuk kedua kalinya Yesus berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu! (Mat. 26:42).

 

 

 

Kisah yang diberikan di bawah ini merupakan tahapan dan poin penting dari rangkaian 18 jam perjalanan menuju bukit Golgota tersebut, dan dari situ kita mendapatkan hikmat dan pelajaran sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: Penghianatan yang Berakhir dengan Penyesalan

 

Kisah penangkapan Tuhan Yesus terjadi karena penghianatan Yudas, yakni salah satu murid-Nya. Sebenarnya Yesus sudah mengetahui hal tersebut, ketika pada perjamuan malam yang diceritakan di atas, Yesus memberi tanda bahwa dia yang bersama-sama dengan Yesus mencelupkan tangannya ke dalam pinggan saat itu, dialah yang akan menyerahkan Yesus (Mat. 26:21-23). Ternyata, itulah Yudas Iskariot yang telah menerima uang sogok sebanyak tiga puluh uang perak dari imam-imam kepala (Mat. 26:14-16). Sejak menerima uang perak itu, Yudas mencari-cari kesempatan untuk menyerahkan Yesus.

 

 

 

Tatkala Yesus berdoa di taman Getsemani itu, Yudas mengetahui tempat itu karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya. Maka datanglah Yudas dengan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata, lalu mereka menangkap Dia. Yesus dengan tegar memperkenalkan diri-Nya dan tidak melakukan perlawanan dengan kekerasan, meski Petrus sempat menarik pedangnya dan memotong kuping salah satu prajurit itu.

 

 

 

Yudas yang kemudian menyadari kesalahannya dan melihat akibat kejahatannya itu, bagaimana Yesus yang sebenarnya Ia kasihi juga, harus menderita sedemikian berat. Akhirnya Yudas berusaha mengembalikan tiga puluh uang perak itu kepada imam-imam kepala. Ia menyesal. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Penyesalannya tidak membuahkan apa-apa, sebab tindak lanjut penyesalan Yudas itu ia akhiri dengan bunuh diri. Mengenaskan. Yudas berbeda dengan Petrus yang menyangkal Tuhan Yesus tiga kali, tetapi Petrus bertobat dan mengabdikan dirinya bagi Tuhan Yesus. Yudas Iskaritot tidak bertobat, penyesalannya menerima uang suap tidak ditindaklanjuti dengan pertobatan dan berbuah, selain penghukuman terhadap diri sendiri. Ini sungguh suatu pelajaran penting bagi kita, ketika menyadari kesalahan yang kita perbuat, penyesalan harus diikuti oleh pertobatan dan permohonan ampun, kemudian memberikan yang terbaik dari hidup kita kepada Tuhan dan orang lain sebagai “persembahan” atas penyesalan yang sudah kita lakukan.

 

 

 

Kedua: Penderitaan Selama 18 Jam

 

Setelah Yesus ditangkap, pemimpin Yahudi sejak awal tidak berniat memberikan pengadilan yang layak kepada Yesus. Dalam pikiran mereka yang utama adalah: Yesus harus mati. Kebencian dan emosi seperti ini membuat hati nurani mereka buta dan tertutup. Mereka juga tidak memperdulikan proses yang layak dan adil bagi Yesus. Oleh karena itu, di tengah dingin dan pekatnya malam, mereka langsung membawa Yesus dari taman itu dan mengadili-Nya melalui tahapan-tahapan yang melelahkan, serta diselingi siksaan dan penderitaan pada tubuh-Nya.

 

 

 

Adapun tahapan-tahapan pengadilannya mulai dari tangah malam itu adalah sebagai berikut.

 

 

 

1.       Mereka membawa Yesus kepada Hanas, mantan Imam Besar tetapi masih berkuasa dan dihormati oleh orang Yahudi (Yoh. 18:12-24). Hanas adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu telah menjadi Imam Besar, tetapi karena menurut ketentuan Imam Besar adalah jabatan seumur hidup, mereka menghormati dan tetap membawa kepada Hanas.

 

2.      Hanas menolak untuk mengadilinya sehingga prajurit dan penjaga-penjaga itu kemudian membawa Yesus kepada Kayafas, yang baru ditetapkan dan berkuasa sebagai Imam Besar. Dalam pengadilan di depan Hanas tengah malam itulah mulai didengarkan kesaksian-kesaksian palsu dari Sanhedrin (Yoh. 18:24; Mat. 26:57-68; Mrk. 14:53-65; Luk. 22:54, 63-65).

 

3.      Yesus dibawa ke depan sidang Sanhedrin yakni para pemimpin formal umat Yahudi. Ada sekitar 70 anggota Sanhedrin hadir menjelang fajar itu. Kelompok Sanhedrin ini  terdiri dari para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang merupakan Mahkamah Agama Yahudi. Mereka ini sebenarnya sejak awal sudah memutuskan agar Yesus dihukum mati, sehingga pengadilan di subuh hari ini merupakan formalitas saja untuk justifikasi bahwa Yesus telah dihadapkan pada Mahkamah Agama. Dalam sidang formalitas ini kemudian Yesus ditetapkan dihukum mati (Mat. 27:1; Mrk. 14:15:1; Luk. 22:66-71).

 

4.      Namun hukuman mati hanya boleh atas persetujuan penguasa Romawi. Oleh karena itu Yesus dibawa ke Pilatus, Gubernur Yudea, penguasa Romawi. Tetapi Pilatus melihat Yesus tidak bersalah sehingga ia menolak untuk menyetujui hukuman mati, dan menawarkan hukuman cambuk saja. Tetapi pemimpin Yahudi ngotot dan akhirnya Pilatus berusaha untuk menghindar, dan berdalih bahwa itu bukan wewenangnya. Pilatus tahu bahwa Yesus dari wilayah Galilea dan penguasanya adalah Herodes, yang pada waktu itu sedang berada di Yerusalem, maka Pilatus mengatakan agar Yesus dihadapkan saja pada Herodes, (Yoh. 18:28-38; Mat. 27:2,11-14; Luk. 23:1-6).

 

5.      Herodes pada mulanya sangat senang melihat Yesus, karena ia sering mendengar tentang Yesus, lagipula ia mengharapkan melihat bagaimana Yesus mengadakan suatu tanda mukjizat. Tetapi dalam sidang dihadapan Herodes, Yesus diam dan tidak mau berkata apapun. Lalu Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olok Dia, mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus (Luk. 23:7-12)

 

6.      Akhirnya Yesus dibawa kembali ke Pilatus (Yoh. 18:38-39;19:16), tetapi Pilatus cuci tangan dan tidak berkeinginan untuk menyatakan kebenaran. Ucapannya yang sangat terkenal adalah: “apakah kebenaran itu?” (Yoh. 18:38). Kesalahan Pilatus dalam hal ini ialah, menyerah pada permintaan orang banyak untuk kegunaan politiknya, tanpa memperdulikan keadilan dan kebenaran yang hakiki.

 

 

 

Pasukan dan penjaga Bait Allah serta orang Yahudi selama proses itu membelenggu dan banyak yang memukuli-Nya, meludahi-Nya, mengolok-olok, dan bahkan memukul di kepala-Nya. Setelah selesai pengadilan, bahkan Yesus masih dipaksa memikul salib-Nya via dolorosa, meski kemudian digantikan oleh Simon dari Kirene karena tubuh-Nya sudah lemah. Akhirnya, tubuh-Nya dipakukan di kayu salib di antara dua penjahat. Betapa tragis dan menyayat hati kita membayangkan hal itu.

 

 

 

Demikianlah drama rangkaian penangkapan dari tangah malam sampai pengadilan berlangsung hingga Jumat senja hari, sehingga diperkirakan berlangsung selama 18 jam. Proses yang panjang dan menyakitkan.

 

 

 

Ketiga: Pengadilan Yesus tidak sah dan adil

 

Dari catatan para murid dan rasul yang dituliskan di Alkitab, banyak pihak berkesimpulan bahwa pengadilan terhadap Yesus berlangsung secara tidak sah dan tidak memenuhi ketentuan "demi keadilan dan kebenaran" sebagaimana layaknya sebuah pengadilan. Hal itu dapat dibuktikan dengan beberapa hal di bawah ini:

 

 

 

1.       Yesus sudah dinyatakan harus mati sebelum diadili (Mrk. 14:1; Yoh. 11:50). Dengan demikiam tidak ada asas praduga tak bersalah, yakni tidak bersalah sebelum dibuktikan di depan hukum.

 

2.      Banyaknya kesaksian palsu yang diberikan kepada Yesus (Mat. 26:59). Para pemimpin Yahudi memprovokasi dan menyaring saksi-saksi yang tampil dalam pengadilan itu. Oleh karena itu Pilatus melihatnya tidak bersalah.

 

3.      Pemimpin Yahudi menjebak Yesus atas ucapan-ucapan-Nya, kemudian mengkriminalisasi apa yang dikatakan-Nya itu (Mat. 26:63-66).

 

4.      Tidak ada pembelaan bagi Yesus selama proses pengadilan (Luk. 22:67-71).

 

5.      Pengadilan berlangsung malam hari (Mrk. 14:53-65; 15:1) yang sebenarnya tidak diperbolehkan menurut hukum Yahudi.

 

6.      Pengadilan berlangsung di tempat pertemuan Sanhedrin, bukan di tempat kaum Farisi sebagaimana biasanya (Mrk. 14:53-65).

 

 

 

Tetapi itu adalah proses yang harus dilalui dan dialami oleh Tuhan Yesus. Cawan penderitaan itu harus diminum-Nya untuk dapat menyelesaikan misi-Nya yang agung dari Bapa, demi untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita yang penuh dosa ini.

 

 

 

Keempat: Tujuh ucapan Yesus dari kayu salib

 

Yohanes menyatakan bahwa pengadilan Yesus berakhir "kira-kira jam dua belas" (band. Kitab Markus yang menyebutkan Yesus disalibkan pada "jam sembilan" – Mrk. 15:25). Perbedaan ini terjadi karena Yohanes menggunakan jam perhitungan Romawi sementara Markus menggunakan jam Palestina. Keputusan hukuman mati di siang hari itu membawa konsekuensi Yesus harus langsung dieksekusi, dan sebagaimana kebiasaan mereka dihukum mati dengan cara disalibkan. Ini adalah cara mati yang bagi pandangan umat Yahudi adalah sebuah kutukan.

 

 

 

Alkitab mencatat ada tujuh kalimat yang Tuhan Yesus ucapkan saat disalibkan. Urutannya adalah sebagai berikut.

 

 

 

1.       Ketika menghadapi para pembenci dan penghukum-Nya, ucapan Yesus yang pertama: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Luk. 23:34).

 

2.      Yesus berkata kepada penjahat disebelah-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (Luk. 23:43).

 

3.      Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" (Yoh. 19:26-27).

 

4.      Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat. 27:46; Mrk. 15:34).

 

5.      Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia: "Aku haus!" (Yoh. 19:28).

 

6.      Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai" (Yoh. 19:30).

 

7.      Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya (Luk. 23:46).

 

 

 

Bukankah semua itu pernyataan yang dahsyat? Betapa hebatnya Yesus, yakni pada saat Dia disalib setelah disiksa dan dianiaya, Ia bahkan berdoa agar Bapa-Nya di sorga mengampuni mereka! Dalam situasi yang lemah, Ia malah memberkati penjahat disebelah-Nya, memberi petunjuk kepada murid-murid-Nya, dan puncaknya adalah, Ia menyerahkan semua kepada Bapa-Nya. Sungguh mulia Tuhan kita, yang harus menjadi teladan dalam hidup kita.

 

 

 

Kelima: Arti dan Makna Kematian Yesus Bagi Kita

 

Kematian Kristus di kayu salib bagaikan korban anak domba sembelihan. Yesus tidak bersalah tetapi harus menanggung hukuman demikian berat. Kini, apa arti dan makna kematian Yesus Kristus itu bagi kita? Berikut diberikan gambaran artinya bagi kita:

 

 

 

1.       Kematian Kristus merupakan penggenapan janji Tuhan (Kej. 3:15; Yes. 53:3, 7b; Za. 9:9; Mzm. 41:10; 22:7-dab).

 

2.      Kematian Kristus membuka pintu perdamaian bagi kita dengan Allah (2Kor. 5:18-21). Kita seharusnya mendapat murka Allah karena dosa-dosa kita, tetapi Allah memperdamaikan (Rm. 1:18; band. Rm. 11:28).

 

3.      Kematian Kristus membuat kita dibenarkan (Rm. 3:24; 4:2-3; 5:9-10).

 

4.      Kematian Kristus sebagai pengganti bagi kita orang-orang berdosa. Allah membuka jalan penebusan melalui Kristus yang seharusnya Dia tidak alami dan tidak lalui, tetapi demi untuk dosa-dosa kita, Ia rela berkorban (Rm. 5:5-8; 5:24; Kol. 1:14).

 

5.      Kematian Kristus memberi kita keselamatan dan hidup yang kekal (Rm. 5:12-18). Upah dosa adalah maut (Rm. 6:23) dan kita pasti akan mengalaminya. Tetapi maut yang dimaksudkan disini adalah kematian sementara, sebab kebangkitan dan kehidupan kekal telah menanti sebagaimana Kristus telah bangkit, mengalahkan maut, maka kita pun orang percaya akan dibangkitkan dan menang atas maut kematian itu. Kita menerima rahmat itu di dalam kematian Kristus, untuk dibangkitkan bersama-sama dengan Dia dan memiliki kehidupan yang baru bersama-Nya (Rm. 6:1-4).

 

6.      Kematian Kristus membuka kesadaran kita, betapa besarnya kasih Allah untuk kita yang rindu selalu dekat dengan Dia. Allah ingin membangun hubungan yang baru (2Kor. 5:17), dan melalui kematian-Nya itu sekaligus menggerakkan dan menghidupkan kita (2Kor. 5:14; Gal. 2:20).

 

7.      Kematian Kristus membuat kita lebih kuat dalam menanggung penderitaan, mendewasakan dan menjadikan kita lebih utuh dan sempurna (2Kor. 12:10).

 

8.     Kini, bagaimana kita meresponi pengorbanan Kristus itu? Semua itu tidak lain tidak bukan, Allah menginginkan kita menyesali segala dosa dan kesalahan kita, bertobat, tidak mengulangi lagi dosa-dosa yang pernah kita perbuat, serta mempersembahkan yang terbaik dari hidup kita bagi kerajaan dan kemuliaan-Nya.

 

 

 

Kesimpulan

 

Penderitaan dan kematian Yesus menunjukan kesetian-Nya pada Allah dan kasih-Nya pada manusia. Kesetiaan dengan meminum cawan penderitaan yang sungguh amat berat itu, dan menyerahkan sesuai dengan kehendak Bapa-Nya. KasihNya kepada kita dengan menanggung jalan panjang via dolorosa yang seharusnya Dia tidak tanggung, tetapi rela berkorban bagi penebusan dosa-dosa kita. Tuhan Yesus menginginkan kita untuk memahami hal itu, bersedia mengingat pengorbanan tubuh-Nya dan tumpahnya darah-Nya melalui perjamuan kudus yang kita ikuti pada Jumat Agung itu.

 

 

 

Apakah kita sudah memahami arti dan makna kematian Tuhan kita itu bagi kita? Apakah kita sudah siap untuk berubah dan memberikan yang terbaik, sehingga kita justru tidak menyalibkan Dia lagi melalui dosa-dosa perbuatan kita.

 

Selamat beribadah dan selamat memperingati pengorbanan-Nya.

 

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Jumat Agung 3 April 2026

Khotbah Jumat Agung 3 April 2026 – Opsi 2

 DERITA 18 JAM (Mzm. 22:1-21)

 “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Mzm. 22:2)

 Firman Tuhan bagi kita di Jumat Agung ini sebagai peringatan dan mengenang kematian Tuhan Yesus, diambil dari Mzm. 22. Mazmur ini merupakan gambaran penderitaan yang ditinggalkan Allah (ayat 2-3, 12, 20), ditolak manusia (ayat 7-8), rasa sakit yang tidak tertahankan (ayat 15-16) dan adanya musuh yang sangat kejam (ayat 17-19). Perasaan inilah yang terjadi pada Tuhan Yesus, saat Ia di kayu salib dan kemudian berkata dengan mendesah: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (bdk. Mat. 27:46b).

 

Penderitaan Tuhan Yesus dimulai saat Ia ditangkap di bukit Getsemani, setelah Yudas berkhianat. Pengadilan terhadap-Nya langsung dari tengah malam itu dengan rangkaian yang panjang. Itu terjadi karena yang membenci-Nya saling melempar tanggung jawab. Beginilah urutannya.

 

·         Yesus dibawa kepada Hanas, mantan Imam Besar, mertua Kayafas;

·         Hanas menolak mengadili, merasa sudah pensiun, sehingga mereka membawa Yesus kepada Kayafas, yang baru ditetapkan sebagai Imam Besar. Ada banyak kesaksian palsu dari kaum Sanhedrin;

·         Yesus dibawa ke depan sidang Sanhedrin, yakni para tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat yang merupakan Mahkamah Agama Yahudi. Dalam sidang formalitas ini Yesus ditetapkan untuk dihukum mati;

·         Namun hukuman mati hanya boleh atas persetujuan penguasa Romawi. Tuhan Yesus kemudian dibawa ke Pilatus, Gubernur Yudea. Tetapi Pilatus melihat Yesus tidak bersalah, sehingga ia menolak menyetujui hukuman mati. Pemimpin Yahudi berkeras dan akhirnya Pilatus menghindar dengan berdalih bahwa itu bukan wewenangnya. Pilatus tahu bahwa Yesus dari wilayah Galilea dan penguasanya adalah Herodes yang pada waktu itu sedang berada di Yerusalem;

·         Dalam sidang di hadapan Herodes, Yesus diam dan tidak mau berkata apapun. Lalu Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olok Dia, mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus;

·         Pilatus cuci tangan dan menyetujui hukuman mati. Ucapannya yang sangat terkenal adalah: “Apakah kebenaran itu?” (Yoh. 18:38).

 

Selama proses itu, Tuhan Yesus dibelenggu dan banyak yang memukuli-Nya, meludahi-Nya, mengolok-olok, dan bahkan memukul kepala-Nya. Kemudian Yesus dipaksa memikul salib-Nya melewati Via Dolorosa, meski kemudian digantikan oleh Simon dari Kirene, karena tubuh-Nya sudah lemah. Akhirnya, tubuh-Nya dipakukan di kayu salib di antara dua penjahat. Di atas kayu salib, terpaku, Ia mengucapkan tujuh kalimat dengan yang terakhir: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Luk. 23:46). Sungguh sebuah tragedi derita yang menyayat hati dan berlangsung selama 18 jam.

 

Pemazmur nas ini menegaskan imannya bahwa Allah telah begitu baik kepadanya (ayat 4-6). Allah tidak akan meninggalkan anak-anak-Nya, sehingga ia akan tetap memasyhurkan nama-Nya dan mengajak yang takut akan Tuhan agar tetap memuji Dia (ayat 23-24, 26). “Sebab segala kaum dan ujung bumi serta bangsa-bangsa akan sujud dan berbalik dan memberitakan keadilan-Nya” (ayat 28-32).

 

Melalui nas Mzm. 22 di Jumat Agung ini, kita orang percaya diminta untuk mengenang dan memperingati kematian Tuhan Yesus dan penderitaan-Nya, untuk menanggung dosa-dosa kita, meski Ia tidak berdosa. Enam pengadilan dijalani-Nya, hanya ada kesaksian palsu dan mereka yang ingin melepaskan tanggung jawab. Demikian pula kita yang mungkin saat ini ada dalam pergumulan dan penderitaan, termasuk karena dampak wabah Covid-19, tetaplah dalam iman bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita, dan akan memberikan pertolongan yang tepat bagi kita yang berserah kepada-Nya.

 

Selamat beribadah dan memperingati pengorbanan-Nya.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu, 29 Maret 2026

Kabar dari Bukit

 ROTI DAN HANDUK MENJELANG JUMAT AGUNG (Yoh. 13:1-17, 31b-35)

 "Sebab, Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:15)

 

Hari Jumat ini kita akan memperingati kematian Tuhan Yesus di kayu salib. Biasanya tiap gereja akan mengadakan sakramen perjamuan kudus; jemaat pun akan lebih bersemangat untuk ikut beribadah. Kita menikmati dan menghayati pemecahan roti sebagai lambang tubuh Yesus dipecahkan, dan penuangan anggur sebagai lambang darah-Nya dicurahkan. Semua ini mengingatkan pengorbanan-Nya sekaligus tanda kita menjadi satu dengan Kristus, peneguhan penebusan dosa dan anugerah keselamatan yang kita terima di dalam iman.

 

Peristiwa ini diambil dari Injil Matius, Markus dan Lukas yang menjelaskannya dengan rinci; juga di 1 Korintus 11. Tetapi Injil Yohanes menulis dengan sisi lain, yang menjadi nas firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini, yakni Yoh. 13:1-17, 31b-35. Nas ini menceritakan tentang tindakan Tuhan Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Dijelaskan di saat makan, Yesus bangun berdiri, menanggalkan jubah-Nya, mengikatkan sehelai kain (handuk) lenan di pinggang-Nya, mengambil baskom, dan mulai membasuh kaki para murid (ay. 4-5), termasuk Yudas yang berkhianat.

 

Pembasuhan kaki ini hanya dituliskan pada Injil Yohanes. Ada beberapa gereja yang masih melakukan ritual ini, dan biasanya pada malam Kamis Putih sebelum Jumat Agung. Tetapi ada juga gereja yang tidak melakukannya dengan alasan tertentu. Tetapi kita perlu melihatnya bahwa pembasuhan kaki oleh Yesus merupakan keteladanan yang luar biasa. Peristiwa ini bersamaan dalam perjamuan terakhir, sebab Yesus telah mengetahui saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa (ay. 1); ... dan Ia akan diolok-olok, diludahi, dicambuk dan dibunuh (Mrk. 10:34).

 

Pembasuhan kaki memiliki makna yang dalam, sejajar dengan pemeriksaan diri (censura morum) tentang kelayakan kita menerima roti dan anggur, tubuh dan darah-Nya. Perjamuan Kudus memberi kesempatan kepada kita untuk menerima kasih Kristus, sementara pembasuhan kaki menuntut kesiapan kita untuk membagikan kasih itu kepada sesama.

 

Tindakan Tuhan Yesus membasuh kaki memberi kita beberapa teladan konkrit. Pertama, keutamaan dalam melayani sesama adalah kerendahan hati. Lap handuk membersihkan yang kotor dalam arti kita melayani siap turun ke bawah, bahkan ke bagian tidak nyaman. Yesus sebagai Guru menjadi hamba, yang posisi tinggi siap menjadi yang terendah (ay. 14). Kedua, dalam mengasihi kita tidak boleh pandang muka, seperti Yesus tetap membasuh kaki Yudas dan Petrus yang kemudian menyangkalnya. Ketiga, dalam mengasihi kita perlu tuntas, tidak sepotong-sepotong, terhenti, sebagaimana Yesus mengasihi hingga kesudahannya (ay. 1).

 

Nas ini juga mengingatkan melalui percakapan Yesus dengan Petrus yang meminta bukan hanya kakinya yang dibasuh, tetapi juga tangan dan kepalanya. Tetapi Yesus berkata kepada Petrus: “Siapa yang telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya.” Artinya, keselamatan dengan iman berlaku untuk selamanya (ay. 10; Ibr. 10:10), tetapi membasuh kaki yakni pembersihan dosa sehari-hari tetaplah perlu dilakukan.

 

Nas minggu ini ditutup dengan ayat 31b-35. Ini penekanan kembali ayat 15 yang menegaskan, "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi.... Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku.” (bdk. 1Kor. 11:26). Janganlah kita menyukai roti tapi melupakan lap handuk untuk melayani. Jangan kita suka ikut Perjamuan Kudus tetapi tidak mau melayani dan mengasihi sesama dengan kerendahan hati.

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Khotbah (3) Jumat Agung 3 April 2026

Khotbah Jumat Agung 3 April 2026 – Opsi 3

 

 HAMBA TUHAN YANG MENDERITA (Yes. 52:13-53:12)

 

             Firman Tuhan bagi kita pada Jumat Agung, hari besar umat Kristiani ini, diambil dari Yes. 52:13-53:12. Judul perikop ini: Hamba TUHAN yang menderita.

 

 

 

            Nabi Yesaya sangat jelas dan tepat menuliskan nubuatan tentang turunnya Juruselamat untuk manusia. Namun gambaran hamba Tuhan yang diberikan, bukanlah seperti hal yang dipikirkan oleh umat Israel. Allah ingin membalik cari pikir mereka, yang beranggapan bahwa Raja dan Mesias yang datang tipikal Raja Daud atau pahlawan dalam mitos. Allah memiliki maksud tentang hal itu, menegaskan bahwa kadang-kadang yang dipikirkan manusia tidak selalu sama dengan pikiran Allah. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes. 55:8-9).

 

 

 

            Hamba Tuhan yang datang tidak tampan dan tidak ada semaraknya. Mungkin ini gambaran tentang kesederhanaan-Nya. Tetapi penderitaan-Nya dituliskan rinci dan begitu buruk: seperti bukan manusia lagi, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia (52:14; 53:2b, 3). Itu terjadi karena Ia tertikam, dihina, dianiaya, penuh kesengsaraan, tetapi Ia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulut-Nya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian (53:7). Sebuah sikap hidup berserah tanpa banyak keluhan yang layak kita teladani.

 

 

 

            Ironisnya semua itu terjadi bukan karena kesalahan-Nya. “Tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya. “Dia ditikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (53:5-6).

 

 

 

            Sangat jelas bahwa hamba Tuhan yang digambarkan nabi Yesaya adalah Yesus Kristus. Proses peradilan yang panjang dan tidak adil dihadapi Tuhan Yesus, termasuk cuci tangan dan saling lempar tanggungjawab, yang membuat penderitaan Yesus semakin berat. Tetapi ini mengukuhkan tidak ada nabi lain bahkan pemimpin agama lain yang mati bagi pengikutnya dan bahkan mati disalib. Itulah hamba Tuhan Yesus yang kita peringati penyaliban-Nya pada Jumat Agung ini.

 

 

 

            Alkitab dengan jelas menuliskan alasan Yesus harus mati, yakni agar kita hidup dan bahkan hidup kekal (Yoh. 3:16). Manusia terus berbuat dosa dan upah dosa adalah maut dan kematian. Oleh karena itu, sesuai dengan prinsip penebusan, harus ada pengganti korban agar yang percaya konsep penebusan menjadi selamat (Rm. 6:23; Ef. 1:7). Allah mau turun dari sorga dan mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Flp. 2:6-7).

 

 

 

            Seperti dalam Perjanjian Lama, penghapusan dosa dan kesalahan hanya dapat dilakukan bila ada korban pengganti, berupa korban bakaran (Ola) atau korban penghabis dosa/salah (Khatta’t atau Asyam), ada darah yang tercurah, dan tentu terutama didasari oleh penyesalan dan pertobatan (Im. 1-7; 2Taw. 29:23; 1Yoh. 2:2). Dengan penyesalan dan pertobatan, maka kita layak mendapat pengampunan atas dosa-dosa yang terjadi (Kol. 1:14).

 

 

 

            Hal lainnya Yesus mati agar menjadi teladan bagi kita dengan kesetiaan-Nya (Flp. 2:8). Tuhan Yesus menyadari akan melewati penderitaan yang tidak tertahankan, sehingga Dia sampai mengatakan, “biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku”, dan kemudian ditambahkan-Nya, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki (Mat. 26:39).

 

 

 

            Itulah yang kita peringati di Jumat Agung tentang kasih dan kebesaran Tuhan Yesus, yang menderita dan mati bagi kita agar kita selamat. Respons terbaik kita adalah, ikut melayani Dia melalui kesaksian tentang kasih dan kuasa-Nya dan menjadi berkat bagi orang lain. Dan Ia berpesan, agar kita memperingati, merayakan, dan menerima tugas tanggungjawab kita dengan mengikuti perjamuan kudus (1Kor. 11:23-26). 

 

Selamat beribadah mengikuti perjamuan kudus dan memperingati pengorbanan-Nya.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu VI Prapaskah 29 Maret 2026

Khotbah Minggu VI Prapaskah (Minggu Palma – Masa Sengsara) 

29 Maret 2026

 

SEGALA LIDAH MENGAKU: YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN (Flp. 2:5-11)

Bacaan lainnya: Yes. 50:4-9a; Mzmr. 31:9-16; Mat. 26:14-27:66 atau Mat. 27:11-54

 

 

Pendahuluan

Dari beberapa referensi yang ada nas bacaan ini dianggap sebagai kutipan kidung populer di masa awal gereja. Tetapi mungkin juga merupakan kutipan tentang nubuatan seorang hamba yang menderita pada Yes 53, meski penggambarannya tidak lengkap tentang Tuhan Yesus. Firman Tuhan melalui Rasul Paulus mengingatkan orang percaya di Filipi bahwa mereka harus berbeda dengan orang lain yang belum percaya. Beberapa hal telah disampaikan pada ayat 1-4 tentang perlunya mereka sehati sepikir dan mengutamakan kepentingan orang lain. Melalui nas minggu ini kita diberikan beberapa pemikiran pokok lainnya sebagai berikut. 

 

Pertama: Pikiran dan perasaan sesuai Kristus Yesus (ayat 5)

Inkarnasi adalah tindakan pra-keberadaan Anak Allah dengan kerelaan hati menjadi manusia dengan tubuh dan perilaku manusia (band. Yoh. 1:1-14; Rm. 1:2-5; 2Kor. 8:9; 1Tim. 3:16; Ibr 2:14; 1Yoh. 1:1-3 tentang penjelasan inkarnasi). Tanpa ”berhenti” sebagai Allah, Anak Allah itu menjadi manusia biasa, yang dinamai dan dipanggil sebagai Yesus. Sebagai manusia biasa, Dia tidak menonjolkan keilahian-Nya, tetapi justru menyampingkan hak untuk dimuliakan dan dihormati sebagai Allah. Di dalam total penyerahan-Nya kepada Allah Bapa, Yesus Kristus membuat semua kehidupan-Nya sederhana yakni perihal kuasa dan pelayanan-Nya. Dia hidup sebagai orang Nazaret, kedudukan-Nya disesuaikan menurut tempat, waktu dan berbagai keterbatasan manusiawi lainnya. Justru di dalam kemanusiaan-Nya yang sejati itu, Yesus memperlihatkan kepada kita segala sesuatu tentang sifat-sifat Allah yang dapat dipahami dengan istilah dan ungkapan manusia. Yang membuat kemanusiaan-Nya menjadi unik adalah bahwa Ia tidak berdosa dan bebas dari dosa. 

 

Melalui nas yang kita baca beberapa karakter Kristus dinyatakan, seperti:

 

  • ·  Kristus adalah sama dengan Allah (Yoh. 1:1- dab; Kol. 1:15-19)
  • ·  Kristus telah ada sejak awal bersama-sama Allah 
  • ·  Meski Kristus adalah Allah, Ia menjadi manusia untuk memenuhi kehendak Bapa demi penyelamatan manusia 
  • ·  Kristus tidak hanya “nampak” sebagai manusia, tetapi Ia menjadi manusia sejati untuk mengenal dosa-dosa manusia
  • ·  Kristus dengan sukarela menyampingkan hak dan keistimewaan-Nya yang Ilahi demi untuk kasih kepada Allah Bapa 
  • ·  Kristus mati di kayu salib untuk dosa-dosa kita agar kita tidak dihadapkan dengan kematian kekal
  • ·  Allah Bapa memuliakan Kristus sebab Ia setia dan taat sampai mati
  • ·  Allah Bapa membangkitkan Kristus dan mengembalikan-Nya ke kedudukan semula di sebelah kanan Allah Bapa, dan Dia akan berkuasa selama-lamanya sebagai Tuhan dan Hakim

 

Oleh karena itu, bagaimana mungkin kita tidak memuji dan memuliakan Dia sebagai Tuhan? Namun kenyataannya, manusia lebih sering mementingkan diri sendiri, merasa bangga dan terus berbuat jahat dengan justifikasi merasa diri benar dan itu adalah haknya. Mereka bisa bebas menyontek demi kelulusan, mereka bisa bebas menggunakan uangnya karena merasa telah berjerih payah untuk itu, bahkan manusia ada yang merasa bisa melakukan aborsi sebab merasa mereka sendiri yang memiliki tubuhnya. Namun perlu diingat, sebagai orang percaya, kita harus bersikap berbeda, menyampingkan segala hak dan keistimewaan terlebih untuk kepentingan orang lain. Betul, kita berhak atas penghasilan kita dan sudah bekerja keras untuk itu, akan tetapi kita juga perlu memahami bahwa kita memiliki tanggungjawab terhadap mereka yang berkekurangan, tanggungjawab untuk mengabarkan Injil, dan tanggungjawab untuk memuji dan memuliakan Tuhan dengan harta kita (Ams. 3:9). Kalau kita mengatakan mengikut Yesus, maka kita juga harus berusaha hidup seperti Dia dan menyerahkan diri dalam pelayanan bagi-Nya. Inilah yang dimaksud dengan berperasaan dan berpikiran seperti Kristus yang harus dimiliki oleh orang percaya.

 

Kedua: Kesetaraan dan pengosongan diri (ayat 6-7)

Dalam nas kalimat disebutkan, Kristus "tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan", maksudnya adalah kedudukan itu tidak dianggap-Nya sebagai harga yang harus dipertahankan untuk kepentingan diri-Nya sendiri. Ia melepaskan keistimewaan dan kemuliaan-Nya di sorga agar manusia yang sudah tersesat jauh dapat diselamatkan. Ia juga tidak merasa perlu bahwa Ia terus berusaha menjadi “selalu sama” dengan Allah dalam misi-Nya ke dunia ini. Kesetaraan hal yang nonsense,dan yang utama bagi Yesus adalah manusia dapat diselamatkan. Yesus meninggalkan takhta kedudukan yang mulia di sorga dan mengambil tempat hina sebagai hamba yang menderita, serta taat sampai mati untuk kepentingan orang lain.

 

Ia juga disebut mengosongkan diri sebab selama tiga setengah tahun masa pelayanan-Nya di dunia, Yesus rela berkorban menjadi manusia dengan segala kelemahannya, dalam pengertian memiliki rasa sakit, lapar, haus, sedih dan lainnya. Pengosongan diri adalah melepas kehebatan dan keistimewaan dengan segala atribut dan predikat yang sebenarnya dimiliki. Pengosongan diri sama seperti kalau kita orang dewasa berbicara kepada anak kecil, maka pola pikir dan cara berbicara kita haruslah seperti anak kecil, agar kita mudah dimengerti dan diikuti. Kalau kita mempertahankan status dan predikat kita sebagai orang dewasa dan menempatkan diri lebih pintar, maka komunikasi tidak berjalan baik. Inilah yang dimaksud dengan pengosongan diri. Bahkan pengosongan diri Yesus tidak sekadar secara sukarela melepas hak istimewa ilahi-Nya, tetapi juga kesediaan menderita, menerima perlakuan buruk, kebencian, siksaan, bahkan kematian terkutuk di kayu salib.

 

Tuhan Yesus dengan rendah hati bersedia sebagai hamba dengan melepas keistimewaan-Nya demi untuk menuruti kehendak Bapa dan penyelamatan manusia. Sebagaimana Kristus, kita juga harus memiliki sikap dan sifat seorang hamba, seorang pelayan, melayani penuh kasih kepada Bapa dan juga kepada sesama, bukan karena rasa bersalah atau perasaan bersalah. Perlu kita ingat, yang menentukan sikap dan sifat kita adalah diri kita sendiri. Kita dapat menjalani kehidupan ini dengan berkeras meminta dilayani dan dipuja-puji dihormati; atau kita mencari kesempatan untuk bisa melayani orang lain (band. Mrk. 10:45 tentang sifat-sifat melayani). Inilah yang dimaksudknas minggu ini melalui pesan bagi orang percaya di Filipi, agar mereka jangan terus menyombongkan diri sebagai orang Romawi dan tidak mau melayani. Pertanyaannya, apakah perasaan mementingkan diri sendiri kita hendak lekatkan terus pada hak-hak pribadi, atau semestinya kita perlu melayani orang lain? Kita diminta mengembangkan sikap dan kerendahan hati untuk melayani, meski kadang upaya dan kerja kita itu tidak mendapat pengakuan dari orang lain. Tapi Allah mengetahui semua itu.

 

Ketiga: Merendahkan diri untuk ditinggikan (ayat 8-9)

Dengan Allah menjadi manusia, itu bukan penyangkalan atau mengurangi Keilahian-Nya. Demikian juga Yesus, Ia tidak berhenti menjadi Tuhan ketika menjadi manusia. Penjelmaan lebih dimaksudkan kepada sisi kemanusiaannya yang ditampilkan. Alkitab juga mengungkapkan bahwa Yesus selama di dunia tidak pernah menyangkal keilahian-Nya. Dalam berbagai kesempatan, Ia berulang kali menyatakan dirinya sebagai Tuhan (Mat. 16:16-17; Yoh. 6:68-69; 8:58; 10:30). Ia sadar memiliki dua hakikat ilahi dan manusiawi yang menyatu dalam satu pribadi: Allah sejati dan manusia sejati. Yesus sebagai Adam terakhir yang berasal dari sorga (1Kor. 15:47). Sebagai manusia, Yesus dapat berinkarnasi dalam wujud “Raja” atau hal yang kemilau dan kegemilangan yang memancarkan kedahsyatan dan perasaan kekaguman. Akan tetapi Ia tetap taat sebagaimana Allah Bapa menempatkan perjalanan hidup-Nya: sebagai orang miskin yang menderita dan pesan itu yang disampaikan agar kita juga taat kepada tuan kita di dunia ini (Kol. 3:22; band. Yes. 52:13 dab).

 

Dalam sistem hukum Romawi, hukuman mati dengan penyaliban adalah hukuman berat yang diberikan kepada penjahat besar. Hukuman ini sangat menyakitkan secara fisik dan juga direndahkan secara manusia, sebab mereka harus dipaku di tangan dan kakinya di kayu salib dan dibiarkan mati perlahan-lahan. Apabila proses kematiannya dianggap terlalu lama, akan dilakukan penusukan dan dicek sambil mematahkan kakinya, untuk melihat apakah masih ada reaksi atau tidak. Bagi mereka yang masih sehat tatkala disalibkan, kematian dapat berlangsung beberapa hari menunggu mati lemas, terlebih memikul berat badan dan kesulitan bernapas. Yesus sendiri karena melalui penyiksaan sebelum disalib, kematian-Nya menjadi lebih cepat terlebih dengan tusukan di lambung. Sungguh penderitaan yang berat. Yesus disiksa dan mati di kayu salib sebagai orang yang terkutuk (Gal. 3:13). Sungguh mengherankan bagaimana Anak Allah yang tidak berdosa harus mati dengan cara seperti itu?

 

Inilah yang menjadi teladan bagi kita dalam kehidupan sehari-hari. Adanya kecenderungan manusia untuk lebih senang dipuji dan menyombongkan diri haruslah dibuang dan dihindari. Alkitab menceritakan bagaimana manusia ingin membangun menara Babel. Membangun menara adalah hal yang baik dan memiliki kemampuan adalah hal yang positif, tapi yang salah adalah motivasi dan tujuan membangun menara tinggi, yakni kesombongan, apalagi untuk dapat bersaing dengan Tuhan. Mereka yang menyukai kesombongan seperti akan tiba saatnya mereka direndahkan dan dihukum. Mereka yang meninggikan diri akan direndahkan dan mereka yang merendahkan dirinya akan ditinggikan (Mat. 23:12; Luk. 14:11). Yesus telah merendahkan diri-Nya dalam pelayanan-Nya di bumi, dan Allah kemudian meninggikan Yesus dengan mendudukan-Nya di sebelah kanan-Nya. Semangat Kristus melayani dan bukan dilayani, maka demikianlah juga kita, menggelorakan semangat melayani dan bukan dilayani, sehingga kita tidak direndahkan melainkan ditinggikan oleh Bapa di sorga. 

 

Keempat: Yesus Kristus adalah Tuhan (ayat 10-11)

Ada beberapa cara membuktikan ke-Allah-an Tuhan Yesus, dalam arti Ia berasal dari Allah dan memiliki kuasa yang sama dengan Allah. Hal ini dimulai dari banyaknya nubuatan pada kitab Perjanjian Lama yang "match" dengan Pribadi-Nya, sampai kepada peristiwa pra kelahiran melalui kandungan Maria dan kuasa Roh Kudus, kemudian peristiwa kelahiran yang mengagumkan, perkembangan pribadi, hingga pelayanan yang dilakukan selama tiga setengah tahun yang penuh dengan kuasa dan mukjizat. Demikian pula cara mati Yesus, peristiwa pasca kematian, pelayanan setelah kebangkitan dan bahkan kenaikan ke sorga yang disaksikan banyak orang, membuat semua itu tanpa keaguan Yesus adalah dari Allah, Anak Allah dan memiliki kuasa yang sama dengan Allah. Pasca kenaikan yang begitu dahsyat dalam sejarah gereja, mulai dari kebangkitan semangat para rasul, ketekunan dan kegigihan bapak-bapak gereja dan kaum missionaris, sehingga pengikut Yesus umat terbesar di dunia. 

                                 

Perjalanan dan bukti yang demikian kuat itulah yang membuat Allah Bapa mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, dalam arti memiliki pengikut terbesar umat beragama yang hampir mencapai 3 milyar (agama kedua terbesar adalah Islam dan ketiga Hindu). Tidak ada nama lain yang lebih dikenal oleh banyak orang dari pada nama Yesus di muka bumi ini. Pada akhir zaman nanti, sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab (Kis 10:42), Yesus juga akan dilihat dan diakui semua orang sebagai Hakim dan berkuasa atas semua manusia, termasuk mereka yang dihukum dan tidak diselamatkan, dan kitab suci agama lain juga mengakui akan peran Yesus dalam masa penghakiman. Oleh karena itu, benarlah dalam nas ini dikatakan,“supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.” Pengertian di bawah bumi sendiri merupakan penafsiran dunia orang mati pada saat itu (band Kis. 5:3, 13).

 

Semua orang yang telah mendengar kisah dan firman-Nya, dapat memilih untuk tidak mengakui bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat manusia. Pengakuan itu sendiri merupakan hal pokok dalam iman Kristen bahwa Yesus adalah Tuhan dan Ia adalah Juruselamat setiap orang percaya (Rm. 10:9; 1Kor. 12:3; Kol. 2:6). Jadi Ia bukan sekedar Rasul, Nabi atau Guru sebagaimana panggilan lainnya dalam Alkitab.  Akan tetapi semua yang sudah mengaku percaya perlu bertindak dengan komitmen untuk mengasihi-Nya. Semua orang percaya memiliki prinsip hidup yang nyata dengan penuh tanggungjawab, sebagai bagian dari gereja untuk memberdayakan setiap orang dan memakai setiap kesempatan untuk meninggikan nama-Nya, sehingga semakin banyak di bumi ini yang diselamatkan dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

 

Penutup

Melalui bacaan minggu ini kembali kita diingatkan pentingnya orang percaya untuk memiliki perasaan dan pikiran yang sama dengan Kristus, dalam arti kata menjadi serupa dengan Dia (Flp. 3:10). Dalam sikap pergaulan keseharian, kita harus bisa mengabaikan kesetaraan dan berusaha mengosongkan diri sebagai wujud kerendahan hati untuk tercapainya maksud tujuan pemberi tugas. Mereka yang merendahkan diri pada akhirnya pasti akan ditinggikan, bukan saja di dunia ini melainkan juga di sorga. Sebaliknya, mereka yang merasa selalu ingin ditinggikan akan direndahkan dan dipermalukan bahkan mendapat penghukuman. Bagi kita orang percaya, tujuan dari semua itu adalah melalui kehidupan kita sebagai pengikut Kristus, semua orang dapat melihat hidup Yesus di dalam diri kita, sehingga mereka ikut dan memuji dan memuliakan Yesus, dan semua lidah akan mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan. 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 256 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13646446
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
399
6773
13672
13588949
162460
127844
13646446

IP Anda: 216.73.216.219
2026-03-31 01:30

Login Form