Khotbah (2) Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026
Khotbah Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026 - Opsi 2
PEMIMPIN PENYESAT (Yer. 28:5–17)
”Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar–benar diutus oleh TUHAN" (Yer. 28:9)
Bagaimana membedakan gereja atau hamba Tuhan yang benar? Kadang kita dikejutkan oleh berita tentang satu dua gereja yang dianggap sesat, seperti gereja Pdt. Jones di Amerika Selatan, Pdt. Sibuea di Bandung, Pdt. Jung Myung Seok di Korea, dan lainnya. Bagaimana pula membedakan seorang pemimpin yang baik dan benar agar umat atau anggota tidak ikut tersesat?
Tentu saja itu tidak mudah. Apalagi sering kali kita memakai ukuran dunia, seperti popularitas dan kepandaian berkhotbah, banyak pengikut atau penggemar, kekayaan dan kelimpahan materi, dan lainnya. Hal ini membuat pengujiannya menjadi sulit.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yer. 28:5–17. Ini kisah pertentangan nabi Yeremia dengan nabi Hananya yang bernubuat bahwa umat Israel hanya dua tahun saja dibuang ke Babel. Oleh karena itu ia berkata, perkakas perkakas rumah TUHAN akan dikembalikannya (ay. 11–12). Yeremia sebaliknya mengatakan bahwa pembuangan ke Babel akan berlangsung lama, dan terbukti berlangsung 70 tahun.
Melalui nas ini kita dapat belajar menguji gereja atau hamba Tuhan dengan beberapa cara. Pertama, nabi yang baik dan benar mestilah membawa damai, seperti dituliskan, “Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh TUHAN” (ay. 9). Oleh karena itu hamba Tuhan atau pemimpin yang membawa permusuhan dan perpecahan, penuh kebencian, serta memiliki sikap dan tindakan yang tidak berdasar kasih, jelas bukanlah hamba Tuhan atau pemimpin yang baik dan benar.
Kedua, hamba Tuhan atau pemimpin harus berani bersikap berbeda, menjaga kata-katanya tetap sejalan dengan perbuatannya, memiliki integritas. Janganlah sikapnya hanya untuk menyenangkan hati manusia. Bila pun langkahnya tampak menyenangkan manusia, tujuan akhirnya haruslah agar orang itu diselamatkan, seperti tertulis: “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat” (1Kor. 10:33).
Ketiga, tidak ada dusta dan tidak ada yang disembunyikan, sebagaimana nabi Yeremia mengatakan, “Dengarkanlah, hai Hananya! TUHAN tidak mengutus engkau, tetapi engkau telah membuat bangsa ini percaya kepada dusta” (ay. 15). Menguji dusta itu tidak sulit, cukup melihat cara seseorang memberi informasi yang benar dan terbuka. Gereja atau organisasi yang tertutup, misalnya tidak memiliki laporan keuangan yang transparan, memiliki doktrin yang aneh dan tidak Alkitabiah, jelas berisi dusta. Pemimpin yang terlibat konflik dan tidak mau berdamai atau bertatap muka pastilah penuh dusta. Kadang alasan dibuat-buat, tetapi fakta dan data tidak dapat dikecoh. Kata-kata dapat diplintir, tetapi kenyataan tidaklah demikian.
Keempat, cara yang tidak mudah tetapi dilakukan nabi Yeremia adalah bernubuat tentang nabi Hananya. Ia berkata, “Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku menyuruh engkau pergi dari muka bumi. Tahun ini juga engkau akan mati, sebab engkau telah mengajak murtad terhadap TUHAN” (ay. 16). Kadang situasi seperti ini mungkin diperlukan bila menyangkut kepentingan umat atau anggota, agar kebenaran terbuka dan tidak ada yang tersesat. Hananya kemudian benar-benar mati (ay. 17).
Nabi Yeremia dan juga Rasul Paulus menuliskan sesuatu yang keras dalam menghadapi para penyesat. “Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya” (Gal. 5:12). Tuhan Yesus juga marah besar menghadapi para penukar uang dan pedagang merpati di Bait Allah, dengan mengusir dan membalikkan meja mereka (Mat. 21:12). Tuhan Yesus berkata, “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya” (Luk. 17:1).
Gereja, organisasi, dan kita semua perlu memeriksa diri atas sikap dan langkah yang dijalankan. Kita semua mesti lebih takut kepada Tuhan daripada kepada manusia. Lebih baik dijauhi manusia yang tidak baik dan tidak benar daripada dijauhi Tuhan dan akhirnya binasa. Semoga kita tidak demikian.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026Khotbah Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026 KEBAIKAN...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026Khotbah Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026 - Opsi...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026Khotbah Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026 - Opsi...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 33 guests and no members online
