Thursday, May 07, 2026

2026

Kabar dari Bukit, Minggu, 12 April 2026

Kabar dari Bukit

 DOSA SEORANG MERUSAK SE-GEREJA (1Kor 5:6b-8)

 "Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan” (1Kor. 5:8a)

 Kita baru saja berpesta merayakan kebangkitan Tuhan Yesus, yang memberi kekuatan dan pengharapan bahwa kita juga kelak akan dibangkitkan. Dosa yang membawa kepada kematian kekal telah ditebus oleh-Nya; kemenangan-Nya adalah kemenangan kita. Puncak sukacita bagi kita yang mengikut Dia.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu II Paskah yang berbahagia ini adalah 1Kor 5:6b-8. Nas ini bagian dari perikop: Dosa dalam jemaat. Rasul Paulus mengingatkan bahaya dosa, bukan saja untuk pribadi pelaku tetapi juga untuk jemaat/gereja. Dengan tegas dituliskan: "Tidak tahukah kamu bahwa sedikit ragi membuat seluruh adonan berkembang?" (ay. 6b). Ragi yang dimaksudkan adalah dosa (Gal. 5:9).

 

Peringatan ini senada dengan pepatah lama: "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Nila dalam konteks ini adalah zat pewarna, bila tercampur ke warna susu yang putih perlambang kebersihan dan kesucian, membuat susu berubah warna. Ini menggambarkan tindakan buruk dan perbuatan dosa seseorang, selain merusak citra pribadinya juga merusak citra dan kekudusan tempatnya berjemaat.

 

Rasul Paulus sangat keras dalam prinsip ini. Pada ayat-ayat sebelumnya disebutkan, orang yang berdosa ini (perbuatan cabul hidup dengan istri ayahnya), harus "diserahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan" (ay. 5).

 

Ini jelas terkait disiplin gereja. Ada banyak versi AD/ART tentang konsekuensi pelanggaran dosa yang dilakukan anggota jemaat. Bahkan zaman dahulu, mereka yang berbuat dosa diumumkan dalam warta jemaat. Namun kini lebih longgar, sebab mengumumkannya selain berdampak positif seperti efek jera, peringatan gereja tegas terhadap dosa, dan menjaga kekudusan jemaat. Tetapi ada dampak buruknya: dianggap mempermalukan, merusak nama/cita, menimbulkan rasa kecewa atau takut, bukan pertobatan; juga memunculkan penghakiman publik.

 

Maka gereja perlu bijak menghadapinya. Yang utama tidak membiarkan, menyepelekan atau menyembunyikan, pura-pura tidak tahu. Bahaya dosa menyebar. Ada cara yang diajarkan pada Mat. 18:15–17. Bicarakan dahulu empat mata, membawa saksi jika tidak mengaku, dan bila tidak peduli dan tidak bertobat, bawalah ke (majelis) jemaat.

 

Hal yang perlu terus diajarkan agar jemaat terhindar dari dosa adalah menjauhinya. Jangan merasa kuat iman, mencobai Tuhan. Iblis jelas lebih kuat, tahu titik lemah manusia. Oleh karena itu perintah buang ragi yang lama perlu diperhatikan (ay. 7a). Segala kebiasaan buruk yang Tuhan tidak berkenan, lepaskan. Bila sudah melekat, maka perlu latihan selain doa (dan puasa).

 

Tetapi jika kita terjatuh, maka langkah bijak adalah kembali bangkit. Kita boleh jatuh 2-3 kali, tetapi tetap semangat untuk bangkit. Perbuatan dosa lama yang (sering) terjadi, buktikan kita mau dan mampu berubah menjadi adonan baru, manusia baru (ay. 7b). Perlu keterbukaan dan kejujuran, apalagi demi warga lain. Tidak perlu khawatir dengan sinisme orang. Janji Tuhan Yesus, seberat apapun beban dosa sepanjang kita mau bertobat, semua terhapus lunas oleh darah dan kematian-Nya. Dan bila berhasil, mari ikut berpesta dengan roti yang tidak beragi, bersama kebenaran dan kemurnian jemaat (ay. 8).

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu II Paskah 2026 - 12 April 2026

Khotbah Minggu II Paskah, 12 April 2026

 

 PENGHARAPAN, IMAN DAN KASIH (1Pet. 1:3-9)

 

Bacaan lainnya: Kis. 2:14a, 22-32; Mzm. 16; Yoh. 20:19-31

 

Pendahuluan

 

Surat 1Petrus ini ditulis pada saat orang Kristen di wilayah Roma mendapat perlakuan buruk dari kepemimpinan Nero. Sebagian besar umat Kristen di Roma berasal dari agama Yahudi, sehingga perlakuan buruk juga mereka terima dari sesama orang Yahudi dan juga dari keluarga. Mereka cukup menderita karena diperlakukan tidak adil, bahkan kadang disiksa hingga mati. Akibatnya, banyak pengikut Kristus yang ketakutan oleh perlakuan ini. Surat Rasul Petrus ini memberi penghiburan dan kekuatan bagi mereka, agar iman mereka tetap kuat di tengah-tengah penderitaan yang mereka alami. Melalui nas minggu inilah kita diberi pokok pengajaran sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: Lahir baru oleh kebangkitan Kristus (ayat 3)

 

Kelahiran kembali dalam nas ini lebih mengacu kepada kelahiran rohani sebagaimana dijelaskan Tuhan Yesus kepada Nikodemus tatkala menjelaskan keselamatan (Yoh. 3). Dalam buku Pedoman Iman Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) tentang kelahiran baru, dijelaskan dalam paragraf berikut. Perjanjian Lama mengacu kepada Roh Kudus pada masa yang akan datang ketika Ia tinggal di dalam umat Allah dan membawa kehidupan baru sehingga mereka dapat memenuhi kehendak Allah (Yeh. 36: 25-26; band. Yer. 31: 33). Dalam Peranjian Baru, Yesus berbicara kepada Nikodemus tentang kelahiran kembali oleh Roh Kudus sebagai satu-satunya jalan masuk ke Kerajaan Allah (Yoh. 3: 1-8). Ada istilah-istilah Alkitab lain yang mirip: Lahir dari Allah (1Yoh. 2: 29; 3: 9; 4: 7; 5: 4, 18; Yoh. 1: 13); “Dilahirkan kembali oleh Firman Allah” (1Pet. 1: 23, band. Yak. 1: 18), “Ciptaan Baru” (2Kor. 5: 17; Gal. 6: 15), “Buatan Allah” (Ef. 2: 10; 4: 24).

 

 

 

Kelahiran kembali menandakan saat dan cara kita memasuki kesatuan dengan Kristus, suatu perubahan serempak dari kematian spiritual menuju kehidupan spiritual, suatu kebangkitan spiritual (Ef. 2: 1-5). Peristiwa ini terjadi sekali untuk selama-lamanya pada permulaan kehidupan Kristen yang baru. Kelahiran kembali berbeda dengan pertobatan yang erat hubungannya dalam hal menitikberatkan dalam perbuatan Allah yang memberi hidup baru. Pertobatan berarti tindakan manusia untuk berbalik dari dosa kepada kebenaran. Melalui kelahiran kembali, orang percaya menerima watak rohani baru yang terungkap dalam perhatian dan minat-minat baru. Orang yang telah mengalami kelahiran baru - terutama memperdulikan “hal-hal dari Allah” seperti Firman-Nya, umat-Nya, pelayanan-Nya, kemuliaan-Nya, dan di atas semuanya itu adalah Tuhan Allah sendiri. Mereka juga menerima kuasa baru untuk menolak dosa dan menaati serta melayani Tuhan.

 

 

 

Belum tentu kelahiran kembali dan kesadaran akan perubahan disertai emosi-emosi tertentu. Keinginan dan sikap baru mungkin bisa timbul secara berangsur-angsur. Seseorang yang dibesarkan dalam keluarga Kristen dan menerima pengajaran sejak kecil, mungkin tertarik pada Kristus dan mencapai kedewasaan dengan keyakinan jelas mengenai Kristus tanpa mengalami krisis tertentu sebagai tanda dilahirkan kembali. Setiap orang tidak perlu menunjukkan waktu dan tempat tertentu sebagai saat kelahiran kembali. Banyak orang dapat menyatakannya dan memberikan “kesaksian” tentang cara mereka bertobat dan mengalami kelahiran kembali, tetapi tidak harus demikian. Bahkan ada orang yang pernah mengalami krisis emosi dan rohani, yang mungkin disebut atau dianggap “pertobatan”. Selanjutnya itu tidak memberi bukti bahwa ia dilahirkan kembali dalam arti sejati. Mengenai soal waktu, ketidaktahuan orang akan waktu kelahiran barunya tidak membuktikan bahwa ia tidak hidup! Bukti bahwa kelahiran kembali oleh Roh Kudus telah terjadi bila keinsyafan orang itu sendiri yakni pengakuan Kristus sesungguhnya adalah Tuhan dan Juruselamatnya, serta bukti-bukti kehidupan Roh Kudus di dalam dan melalui Dia.

 

 

 

Kedua: Pengharapan yang tersimpan di sorga (ayat 4-5)

 

Rasul Paulus mencoba menjelaskan pesan dari Tuhan tentang janji yang diberikan kepada umat Yahudi sebelumnya, yakni tanah Kanaan (Bil. 32:9; U.l 2:12; 19:9). Meskipun mereka telah menerima janji tanah Kanaan, tetapi karena dosa dan kecemaran mereka yang merupakan pengaruh berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain, maka janji itu diambil kembali. Dosa dan ketidaktaatan membuat janji hanya sebagai suatu kenangan lama yang meredup saja. Akan tetapi orang Kristen memiliki janji yang berbeda, bukan berupa tanah atau tempat di bumi ini, yang bisa hilang atau rusak, melainkan sebuah tempat abadi di kota Allah yang tidak dinodai oleh dosa-dosa. Tempat itu abadi dan tidak lekang oleh masa. Bahkan di masa kini orang Kristen sudah bisa merasakannya, pemenuhan janji itu, dalam wujud keyakinan dan sukacita damai sejahtera dalam menghadapi semua perjalanan hidup.

 

 

 

Pengharapan dasarnya adalah iman. Kitab Ibrani mendefinisikan "iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibr. 11:1). Sesuatu yang kita harapkan dan (belum/tidak) kita lihat haruslah berdasarkan janji. Janji ini merupakan gambaran yang akan terjadi di masa depan berdasarkan apa yang seseorang sudah alami/ketahui dan mampu untuk memberikannya. Seseorang yang tidak memiliki informasi akurat tentang suatu tempat atau kuasa untuk memberikan jalan kepada orang lain untuk sampai ke tempat itu, jelas pembual. Seseorang, sebut saja Si A, yang bukan dari Afrika Selatan dan belum pernah ke Afrika Selatan, tentu tidak mengenal atau mempunyai kemampuan untuk membawa orang lain ke Afrika Selatan. Memberi janji dengan memberi gambaran Afrika Selatan dan menunjuk jalan ke Afrika Selatan, itu jelas Si A adalah pembual. Tetapi kalau saya yang dari Toba Samosir Sumut dan tahu jelas tentang Samosir, dan mampu memberi jalan ke Samosir, maka saya bukan pembual dan saya serius dalam memberi janji itu.

 

 

 

Tuhan Yesus memberikan janji kepada setiap orang percaya bahwa ada sorga, ada kehidupan setelah kematian. Yesus dapat berkata demikian sebab Ia datang dari sorga dan memperlihatkan kuasa dari sorga, serta telah bangkit dan menang dari kematian naik kembali ke sorga. Selama di bumi dalam pelayanan-Nya, Ia telah memperlihatkan hubungan yang demikian dekat dengan Bapa-Nya pemilik sorga, memperlihatkan kuasa-kuasa sorga dalam pelayanan-Nya yakni kasih yang begitu besar dan juga berbagai mukjizat yang dahsyat. Maka Ia jelas datang dari sorga. Dengan dasar itulah Tuhan Yesus mengatakan bahwa tersedia tempat di sorga bagi orang percaya yang setia dan berbuah. Kita akan menerima bagian yang tidak dapat cemar atau rusak, yang tidak dapat punah binasa yang tersimpan di sorga, dan ini berbeda jauh dengan tanah Kanaan yang dijanjikan bagi umat Yahudi. Semua pengharapan kita yakni hidup abadi dengan damai sukacita dan kehidupan yang lepas dari beban hidup, ada tersimpan di sorga yang disediakan oleh Yesus bagi kita orang yang percaya (Rm. 8:17; Kol. 1:5).

 

 

 

Ketiga: Penderitaan sebagai bukti kemurnian iman (ayat 6-7)

 

Ada beberapa alasan mengapa orang Kristen pada masa itu menjadi target penganiayaan orang lain. (1) Mereka menolak menyembah kaisar sebagai Allah sehingga dianggap sebagai pemberontak atau pengkhianat. (2) Mereka juga menolak untuk beribadah di kuil-kuil pagan. (3) Mereka dianggap tidak mendukung cita-cita kekaisaran Romawi yang penuh dengan kekuasaan dan penaklukan, yang membuat orang-orang Roma menghina orang Kristen yang dianggap sebagai pengorbanan sia-sia. (4) Mereka menolak dan melindungi diri dari budaya-budaya Romawi yang pagan dan amoral dan menakutkan. Itu risiko bagi orang Kristen saat itu dan juga pada saat ini, tatkala orang percaya menjadi sinar dalam kegelapan maka harus menerima tantangan dan ujian itu sebagai proses pemurnian iman. Semua orang percaya harus memikul salib dan menyangkal diri, yang pada akhirnya membuat kita semakin berkenan kepada Tuhan Yesus.

 

 

 

Sebagaimana proses pembuatan emas yang dibakar, segala kotoran yang membuat tidak murni menjadi terpisah mengambang ke atas, sehingga mudah untuk disaring atau diambil kotorannya. Ini merupakan proses membuang segala hal yang tidak kita inginkan dalam kemurnian termasuk dalam iman kita. Demikian juga kita pada segala pencobaan, pergumulan dan penganiayaan, itu semua memurnikan dan memperkuat iman kita, membuat kita semakin berguna bagi Tuhan. Ujian pergumulan itu tidak perlu kita lari dari padanya, atau bertanya-tanya: "Mengapa Aku?" Adalah lebih baik kita merespon penderitaan dengan sikap positif, yakni sebagai berikut: (1) Penuh keyakinan, bahwa Allah tahu, merencanakan, dan mengarahkan hidup kita tantang sesuatu yang baik (Rm. 8:28). Kadang mungkin itu susah masuk akal, tetapi Allah selalu menyediakan kasih dan kuasa-Nya untuk memimpin kita ke masa depan yang lebih baik. (2) Bertekun dan bersabarlah, ketika menghadapi segala sikap amarah, kesedihan atau rasa sakit (Yak. 1:2-3; 1Pet. 4:12). Kita dapat mengekspresikan kesedihan kita, tetapi jangan menjadikan itu sebagai kepahitan dan sikap putus asa. (3) Penuh keberanian, sebab Yesus adalah Sahabat dan Penyelamat, maka kita tidak perlu takut. Dia yang sudah menderita bagi kita tidak akan meninggalkan kita, Dia akan membawa kita melewati segalanya dengan penuh kemenangan.

 

 

 

Firman Tuhan minggu ini mengatakan bahwa kita perlu bergembira atas semua pergumulan dan penderitaan. Iman sejati pasti teruji dan tahu bahwa tujuan Allah bukan untuk menjatuhkan. Apabila kita berhasil melewatinya sebagai pemenang, maka dikatakan, "Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu - yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api - sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya." Hal yang kita alami dalam penderitaan masa kini dalam pengertian untuk memuliakan Tuhan, bukan karena ketidaktaatan atau kemauan sendiri, dan semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang akan kita terima kelak pada masa Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan menyediakan sesuatu yang tidak bisa kita bayangkan, Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia (Rm. 8:18; 1Kor. 2:9)." Sebuah gambaran yang sungguh menggembirakan dan membangkitkan hati.

 

 

 

Keempat: Sukacita yang mulia dalam kasih (ayat 8-9)

 

Anak-anak Tuhan perlu memperlihatkan kesejatian imannya melalui kemenangan dalam proses pergumulan dan penderitaan dengan tetap setia.  Sikap menyerah, putus asa apalagi sampai murtad menyangkal Tuhan Yesus jelas merupakan suatu kekalahan dan menghilangkan peluang emas yang diberikan oleh Tuhan bagi kita. Kegagalan merasakan penyertaan Tuhan dalam segala sesuatu yang kita alami, bukanlah kegagalan Dia dalam melindungi anak-anak-Nya. Alkitab berkata bahwa pada kita tidak diberikan pencobaan yang melampaui kemampuan kita (1Kor. 10:13). Ini sangat jelas. Akan tetapi kalau kita menyerah, lari dan takluk, maka sebetulnya kita yang gagal mengenal Dia, mengenal kasih-Nya, mengenal penyertaan dan kuasa-Nya dalam melewati pergumulan itu. Oleh karena itu, pengenalan Tuhan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tatkala ujian dan pencobaan datang, kita sudah dapat melihat dengan mata rohani bahwa Allah bekerja bersama kita dalam menghadapi hal itu (Rm. 8:28).

 

 

 

Orang Kristen di Roma tidak pernah melihat Tuhan Yesus selama hidup-Nya. Mereka tidak melihat-kuasa-kuasa mukjizat yang dilakukan-Nya. Mereka hanya mendengar dan berdasarkan saksi-saksi lantas percaya. Namun kemudian tantangan yang mereka hadapi demikian hebat hingga mengancam jiwa mereka. Dalam hal ini Rasul Petrus mengatakan, bersyukurlah dan pujilah Tuhan atas semua itu, bahwa meski mereka belum pernah melihat Yesus, tapi mereka mengasihi-Nya. Mereka setia dan tetap teguh dalam penderitaan yang diakibatkan oleh iman mereka, yang membuktikan pengenalan mereka demikian sempurna hingga tetap taat. Dalam hal ini benar yang dikatakan oleh beberapa ahli, bahwa pengenalan akan Yesus melalui beberapa tahap, yang diawali dengan adanya hasrat dan kerinduan. Langkah ini kemudian perlu diikuti dengan kesetiaan dan keterbukaan diri dalam melihat keberadaan kita di tengah-tengah dunia dengan segala kehebatan alam semesta serta tawaran nikmat dan godaannya. Kegagalan manusia dalam melawan itu mestinya memberi pandangan bahwa manusia sendirian tidak mampu. Ada keinginan duniawi dan roh jahat yang membuat manusia mudah jatuh dan berdosa. Manusia pasti kalah dan bahkan ada yang sampai terjerat tidak bisa lepas merdeka. Inilah yang membuka kesadaran bahwa manusia perlu diselamatkan oleh kuasa yang lebih tinggi yaitu kuasa Roh Kudus.

 

 

 

Firman Tuhan mengatakan bahwa kita perlu bergembira dengan sukacita yang mulia dan tidak terkatakan karena melalui kelahiran baru kita melihat keberadaan Allah. Ada pengharapan dan ada penyertaan. Pengenalan Allah dalam hal ini menjadi suatu kekayaan rohani bagi mereka yang percaya dan bergantung kepada-Nya (Kol. 1:27). Pengenalan melalui penderitaan yang Tuhan izinkan membuat pemahaman yang lebih mendalam menuju panggilan persekutuan pribadi dengan Kristus. Kita tetap dan terus mengasihi-Nya tanpa perlu melihatnya. Kita tidak perlu seperti Tomas yang ingin melihat bekas paku pada tangan-Nya dan mencucukkan jarinya ke dalam bekas paku untuk percaya (Yoh. 20:24-30). Kita adalah orang-orang yang berbahagia yang tidak melihat, namun percaya. Meski kita tahu pengenalan kita masih samar-samar, namun kita yakin percaya pada firman Tuhan, jalan pengenalan terhadap Dia yang mengatakan, “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal” (1Kor. 13:12; band. 1Yoh. 3:2). Inilah kunci dan penggenapan tujuan hidup kita, yakni “kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” Itulah inti perlindungan dan jaminan Allah.

 

 

 

Penutup

 

Melalui kelahiran baru kita mendasarkan diri pada penebusan Tuhan di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari kematian. Kuasa kebangkitan-Nya juga menghidupkan kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dia bangkit untuk memberikan jaminan bahwa Dia dari sorga dan kembali ke sorga untuk menyediakan sesuatu yang indah yang tidak rusak dan layu bagi kita yang percaya kepada-Nya. Ada pengharapan yang memampukan kita melihat semua janji surgawi itu melalui kebangkitan-Nya. Namun kita hidup di dunia ini yang penuh tantangan. Kadang kita diuji dan dicoba untuk memperlihatkan kemurnian iman kita, sebagai bukti sejati bahwa kita adalah orang-orang setia dan taat. Ujian dan cobaan melalui penderitaan yang kita alami, bukanlah untuk menjatuhkan kita, melainkan iman kita semakin dimurnikan. Hal itu semua membuktikan bahwa kita berpegang teguh kepada-Nya, percaya penuh tanpa perlu melihat-Nya. Dengan demikian iman kita semakin diteguhkan dan jiwa kita diselamatkan. Iman, pengharapan, dan kasih, itulah gambaran yang diberikan kepada kita orang percaya.

 Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu II Paskah 2026 - 12 April 2026

Khotbah Minggu II Paskah, 12 April 2026 (Opsi 3)

 

 KEBANGKITAN DAN JALAN BARU (Kis. 2:14a, 22–32)

 

 "Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan–Mu" (Kis. 2:28)

 

Salam dalam kasih Kristus.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Kis. 2:14a, 22–32, yaitu khotbah Petrus setelah Tuhan Yesus bangkit dari kubur. Kebangkitan-Nya memberi semangat baru bagi para murid untuk memberitakan-Nya. Murid yang sebelumnya lemah kini seolah menerima kuasa baru, dan semua itu dimulai melalui Petrus di kota Yerusalem.

 

Dalam khotbahnya, Petrus menjelaskan bahwa Yesus, yang telah dinyatakan Allah kepada orang Israel melalui kekuatan, mukjizat, dan tanda–tanda yang dilakukan-Nya, justru disalibkan dan dibunuh oleh mereka (ay. 22–23). Namun Petrus mengutip Mazmur Daud (Mzm. 16:8–11) untuk menegaskan bahwa salib bukan kutuk, melainkan jalan yang memang harus ditempuh. Allah Bapa “tidak membiarkan Orang Kudus–Mu melihat kebinasaan” (ay. 27). Ini menjadi bukti bahwa orang percaya pun akan dibangkitkan. Haleluya.

 

Pendeta William Barclay, penulis seri Pemahaman Alkitab Setiap Hari, menjelaskan lima hal yang terkandung dalam nas minggu ini:

 

  1. Salib bukan tindakan darurat, melainkan rencana Allah.
  2. Melalui penyaliban dan kebangkitan-Nya, kita diteguhkan tentang pengorbanan dan kasih Allah;
  3. Penyaliban adalah tindakan kejahatan yang menjijikan dan menakutkan, buah dari dosa (Kis. 2:23; 3:13; 4:10; 5:30);
  4. Penyaliban dan kebangkitan merupakan penggenapan nubuatan PL;
  5. Kebangkitan menegaskan bahwa Yesus adalah pilihan dan Anak Allah (ay. 32).

 

Petrus menyatakan bahwa umat Yahudi telah melakukan kesalahan besar. Dari sini kita belajar menghindari kesalahan yang dapat menyeret kita melakukan kejahatan serupa. Kita perlu belajar memahami orang lain terlebih dahulu, sebelum menghakimi, apalagi menghukum. Perbedaan selalu ada dalam hubungan manusia, tetapi menemukan solusi yang membuahkan kebaikan adalah sebuah seni yang harus digali.

 

Menunda sehari sebelum merespons dan menghindari reaksi frontal bisa menjadi cara untuk tidak terperosok ke dalam kesalahan besar. Seperti perbedaan antara Rasul Paulus dan Petrus: Paulus memilih jalan baru dengan membiarkan Petrus melanjutkan pelayanannya di kalangan Yahudi, sementara ia sendiri pergi kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi dan melakukan tiga perjalanan besar ke seluruh kekaisaran Romawi—yang justru menghasilkan buah yang sangat lebat.

 

Kita menyadari bahwa selalu ada penyebab timbulnya perbedaan: salah pengertian, tidak sesuai harapan, perbedaan nilai, iri hati, kesombongan, krisis, kritik berlebihan, dan prasangka (Yak. 4:1–3). Semua ini biasanya muncul dari sisi negatif persaingan, keangkuhan, amarah, kebencian, harta, bahkan dari pribadi yang memang suka menimbulkan keributan (Ams. 6:14; 10:12; 13:10; 15:18; Kel. 22:9; 2Tim. 2:23).

 

Nas minggu ini mengajak kita lebih bersemangat bercerita tentang Yesus dan berbuat kebaikan. Bila terjadi perbedaan pendapat atau cara yang memunculkan perselisihan, pilihlah langkah yang bijaksana: memisahkan diri seperti Paulus, mengabaikannya, menemukan titik temu, atau menjadikan perbedaan sebagai peluang kolaborasi.

 

Kebangkitan menghasilkan kelahiran baru, bukan sekadar pertobatan yang hanya berbalik dari dosa. Melalui kelahiran baru, orang percaya menerima karakter rohani yang diperbarui, yang tercermin dalam perhatian, cara berpikir, minat, orientasi, dan kesiapan untuk melayani Tuhan.

 

Kitab 2 Korintus mengajar kita untuk teguh dalam niat baik, berani dan konsisten, jujur dan berdasar fakta serta firman Tuhan, tidak lari dari masalah, lembut namun tegas, dan tetap disiplin. Dengan demikian, kita akan menemukan jalan yang indah. Sebagaimana firman-Nya, “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan–Mu” (ay. 28).

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu II Paskah 2026 - 12 April 2026

Khotbah Minggu II Paskah, 12 April 2026 (Opsi 2)

 

 YA TUHANKU ALLAHKU (Yoh. 20:19-31)

 

 "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (ayat 29).

 

 Firman Tuhan di Minggu II Paskah ini adalah Yoh. 20:19-31, berbicara tentang kehadiran Yesus di tengah murid-murid-Nya setelah kebangkitan-Nya. Mereka yang masih ketakutan terhadap pengejaran orang Yahudi, tiba-tiba didatangi Yesus dengan sapaan menenangkan: "Damai sejahtera bagi kamu.... Terimalah Roh Kudus."

 

 

 

Kehadiran Tuhan selalu menyenangkan dan menenangkan. Ketakutan hilang, sukacita merebak. Persoalan dengan sesama berupa kekecewaan dan kepahitan yang sering disimpan, Yesus lembut berpesan: ampunilah (ayat 23). Damai sejahteralah.

 

 

 

Tetapi sering manusia tidak taat atau tidak percaya. Atau ingin hasil atau bukti dulu. Seperti Tomas dalam nas ini, menuntut ingin melihat lobang paku dan mencucukkan tangannya ke dalam lambung-Nya. Mungkin dia terlalu kecewa, mengapa Yesus mati? Ia pun menyendiri sehingga ketika Yesus mendatangi murid-murid, ia tidak ada.

 

 

 

Yesus sabar dan setia. Menerima semua apa adanya. Dia menyapa, memberi kesempatan dan bukti. Ketika bertemu, Ia berkata kepada Tomas: ".. jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Respon Tomas sigap, sujud dengan pengakuan iman: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kekecewaan ataupun keangkuhan Tomas sirna. Ketakutan para murid juga lenyap, berganti sukacita.

 

 

 

Dalam kehidupan, kadang harapan dan keinginan belum semua terpenuhi. Doa seolah mengawang belum terkabul. Egoisme kita pun menyeruak. Kekecewaan muncul. Ingin bukti cepat bahwa Allah mendengar dan penolong. Kita lupa, Allah Mahatahu dan memberi yang terbaik bagi kita. Maka jangan menyendiri menjauhi Tuhan. Jangan juga sok pintar mau ngatur. Berefleksi dan berdoa, sampai bisa berkata: Ya, Tuhanku dan Allahku!

 

 

 

Itulah sikap terbaik kita anak-anak-Nya. Dia telah bangkit dan Roh Kudus diberikan sebagai jaminan kasih dan kuasaNya bagi kita (ayat 22). Semua itu lebih dari cukup. Yang terbaik pasti kan tiba. "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Haleluya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu, 5 April 2026

Kabar dari Bukit

SATU MATI, SEMUA MATI DAN SATU HIDUP, SEMUA HIDUP

(1Kor. 15:19-26)

 "Sebab, sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor. 15:22)

Kebangkitan orang mati salah satu doktrin penting Kekristenan. Manusia tidak bebas berbuat apa saja di dunia ini untuk menyenangkan hatinya; sesukanya saja. Semua kelak harus dipertanggungjawabkan di takhta pengadilan Kristus. Ya, manusia bisa saja menyembunyikan hal-hal yang jahat dilakukannya, atau dengan beberapa orang berkomplot. Tetapi ada juga orang yang berbuat kebaikan dengan diam-diam. Tidak pamer, hidupnya menyelamatkan banyak nyawa, membangun jiwa, menolong yang susah. Semua itu tentu tidak sama di akhir hidup seseorang. Dan, adil adalah sifat Tuhan.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari raya Paskah yang berbahagia ini adalah 1 Korintus 15:19-26. Ini adalah penggambaran kepastian kebangkitan orang mati. Kristus yang sulung/pertama bangkit, kemudian kita milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya (ay. 23).

 

Mungkin kita terbiasa melihat kematian manusia. Tetapi perlu kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah merencanakan kematian. Adam (dan Hawa) diciptakan untuk keabadian. Sayangnya pilihan Adam, meski diingatkan bila mereka memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, maka "pastilah engkau mati" (Kej. 1:27). Iblis menipu melalui ular dan mereka memakannya, lantas mereka diusir dari taman abadi, dan kematian menanti.

 

Perspektif manusia yang melihat kematian adalah alamiah dan pasti, tidak terelakkan, berbeda dengan perspektif Alkitab yang melihat kematian atau maut adalah musuh, dampak dosa, maka harus dikalahkan. Nas minggu ini menuliskan, "Sebab, sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia" (ay. 21).

 

Pendekatannya tampak paralel. Allah bekerja melalui representasi (perwakilan), yakni kita berdosa karena “diwakili” Adam yang jatuh ke dalam dosa, maka seluruh umat manusia terdampak; dosa dan kematian menjalar. Demikian halnya Yesus sebagai "perwakilan" umat manusia baru, kebangkitan-Nya berdampak pada kita yang percaya kepada-Nya. Adam membawa kita masuk ke dalam dosa dan kematian, tetapi Kristus membawa kita keluar menuju hidup dan kekekalan. Hidup itu memang berharga di mata Allah (Mzm. 116:15).

 

Dan kasih Allah besar. Firman Tuhan menuliskan, "Tetapi, karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang banyak orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi anugerah Allah dan karunia-Nya yang dilimpahkan-Nya atas banyak orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus" (Rm. 5:15). Oleh karenanya jika Kristus bangkit dari kematian dan hidup, maka kita pun orang percaya akan hidup karena dibangkitkan sebagaimana Kristus telah bangkit. Bukan itu saja, Kristus bangkit agar kita tidak tinggal dan hidup di dalam dosa (ay. 17). Tidak salah jika kemudian Rasul Paulus mengatakan, sia-sialah hidup jika kita hanya berorientasi masa kini (ay. 19), dan jika orang mati tidak dibangkitkan, "marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati" (1Kor. 15:32b).

 

Melalui perayaan Paskah hari ini, mari kita perlihatkan kemenangan Kristus dan menjadikan-Nya Raja (ay. 25), dengan bangkit membarui diri kita. Jika tadinya beridentitas "dalam Adam" dengan ciri lama beraroma maut, menjadi beridentitas "dalam Kristus" dengan ciri baru beraroma hidup. Itu hanya terjadi, jika kita memberikan hidup kita dipimpin Roh Kudus, agar semakin hari semakin taat dan berkenan kepada-Nya.

 

Selamat hari Paskah dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 24 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13843131
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
4918
3315
30275
13781037
38618
154006
13843131

IP Anda: 216.73.216.174
2026-05-07 18:31

Login Form