Thursday, May 07, 2026

2026

Khotbah (3) Minggu IV Paskah 2026 - 26 April 2026

Khotbah Minggu IV Paskah 2026 - 26 April 2026 – Opsi 3

 

 MEMENANGKAN JIWA (Kis. 2:42–47)

 

 "Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap–tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." (Kis. 2:47)

Salam dalam kasih Kristus.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Kis. 2:42–47. Nas ini bercerita tentang kehidupan jemaat mula-mula setelah Tuhan Yesus bangkit. Ciri-ciri mereka adalah:

 

  1. Bertekun dalam pengajaran (ay. 42a);
  2. Berkumpul tiap hari di rumah-rumah jemaat secara bergilir untuk memecahkan roti (perjamuan kudus, Luk. 22:19) dan berdoa (ay. 42b, 45);
  3. Berprinsip kepunyaan bersama. Bila jemaat menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing (ay. 4445);
  4. Sehati, menyukai persekutuan dan bernyanyi sukacita (ay. 46);
  5. Disukai oleh orang luar dan memenangkan jiwa-jiwa baru (ay. 47).

 

Menurut kitab Kisah Para Rasul, jemaat mula–mula bertumbuh dari 120 jiwa (Kis. 1:15), dan setelah Pentakosta meningkat menjadi 3.000 orang (Kis. 2:41). Ini adalah perkembangan yang luar biasa: pertumbuhan yang sehat, baik secara kuantitas maupun kualitas. Karena itu, banyak hal yang dapat kita teladani dan terapkan dalam kehidupan berjemaat masa kini.

 

Kita perlu memahami gereja dalam dua bentuk: sebagai organisme dan sebagai organisasi. Sebagai organisme yang hidup, gereja adalah kesatuan yang saling mendukung, satu tubuh dengan Kristus sebagai Kepala (Ef. 1:22; 2:21; Kol. 1:18). Kesatuan dan kesehatian menjadi sangat penting, seperti firman Tuhan mengatakan: supaya semua menjadi satu (Ut Omnes Unum Sint); Yesus dan Bapa adalah satu (Yoh. 17:21–23). Tanpa kesehatian antara jemaat dan para pelayan, pertumbuhan akan sulit terjadi.

 

Gereja sebagai organisasi menurut Alkitab memiliki jabatan penilik, diaken, dan penatua (Flp. 1:1; 1Tim. 4:14; Kis. 11:30). Namun sejarah gereja terus berkembang, sehingga bentuk organisasi pun semakin meluas. Muncul jabatan Paus, Uskup, Bishop, Ketua Sinode, Ketua Wilayah, Gembala Sidang, Pendeta, Evangelis, dan lainnya. Pada jemaat dan sinode yang besar, kehidupan gereja menjadi kian kompleks. Namun untuk memperluas pertumbuhan gereja keluar, tetap perlu ada bidang pelayanan yang menanganinya.

 

Karena itu gereja yang sehat dan mampu memenangkan jiwa membutuhkan keseimbangan antara kehidupan sebagai organisme dan organisasi. Jemaat yang sehat bagaikan tubuh hidup: anggota–anggota saling mendukung, saling peduli, namun tetap berjalan tertib dalam struktur organisasi. Gereja jangan sampai hanya menekankan sisi organisasi, misalnya jumlah anggota, persembahan bulanan atau tahunan, bahkan persepuluhan, tetapi tidak menghasilkan buah melalui pelayanan sosial dan pekabaran Injil keluar gereja.

 

Ada kalanya kita tidak merasa puas. Namun itu semua bersumber dari keterbatasan manusia. Janganlah kecewa. Kita menjadi Kristen bukan untuk menghakimi kehidupan di luar diri kita. Orang percaya tidak hanya diajarkan tentang standar moral baik dan buruk. Seperti dituliskan John Eldredge dalam The Journey of Desire, menjadi seorang Kristen terutama adalah memiliki hasrat hati yang rindu dekat dengan Tuhan Yesus dan merasakan kuasa-Nya. Bergereja berarti mendekat kepada Tuhan, bukan sekadar mendekat kepada manusia.

 

Mari terus terlibat dalam memenangkan jiwa–jiwa baru melalui gereja yang sehat. Manusia dapat berubah dari baik menjadi jahat, atau sebaliknya. Perubahan adalah sesuatu yang tidak terhindarkan; justru perubahan itu sendiri yang tetap. Namun yang kita pegang teguh adalah Tuhan Yesus yang tidak berubah; dahulu, sekarang, dan sampai selamanya.

 

Sebagaimana firman-Nya yang ditulis di makam penginjil besar Pdt. Dr. Nomensen: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama–lamanya” (Ibr. 13:8). “Rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama–lamanya” (1Pet. 1:24b–25).

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 19 April 2026

Kabar dari Bukit

 

 PERTOBATAN, KARUNIA ROH KUDUS DAN JANJI (Kis. 2:14a, 36-41)

 

 "Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini” (Kis. 2:41b)

 

Ada bahayanya jika menganggap hidup kita biasa-biasa dan aman-aman saja dalam beriman kepada Tuhan Yesus. Lingkungan sekitar memperlihatkan, betapa deras arus tantangan dan ancaman yang dapat menjerat dan membawa kita keluar dari iman yang benar di dalam menjalani kehidupan ini.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu III Paskah yang berbahagia ini adalah Kis. 2:14a, 36-41. Nas ini merupakan rangkaian khotbah Petrus yang penuh kuasa, memberi gambaran terbentuknya gereja mula-mula. Melalui khotbahnya, "Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa" (ay. 41). Pada penutup pasal ini dituliskan, "Tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan" (ay. 47).

 

Kita sadari hal awal yang membawa kita menjadi murid Kristus adalah adanya kesadaran dampak dosa. Ini namanya pertobatan, yakni terjadinya perubahan hati dan arah tujuan melakoni hidup. Jika kesadaran akan dosa sebatas menyesal saja, lalu berbuat ulang lagi, jelas bukanlah pertobatan. Atau menganggap sepele perbuatan jahat yakni mau menyakiti/ menyusahkan orang lain, atau melakukan hal jahat dalam pikiran atau tersembunyi, jelas tidak mengasihi Tuhan dan sesama. Bahwa Tuhan itu ada dan akan menghakimi semua perbuatan jahat dan kita perlu pertolongan-Nya, ini pondasi pertobatan dan awal ke pintu keselamatan.

 

Hal kedua, pentingnya pengakuan terbuka. Sesuai nas ini dituliskan, "hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu" (ay. 38a). Baptisan bukanlah sekedar ritual dengan air, melainkan peneguhan lahiriah atas pertobatan dan melalui deklarasi pengakuan iman, kita nyatakan identifikasi hidup baru di dalam Yesus Kristus. Inilah jalan untuk pengampunan dosa-dosa yang kita lakukan. Pengakuan iman saat dibaptis secara bersamaan akan diberi kuasa yakni kita menerima karunia Roh Kudus sebagai Penolong (ay. 38b).

 

Perlu kita sadari saat menerima Yesus, Roh Kudus bekerja. Respon saat menerima firman dan pengajaran-Nya yang membuat hati kita sebagai pendengar menjadi sangat terharu (ay. 37a). Tentu selain kerinduan, ada kasih dan pilihan Allah di dalam Roh Kudus, yang memanggil kita diteguhkan sebagai orang percaya. Setelah deklarasi, Roh Kudus yang tadinya bekerja dari luar, kini diam dan tinggal di dalam hati kita menyertai perjalanan hidup sebagai manusia baru.

 

Tentu dalam perjalanan hidup, kita kadang tersandung dan bahkan terjerat dosa. Tetapi kita yang sudah dikuduskan saat dibaptis dan pengakuan percaya, proses pengudusan akan berlangsung terus menerus. Memang iman sejati mestinya berdampak pada pola hidup kita, tetapi lingkungan atau angkatan yang jahat serta kelicikan iblis membuat kita tidak mungkin sempurna. Hanya melalui pengakuan dosa dan mohon pengampunan serta tekad untuk hidup lebih layak di hadapan Allah yang membuat kita selalu kembali menjadi anak-anak Allah.

 

Dengan karunia Roh Kudus mestinya kita menghasilkan sembilan buah-buah Roh yakni kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Gal. 5:22-23). Atas dasar buah-buah Roh tersebutlah kita dapat menerima: "Bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu" (ay. 39a).

 

Oleh karena itu pahamilah bahwa kita tidak bisa melakukan itu sendiri, tetap harus bersama Tuhan Yesus di dalam Roh Kudus. Tetaplah sadar dan berpegang, "Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini" (ay. 40).

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026

Khotbah Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026 – Opsi 2

 

 HATI BERKOBAR-KOBAR (Luk. 24:13-35)

 

 ".... Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” (Luk. 24:32)

 

 

 

Firman Tuhan di Minggu III Paskah, Luk. 24:13-35, berkisah tentang dua orang murid yang berjalan menuju Emaus, dan tidak menyadari bahwa Tuhan Yesus ikut berjalan bersama mereka. Yesus ikut berbincang bahkan kemudian ikut makan, tetapi mata mereka terhalang. Ketika mereka menyadari, Tuhan Yesus telah lenyap dari pandangan mereka. Kisah ini mengulang peristiwa Tuhan Yesus bertemu dengan para murid dan lainnya, sepuluh kali setelah kebangkitan-Nya. Saat bertemu, ada yang melihat tubuh fisik-Nya, dan ada yang merasakan kehadiran tubuh kemuliaan-Nya, seperti menembus dinding, atau hadir dalam percakapan dua murid dalam nas ini. 

 

 

 

Kebangkitan Yesus meneguhkan iman kita adanya kebangkitan orang mati, bagi yang setia dan percaya kepada-Nya (1Kor. 15:12-13; Rm. 6:5). Ketika kelak dibangkitkan, tubuh kita berubah menjadi tubuh kemuliaan. Dan ada saat orang percaya berkumpul, tubuh daging dapat terlihat, meski keinginan daging tidak ada lagi, tidak ada kawin dan dikawinkan (Mat. 22:30). Kita perlu ingat, kerajaan sorga bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita (Rm. 14:17). Tuhan Yesus juga tidak kembali untuk menjadi penguasa dunia ini, seperti pembicaraan kedua murid yang berharap “Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel” (ayat 21).

 

 

 

Pengharapan sorgawi mesti ada bagi orang percaya. Kita berasal dari Roh Allah, penguasa dan pemilik sorga, dan kita tetap sebagai warga kerajaan sorga (Flp. 3:20). Roh dan nafas kita dari sorga, maka akan kembali ke sorga, sedangkan tubuh dari debu akan kembali menjadi debu (Kej. 3:19). Kita dilahirkan bukan dari benih yang fana (1Pet. 1:17-23).

 

 

 

Jika iman dan pengharapan saat ini belum kuat dalam diri kita, nas minggu ini mengajarkan agar kita bertekun dalam firman-Nya. Tuhan Yesus berkata, jangan bodoh dan lamban hati, tidak percaya pada kitab-kitab Musa dan kitab nabi-nabi (ayat 25-27). Bacalah tiap hari firman-Nya dan terapkan! Hiduplah dalam kehidupan yang penuh pengharapan.

 

 

 

Mereka yang memiliki semangat untuk terus mengenal dan menjalani hidup ini bersama dengan Dia, pasti memiliki hati yang berkobar-kobar (ayat 32). Dia akan berbicara dengan kita tentang hal yang dialami-Nya, dan kemuliaan yang telah diterima-Nya. Betul, kadang tanpa diduga, ada datang pergumulan atau rasa takut, seperti situasi wabah Covid-19 yang sangat mematikan ini. Kesedihan dan kekuatian kadang membuat kita jauh dan tidak mengenal-Nya, seperti kedua murid yang terhalang matanya. Tetapi ingatlah, kita telah dipersatukan dengan Dia melalui baptisan dan pengakuan percaya, dan terus disegarkan pada waktu Ia memecah-mecahkan roti dalam perjamuan kudus yang memberi kekuatan bagi kita.

 

 

 

Bagian akhir pesan nas minggu ini, agar kita bangkit, sebagaimana kedua murid bangun dan kembali ke Yerusalem. Mereka menceritakan kepada para murid lainnya tentang yang terjadi di tengah jalan bersama Yesus yang bangkit (ayat 34-35). Situasi saat ini jangan membuat kita "lamban dan bodoh”, mata terhalang untuk melihat Tuhan tetap berkarya. Lakukan sesuatu untuk mengenal atau melayani Dia. Bagi yang belum pernah membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, pakai kesempatan ini. Saya membaca Alkitab penuh saat full lockdown, di penjara saat saya mahasiswa. Cari dan baca buku-buku rohani. Sering-sering berdiskusi pribadi dengan pendeta. Atau, berkaryalah dengan berbagi berkat dan tenaga, misalnya, jadi relawan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Saatnya lebih banyak bersama Dia dan bersaksi, merasakan Yesus adalah sahabat kita dalam perjalanan. Kita senang dan Tuhan pun akan senang.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026

Khotbah Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026

  DILAHIRKAN BUKAN DARI BENIH YANG FANA (1Pet. 1:17-23)

 Bacaan lainnya: Luk. 24:13-35; Kis. 2:14a, 36-41; Mzm. 116:1-4, 12-19;

 

Pendahuluan

 

Dalam masa minggu pasca kebangkitan Tuhan Yesus saat ini kita kembali diingatkan bahwa Ia mati untuk penebusan dosa-dosa agar kita tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal. Penebusan oleh Tuhan Yesus bukanlah penebusan yang murah melainkan dengan darah-Nya yang mahal dan murni tidak bercacat. Firman Tuhan melalui surat Rasul Petrus ini ditujukan kepada orang-orang miskin, sehingga penggunaan kata yang berhubungan dengan nilai dan harga agak menonjol. Keselamatan sebagai karunia penebusan harus dihargai tak terhingga, sehingga hidup orang percaya pasca kebangkitan Yesus harus tetap menjaga kekudusan. Orang percaya harus menganggap pembebasan dari dosa-dosa sebagai warisan sorgawi yang harus dipertahankan. Melalui bacaan nas minggu ini kita diberikan pokok pengajaran sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: Sikap takut dan penebusan yang mahal (ayat 17-19)

 

Sikap takut yang berangkat dari rasa hormat (reverent fear) adalah sikap respek yang sehat dari orang percaya terhadap Allah. Allah adalah pencipta, penguasa, dan hakim bagi seluruh bumi dan isinya (Why. 14:7; 15:4), sehingga mau tidak mau kita tidak dapat bersikap acuh terhadap-Nya atau memperlakukan Dia dengan sembarangan. Hukum ketiga Taurat juga menyebutkan jangan menyebut nama Allah dengan sembarangan (Kel. 20:7). Alkitab mengatakan jangan takut kepada yang membunuh tubuh, tapi takutlah kepada yang dapat membunuh jiwa (Mat. 10:28). Kita tidak boleh beranggapan bahwa status istimewa kita sebagai anak-anak Allah memberi kebebasan untuk melakukan segala sesuatu yang kita kehendaki, tanpa tetap menaruh rasa takut dan hormat akan Dia. Tapi kita juga tidak perlu merasa harus tertekan akan sikap takut itu, melainkan hal itu kita lihat sebagai sikap sukacita ketergantungan seorang anak yang memperlihatkan kasih-Nya kepada Allah Bapa di sorga.

 

 

 

Perjanjian Lama dan sejarah pada umumnya memperlihatkan kekalahan manusia pada dosa dan ketakutan terhadap kematian. Kematian semata-mata dilihat sebagai sebuah hukuman atas dosa-dosa yang dilakukan yang disertai dengan hukuman berupa penderitaan baik di masa kini maupun kelak di masa kekekalan. Betul, Allah akan menjadi hakim atas segala perbuatan manusia baik yang kelihatan maupun tersembunyi, baik ucapan dan tindakan, atau melalui motivasi dan tujuan mereka melakukannya. Namun ketidaktahuan mereka terhadap kasih Allah yang demikian besar dan pengajaran yang salah, membuat semua orang terus menerus dilanda rasa takut terhadap pengadilan itu, melihat Allah adalah Hakim yang siap mengganjar setiap orang akibat dosa-dosanya. Pengadilan seolah-olah sebuah proses yang gelap menakutkan. Pengajaran dan ritual penebusan dosa melalui upacara-upacara pemberian korban dan persembahan di era PL, tidak dapat membangun keyakinan iman, bahwa pada dasarnya Allah ingin menyelamatkan manusia secara permanen (band. Ibr. 10:4). Manusia terus merasa sendirian tanpa pertolongan dan akhirnya terjebak dalam kesalahan yang berulang dan jeratan yang kuat. Dalam keadaan ini, manusia sudah menjadi budak dari dosa dan rasa takutnya pada penghukuman dan kematian itu (Rm. 8:15).

 

 

 

Sistem sosial pada masa dahulu menjelaskan bahwa seorang budak boleh ditebus apabila seseorang membayar dengan uang yang cukup untuk membeli kebebasannya, atau mengganti dengan budak lain. Pemilik budak tidak mau rugi sebab hakekatnya budak tersebut dibeli, termasuk biaya-biaya dalam menanggung hidupnya. Oleh karena itu konsep penebusan menjadi konsep ganti diri. Allah menetapkan bahwa manusia perlu diselamatkan dari semua hal itu. Allah yang Mahakasih menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus, menjadi manusia untuk tebusan bagi semua orang (Yoh. 3:16). Kita tidak dapat membebaskan diri kita sendiri dari perbudakan karena kita orang berdosa, sebab tebusan haruslah korban yang tidak bercacat (Kel. 12:5). Oleh karena itu Allah menetapkan Yesus sebagai tebusan bagi kita dari tirani dosa, bukan dengan uang dan materi, melainkan dengan darah Putra-Nya yang mahal (Rm. 6:6, 7; 1Kor. 6:20; Kol. 2:13,14; Ibr. 9:12). Yesus, sebagai Anak Domba Allah, korban yang tidak berdosa dan tidak bercacat, hanya Dia saja yang memungkinkan pembebasan itu (Yoh. 1:29; Rm. 3:25).

 

 

 

Kedua: Dipilih sebelum dunia dijadikan (ayat 20-21)

 

Pertanyaannya kemudian adalah: Mengapa harus Putra tunggal-Nya yaitu Yesus sebagai tebusan dan harus menjadi manusia? Bahkan, mengapa harus melalui penderitaan dengan cara kematian yang begitu terkutuk? Firman minggu ini meneguhkan bahwa Yesus telah ada sebelum dunia dijadikan. Allah Bapa bersama-sama dengan Putra dan Roh Kudus dalam Trinitas yang satu hakekat dan Satu Roh serta telah memahami adanya rencana penebusan itu. Allah Pencipta adalah sekaligus Allah Penebus. Melalui Alkitab kita digambarkan bahwa Allah memberikan kepercayaan kepada manusia Adam dan Hawa untuk hidup sesuai dengan rencana dan konsep Allah tetapi akhirnya mereka jatuh. Allah memberikan kepada manusia kepercayaan kemampuan, namun akhirnya menyombongkan diri dalam peristiwa menara Babel (Kej. 11:1-9). Allah membiarkan manusia bertumbuh melalui fase-fase sejarah dengan adanya Hakim-hakim, Raja-raja, Nabi-nabi, namun semua gagal dalam mewujudkan umat Allah yang kudus. Manusia takluk. Allah kemudian “menyesal” dalam pengertian, mengapa manusia harus kalah?

 

 

 

Allah dalam hal ini bukan bereksperimen melakukan semuanya sehingga manusia harus kalah terhadap dirinya sendiri dan kekuatan pengaruh iblis. Allah tetap Allah yang Mahakasih yang ingin umat-Nya tidak binasa. Allah tidak sekedar menyesal melainkan bertindak, dan jalan yang ditempuh Allah adalah jalan yang dapat masuk ke dalam akal pikiran manusia, yang dibentuk berdasarkan tradisi dan kepercayaan yang sudah ada pada manusia pada saat itu. Allah dalam pengertian melalui hikmat-Nya memakai jalan demikan untuk memudahkan dalam penyampaian dan kesuksesan rencana penyelamatan-Nya. Rencana itu yang terbaik dan bukan rencana darurat: Nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama harus digenapi. Mesias yang dinantikan umat Yahudi harus segera datang. Keturunan Raja Daud harus digenapi. Itulah yang membuat Allah melalui Tuhan Yesus harus menjadi manusia untuk dapat menyelamatkan umat-Nya dari kebinasaan. Tebusan harus diberikan dan untuk itu darah dari Anak Domba yang tidak berdosa harus tercurah sehingga ritual dan ibadah itu menjadi lengkap. Dia adalah Penyelamat yang sempurna dan sesungguhnya telah ada sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4; Kol 1:17).

 

 

 

Yesus yang harus menderita bagi dosa-dosa kita bukanlah sekedar perenungan, bukan juga sesuatu yang diberikan Allah ketika dunia ini berjalan tanpa kendali. Pesan utamanya adalah umat Yahudi seyogiayanya mengetahui bahwa Kristus datang ke dunia dan karya penyelamatan-Nya adalah rencana Allah jauh sebelum kehidupan dunia ini. Ini otomatis memberikan jaminan bahwa Taurat tidak dibatalkan karena hukum itu tidak bekerja efektif sebab diperlakukan lebih kepada kehendak dan kepentingan para Imam dan kaum Farisi. Sejatinya Taurat dan Kedatangan Yesus adalah paralel bagian dari rencana kekekalan Allah. Dengan melalui penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya, ketetapan Yesus menjadi hakim bagi semua orang adalah sesuatu yang mudah diterima, sebab Ia pernah menjadi manusia dan tahu mengenai manusia dan menang dalam kemanusiaan-Nya. Ia menjadi hakim yang lengkap (Yoh. 5:22). Namun semua itu akan dinyatakan sempurna pada zaman akhir, agar kita tetap percaya dalam iman dan pengharapan yang selalu tertuju kepada-Nya.

 

 

 

Ketiga: Kasih persaudaraan yang tulus ikhlas (ayat 22)

 

Allah telah menebus dosa-dosa manusia dan menjadikan umat-Nya kudus, maka manusia harus memelihara dan menjaga kekudusannya itu (1Pet. 1:2). Penebusan dimaksudkan untuk kebebasan dan kemerdekaan dari belenggu dan bukan kebebasan untuk kembali berbuat dosa, sehingga kekudusan harus dipertahankan. Kekudusan itu diperlukan sebagai syarat utama untuk tetap menjadi anak-anak Allah. Namun Allah juga tidak membiarkan manusia bertarung dengan kekuatan sendiri dalam kehidupan ini menghadapi musuh-musuh. Kalau sebelumnya pada masa perjanjian lama manusia menjalani kehidupan ini dengan sendirian (meski kadang Roh Allah datang menolong), maka kini pasca Tuhan Yesus naik ke sorga, Roh Allah diam dan bersemayam di dalam hati orang percaya akan kebangkitan-Nya, percaya akan kuasa-Nya, dan menjadikan Yesus sebagai Juruselamatnya. Sikap dan keyakinan iman itu perlu dengan sepenuh hati, dengan hati yang murni dan bersih yang diwujudkan dalam ketatatan.

 

 

 

Kita terus menyucikan diri melalui ketaatan kepada kebenaran dan terus menerus dalam pertobatan yang membuat kita semakin sempurna dan mencapai patokan serupa dengan Yesus (Rm. 12:2; Yak. 4:8; Flp. 3:10). Hidup orang percaya harus tetap dalam sikap hormat dan takut kepada Allah. Allah lebih dahulu mengasihi kita sehingga kita pun layak untuk mengasihi-Nya dan mengikuti firman-Nya. Allah memerintahkan: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34; Rm. 12:10; 1Tes. 4:9). Tujuan semua itu bukan hanya kita semakin berkenan kepada Allah, melainkan juga kita dapat menjadi teladan, sinar dan cahaya di tengah-tengah kegelapan dunia, dan terutama kita dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas bagi sesama (1Tes. 1:7; Mat. 5:13-15). Kita diselamatkan untuk menjadi berkat dan berbuah bagi banyak orang. Dengan mengasihi setiap orang, nama Tuhan Yesus dimuliakan dan semakin banyak yang percaya dan tidak binasa.

 

 

 

Dalam melakukan penyucian dan pengamalan kasih persaudaraan itu, firman Tuhan minggu ini mengatakan hendaklah kita bersungguh-sungguh dengan segenap hati. Kita mewujudkan kasih bukan lagi untuk mendapatkan keselamatan, sebab keselamatan sudah pasti melalui iman dan kebangkitan Kristus. Hanya kita perlu memperlihatkan dan membuktikan iman dan pertobatan dengan berbuah bagi banyak orang. Iman yang tidak berbuah dan berwujud adalah mati (Yak. 2:24-26). Karenanya mengasihi adalah perbuatan nyata iman dari orang-orang yang sudah dilahirkan kembali melalui kehidupan pribadi, keluarga, kehidupan gereja dan sosial kemasyarakatan. Kasih Allah yang telah terwujud dalam penebusan itu harus disebarkan dan mengalir melalui kasih kita kepada mereka, menjadi pengikat dalam pergaulan dan dalam persekutuan sehari-hari. Sama seperti kasih Allah yang tidak pamrih, kasih kita juga harus tulus dan tidak berpura-pura, munafik (Rm. 12:9), yang sebenarnya untuk kepentingan atau keuntungan diri sendiri saja.

 

 

 

Keempat: Dilahirkan kembali dari benih yang tidak fana (ayat 23)

 

Semua hal keyakinan, pengharapan dan buah-buah keselamatan dalam kasih persaudaraan serta upaya menjaga kekudusan merupakan bukti bahwa kita adalah manusia baru dan hidup baru di dalam Tuhan Yesus. Manusia baru berarti kehidupan lama sudah berlalu, dan kita dilahirkan kembali dalam hidup baru dengan tabiat dan sifat yang baru. Perubahan itu bukan karena adanya kesadaran psikologis atau kesadaran kontemplasi yang mengandalkan kemampuan manusia mengubah dirinya sendiri, melainkan didasari oleh ucapan syukur dan penyerahan diri total kepada Allah. Ada cara pandang atau paradigma bagi yang hidup baru bahwa hidup kita bukan lagi milik kita, bukan lagi tanpa asal muasal, bukan lagi tanpa tujuan dan kesia-siaan, melainkan sudah jelas bahwa keberadaan kita berasal dari rencana Allah dengan maksud dan tujuan Allah juga. Tujuan hidup kita bukan lagi kesenangan di dunia ini yang bersifat sementara, melainkan tujuan kekekalan dalam naungan hadirat Allah dengan sukacita yang berkelimpahan.

 

 

 

Seseorang bisa saja berubah menjadi baik karena kesadaran diri sendiri dan menyebut tidak ada pertolongan Allah dalam hal itu. Hasil kontemplasi manusia bukanlah tidak berarti atau bisa diabaikan. Manusia memiliki kemampuan melalui meditasi, yoga, semedi, puasa dan penahanan nafsu dan keinginan diri lainnya. Akan tetapi sepanjang hal itu merupakan pengakuan hasil upaya manusia, meniadakan pertolongan Allah dalam perubahan hidup yang baru itu, maka sebenarnya perubahan itu didasarkan pada benih yang fana. Bagi mereka Allah adalah sesuatu yang tidak terjangkau dan penuh misteri. Benih yang fana yakni kekuatan pikiran dan penahanan diri berarti benih yang mudah layu dan rusak, benih yang tidak teruji hingga akhir zaman (1Kor. 3:12-14), yang tidak tahan terhadap goncangan dan dinamika kehidupan. Benih ini sangat berbahaya bila diunggulkan, sebab dapat menipu. Terujinya benih ini adalah tatkala muncul goncangan kehidupan yang hebat, ketika usaha manusia dirasakan tidak ada harapan, maka mereka menolak perubahan itu dan menjadi putus asa bahkan akhirnya bunuh diri (band. Yud.; Mat 27.:5).

 

 

 

Seseorang yang didasari rasa syukur dan memiliki pandangan dan sikap berserah, menerima segala tekanan kehidupan tanpa ada penolakan, hanya dimungkinkan apabila dia lahir baru di dalam Kristus. Ia dapat mengatakan bahwa betapa pun beratnya penderitaan yang dia alami, betapa hebatnya sakit yang dia rasakan, ia masih tetap berkata semua yang terjadi padanya itu merupakan kehendak dan persetujuan Allah. Ia bisa sakit menahun, mengalami hal buruk dalam tubuhnya maupun kehidupannya, tapi ia tetap berkata bahwa ada rencana Tuhan di balik semuanya dan akan indah dibukakan pada saatnya. Cara pandang itu terjadi hanya karena ia telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, yang tidak layu dan hancur oleh kekejaman hidup (Yoh. 1:13). Benih yang tidak fana itu yakni firman Allah, yang hidup dan kekal, serta menjadi sumber kehidupan bagi mereka yang setia dan berserah kepada-Nya (1Tes. 2:13; 1Yoh. 3:9).

 

 

 

Penutup

 

Kasih dan kebaikan Tuhan melalui penebusan hidup kita hendaklah dijadikan dasar untuk bersifat takut dan hormat akan Dia. Penebusan-Nya sudah sempurna melalui penderitaan dan kematian Yesus. Allah melakukan semua itu dalam rencana awal dengan Dia sebagai Sang Penebus dan Sang Pencipta. Yesus sudah ada sebelum dunia dijadikan dan itu adalah pokok iman Kristen. Penebusan itu pun harus dijaga dengan terus menyucikan diri sehingga hidup kudus bukan pilihan melainkan cara hidup orang-orang Kristen yang telah menerima anugerah-Nya. Perubahan status dari yang terbelenggu dosa menjadi orang merdeka haruslah diteguhkan dalam mempertahankan kekudusan itu dan diwujudkan dalam sikap hidup yang berbuah dengan menyebarkan kasih persaudaraan bagi sesama. Kasih ini diminta tulus ikhlas dengan bersungguh-sungguh, tidak boleh berpura-pura dan untuk mementingkan atau mengambil keuntungan diri sendiri, kerelaan berkorban sama seperti kasih Yesus yang dinyatakan di kayu salib. Dengan demikian kita membuktikan bahwa terjadinya kelahiran baru dengan perubahan dan buah-buah itu berasal dari benih yang bukan fana yakni firman Allah yang dikaryakan melalui kuasa Roh Kudus.

  

Selamat beribadah dan selamat melayani

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026

 Khotbah Minggu III Paskah 2026 - 19 April 2026 – Opsi 3

 

 MEMBALAS KEBAIKAN TUHAN (Mzm. 116:1–4, 12–19)

 

 "Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?" (Mzm. 116:12)

 

 

Salam dalam kasih Kristus.

 

Firman Tuhan di hari Minggu ini adalah dari Mzm. 116:1–4, 12–19. Bagian pertama (ay. 1–4) berisi kesaksian Daud yang dilepaskan dari belenggu maut. Bagian kedua (ay. 12–19) menggambarkan bagaimana Daud merasakan dorongan untuk membalas segala kebaikan Tuhan. Kita pun menyadari betapa banyak kebaikan Tuhan yang kita terima, termasuk pergumulan hidup yang justru menolong kita semakin dekat dan merasakan kuasa serta penyertaan-Nya.

 

Segala kebaikan layak diberi respons yang tepat. Kepada sesama saja kita merasa perlu membalas kebaikan yang diterima. Namun Alkitab mengingatkan, “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” (Mat. 5:46). Jadi membalas kebaikan hanya karena sudah diberi kebaikan, sesungguhnya bukan sesuatu yang luar biasa.

 

Dalam renungan minggu lalu disampaikan bahwa pertobatan saja tidak cukup, meski pertobatan itu sendiri bukan hal yang mudah. Ada keinginan daging dan dunia yang menggoda, ada tipu daya iblis yang terus memprovokasi. Bila roh kita tidak hidup bersama dengan Roh Allah, wajar jika kita kalah; jatuh dan akhirnya terjerat kembali.

 

Karena itu, pertobatan perlu diikuti dengan perubahan pola pikir. Ada nilai–nilai dan prinsip yang harus dibenahi sebelum kita siap diubahkan oleh Tuhan. Bila satu dosa membuat kita jatuh lalu sekadar “minta ampun”, maka kemungkinan besar besok kita akan jatuh pada kesalahan yang sama.

 

Nas minggu ini mengajarkan bahwa kunci perubahan adalah menjalani hidup dengan kasih dan rasa syukur. “Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku” (ay. 1–2a). Lalu, pengakuan bahwa Allah Mahabaik. Meski apa yang kita terima belum tentu sesuai keinginan, percayalah Ia melakukan yang terbaik (ay. 3–4).

 

Sebagai bentuk balasan atas kebaikan Tuhan, pemazmur berjanji mengangkat piala keselamatan, tanda sukacita atas kemenangan, dan menyerukan nama Tuhan (ay. 13). Ia juga hendak menunaikan nazarnya (ay. 14), serta menjadikan dirinya berharga di hadapan Tuhan dengan mempersembahkan korban syukur (ay. 15–19).

 

Matthew Henry dalam Tafsiran Kitab Mazmur mengatakan bahwa kita tak mungkin memberi balasan setimpal kepada Allah, sama seperti kita tidak layak menuntut kebaikan apa pun dari-Nya. Namun, dalam buku disertasi saya yang telah diterbitkan, dijelaskan bahwa menurut Alkitab ada lima bentuk persembahan yang dapat kita berikan sebagai respons atas kebaikan Allah:

 

Pertama, persembahan tubuh: menjaga kekudusan hidup, menjauh dari perbuatan dosa, dan memelihara tubuh sebagai bait Allah (Rm. 12:1; 1Kor. 6:15, 19; Yak. 1:27b).

 

Kedua, persembahan uang atau materi (1Kor. 16:1–2; 2Kor. 9:6–9).

 

Ketiga, persembahan hati dan mulut: memuji Tuhan dengan nyanyian dan ucapan syukur (Ibr. 13:15; Mzm. 28:7; 30:4; 51:19).

 

Keempat, persembahan waktu dan tenaga: melayani, mengunjungi anak yatim dan janda, menjenguk orang sakit dan yang dipenjara, serta memberi tumpangan dan pertolongan (Yak. 1:27; Mat. 25:31–46).

 

Kelima, persembahan nyawa (Yoh. 15:13; 1Yoh. 3:16; band. Kis. 15:26).

 

Mari kita berlomba memberi yang terbaik sesuai dengan talenta, karunia rohani, dan berkat yang telah Tuhan percayakan.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 26 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13843133
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
4920
3315
30277
13781037
38620
154006
13843133

IP Anda: 216.73.216.174
2026-05-07 18:31

Login Form