2026
2026
Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026
Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026
HIDUP OLEH ROH (Rm. 8:6-11)
Bacaan lainnya: Yeh. 37:1-14; Mzm. 130; Yoh. 11:1-45
Pendahuluan
Dalam bacaan nas minggu ini Rasul Paulus mengungkapkan rencana Allah terhadap krisis yang dialami oleh orang percaya. Manusia telah terjerat dalam keinginan daging dan hidup menurut keinginan daging. Di lain pihak nas ini juga menyampaikan adanya hubungan antara roh orang percaya dengan Roh Kudus dan Bapa. Kita perlu disadarkan bahwa hidup di dalam keinginan daging itu menjadi sesuatu yang sia-sia. Akibat dosa, kita ditempatkan ke dalam perjalanan menuju kematian. Namun kasih Allah tidak terbatas, Roh Kudus akan menuntun orang percaya untuk dapat mencapai kemenangan atas dosa. Maka melalui nas minggu ini kita diberi pelajaran penting tentang hidup menurut keinginan daging dan hidup oleh Roh.
Pertama: Keinginan daging (ayat 6a, 7-8)
Kata sarx yang dipakai dalam nas ini memang secara harafiah berarti daging. Namun Rasul Paulus memakai kata daging dalam pengertian yang lebih luas, tidak hanya berarti tubuh atau dunia tetapi juga dalam pengertian nafsu dan ambisi manusia dengan segala kelemahannya. Keinginan daging dalam hal ini juga tidak terbatas pada keinginan tubuh atau seksual, tetapi juga merupakan sifat buruk yang membuat manusia masuk ke dalam jerat iblis dan jatuh dalam dosa. Semua sumber keinginan daging ini berasal dari diri sendiri, bukan kepentingan orang lain apalagi untuk kepentingan Allah. Keinginan daging manusia dengan roh yang lemah, dimanfaatkan oleh iblis dengan segala tipu daya dan kebohongannya, agar manusia terus didorong kuat untuk melakukan perbuatan dosa, melupakan Allah dan membuat keadaan menjadi putus asa dan frustasi. Adanya kecenderungan berbuat dosa (dosa asal) dari Adam membuat situasi semakin buruk dan menjauh dari Allah.
Keinginan daging merupakan pemberontakan dalam diri manusia yang berwujud nyata, yaitu berupa percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Gal. 5:19-21a). Dengan semakin kompleksnya dunia dan hidup manusia, keinginan daging itu telah bertambah dengan penyakit kejiwaan lainnya yang berhubungan dengan sifat sadisme dan kekerasan, narkoba dan kecanduan zat aditif lainnya, penyakit yang dibawa pornografi, judi, dan lain sebagainya (band. Kol. 3:5-9). Dan firman Tuhan mengatakan sikap tentang hal ini, “terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (Gal. 5:21b). Dalam hal ini juga, hukum Taurat tidak dapat menolong dan membebaskan sebab tidak memiliki gigi untuk membendung.
Dalam keadaan ini, ironisnya, sifat dosa itulah yang berkuasa mengendalikan hidup manusia. Hidup dalam dosa berarti dikuasai oleh suara-suara yang memanggil kembali untuk mengulang dosa yang sama. Dosa melahirkan dosa baru, beranak pinak. Seperti beberapa kasus yang marak saat ini pejabat/pengusaha korupsi atau mencuri, akibat mencuri melahirkan perselingkungan, perselingkuhan melahirkan kebohongan, berbohong membuat tekanan jiwa dan seterusnya. Perbuatan dosa memang membentuk pola pikir tertentu bagaikan rangkaian sebuah kecanduan dengan racun (toxit) mengalir dalam darah seseorang, sehingga untuk menghilangkannya harus dilakukan pemurnian dengan detoksifikasi. Dalam ayat-ayat sebelumnya dikatakan: tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka!” (Rm. 7:23-24). Menuruti keinginan daging layaknya menuju kekekalan maut. Ini seperti melakukan tindakan bunuh diri secara perlahan karena secara rohani memang sudah mati. “Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” begitu pertanyaannya kemudian dalam Alkitab.
Kedua: Keinginan Roh (ayat 6b, 9)
Berlawanan dengan keinginan daging maka roh manusia pada dasarnya memiliki keinginan baik untuk menyenangkan hati Allah. Manusia memang memiliki kecenderungan berbuat dosa (dosa awal), akan tetapi manusia juga memiliki bawaan warisan napas dan Roh Allah dalam hidupnya. Manusia diciptakan dan lahir pasti untuk keinginan luhur yakni memiliki misi Allah. Firman Tuhan mengatakan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Ef. 2:10). Seburuk apapun kondisi dan latar belakang seseorang lahir di dunia ini, Allah pasti memiliki rencana yang baik untuk dia. Warisan "hukuman" yang ada karena perbuatan orangtua, sebagaimana dinyatakan hukum Taurat keempat, Allah telah menyediakan jalan untuk menebus dan memberkati.
Roh Allah yang diam merupakan warisan awal dan “dinyalakan kembali” melalui lahir baru untuk menguasai hidup orang percaya dan berbuah dalam tindakan kehidupan sehari-hari. Buah-buah roh ini dinyatakan dalam firman Tuhan, seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal. 5:22-23a). Semua ini terjadi ketika orang percaya bekerjasama dengan Roh Allah dalam menuntun hidup mereka, sehingga kuasa dosa dapat dikalahkan dan hidup mereka menjadi pemenang. Hidup bersama Roh Allah berarti pola pikir kita dikendalikan Roh Allah dan bukan oleh kuasa dosa, bersikap tunduk dan kasih kepada Allah dan bukan menjadi seteru Allah, serta hidup menjadi berkat bagi orang lain dan bukan lagi menjadi budak-budak iblis dan beban bagi orang lain. Oleh karena itu dikatakan dalam nas minggu ini, “Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus”. Karena Kristus ada di dalam diri kita, kini kita mengalami hidup dalam Roh. Dalam kelanjutan firman Tuhan di atas dikatakan, “Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” (Gal 5:23b).
Kalau demikian, pernahkah kita merasa bahwa kita belum sungguh-sungguh menjadi orang Kristen? Sejatinya, seorang Kristen adalah yang mengaku dan bekerjasama dengan Roh Kudus di dalam hatinya. Apabila kita mengaku bahwa hidup kita sudah diselamatkan melalui penebusan Yesus di kayu salib dan mengaku Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita, maka Roh Kudus akan diam bersemayam di dalam hati kita dan siap bekerjasama dalam menjalani kehidupan ini, baik untuk melawan keinginan daging maupun sesuai dengan kehendak Allah Bapa. Kita tidak akan tahu bahwa Roh Kudus telah "datang dan masuk" ke dalam hati kita melalui suatu perasaan khusus; tapi kita tahu bahwa Roh Kudus hadir, sebab itu janji Tuhan Yesus. Uniknya, ketika Roh Kudus bekerja di dalam hati kita, maka secara otomatis kita juga percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan kehidupan kekal datang dari pada-Nya (1Yoh. 5:5); kita juga akan bertindak sesuai kehendak Kristus dan menemukan bahwa Dia menolong kita dalam pergumulan hidup sehari-hari. Kita lebih dimampukan untuk melayani sesuai dengan kehendak-Nya (Kis. 1:8) serta kita akan menjadi bagian dari rencana Allah untuk membangun gereja dan kerajaan-Nya (Ef. 4:12-13). Demikianlah orang yang hidup menurut keinginan Roh.
Ketiga: Roh adalah Kehidupan (ayat 10)
Rasul Paulus dengan baik membagi manusia dalam dua kategori utama, yakni mereka yang memiliki sifat-sifat yang dikuasai dosa dan mereka yang dikendalikan oleh Roh Kudus. Ia menyampaikan pesan Allah betapa pentingnya Roh dalam kehidupan manusia. Dari penjelasan di atas, semua kita pasti menjadi bagian dari kelompok pertama apabila Tuhan Yesus tidak memberikan jalan penyelamatan keluar. Apabila kita sudah mengatakan "Ya" pada Yesus, kita perlu terus mengikuti-Nya, sebab jalan yang diberikan-Nya adalah jalan yang penuh damai sejahtera. Setiap hari kita secara sadar memilih jalan hidup berpusat pada-Nya. Kita memakai Alkitab sebagai petunjuk dalam mengikuti kehendak-Nya. Di dalam situasi yang lebih kompleks dan membingungkan, jangan ragu untuk bertanya kepada diri sendiri: "Apa yang Yesus kehendaki saya perbuat?"
Hal yang perlu diketahui semua orang adalah: Menerima dan didiami Roh adalah hak dan pilihan semua orang. Mereka dapat mengatakan tidak dan bergelut dengan segala kemampuan dirinya untuk melawan keinginan daging tadi, yang sudah kuat sejak manusia lahir (dosa asal) dan kemudian dipicu dan dihela oleh kemampuan jahat si iblis. Roh manusia memang memiliki kemampuan dan itulah yang terus dicari orang lain melalui semedi, tapa, yoga atau meditasi lainnya, akan tetapi pengalaman manusia dan sejarah mengungkapkan bahwa roh manusia itu tetap lemah dan mudah jatuh, baik melalui keinginan daging tadi, maupun melalui godaan setan. Orang yang sekarat, bahkan sudah mati, tidak mungkin bisa menolong dirinya sendiri. Seperti dalam ritual umum, orang mati harus dimandikan orang lain karena memang sudah tidak bisa mandi sendiri membersihkan dirinya sendiri. Manusia memerlukan pihak lain untuk bisa bersih dan selamat.
Allah mengetahui hal itu. Manusia tidak lagi dibiarkan sendirian berjuang dengan hukum-hukum Taurat untuk dapat melakukan sesuai dengan kehendak Allah. Roh Allah yang tadinya tidak diam secara permanen di dalam hati manusia, kini ditawarkan bagi mereka yang percaya penebusan melalui Tuhan Yesus. Bagi mereka yang percaya maka Roh Allah diam secara permanen di dalam hatinya, sehingga roh manusia tidak lagi sendirian berjuang melawan keinginan daging dan kehendak iblis (band. 1Kor. 3:16; Ef. 2:22; 3:17). Roh Allah yang diam bersatu melawan roh iblis jahat dan yang pasti dimenangkan oleh Roh Allah sebab Ia adalah Mahakuasa dan Mahabenar. Oleh karena itu dikatakan dalam ayat 10, “Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.”
Keempat: Kebangkitan tubuh oleh Roh (ayat 11)
Memang muncul pertanyaan: Kalau memang Roh Kudus (yakni Allah) itu diam di dalam hati manusia, mengapa manusia harus mati? Bukankah interaksi Roh Allah dan roh manusia itu dapat berlangsung selamanya, sehingga manusia tidak perlu melalui kematian? Atau apabila manusia harus mati secara fisik, mengapa perlu ada "masa antara", yakni masa pasca kematian sampai kemudian tubuhnya dibangkitkan kembali? Ini semua pertanyaan yang kritis. Semua pertanyaan kritis dalam teologi dan etika kristiani adalah sah-sah saja sepanjang dengan maksud untuk mencari kebenaran sejati. Firman Tuhan dalam bentuk narasi sangat terbatas, namun Allah melalui iluminasi Roh Kudus memberikan pengertian bagi mereka yang ingin mencari kebenaran seperti ini. Namun apabila tujuan bertanya itu melecehkan, Allah akan menghukumnya sebab manusia sudah menyombongkan diri di hadapan-Nya.
Manusia harus mati secara fisik sebab tubuh sudah tercemar dengan dosa. Manusia datang ke dunia ini melalui Adam dan Hawa, dan dosa pun datang serta membawa konsekuensi kematian sehingga tubuh manusia itu harus melalui kematian. Roh Kudus yang diam di dalam hati orang percaya bukan saja mampu untuk menuntun perilaku sesuai dengan kehendak Allah, tetapi juga mematikan sisa-sisa keinginan daging serta mengubah tabiat manusia, sehingga menjadi jaminan kehidupan kekal bagi mereka yang percaya kepada-Nya sesuai dengan janji Allah. Roh Allah yang diam di dalam hati kita bukan saja mampu menghidupkan roh yang mati rohani, akan tetapi melalui iman dan dengan iman, kematian tubuh dikalahkan dan membuat kepastian kita hidup dalam kekekalan bersama Kristus selamanya (band. 2Kor. 1:22; 5:5; Ef. 1:14).
Maka kebangkitan tubuh memang menjadi ajaran pokok dalam iman Kristiani. Kebangkitan Kristus adalah kunci utama dari semua itu dan tidak terbantahkan sampai dengan saat ini. Dia yang sudah mati di kayu salib dengan dibuktikan dari tusukan di lambung, pematahan kaki, penguburan dan menutup lubang kuburan dan itu semua disaksikan oleh banyak orang. Namun kenyataannya Ia bangkit pada hari ketiga. Semua ini terjadi karena kuasa Allah melalui Roh Kudus membangkitkan Yesus dari kematian-Nya. Oleh karena itu di dalam ayat 10 dikatakan, bahwa tubuh kita yang mati karena dosa, maka Allah yang telah membangkitkan Yesus akan menghidupkan “tubuh dosa” kita menjadi tubuh dan kehidupan yang baru. Karya hidup baru itu diteguhkan dengan kita menjadi anak dan serupa dengan Anak (Rm. 8:14, 29). Perjalanan dari kefanaan menuju kekekalan merupakan hasil karya Roh Kudus.
Penutup
Allah yang Mahabaik tidak hanya membenarkan orang-orang yang percaya kepada- Nya. Ia juga melepaskan anak-anak-Nya dari perbudakan dosa keinginan daging yang menjerat dan membawa kepada maut. Kuasa dosa melalui keinginan daging dapat dipatahkan melalui kuasa Allah dalam Roh Kudus yang diam dalam hidup orang percaya. Manusia yang telah didiami oleh Roh Allah tidak lagi melakukan perbuatan-perbuatan yang mendukakan Allah, melainkan berbuah sesuai dengan kehendak Allah. Manusia harus menyadari betapa pentingnya Roh Allah dalam kehidupan sehari-hari. Roh manusia sendiri tidak akan sanggup untuk melawan keinginan daging, apalagi dengan godaan iblis. Allah Mahakasih memberi kemenangan bersama Roh Kudus melalui iman percaya kepada Yesus Kristus. Kemenangan tidak hanya dalam kehidupan saat ini tetapi hingga kehidupan kekal nanti. Teruslah bertekun dalam doa sehingga kita terus hidup oleh Roh-Nya, bukan oleh keinginan daging.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026
Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026 – Opsi 2
NEGARA YANG GAGAL (Yeh. 37:1–14)
”Tulang–tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap” (Yeh. 37:11b)
Salam dalam kasih Kristus.
Banyak negara masuk kategori ‘gagal’ menurut Fragile States Index (Indeks Ketahanan Negara) dari Fund for Peace. Suriah, Myanmar, Afghanistan, dan beberapa negara lainya berada di kategori rawan. Indonesia patut bersyukur karena skor kerentanan menurun pada tahun 2022 dari tahun 2021, menunjukkan arah ketahanan negara yang membaik. Pada tahun 2022, Indonesia menempati urutan 100 dari 179 (urutan 1 berarti negara paling rawan, sementara urutan terakhir, 179, berarti negara paling stabil) Beberapa negara lain bahkan jauh lebih baik: Finlandia (179), Norwegia (178), Swiss (174), Singapore (165), Malaysia (122), Israel (146), dan Tiongkok (98)
Terlepas dari 12 indikator penilaian yang digunakan FSI yang mencakup empat kategori: sosial, ekonomi, politik dan militer, serta krisis dan konflik, survei ini mengingatkan pentingnya negara untuk tetap eksis, berkarya, dan berdaulat. Penurunan skor kerentanan Indonesia pada tahun 2022 menunjukkan arah perbaikan dalam ketahanan bangsa. Kita tentunya berharap tren positif ini terus berlanjut. Sebagai umat percaya, kita dipanggil untuk turut berperan, menjaga, dan mendoakan bangsa agar terus maju.
Firman Tuhan pada hari Minggu ini, dari Yeh. 37:1–14, berbicara tentang janji kebangkitan Israel. Sebelumnya, pasal 33 dan 35 menggambarkan kejatuhan, keputusasaan, dan kehancuran setelah kejayaan Daud dan Salomo runtuh dan bangsa terbuang ke Babel. Namun melalui Yehezkiel, Tuhan menyatakan bahwa Ia tidak membinasakan mereka. Kebangkitan akan datang setelah pertobatan, pemulihan, penyucian, dan penyatuan kembali (pasal 34 dan 36).
Dalam visi itu, Yehezkiel ditempatkan di lembah penuh tulang-tulang yang “sangat kering” (ay. 1–2); simbol kehancuran total (ay. 11). Tuhan bertanya, “Dapatkah tulang-tulang ini hidup kembali?” Yehezkiel menjawab, “Engkaulah yang mengetahui, ya Tuhan ALLAH!” Saat ia bernubuat menurut perintah Tuhan, terdengar suara berderak; tulang-tulang itu saling menyatu, kemudian urat dan daging tumbuh, kulit menutupinya, dan akhirnya mereka menerima nafas kehidupan (ay. 4–10). Sebuah gambaran kebangkitan bangsa.
Kelesuan dan kehancuran sebuah negara, juga pribadi, keluarga, atau komunitas, biasanya disebabkan banyak faktor. Namun, peran pemimpin sangat menentukan. Bangsa Israel jatuh karena ketidaksetiaan kepada Allah dan ketidakadilan terhadap sesama, sebagaimana diperingatkan berulang kali oleh para nabi.
Indonesia sebagai bangsa perlu belajar dari itu: melihat dengan jernih semua faktor penyebab kemunduran, menghindari kesalahan yang sama, dan memastikan sistem tetap berjalan adil dan sehat. Banyak buku yang membahas dinamika ini, misalnya Why Nations Fail (Daron Acemoglu & James A. Robinson) dan Guns, Germs, and Steel (Jared Diamond).
Pertanyaan besarnya: jika kehancuran itu terjadi pada kita secara pribadi, keluarga, atau komunitas, bagaimana bangkit kembali? Bagaimana respons saat kesusahan berat datang?
Nas hari ini memberikan jawabannya: pemulihan dimulai dari pertobatan, pengakuan, penyucian, dan kembali melekat kepada Tuhan. Jangan meninggalkan Dia, sebab Dialah pemegang kendali. Tidak semua hal dapat dijelaskan dengan logika; karena itu kita membutuhkan iman, hati, dan kesetiaan. Dari situlah muncul pengharapan, kekuatan, dan kemampuan untuk melewati penderitaan. Kasih Tuhan tidak pernah hilang, dan Ia ingin kita menjadi pemenang.
Firman Tuhan menutup bagian ini dengan janji: “... pada saat Aku membuka kubur-kuburmu ... Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali ... dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya” (ay. 12–14). Terpujilah Tuhan.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu, 8 Maret 2026
Kabar dari Bukit
KEPUASAN HIDUP DAN BERSYUKUR (Bil. 21:4-9)
"Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab, di sini tidak ada roti dan tidak ada air. Kami muak dengan makanan hambar ini” (Bil. 21:5)
Barangkali kita juga pernah mengeluh atau bersungut-sungut dalam hidup saat datang runtutan hal yang tidak menyenangkan hati. Bisa saja dari suami yang tidak pandai mencari uang, istri yang cerewet atau boros, kehidupan yang datar, atau penyakit yang berulang dan berkepanjangan. Gerutuan bisa juga dialamatkan kepada pengurus gereja, organisasi, perkumpulan, bahkan kepada pemerintah. Tapi, apa hasil gerutuan?
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Bil. 21:4-9, judul perikopnya: Ular tembaga. Ini kisah bangsa Israel yang bersungut-sungut saat perjalanan mereka kembali ke Kanaan dari Mesir, terasa panjang, berputar dan berat: mereka pun protes seperti ayat pembuka di atas.
Kisah bangsa Israel mengeluh di Alkitab ada 10 kali, diantaranya ketakutan saat dikejar tentara Mesir (Kel. 14:10-12), air yang pahit di Mara (Kel. 15:23-24), kelaparan dan ingin makan daging (Kel. 16:2-3), kekurangan air di Rafidim (Kel. 17:1-7), bahkan saat terakhir masuk ke Kanaan mereka ketakutan atas laporan 12 pengintai (Bil. 13:31-33).
Pada nas minggu ini diceritakan Tuhan marah, mengirimkan ular-ular tedung yang pagutannya mematikan. Umat lantas sadar akan dosanya dan memohon kepada Musa agar berdoa untuk mereka. Tuhan yang baik memerintahkan Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya di tiang. Bagi mereka yang memandang ular tembaga tersebut, meski dipagut ular tedung, mereka tetap hidup.
Hidup memang harus memilih: mengeluh bersungut-sungut atau selalu mengucap syukur atas setiap keadaan yang terjadi? Yang jelas, sikap menggerutu malah merusak diri sendiri! Memang ada kalanya mengeluh bermanfaat kecil, yakni melampiaskan sesuatu dari hati yang sesak. Nah untuk ini perlu belajar bagaimana mengekspresikannya dengan positif dan benar. Pengalaman memperlihatkan, keluhan, sungut-sungut atau mengkritik, seringnya tidak membawa hasil baik. Dan, yang kita lakukan sia-sia bahkan sering menjadi pertengkaran. Oleh karenanya lebih baik memilih mensyukuri segala yang ada. Alkitab pun mengajarkan agar selalu mengucap syukur dan menaikkan doa permohonan (Flp. 4:6-7).
Untuk itu kita perlu belajar bagaimana hidup bersyukur. Pertama, lihatlah apa yang sudah dimiliki: hidup, tubuh, istri/suami, keluarga, teman, pekerjaan dan lainnya. Syukurilah. Kedua, lihatlah dengan mata iman bahwa semuanya adalah yang terbaik diberikan Tuhan kepada kita. Jangan membandingkan, atau berpikir sebaliknya: Tuhan tidak adil, tidak baik. Berpikirlah positif. Tahap ketiga - ini yang penting, berjuanglah agar membuat segalanya lebih baik. Artinya perlu berpikir, berencana, berkreasi, dan bekerja keras. Janganlah meremehkan kebaikan Tuhan, sebab Kristus telah membayar mahal untuk keselamatan kita. Mintalah kepada-Nya agar upaya dan pengharapan kita dituntun dan diberkati-Nya.
Sadarilah bahwa bersungut-sungut dan menggerutu itu dosa. Jangan sampai Tuhan menghukum kita karena ketidakpercayaan dan ketidaktaatan, mengirimkan "ular-ular tedung". Pandanglah Yesus sebagaimana umat Israel memandang ular tembaga sebagai simbol kehadiran Tuhan dan pemulihan. Musa meninggikan ular tembaga di padang gurun, kita pun meninggikan Yesus agar selamat (Yoh. 3:14-16). Bagi yang terus berusaha, percayalah Tuhan akan memberi yang lebih baik (Mat. 7:7-8). Mungkin saja jalannya berkelok, jatuh bangun, tetapi disitulah nikmat dan indahnya menjalani kehidupan. Dan itulah kepuasan hidup yang dimulai dengan sikap selalu bersyukur.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Khotbah (3) Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026
Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026 – Opsi 3
PENGENDALI HIDUP (Yoh. 11:1-44)
Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan” (Yoh. 11:4).
Firman Tuhan di Minggu V Pra Paskah, Yoh. 11:1-44, kembali nas yang panjang tentang kebangkitan Lazarus dari kematian. Lazarus adalah adik Maria dan Marta, perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan Yesus dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya (ayat 2, Luk. 10:38-42). Semula mereka berdua mengirim pesan kepada Tuhan Yesus tentang saudaranya Lazarus yang sakit, memohon agar Dia datang menyembuhkannya. Tetapi Yesus menunda kedatangan-Nya, bahkan sempat menyatakan Lazarus sudah mati, yang ditafsirkan murid-murid-Nya sebagai tertidur (dalam bahasa Yunani, kata tidur dan mati kadang sama dipakainya).
Yesus kemudian datang setelah Lazarus mati empat hari (ayat 17). Maria yang menyambut Yesus di luar rumah, menyatakan saudaranya itu telah mati dan sudah dikuburkan dan berbau. Marta pun berkata kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati" (ayat 21). Tetapi Yesus berkata kepada Marta: “Saudaramu akan bangkit.... Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (ayat 23, 25).
Sebagai orang Yahudi (terkecuali orang Saduki), Marta percaya akan kebangkitan orang mati di akhir zaman. Tetapi yang dimaksud oleh Tuhan Yesus adalah kebangkitan Lazarus pada saat itu. Menakjubkan. Ia pun menyuruh orang mengangkat batu penutup kuburan Lazarus, menengadah ke atas, meminta kepada Bapa-Nya. Mukiizat pun terjadi, Lazarus bangkit dari kematiannya dengan kaki tangannya masih terikat kain kafan. Dan Yesus berkata kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi” (ayat 44).
Nas minggu ini mengajarkan kepada kita banyak hal, terutama di tengah badai wabah virus Corona-19 yang melanda kita dan dunia saat ini. Pertama, Tuhan Yesus adalah pengendali hidup manusia. Ia berkuasa atas hidup dan matinya manusia. Ia berkuasa atas maut dan kematian. Untuk ini berserah adalah kata kunci menyikapinya. Kedua, semua hal yang dialami orang-orang percaya ada dalam kendali-Nya. Untuk itu kita perlu lebih mengenal Dia dengan segala rencana dan karya-Nya. Kunci menyikapinya adalah: "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu" (Yak. 4:8a). Tuhan akan senang bila kita dekat kepada-Nya.
Ketiga, kita diajar untuk lebih berhikmat, sebagaimana Tuhan Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya: "Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, ... Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya” (ayat 9-10).
Melawan badai virus Corona tidak mudah, harus disiplin bersama, dan bagus memilih menghindar; juga tidak diperhadapkan dengan iman yang seolah menguji Tuhan. Kita juga tidak perlu terlalu paranoid, atau berlebihan menanggapinya. Tuhan Yesus tidak membangkitkan tubuh orang mati saja, tetapi juga rohani kita untuk bangkit (ayat 26).
Terakhir, di dalam setiap kejadian dan peristiwa termasuk melalui badai virus Corona, kita diminta untuk melihat, mencari, dan menggumuli rencana Tuhan bagi kita untuk berkarya demi kemuliaan nama-Nya. Semoga Tuhan mengasihi kita dan badai ini cepat berlalu.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026
Khotbah Minggu IV Prapaskah 15 Maret 2026
HIDUP SEBAGAI ANAK-ANAK TERANG (Ef. 5:8-14)
Bacaan lainnya: 1Sam. 16:1-13; Mzm. 23; Yoh. 9:1-41
Pendahuluan
Firman Tuhan menjelaskan bahwa mereka yang diam di Efesus dahulunya hidup di dalam kegelapan. Mereka melakukan berbagai perbuatan yang membuat murka Allah dan selayaknya mereka mendapatkan penghukuman. Semua hal itu terjadi karena sebelumnya mereka tidak mengenal Kristus Yesus yang membawa terang ke dalam hidup mereka. Sebagai orang yang sudah menerima terang dan hidup di dalam-Nya, maka kita dan mereka dipanggil untuk memiliki pola hidup yang berbeda dengan mereka yang tidak percaya dan terus dalam kegelapan. Melalui nas minggu ini kita diberi pelajaran bagaimana kita hidup sebagai anak-anak terang dan apa tanggung jawab kita setelah menerima terang itu.
Pertama: Kamu dahulu adalah kegelapan (ayat 8-9)
Kalau kita membaca ayat-ayat sebelumnya, hidup di dalam kegelapan berarti terlibat percabulan dan rupa-rupa kecemaran, perkataan yang kotor, kosong atau yang sembrono tidak pantas, menjadi orang sundal, cemar atau serakah, penyembah berhala, atau tersesat dengan kata-kata yang hampa. Dalam ayat 15 disebutkan juga hidup seperti orang bebal dan dalam pengaruh anggur yang memabukkan (ayat 18). Seseorang yang berada dalam kegelapan tidak hanya terjebak dalam situasi yang menjerat keadaannya saat ini, sebab dalam kegelapan ia tidak hanya kehilangan orientasi situasi keberadaannya, tetapi juga arah pengharapan yang benar akan langkah selanjutnya dalam tujuan hidupnya. Ia hanya bisa meraba-raba tanpa penglihatan, dengan kemungkinan jatuh ke situasi yang lebih buruk. Jalan keluar seolah suram kelam dan oleh karena itu seseorang yang berada dalam kegelapan sangat membutuhkan terang cahaya agar bisa keluar dan melangkah ke tempat yang lebih aman. Seseorang yang hidup dalam kegelapan (kejahatan) sangat membutuhkan terang cahaya kebaikan dan kebenaran yang bersumber dari Kristus.
Hidup di dalam kegelapan dan terang memberi kontras dan perubahan dari beberapa kondisi sebagai berikut:
Saat di kegelapan Saat di terang
• Mati dalam penghukuman Hidup oleh kasih Kristus
• Sasaran murka Allah Memperoleh kasih Allah dan
keselamatan
• Mengikuti jalan dunia Berdiri teguh dalam Kristus dan
kebenaran
• Musuh Allah Anak-anak Allah
• Menjadi budak setan Bebas dalam Kristus mengasihi,
melayani dan diam bersama-Nya
• Jatuh dalam keinginan jahat Bangkit bersama Kristus dalam
kemegahan
Sebagai orang yang sudah menerima dan beriman pada Kristus dan menerima terang-Nya, maka kini seluruh kegiatan hidup kita harus mencerminkan iman tersebut. Dengan menjadi percaya dan berada dalam terang, kita harus hidup di atas standar moral orang lain yang hidup dalam kegelapan, sehingga dapat memancarkan kebaikan Allah bagi orang lain (band. Khotbah Yesus di bukit Mat. 5:15-16). Hidup sebagai anak-anak terang berarti kita menempatkan diri sebagai orang bertobat, dengan tingkah laku kepribadian yang diperbaharui sesuai dengan kedudukan kita sebagai anak-anak Allah. Kita yang sudah menerima pengampunan perlu menjaga kekudusan dan kebesaran Allah melalui cerminan diri kita, dengan memperlihatkan hadirnya Roh Kudus dalam hati dan menghasilkan buah-buah Roh (Gal. 5:22-23; Mat. 7:16-20). Demikian kerasnya peringatan dalam nas ini hingga mengatakan bahwa kita pun tidak boleh berkawan dengan mereka, dalam arti bergaul secara aktif dalam kehidupan sehari-hari tanpa tujuan untuk mengubah mereka.
Kedua: Ujilah yang berkenan kepada Tuhan (ayat 10)
Dalam ayat 1-7 diberikan perbandingan kontras antara hidup dalam kegelapan dan terang untuk memudahkan kita melihat perbedaan nyata antara keduanya. Hidup sebagai anak-anak terang artinya berperilaku di dalam kasih sebagaimana Kristus Yesus telah mengasihi kita, jauh dari kecemaran sepatutnya orang-orang kudus, dan terus-menerus mengucap syukur. Hidup di dalam terang berarti berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, hidup seperti orang arif dengan mempergunakan waktu yang ada karena menyadari hari-hari sekarang ini adalah jahat, terus berusaha mengerti kehendak Tuhan, serta penuh dengan Roh. Hidup di dalam terang diungkapkan melalui mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani, serta segenap hatinya bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan. Dengan demikian, sungguh sangat jelas bagaimana kita hidup di dalam terang tersebut.
Namun kadang batas gelap-terang ini dibuat samar atau abu-abu seolah tidak bisa membedakan antara hitam dengan putih (perumpamaan kegelapan sebagai hitam dan kebaikan sebagai putih). Mungkin kita berdalih atau mencari alasan-alasan khusus yang mencoba membela diri dengan mencari pembenaran atau pemaafan bahwa kita “harus” atau “terpaksa” melakukan tindakan kegelapan, dengan alasan hanya sementara. Untuk itu firman Tuhan ini mengingatkan bahwa melakukan itu perlu diuji, apakah memang itu tujuan utama kita. Dalam beberapa situasi, kisah Robin Hood perampok untuk membagikannya kepada kaum miskin dapat “dibenarkan”. Namun kalau kemudian kita ikut hidup menikmati hasil kejahatan itu maka tujuan mulia itu sudah tercemar. Demikian pula motivasi dalam melakukan perbuatan terang itu, untuk mendapatkan pujian dan kemegahan diri sendiri, atau semua itu kita serahkan bagi kemuliaan nama-Nya, dengan prinsip “biarlah Ia menjadi besar dan aku menjadi kecil” (Yoh. 3:30).
Demikian pula penonjolan diri sebagai individu atau kelompok. Kita sebagai orang percaya harus memperlihatkan suatu persekutuan orang percaya yang saling mendukung, yakni dalam kesatuan sebagai berikut:
• Satu dalam Allah, Allah Bapa yang memelihara kita hingga kekekalan
• Satu dalam Tuhan, Kristus dan kita adalah milik-Nya
• Satu dalam Roh, Roh Kudus yang menghidupkan dan berbuah
• Satu dalam iman, komitmen tunggal kita pada Kristus
• Satu dalam tubuh, persekutuan orang percaya yakni gereja
• Satu dalam baptisan, tanda dipersatukan dengan Allah melalui gereja-Nya
• Satu dalam pengharapan, kemegahan dalam masa mendatang
Apabila kita menamakan diri sebagai orang percaya dalam kasih Yesus, tetapi masih saling menjelekkan atau meninggikan denominasi gereja tempat kita bersekutu, maka sebenarnya kita melakukan hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Terang yang kita bawa harus mampu membedakan dengan jelas tentang yang baik dan apa yang buruk. Ukuran dan pengujian sebenarnya adalah: apakah semuanya untuk menyenangkan hati-Nya dan kemuliaan-Nya?
Ketiga: Telanjangilah perbuatan kegelapan itu (ayat 11-13)
Kitab Efesus secara umum dari awal menekankan setiap anak-anak Allah bukan saja dipanggil sebagai anak-anak kekasih Allah dan penurut, tapi juga harus menjadi prajurit Allah (Ef. 6:11-13; band. 2Tim. 2:3). Dengan demikian kita dipanggil tidak hanya untuk menikmati hidup di dalam terang dan bersekutu untuk mendapatkan sukacita semata, akan tetapi kita dipanggil untuk berjuang bagi terang yang lebih besar. Standar norma hidup kristiani yang tinggi harus diperlihatkan pada semua orang. Firman Tuhan mengajarkan, “Tidak seorang pun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya” (Luk. 11:33). Pada bagian lain dikatakan, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” (Flp. 4:5). Standar kebaikan, keadilan dan kebenaran merupakan kaidah yang dapat dipegang. Sama seperti yang dikatakan melalui tiga filter penguji dari Socrates sebelum kita menyampaikan sesuatu kepada orang lain, perlu kita ketahui terlebih dahulu apakah hal itu: benar, baik, dan membawa manfaat. Bahkan dalam ayat minggu ini dikatakan, menyebutkan atau sekadar membicarakan perbuatan-perbuatan jahat itu di tempat-tempat tersembunyi, dalam arti gosip atau bisik-bisik itu dilarang.
Rasul Paulus menginstruksikan kita untuk membuka atau menelanjangi perbuatan-perbuatan ini, seperti seorang peniup pluit (whistle blower), sebab diamnya kita bisa dianggap setuju dengan perbuatan itu. Allah menginginkan setiap orang berdiri di atas kebenaran dan setiap orang percaya harus berbicara keras tentang hal yang benar dan baik. Kita harus menentang dan mengungkapkan kejahatan sehingga kejahatan itu tidak berkembang seperti virus yang menjalar kepada orang lain bahkan ke seluruh tubuh masyarakat (Mzm. 94:16). Sikap memihak kepada Allah harus terlihat benar-benar membenci dosa dan bukan abstain atau netral. Sikap menjauhi mereka juga bukan dalam arti kita tidak peduli terhadap perbuatan mereka, melainkan membenci perbuatannya dan bukan orangnya. Semoga dengan sikap kasih dan siap mengampuni itu mereka dapat melihat terang yang sangat indah sehingga mereka bertobat dan menikmati terang itu. Sikap kita harus optimis seperti kata firman, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh. 1:5; 3:19-21; 1Yoh. 1:5-7).
Sikap kita harus tegas dan tidak boleh mendua atau munafik, dalam arti kata tidak samanya kata dengan perbuatan, tidak samanya hakekat dengan tampilan. Adalah terlihat aneh ketika kita hidup sebagai seorang prajurit/perwira, tapi tingkah laku kita bagaikan seorang artis selebritis “murahan”. Kepatuhan menjadi hal yang utama untuk terus menjadi sempurna. Kesalahan dan ketidak sempurnaan sesaat karena kekhilafan harus diperlihatkan dengan sikap penyesalan dalam. Memberi contoh buruk menjadi dosa yang buruk. Kita tidak bisa mengekspresikan diri sebagai seorang dokter atau atlit tapi pola hidup kita tidak terjaga sehat. Bila kita melakukan hal itu maka bukan saja kita mempermalukan Kristus yang telah menolong kita, tetapi kita juga menjadi bahan olok-olok dan tertawaan. Kehadiran kita sebagai terang haruslah merupakan model dan teladan yang merupakan teguran bagi sekitar kita yang hidup dalam kegelapan, meski tampak luar kita dibenci oleh mereka (Yoh. 7:7; 15:18).
Keempat: Bangunlah, hai kamu yang tidur (ayat 14)
Mereka yang hidup terus di dalam kegelapan akan mendapatkan hukuman dari Allah (1Kor. 6:9-10), sementara mereka yang setia dan terus berupaya hidup di dalam terang Kristus akan mendapat kasih Allah hingga kekekalan. Mereka yang tadinya terlelap dalam waktu yang sia-sia diminta menggunakan waktu secara efektif untuk melakukan sesuai dengan kehendak Allah. Mereka yang terlelap dan tertidur diminta bangun melihat terang dan melayani Tuhan. Jadi dalam hal ini mereka tidak tertidur dan memahami bahwa perbuatan-perbuatan kegelapan tidak berbuahkan apa-apa, sehingga harus menghindarinya, dan meninggalkan perbuatan kesenangan yang menghasilkan dosa (1Tes. 5:5).
Kalimat “Bangunlah….” ini tampak bukan kutipan langsung dari Perjanjian Lama, tetapi mungkin dari sajak atau lagu-lagu yang cukup dikenal oleh orang Efesus saat itu. Kalimat itu mungkin dilatarbelakangi oleh kitab Yesaya (26:19; 51:17; 52:1; 60:1) dan Mal. 4:2, yang dipakai saat pembaptisan keluar dari air. Baptisan saat itu dipakai juga bagi mereka yang bertobat dari penyambahan berhala, dan keberadaan mereka dalam kegelapan berhala itu dianggap tertidur dan saat dibaptis menjadi terbangun. Oleh karena itu Rasul Paulus mendorong orang Efesus untuk bangun dan bangkit dan menyadari kondisi yang berbahaya bagi mereka, khususnya yang sudah terjatuh tergelincir (band. Rm. 13:11). Terang yang dibawa Kristus memiliki daya untuk membangkitkan, membersihkan dan memulihkan dan siap menjadi berkat bagi semua orang.
Dalam ayat berikutnya disebutkan agar kita yang menerima terang itu bersikap seksama hati-hati di tengah-tengah zaman yang jahat, dengan mempergunakan waktu sisa yang ada dan sangat berharga bertindak sebagai prajurit Kristus, membangunkan orang-orang untuk melihat terang dari Kristus (Yes. 60:1). Ada tiga hal katanya di dunia ini yang sekali kejadian tidak pernah kembali, yakni waktu, kesempatan dan ucapan (khususnya yang salah menyakitkan). Waktu dan kesempatan adalah anugerah yang kita miliki namun berlalu sangat cepat dan tidak bisa kembalikan. Oleh karena itu di tengah waktu yang terus berjalan dan kesempatan menabur dan menuai selalu terbuka, kita membiasakan ucapan yang menyenangkan, dan merapat ke dalam barisan prajurit Kristus sehingga melalui terang dan pelayanan kita nama Tuhan dimuliakan.
Penutup
Sebagai anak-anak terang kita harus hidup jauh dari kegelapan yang membuat hati Allah bersedih. Kita sebagai umat-Nya hendaklah meneladani Yesus Kristus dengan hidup sesuai dengan panggilan kita. Semua yang kita lakukan pun sebagai perbuatan terang perlu diuji apakah sesuai dengan kehendak-Nya dan menyenangkan hati-Nya, berdasarkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Kita dipanggil bukan hanya untuk menjadi teladan dan model sebagai orang yang sudah menerima kasih dan pengampunan, tetapi kita juga dipanggil untuk menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan orang lain agar itu tidak menjadi virus menular bagi yang lain. Tindakan itu sekaligus untuk membuktikan bahwa kita sebagai prajurit Allah yang siap untuk membangunkan orang lain agar tidak terjerat dalam kegelapan, dan mereka dapat menikmati terang yang membebaskan dan menikmati kasih Allah yang berkelimpahan sebagai anak-anak terang. Naikkanlah doa kepada Tuhan agar kita dibimbing-Nya ke arah hidup terang sehingga dapat mengerti rencana indah-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026 HIDUP OLEH ROH (Rm....Read More...
-
Khotbah (2) Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026 – Opsi 2 NEGARA...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026Khotbah Minggu V Prapaskah 22 Maret 2026 – Opsi 3 PENGENDALI...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 25 guests and no members online
