Monday, March 16, 2026

Kabar dari Bukit, Minggu, 8 Maret 2026

Kabar dari Bukit

 

 MELEMBUTKAN KEKERASAN HATI (2 Yohanes 1:1-13)

 

 "Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: ”Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku” 

 (Mzm. 95:11)

 

Tentu kita sering ikut beribadah, baik di hari Minggu atau persekutuan lainnya. Ini merupakan ekspresi menguduskannya, memberi waktu kita kepada Tuhan, memuliakan-Nya, dan tentu membawa juga setiap pengharapan dan pergumulan kita dalam kehidupan ini.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Mzm. 95; 11 ayat, judul perikopnya: Hormatilah Tuhan dan taatilah Dia. Mazmur yang ditulis Raja Daud ini (Ibr. 4:7) merupakan ajakan dan pelajaran yang mengingatkan agar ibadah kita tidaklah ritual formal lahiriah semata. Kita mendengar firman Tuhan, tetapi tidak ada respons yang muncul di hati kita. Khotbah hanya menjadi informasi dan pengetahuan, tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengubah hati (2Tim. 3:5). Sepulang dari ibadah, tidak ada komitmen untuk membuat perubahan atas sikap dan perbuatan yang tidak sesuai dengan firman-Nya.

 

Beribadah memang memperlihatkan rasa syukur dan sukacita (ay. 1-2). Kita kagum atas perbuatan Tuhan, Raja yang besar dan berkuasa atas seluruh ciptaan (ay. 3-5). Di dalam ibadah kita juga diminta untuk bersujud menyembah dan berlutut sebagai tanda kerendahan hati di hadapan Tuhan. Sikap sukacita kita jangan sampai menghilangkan rasa 

hormat kepada-Nya. Kita sadar bahwa Dia yang menjadikan kita, sebagai umat gembalaan-Nya

dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya (ay. 6-7a).

 

Dalam ibadah kita mendengar suara-Nya, melalui firman yang disampaikan (ay. 7b). Ketika firman kebenaran itu disampaikan, perlu merefleksikan ke dalam diri kita. Periksa sikap dan perbuatan kita yang belum sesuai dengan suara Tuhan. Nas ini mengingatkan, janganlah keraskan hatimu (ay. 8b).

 

Kekerasan hati yang dicontohkan adalah peristiwa di Masa dan Meriba, ketika umat Israel meragukan Tuhan, bersungut-sungut, bahkan mencobai Tuhan (ay. 8-10; Kel. 17:1–7; Bil. 20:1–13). Mungkin kita juga saat ini sedang mengeraskan hati kita, bersikap tidak mau berubah, merasa biasa dan aman saja, sementara kita masih mudah menyakiti hati orang lain, tidak peka, masih membenci seseorang dan tidak memperlihatkan kasih. Padahal, kasih adalah perintah utama bagi pengikut Kristus.

 

Bisa saja kita beralasan sesuatu. Namun perlu kita tahu penyebab hati menjadi keras dan dampaknya. Peristiwa di Masa dan Meriba jelas merupakan kekerasan hati yang bersikap memberontak, tidak tunduk kepada Allah. Kekerasan hati merupakan penolakan dan tidak mau taat. Keras hati menunjukkan hati yang jahat dan tidak percaya, sama dengan sesat hati dan murtad (ay. 10; Ibr. 3:12–13). Terakhir, kekerasan hati memperlihatkan sikap mengandalkan kekuatan sendiri dan membuatnya ilah yang lain.

 

Sikap keras hati bisa tersembunyi, tenggelam dalam hati yang tersamar. Tetapi nas minggu ini mengingatkan dampaknya kena murka Allah, yakni “mereka tidak akan masuk ke tempat perhentian-Ku", tanah Kanaan (ay. 11); yang dalam PB dituliskan sebagai kehilangan berkat, keselamatan dan hidup kekal (Ibr. 4:6-11). Dan ditekankan juga perubahan itu harus HARI INI. Jangan menunda, menyimpan dosa terselubung, defensip, hati yang tertutup.

 

Mari kita lembutkan hati kita melalui sikap merendahkan diri di hadapan Tuhan, pertobatan yang jujur, mendengarkan firman Tuhan dengan hati terbuka, mau ditegur untuk memperbarui kehidupan. Mari kita ingat kebaikan Tuhan dan hidup dalam persekutuan yang saling mengasihi sehingga Tuhan memberi hati yang murni diperbarui kepada kita (Yeh. 36:26).

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 34 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13566221
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
366
8505
15751
13517750
82235
127844
13566221

IP Anda: 216.73.216.222
2026-03-17 03:02

Login Form